
Radit mengangkat tangan kanannya lalu mengusap pelan puncak kepala Khaira dengan tangan kanannya itu. "Hati-hati ya..."
Tubuh Khaira seketika membeku diperlakukan sedemikian rupa oleh Radit. Walau pun hanya sebatas usapan di kepalanya, tetapi mengapa tindakannya yang impulsif dan tiba-tiba selalu bisa mengejutkan Khaira.
Khaira menenangkan jantungnya yang berdetak lebih cepat dari ambang batasnya. "Iya Mas, aku pamit..." ucapnya tanpa menoleh pada Radit.
"Hmm, hati-hati. Nanti hari Sabtu sore aku akan ke rumah."
Demikianlah keduanya berpisah, mengambil jalan berlawanan. Sama halnya cinta tak sejalan, begitu pula dengan Radit dan Khaira yang sama-sama harus berpisah saat itu.
***
Hari Sabtu yang dijanjikan Radit untuk mengajak Khaira nonton bareng sepak bola di salah satu kafe pun tiba.
Sabtu siang, Radit telah mengirimi pesan bahwa nanti sore dia akan menjemput Khaira di rumah.
[To: Khaira]
[Nanti Mas ke rumah sore ya...]
[Pertandingannya jam 8 malam kan?]
[Tunggu Mas ya...]
Khaira yang membaca pesan dari Radit hanya mengernyitkan dahinya.
"Ini kenapa orang sejak beberapa hari waktu ketemu, menyebut dirinya dengan sebutan 'Mas' coba? Kesambet atau apa sih?" gumam Khaira dalam hati sembari jari-jarinya mengusap layar handphonenya.
Perlahan Khaira pun membalas pesan dari Radit.
__ADS_1
[Iya...]
Balasannya singkat.
Tapi entah mengapa, Khaira seolah tidak yakin dengan janji yang Radit berikan bahwa ia akan mengajaknya menonton pertandingan sepak bola. Akan tetapi, karena Radit juga sudah mengiriminya pesan jadi Khaira mulai bersiap mandi, keramas, bahkan ia terlihat memilih-milih hendak mengenakan Jersey yang mana, karena Khaira memiliki banyak sekali koleksi Jersey Manchester United, kesebelasan favoritnya sejak kecil.
Hari Sabtu ini seolah menjadi waktu berkencan bagi Khaira, sehingga gadis itu melakukan berbagai persiapan. Hatinya pun harap-harap cemas menanti kedatangan Radit.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan Radit. Akhirnya Khaira memutuskan untuk menyibukkan diri di dapur, ia ingin membuat Macaroni & Cheese, yang mungkin nanti bisa ia bagi dengan Radit begitu pria itu datang.
Kesibukan di dapur membuat Khaira tidak harap cemas menanti kedatangan Radit, namun tidak terasa hari sudah petang.
"Sudah hampir jam 6 sore kenapa dia belum datang? Apa memang tidak jadi, kalau tidak jadi kenapa tidak memberi kabar." gumam Khaira dalam hati sembari menyimpan Macaroni & Cheese ke dalam wadah.
Lama menunggu akhirnya, Khaira memilih kembali ke kamar untuk mengecek handphonenya. Keningnya berkerut lantaran tidak ada pesan sama sekali dari Radit, sementara waktu sudah semakin malam.
Waktu terus berjalan hingga jam 8 malam, waktu yang seharusnya pertandingan sepak bola favoritnya sudah dimulai kick-off sekarang ini, tetapi Radit pun tidak datang bahkan mengiriminya pesan pun tidak. Akhirnya Khaira memutuskan untuk tidak lagi menunggu Radit. Memupus harapannya lagi dan lagi. Mengharapkan sesuatu yang mustahil tentu sangat menyesakkan hati.
"Aku semakin tahu, siapa aku bagimu, Mas. Lagi-lagi kau memberikan janji di atas ingkar. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari. Dan, betapa bodohnya aku yang langsung percaya dengan janjimu." Khaira tersenyum getir sembari merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.
***
Beberapa jam yang lalu di rumah Radit dan Felly.
Sekitaran jam 4 sore, Radit tengah bersiap dengan mengenakan jersey Manchester United berwarna merah. Pria itu bersiap menjemput Khaira di rumahnya, sebagaimana janjinya yang akan mengajak Khaira menonton pertandingan sepak bola di kafe yang menggelar nonton bareng.
Felly yang melihat Radit tengah bersiap untuk pergi, tiba-tiba berulah. Perempuan itu tiba-tiba saja sakit dan meminta Radit untuk menemaninya.
"Mau kemana Ay?" tanya Felly kepada Radit yang tengah bersiap memakai sepatunya.
__ADS_1
"Mau nonton bareng sepak bola, klub kesukaan aku main malam ini. Ini kan aku pake Jersey, jadi ya mau nonton sepak bola. Bukan kemana-mana. Kenapa?" balas Radit enteng dan ia memang akan menonton sepak bola dan ia berencana mengajak Khaira nonton bareng.
"Jangan pergi dong Ay, aku nya baru pulang kerja masak kamu pergi sih? Temenin aku dong." Felly merengek sembari memegangi lengan Radit.
Radit mengusap wajahnya, "Aku keluar sebentar nonton sepak bola enggak boleh Yang? Lagipula, Senin sampai Jumat aku sudah bekerja, aku cuma mau seneng-seneng bentar nonton sepak bola."
"Jangan pergi dong, Ay... Aku kangen... Lagian semingguan ini kamu pulang malam terus. Aku sibuk kerja, kamunya juga lembur terus. Kamu enggak kangen sama aku?" tiba-tiba saja Felly menangis, yang membuat Radit kebingungan.
"Kenapa kamu menangis Yang? Apa kamu marah karena aku mau pergi nonton sepak bola?" tanya Radit dengan wajah gusar.
Felly menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak..." ucapnya sambil berderai air mata. "Perutku sakit, Ay. Kemungkinan maag aku kambuh deh." Ucapnya sambil kedua tangannya memegangi perutnya.
Radit yang tahu kalau Felly memang memiliki sakit maag, sontak saja Radit menjadi khawatir.
"Ya udah, aku gak jadi pergi. Aku temenin kamu di sini. Aku perlu apa, biar aku cariin?" ucap Radit sembari mengusap punggung Felly.
"Aku mau bubur ayam, Ay. Ada enggak ya jam segini bubur ayam?" Masih Felly berbicara sembari merengek di hadapan Radit.
"Ya udah, karena kamu yang minta aku akan carikan bubur ayam buat kamu. Aku berbaring aja, istirahat dulu. Biar aku carikan bubur ayamnya. Tunggu aku ya, jangan kemana-mana."
Radit menuntun Felly memasuki kamarnya, lalu ia menghidupkan sepeda motornya lalu mencari penjual bubur ayam.
Sementara di dalam kamar, Felly justru tertawa, dengan mudahnya ia mengelabui Radit.
"Kamu terlalu mudah dikelabui, Ay. Sorry, aku cuma tidak ingin membuatmu menemui siapa pun termasuk bocah kecil itu. Hahahaha.... Sandiwaraku berhasil, Ay. Dan, kau sudah sepenuhnya dalam genggamanku. Dengan mudah aku bisa mengendalikanmu, Ay." Felly berkata sambil tertawa dan menghapus air matanya yang ternyata hanya air mata sandiwara.
Rupanya sakit perut karena maag hanya sebuah sandiwara yang dilakukan Felly supaya Radit membatalkan rencananya menonton pertandingan sepak bola. Sekali lagi Felly membuat trik untuk menghalangi Radit keluar.
Radit yang sedang berputar-putar dengan sepeda motornya hanya fokus mencari penjual bubur ayam dan sakit maag yang saat ini diderita Felly.
__ADS_1
Pikirannya sepenuhnya teralihkan, hingga dia lupa untuk mengabari Khaira bahwa acara keluar malam ini batal.
Sekali lagi, Radit tak mengetahui bahwa di sana Khaira telah harap-harap cemas menanti kedatangannya sejak sore. Dan, Radit pun lupa mengirim pesan untuk Khaira.