Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Dua Sisi


__ADS_3

Kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup manusia itu berjalan beriringan layaknya dua sisi mata uang. Ada waktu Tuhan mengizinkan kita untuk tertawa dan berbahagia, tetapi ada kalanya Tuhan juga mengizinkan kita untuk berjalan dalam lembah air mata.


Kini Radit dan Khaira tengah berjalan hendak pulang ke rumahnya. Usai jarum infus dilepas, Khaira membersihkan diri dan Radit mengurus administrasi. Dengan perlahan Radit menggandeng tangan istrinya dan memasuki mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Khaira seolah enggan berbicara. Tidak dipungkiri, hatinya masih merasa kehilangan. Kabut duka masih menyelimuti hatinya. Sehingga Khaira hanya memandang pada berbagai pemandangan yang terlihat dari kaca jendela mobilnya. Sementara Radit beberapa kali mengelus puncak kepala istrinya. Matanya juga beberapa kali melirik istrinya yang terlihat nampak tidak bersemangat.


"Mau mampir Sayang? Biar sekalian mumpung kita di jalan." tawarnya kepada sang istri.


Khaira pun menggelengkan kepalanya. "Enggak Mas ... langsung pulang aja, aku kangen sama Arsyila." ucapnya dengan wajah yang masih nampak lesu.


Radit pun kemudian tersenyum dan terus melajukan mobilnya, hingga kini sekarang mereka telah kembali ke rumah mereka. Sebelum Khaira keluar dari mobil, satu tangan Radit menahannya terlebih dahulu.


Khaira beringsut dan menatap wajah suaminya itu. "Kenapa Mas?" tanyanya.


Menggelengkan kepala, Radit kemudian melepas sitbealt perlahan. "Sini, aku peluk sebentar Sayang...."


Pria itu memeluk istrinya dengan begitu erat, setelahnya Radit mengurai pelukannya dan menghujani wajah istrinya dengan kecupan, mulai dari kening, kedua matanya, puncak hidungnya, dan bibirnya yang masih terlihat pucat itu.


"Aku tahu, aku sering kali tidak bisa melakukan apa-apa buat kamu. Namun, kamu harus ingat bahwa kamu punya aku. Jangan terlalu sedih, Arsyila pasti kerasa kalau Mamanya sedang kenapa-napa, ikatan hati Mama dan anaknya itu kuat kan? Kalau kamu sudah tenang, kita baru turun dari mobil." ucapnya sembari kembali memeluk istrinya.


Khaira pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum pias. "Iya ... aku akan bersikap biasa aja di depan Arsyila. Makasih banyak Mas...." ucap Khaira dengan tulus.


Setelah menenangkan diri sejenak di dalam mobil, kemudian keduanya sama-sama turun dari mobil. Sebelumnya Radit juga sudah memberitahu kepada Bunda Ranti untuk tidak banyak bertanya terlebih dahulu kepada Khaira. Radit menjelaskan secara psikis Khaira masih merasa kehilangan, sehingga meminta Bundanya dan orang-orang di rumah untuk memberikan waktu bagi Khaira.


Begitu telah memasuki rumah, Arsyila kecil yang sudah bisa berjalan itu langsung berjalan menuju ke Papa dan Mamanya.


"A pa pa pa...." celotehnya sembari bertepuk tangan dan berjalan.


Khaira langsung berjongkok dan menyambut putri kecilnya itu. "Syila Sayang ... Mama kangen Syila." ucap Khaira sembari mendaratkan ciuman di kedua pipi Arsyila yang chubby.

__ADS_1


Bunda Ranti lantas mendekati Khaira. "Kalian mandi dulu sana, nanti setelah bersih baru gendong Arsyila." ucapnya yang memperingatkan kepada Radit dan Khaira untuk bersih-bersih terlebih dahulu.


Tidak menunggu lama, keduanya bergantian mandi. Khaira memilih mandi terlebih dahulu dan segera menghampiri Arsyila yang sedang bermain bersama Eyangnya di ruang keluarga. Dengan segera dia memeluk Arsyila sembari menggendongnya, berceloteh ria dengan putri kecilnya itu. Benar yang dikatakan suaminya, memiliki seorang bayi di rumah bisa menjadi pelipur lara.


Saat sepasang mata Arsyila yang bulat dan jernih memandang Khaira, hatinya begitu menghangat. Saat Arsyila berceloteh dengan bahasa bayinya dan tertawa, Khaira yang semula sedih pun dapat ikut tertawa juga. Arsyila benar-benar menjadi penyejuk hati bagi Khaira.


Radit yang baru selesai mandi turut bergabung dengan mereka. Radit pun kini menggelitik Arsyila dengan menaruh dagunya di perut putrinya itu hingga Arsyila tertawa-tawa dengan sangat bahagia.


"Anak Papa ... bahagia selalu ya Arsyila." ucap pria itu sembari mencium pipi Arsyila.


Khaira benar-benar merasa hatinya begitu hangat saat ini. Tidak ada yang lebih membahagiakan baginya selain mendapat suami yang tulus dan anak yang sehat dan bahagia, serta orang tua dan mertua yang selalu menyayangi dan mensupportnya.


Perlahan Bunda Ranti mendekati Khaira dan menepuk bahu menantunya itu. Khaira pun menoleh merasakan tepukan di bahunya. Tanpa banyak bicara, Bunda Ranti segera memeluk Khaira.


"Sabar ya Khai...." hanya itu ucapan yang Bunda Ranti ucapkan.


Khaira pun sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya Bunda ... terima kasih. Semalam Arsyila rewel tidak Bunda? Maaf banyak merepotkan Ayah dan Bunda."


"Enggak papa Bunda ... Khaira masih kangen sama Arsyila. Lagipula sejak semalam juga sudah banyak tidur." ucap Khaira yang memang benar adanya usai menangis, dia pun tertidur hingga pagi menjelang.


Bunda Ranti pun menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, tapi begitu capek istirahat Khai ... banyak istirahat dulu." Ucap Bundanya yang mengingatkan Khaira juga untuk beristirahat.


Usai itu, Khaira kembali bermain bersama Arsyila mulai dari menyanyi, membacakan buku, atau sekadar membawa putri kecil itu dalam pangkuannya hingga perlahan Arsyila mulai tertidur karena kecapean bermain.


"Syila bobok Sayang? Mau gendongin biar bobok di kamar?" tanya Radit kepada istrinya.


Pelan-pelan Khaira menyerahkan Arsyila kepada Papanya dan membiarkan Radit untuk menggendongnya naik ke kamar mereka di atas.


Usai membaringkan Arsyila, Radit kembali turun ke bawah menemui istri dan Bundanya. Pria itu duduk tepat di sebelah Khaira.

__ADS_1


"Karena kalian sudah di rumah, Bunda pamit ya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan mengabari Bunda. Jaga kesehatan ya Khai ... jangan terlalu bersedih." ucap Bunda yang sekaligus berpamitan kepada Radit dan juga Khaira.


Keduanya pun lantas mengantarkan Bunda Ranti hingga ke depan rumah. "Hati-hati di jalan Bunda...." ucap Radit dan Khaira bersamaan.


Dengan merangkul bahu sang istri, Radit berjalan dan kembali memasuki rumahnya. "Masih sakit?" tanyanya di sela-sela langkah kaki mereka.


Khaira menggelengkan kepalanya. "Enggak ... tidak seberapa aja kok. Bener katamu, Mas ... ada Arsyila rasanya aku tidak terlalu bersedih. Melihat wajah dan senyuman Arsyila rasanya kesedihanku terhapuskan." ucap Khaira sembari tersenyum membayangkan wajah polos dan bahagianya Arsyila.


Radit pun lega, istrinya bisa sedikit melupakan kesedihannya karena Arsyila. "Di lain waktu, bila Tuhan titipkan kepada kita buah hati lagi kamu mau Sayang?" tanyanya perlahan.


Dengan segera Khaira menganggukkan kepala. "Mau Mas ... tetapi, tidak dalam waktu dekat. Lagipula aku kaget, padahal aku masih ASI ekslusif kok bisa isi."


"Bisa Sayang ... karena tetap ada periode subur. Kemarin aku udah tanyakan itu ke Dokter Indri, jadi ya tetap bisa hamil." jawab Radit yang membuat Khaira nampak serius memperhatikan ucapan suaminya.


"Kecolongan berarti ya kita Mas...." ucapnya dengan mencoba tenang.


Radit mengangguk. "Iya ... kecolongan Sayang. Di lain waktu, kalau kamu siap, kita sama-sama siap, mending kita program hamil lagi Sayang."


"Iya Mas...."


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


Dear All,


Aku memberi info untuk mampir ke karya teman aku ya...


Berjudul Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda karya Syasyi. πŸ₯°


__ADS_1


Happy Reading😍


__ADS_2