
Sepulang dari kediaman orang tuanya, Khaira kembali memasuki rumah besar yang sepi ini. Lagi dan lagi, ia merasa kesepian di rumah ini. Jika beberapa jam yang lalu, ia merasa bahagia dan nyaman bersama Ayah dan Bundanya. Kebahagiaan itu tidak bertahan selama 24 jam. Sebab, kebahagiaan itu telah berganti menjadi kesepian yang harus Khaira hadapi seorang diri.
Khaira masuk ke dalam kamarnya, ia merebahkan badannya di tempat tidurnya sembari satu tangannya menutupi matanya.
Baru ia rebahan sejenak, handphone berdering. Terdapat sebuah panggilan di sana.
Khaira mengambil handphonenya, dan melihat bahwa panggilan dari nomor yang tak dikenal. Jadi, ia berniat menghiraukan panggilan itu. Namun, sekian lama dihiraukan, nomor itu justru melakukan panggilan berkali-kali. Akhirnya, Khaira memutuskan menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
[Halo, ini siapa?]
Penggilan itu pun langsung dimatikan.
Khaira menaruh kembali handphonenya dan berdiri untuk membersihkan dirinya dan akan langsung tidur, karena esok dia ada bimbingan skripsi.
Selesai membersihkan dirinya, Khaira kembali merebahkan dirinya di tempat tidur. Lagi-lagi handphonenya berdering, dan panggilan dari nomor telephon yang tadi menelponnya. Kali ini Khaira membiarkannya, mungkin hanya orang iseng pikirnya. Tetapi, faktanya nomor itu menghubunginya berkali-kali. Jengah dengan panggilan yang bertubi-tubi dari nomor tersebut, akhirnya Khaira menggeser kembali tombol hijau di handphonenya.
[Halo, ini siapa sih? Jangan iseng deh.]
Lagi-lagi panggilan itu dimatikan.
Khaira benar-benar emosi karena ada orang yang sedang bermain-main dengannya. Bahkan dia sendiri tidak tahu siapa pemilik nomor telepon itu.
Sekarang, giliran beberapa pesan masuk ke dalam handphonenya.
[Jangan berani dekat-dekat Radit lagi.]
[Cukup untuk hari ini!]
__ADS_1
[Lain kali, urus masalahmu sendiri. Jangan libatkan Radit.]
[Atau jangan-jangan kamu lupa, kamu sendirian di dalam rumah. Sangat mudah untuk memusnahkanmu.]
Mata Khaira membelalak membaca pesan-pesan. Ia tak mengira akan mendapat teror dari nomor yang tidak ia kenal. Hatinya berdebar-debar dan merasakan ketakutan. Memang benar, ia berada di rumah sendirian. Ini berarti orang tersebut mengetahui kalau Khaira sendirian di dalam rumah.
Namun, yang tahu keberadaan Khaira seorang diri hanya Radit dan tentunya Felly.
"Apa Felly yang melakukan teror ini? Mengerikan." Khaira bergidik ngeri membayangkan jika Felly yang tengah menerornya.
Khaira turun dari tempat tidurnya, ia memastikan semua jendela dan pintu rumah benar-benar terkunci. Memang benar ia sendirian di dalam rumah, sehingga apa pun bisa terjadi dan tidak ada yang menolongnya.
"Bagaimana kalau ada yang mencelakaiku? Padahal aku juga tidak melakukan yang aneh-aneh. Lagi pula aku juga istrinya Radit, aku bukan simpanannya. Mengapa aku diteror seperti ini?"
Khaira merasakan sedikit panik. Tapi Khaira mencoba untuk menenangkan sendiri hati dan pikirannya. Ia kembali menaiki tempat tidurnya dan menaik selimutnya.
[Ini peringatan terakhir. Jangan coba-coba dekatin Radit lagi.]
[Sangat mudah menyingkirkan burung pipit sepertimu.]
Khaira memandangi deretan pesan yang masuk ke handphonenya itu. Pikirannya saat ini hanya mengarah pada Felly. Tetapi jika Felly melakukannya untuk apa, bukankah wanita itu sudah menjadi pemilik sepenuhnya atas Radit. Lagipula Khaira merasa seharian bersama Radit, dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Setelah arisan keluarga pun, mereka berdua kembali pulang. Rasanya aneh mendapatkan terror melalui aplikasi pesan di handphonenya, padahal Khaira sendiri bersikap sangat wajar kepada Radit.
Memikirkan terror yang mengerikan ini, Khaira mengistirahatkan badannya. Tidur menjadi solusi untuk melepaskan beban di pikirannya. Sembari berharap tidak akan ada kejadian aneh yang mengusiknya malam ini.
Walau pun tidur terasa sama sekali tidak nyenyak, tetapi Khaira berusaha menutup matanya. Berharap tidak ada lagi yang mengganggunya melalui aplikasi pesan dan telepon di handphonenya.
Hingga pagi hari pun datang, Khaira bangun seketika langsung mengecek handphone. Ia merasa lebih tenang karena tidak ada pesan dan panggilan yang menerornya. Khaira pun lalu segera menyegarkan dirinya di kamar mandi, sebab hari ini dia ada jadwal bimbingan skripsi di kampusnya.
__ADS_1
Setelah bersiap Khaira keluar dari rumah, membuka gerbangnya untuk mengeluarkan mobilnya. Dan dengan kagetnya, di depan rumahnya berbau sangat busuk.
"Siapa yang melempar telor busuk ke gerbang ini?" Khaira menolehkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, tetapi lingkungan perumahan itu sepi.
"Astaga, baunya busuk sekali bagaimana ini?" Khaira berkata lirih sembari menutup hidungnya. Ia benar-benar tak tahan bau busuk yang sangat menyengat ini.
Akhirnya Khaira mengambil selang air, memasangnya ke dalam kran air, lalu menyemprot seluruh bagian gerbang dan tembok yang terkena telor busuk. Usai itu Khaira mengambil cairan pembersih lantai untuk mengurangi baunya yang menyengat. Khaira sebelumnya sudah mandi, tetapi lantaran lemparan telor busuk misterius di gerbangnya, membuatnya harus bermandi keringat lagi pagi-pagi.
Namun Khaira masih bersyukur, hanya gerbang dan sebagian temboknya yang terkena lemparan telor, bukan dirinya. Merasa bersyukur untuk hal-hal kecil yang dialami dalam hidup kita membuat kita menyadari bahwa hidup memberi kita banyak alasan untuk bersyukur. Saat keadaan mengusik ketenangan kita, tetapi dengan bersyukur semuanya bisa dilewati. Begitu juga yang dirasakan Khaira saat ini.
Selesai membersihkan bagian depan rumahnya, giliran Khaira masuk ke dalam rumah. Ia kembali mengguyur badannya di bawah air shower untuk menyingkirkan keringat yang menempel di badannya setelah mengepel bagian garasi. Tidak perlu waktu lama, Khaira kini telah bersiap untuk berangkat ke kampusnya.
Setibanya di kampus, Khaira langsung menemui Dosen Pembimbingnya. Kali ini Khaira dibimbing oleh Pak Andreas, salah satu dosen muda yang terkenal pandai dan detail dalam setiap bimbingannya.
"Jadi progres skripsi kamu sampai mana Khaira?" Tanya Pak Andreas yang tengah membaca draft skripsi milik Khaira.
"Sudah sampai di Bab 4 untuk metodologi penelitian." Jawab Khaira.
"Oh ya, bagus. Selesaikan saja sampai Bab 5 ya. Setelah itu siapkan juga kelengkapan skripsinya mulai dari abstraksi, daftar isi, daftar pustaka, dan lembar lampiran. Saya rasa kamu sudah siap untuk ujian skripsi segera. Bagaimana siap tidak?" tanya Pak Andreas kepada Khaira.
"Ya Pak, saya siap." Khaira mengangguk, ia pun merasa lega karena tidak lama lagi ia bisa sidang skripsi dan tinggal menunggu wisuda.
"Oh, iya usai lulus apa yang akan kamu lakukan?" lagi Pak Andreas bertanya kepada Khaira.
"Saya ingin melanjutkan S2 Pak."
"Oh, ya. Bagus. Saya punya beberapa info scholarship (beasiswa), kalau kamu mau nanti saya bisa emailkan."
__ADS_1
"Ya Pak, saya mau. Terima kasih ya Pak Andreas." Khaira mengucapkan terima sembari ia keluar dari ruangan dosen pembimbingnya.