Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Kebahagiaan Metta dan Dimas


__ADS_3

Hari berganti hari, hingga bulan pun berganti bulan. Tidak terasa usia kehamilan Metta sudah mendekati Hari Perkiraan Lahirnya.


Berbeda Khaira yang memenuhi kriteria untuk melahirkan secara normal yaitu kepala bayi sudah masuk ke dalam panggul, tidak ada lilitan di badan bayi, letak plasenta tidak menutupi jalan lahir, dan berat badan bayi tidak terlalu besar. Metta disarankan oleh Dokternya untuk melahirkan tidak secara normal karena terjadi Plasenta Previa atau plasenta menutupi pembukaan pada leher rahim ibu. Dengan demikian Metta memang disarankan untuk melahirkan secara Caesar.


Hari ini Khaira dan Radit menerima kabar bahwa bayi Metta dan Dimas sudah lahir. Maka, keduanya berniat untuk menjenguk baby yang tentunya akan menjadi saudara dan teman bermain bagi Arsyila.


"Sudah siap Sayang?" tanya Radit yang sedang memangku Arsyila dan masih menunggu Khaira yang masih menyiapkan hadiah untuk bayi Metta dan Dimas.


"Sebentar Mas ... lima menit ya." ucap Khaira yang masih sibuk dengan hadiah di tangannya.


Radit hanya mengangguk, tetapi dalam hatinya dia ingin istrinya segera menyelesaikannya, setelah itu mereka bisa segera menjenguk Metta dan Dimas. "Jangan lama-lama Sayang ... keburu sore, malamnya kita masih ada acara loh." ucapnya sembari memperhatikan istrinya dari jauh.


Kedua mata Khaira membola seketika, dia tahu pasti apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Maka Khaira hanya membiarkan saja ucapan suaminya itu.


"Yuk, sudah Pa ... sekarang ya." ucapnya yang bersiap dengan paper bag yang berisi hadiah untuk bayi Metta dan Dimas.


"Syila sama Mama yuk...." ucapnya sembari mengulurkan kedua tangan hendak menggendong Arsyila.


Nampak Arsyila menganggukkan kepalanya dan bergumam. "Ma Mama ... baby." ucapnya dengan begitu lucu.


"Iya Syila Sayang ... kita mau menengok baby nya Aunty Metta dan Om Dimas." sahut Khaira sembari terus menggendong Arsyila memasuki mobil.


Tidak berselang lama, mereka telah sampai di rumah Metta dan Dimas. Karena menengok baby dan mengajak Arsyila, Radit dan Khaira memang sengaja menengok saat Metta sudah bisa kembali ke rumah.


"Permisi...." ucap Radit dan Khaira bersamaan saat memasuki kediaman Dimas yang tidak jauh dari rumahnya.


"Eh ... ada Arsyila ... masuk-masuk." ucap Dimas yang mempersilakan keluarga Radit untuk masuk.


Ketiganya pun masuk ke dalam rumah, setelah sebelumnya menyapa tuan rumah terlebih dahulu.

__ADS_1


"Gimana pengalaman mendampingi Istri melahirkan?" tanya Radit begitu mereka telah duduk di ruang tamu.


Dimas nampak tersenyum dan sedikit menggaruk kepalanya. "Kalau Caesar cuma 15 menit sampai setengah jam selesai Bro. Yang serem waktu lihat bayi diangkat dari sayatan di perut itu. Plasenta Previa soalnya, jadi enggak bisa melahirkan secara normal." ucap Dimas yang menceritakan proses istrinya melahirkan.


"Gak papa Kak ... Mau normal atau pun Caesar perjuangan seorang Ibu itu sama kok." ucap Khaira yang tentu membesarkan hati Dimas.


Di tengah berbagai stigma yang muncul bahwa melahirkan normal lebih mulia dibandingkan mereka yang melahirkan secara Caesar adalah tidak benar. Mau apapun metode melahirkan yang dipilih, seorang wanita adalah Ibu seutuhnya dan sepenuhnya.


"Benar Khai ... tetapi Metta lebih kesakitan usai operasi itu, akhirnya aku minta ke Dokternya untuk dikasih obat pereda nyeri." lagi cerita Dimas.


"Kalau gue dulu dramatis banget waktu menemani Istri melahirkan Arsyila. Normal kan dia, setiap proses pembukaan sampai melahirkan itu bikin gue gak tega. Terlebih Khaira nangis terus, kesakitan, selalu keingat sih momen itu. Sampai akhirnya waktu pertama kali dengar tangisan Arsyila pertama kali, gue ikut nangis." kali ini giliran Radit yang menceritakan pengalamannya mendampingi Khaira.


Dimas pun menganggukkan kepalanya. "Benar ... waktu dengar tangisan bayi pertama itu, gue sampai ikutan nangis. Lo enggak nambah lagi, Bro? Mumpung Arsyila sudah gede. Udah cocok punya adik."


Radit pun tersenyum penuh arti sembari menatap wajah istrinya. "Sesiapnya Istri aja Bro... kasihan juga kalau dipaksakan. Hamil, melahirkan, sampai mengasuh tiap hari itu enggak mudah. Sesiapnya Khaira aja." ucapnya dengan sorotan mata yang teduh pada istrinya.


Dimas nampak kembali tertawa. "Lo keliatan cinta banget sama Khaira. Mantap sih, tetapi benar sesiapnya Istri. Wah, karena baby gue cewek, gagal deh gue menjadikan Arsyila sebagai menantu masa depan."


"Kak, aku nengokin Metta boleh?" kali ini Khaira yang ingin menengok Metta yang masih berada di kamarnya.


"Boleh-boleh, Khai ... langsung aja ke kamar ya." ucap Dimas sembari menunjuk kamar yang ditempati Metta.


Khaira menggendong Arsyila untuk memasuki kamar Metta. Sementara para suami masih berada di ruang tamu.


"Permisi...." ucap Khaira begitu memasuki kamar Metta.


Nampak Metta tengah berbaring dan terdapat box bayi yang berada di sisi tempat tidurnya. "Aunty Metta...." sapa Khaira.


"Eh Mama Khaira sama Arsyila cantik. Masuk-masuk...." ucap Metta yang kemudian berusaha untuk duduk dengan bersandar di head board tempat tidurnya.

__ADS_1


"Rebahan aja Metta ... gak usah dipaksakan." ucapnya yang mengambil tempat duduk di sisi Metta.


"Baby baby...." ocehan Arsyila sembari melihat bayi perempuan yang tengah tertidur di box bayi itu.


Khaira pun tersenyum dan kemudian memangku Arsyila. "Iya ... itu baby Sayang. Lucu ya?"


Nampak Arsyila menganggukkan kepalanya dan menunjuk dengan jari telunjuknya. "Mama Baby...."


Metta tertawa melihat tingkah lucu Arsyila. "Arsyila mau baby? Minta sama Papa dan Mama ya. Biar Arsyila punya baby kecil seperti itu."


Khaira pun tertawa. "Jangan diajarin, nanti minta beneran loh."


"Gak papa Khai, Arsyila sudah besar. Udah cocok punya baby." ucap Metta.


Nampak Khaira menggelengkan kepalanya. "Jangan dulu. Gue yang belum siap. Beberapa waktu lalu, gue sempat keguguran soalnya, Ta. Baru 6 minggu, katanya karena stress, kecapean, dan kelelahan jadinya keguguran deh. Sampai dikuretase juga." cerita Khaira kepada sahabatnya itu.


"Kok enggak kabar-kabar sih, Khai? Kan kami bisa menengok." Sahut Metta.


Khaira tersenyum. "Gak papa, lagian pemulihanku cepet kok. Ada Mas Radit yang selalu siaga. Eh, iya ... baby cantik ini namanya siapa?"


"Namanya Medina, Aunty." ucap Metta yang kemudian nampak mengelus pipi baby perempuan yang diberi nama Medina itu.


"Baby nya namanya Medina, Sayang. Lucu ya babynya." ucap Khaira sembari menengok baby itu.


Khaira lantas menaruh Arsyila untuk duduk di dekat Metta, dan dia berinisiatif untuk menggendong Medina. "Ihh, lucunya...."


Baru beberapa menit, Khaira menggendong Medina, Arsyila nampak menangis. "Mama Mama...." ucapnya sembari menangis.


"Cemburu, Khai ... dikira Mamanya jadi milik Medina. Anak kecil memang lucu ya. Kecil-kecil udah cemburu aja. Mamanya cuma gendong sebentar aja Syila." ucap Metta sembari tertawa.

__ADS_1


Sementara Arsyila justru terus menangis dan memanggil Mamanya.


__ADS_2