Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Ketegasan Khaira


__ADS_3

Khaira akan kembali mengajar di kampusnya hari ini. Sejak semalam ia telah mempersiapkan materi ajar, dan tes kecil untuk mahasiswa.


Sementara pagi ini giliran Radit yang sibuk mempersiapkan keperluan untuk Istrinya. Susu ibu hamil yang ditaruh dalam botol kecil, cookies untuk ibu hamil, hand sanitizer, dan juga masker. Semua itu Radit masukkan dalam hand bag istrinya.


Dengan pelan, Radit mengemudikan mobilnya ia terlebih dahulu mengantar istrinya ke kampus, sebelum ia menuju ke tempat kerjanya. Begitu sudah sampai di kampus, Khaira berpamitan kepada suaminya itu.


"Aku ngajar dulu ya Mas, salim dulu Mas..." ucapnya sambil mencium punggung tangan suaminya.


Sementara Radit pun mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya. "Semangat juga ngajarnya. Jangan kecapean. Baby A temenin Mama dulu ya. Dengerin Mama ngajar biar pinter." ucapnya sembari mencium perut istrinya.


"Ya sudah, aku ke dalam ya Mas. Hati-hati. Love U Papa...." ucapnya sembari melambaikan tangannya kepada Radit.


Khaira terlebih dahulu menuju ruangan para Dosen untuk mengambil Kartu Presensi Mahasiswa, setelahnya ia berjalan menuju gedung D2 untuk memulai mengajar di sana. Akan tetapi saat menyusuri lorong-lorong itu, ia mendengar beberapa mahasiswa yang nampak menggosipkannya.


"Bu Khaira kan masih muda ya, kok tiba-tiba saja dia hamil sih. Perasaan belum pernah dengar kalau dia udah nikah." ucap salah satu mahasiswa.


"Iya bener banget, suaminya yang mana sih? Dulu gue lihat BuDos (Bu Dosen) ngobrol di depan sama Kak Tama, mahasiswa tampan yang ambil S2 di sini." nyinyiran mahasiswa lainnya.


"Perasaan Bu Khaira baru hampir 25 tahun, hamil di usia muda dan gak diketahui suaminya yang mana." Sambung mahasiswa lainnya.


Jangan kaget, sebenarnya sebuah kampus bukan hanya sebuah tempat menimba ilmu. Akan tetapi, para mahasiswa pun sering kali bergosip dan para Dosen tidak luput untuk dijadikan bahan gosip.


Tak ingin mood nya berantakan pagi ini, Khaira tetap melangkahkan kaki menuju ruangannya mengajar. Beberapa kali ia merelaksasi dirinya dengan cara menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


Khaira pun berpikir bahwa usianya memang masih muda, hanya berselisih beberapa tahun saja dari mahasiswa yang ia ajar sekarang. Terlebih sekarang kondisinya tengah hamil, tentu saja menjadi bahan perbincangan bagi mahasiswanya. Bukan merutuki diri sendiri. Akan tetapi, Khaira berusaha membuang jauh-jauh nyinyiran yang dia dengar kali ini. Sebab, dia tahu pasti bahwa omongan mereka semua tidaklah benar. Sehingga, alih-alih memasukkan dalam hati, lebih baik membuangnya.


Khaira memasuki ruangan dan mulai memberikan pengajaran selama 120 menit. Para mahasiswa pun mendengarkan penjelasan Khaira dengan sebaik mungkin. Walau pun beberapa mata-mata nampak fokus pada perut Khaira yang telah menyembul, tetapi Khaira tidak mempermasalahkan itu. Karena tidak ada yang salah dengan dirinya.


Usai mengajar, Khaira membereskan laptop dan beberapa barangnya sebelum pulang. Setelah tidak ada barang yang ketinggalan, ia berniat meninggalkan ruangan dan menunggu suaminya yang akan menjemputnya di depan.


Baru saja ia keluar ruangan, rupanya ia kembali berpapasan dengan Tama.


"Hei Khai, kamu di sini?" sapa pemuda tampan yang hingga saat ini masih gagal move on itu.


Khaira sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, abis selesai ngajar." sahut Khaira.


Rombongan mahasiswi nyinyir yang tadi pagi menggosipkan Khaira kini melihat pemandangan ketika Dosennya tengah berbicara dengan Tama.


Tama yang mendengar ucapan Khaira hanya diam, tetapi ia masih berjalan di sisi Khaira. "Boleh aku bantu bawain tas laptop kamu?"


Dengan cepat Khaira menyergahnya. "Eh, gak perlu Tama. Aku masih bisa."


Sedikit berjalan mendahului Tama, ketika Khaira telah sampai di depan gedung fakultas. "Khaira, tolong dengarkan gue sebentar."


Khaira pun berhenti. "Ada apa?"


"Sorry bukan maksud gue Khai, tetapi apa yang lo lihat dari sosok suami lo sih Khai? Gue selama ini diam bukan berarti gue enggak tahu Khai, gue tahu. Rumah tangga lo tidak baik-baik saja. Dari gelagatnya sejak dulu kaki lo terkilir, lo datang wisuda sendirian, semua adalah bukti ada yang tidak beres Khai. Bahkan dulu gue pernah melihat suami lo itu jalan dengan cewek lain di sebuah Mall. Sadar Khai, lo pantas dapat pria yang lebih baik." ucap Tama dengan cukup emosional.

__ADS_1


Khaira hanya tersenyum mendengar ucapan Tama. "Terima kasih untuk penilaian dan perhatian lo selama ini, Tama. Tapi suami gue sudah sepenuhnya berubah. Dia berusaha memantaskan dirinya setiap hari untuk mendampingi gue. Dan gue sudah dan akan terus mencintainya sebagai seorang suami dan Ayah dari anak gue. Please, Tama ... lo berhak bahagia. Lupakan gue, jangan mengharapkan gue. Karena sampai kapan pun, gue ini punya Mas Radit, gue seorang istri dan akan menjadi Ibu untuk anak gue. Move on Tama, kamu pasti bisa."


Tama mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa sih Khai, lo disakiti suamimu tetapi lo bisa maafin dia?" Tama memang tak habis pikir dengan Khaira.


Khaira hanya tersenyum dan memandang Tama, "Karena gue mencintainya Tama, cinta itu memaafkan, dalam cinta ada pengampunan. Lagipula sudah lama Mas Radit berubah, semua manusia layak untuk mendapatkan kesempatan kedua Tama. Ya sudah Tama, gue cabut dulu ya."


Khaira pergi meninggalkan Tama dengan hati yang berkecamuk dan sekaligus lega. Di satu sisi ia tak mengira bahwa Tama terang-terangan menyudutkan suaminya, tetapi di satu sisi Khaira lega karena ia bahkan berani bersikap tegas bahkan ia mengatakan pada Tama bahwa ia mencintai suaminya.


Khaira dulu di halte kampus dengan harapan suaminya akan segera datang menemuinya. Entah rasanya hanya Radit yang mampu menenangkan Khaira saat ini.


Kurang lebih lima menit Khaira duduk dengan terus menenangkan pikiran dan mood nya yang tidak baik hari ini. Mulai dari mahasiswa yang menggosipkannya hingga Tama yang berkata yang bukan-bukan.


Khaira yang telah menunduk dan hanyut dalam pikirannya sendiri hingga tidak menyadari mobil suaminya telah berhenti di hadapannya.


Sebelum membuka pintu mobilnya, Radit terlebih mengamati istrinya yang menunduk dengan pandangan yang kosong. Pria itu menduga-duga apa sesuatu terjadi pada istrinya.


Perlahan ia membuka pintu mobil, lalu berdiri di depan istrinya. "Sayang ... ngapain kamu ngelamun sih?"


Khaira perlahan mendongakkan kepalanya, seketika ia begitu lega mendengar sapaan suaminya dan kehadiran suaminya yang sudah ia nantikan sekian waktu.


Khaira tersenyum, tetapi Radit tahu bahwa ini hanya sebatas senyum yang dipaksakan. Radit kemudian mengambil tas laptop dan hand bag istrinya. "Ayo kita pulang...."


Khaira berdiri lalu mengikuti langkah kaki suaminya menuju ke dalam mobil. Begitu Radit telah sampai ke dalam mobil, Khaira menyerukkan dirinya ke dalam dada suaminya.

__ADS_1


"Mas...." hanya itu kata-kata yang terucap.


__ADS_2