Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Yang Lebih Enak Saat Hujan


__ADS_3

Menjelang sore saat merasakan ngambeknya Khaira sudah mulai hilang, cuaca di luaran sana tiba-tiba hujan deras dan petir cukup menggelegar.


"Untung kita udah di rumah ya Sayang. Tuh, tiba-tiba hujan. Kalau hujan-hujan gini enaknya ngapain ya Sayang?" jawab Radit sembari mencubit hidung mancung Khaira.


"Makan mie rebus enak kali ya. Ditambah telor dan cabe rawit." jawab Khaira sembari menggeser posisi duduknya. Ia berpindah dari pangkuan suaminya dan kini ia duduk di tempat tidur dengan menyandarkan bahunya di head board.


"Makan mie rebus? Kamu lucu banget sih Sayang." Radit semakin gemas dengan istrinya yang sudah dewasa tetapi tetap saja polos. "Ada yang lebih enak tahu daripada makan mie rebus pas hujan-hujan kayak gini." ucap Radit sambil mengerlingkan matanya.


Pria itu semakin gemas dan menahan tawa lantaran istrinya tidak bisa diajak main kode-kodean. Radit menggeser posisinya dan kini ia berhasil mengungkung istrinya itu. Wajah Khaira memerah lantaran malu melihat suaminya yang sudah sedekat ini dengannya.


"Mas, kamu mau ngapain sih?" tanyanya lirih sembari matanya membola sempurna melihat suaminya. "Ini masih sore, Mas. Ada Ayah dan Bunda juga. Sebaiknya jangan." Khaira mengingatkan kepada suaminya itu hari masih sore dan tentu keberadaan keduanya di rumah mertua tentu harus diwaspadai tidak bisa seenak-enaknya sendiri.


"Bunda dan Ayah jalan-jalan ke Bogor kok, pulang besok. Panggil aku Sayang dong, sejak jadi suamimu dipanggilnya Mas terus. 'Mas Radit Sayang' coba panggil gitu. Coba panggil dong Sayang..." ucapnya tepat di depan wajah Khaira.


Radit kian mendekatkan wajahnya, mengikis jarak di antara keduanya. Semakin dekat, hingga tinggal beberapa milimeter lagi bibir mereka akan menempel sempurna. Sementara Khaira masih menatap wajah suaminya yang memang tampan itu dengan perasaan gugup dan juga malu. Walau pun sudah menjadi istri, Khaira selalu saja malu berada sedekat ini dengan suaminya itu.


"Kalau sudah sedekat ini, ditutup matanya dong Sayang." lagi Radit berbicara dengan suaranya yang terdengar parau dan juga serak di telinga Khaira.


Khaira justru mengedipkan matanya beberapa kali. Pemandangan yang membuat Radit semakin gemas hingga pria itu langsung melahap bibir mungil yang berada di bawahnya. Menghisapnya bergantian atas dan bawah. Kemudian menyerukkan lidahnya ke dalam mulut manis dan hangat milik istrinya itu.


Awalnya perlahan dan lembut, tiba-tiba ciuman itu semakin panas hingga nafas keduanya memburu. Tangan Radit bahkan telah meremas benda kembar milik istrinya yang terasa begitu pas dalam genggamannya. Nafas mereka memburu dan detakan jantung keduanya berpacu.

__ADS_1


"Hhh...." satu lenguhan keluar dari mulut Khaira saat ciuman suaminya itu mulai turun ke leher jenjang nan indah itu, kemudian turun lagi ke tulang belikatnya.


Gerakan tangan Radit yang bergerilya hingga akhirnya membuat Khaira telah melepaskan kemeja yang ia pakai, hanya menyisakan bra berwarna pink di sana.


"Mas..." Khaira sedikit memegang kencang rambut suaminya ketika bibirnya yang hangat itu sampai di puncak gundukan kembar di sana. Seolah pria itu memuaskan dahaganya dengan meremas, mencium, hingga kecupan yang membuat puncak bukit itu menegang. Sementara itu tangannya *******-***** rambut suaminya, hingga membuatnya berantakan, tetapi justru membuat kadar ketampanan pria itu bertambah berkali-kali lipat.


Hujan di luar membuat suasana semakin syahdu hingga membuat dua sejoli tersebut larut dalam suasana.


"Boleh??" tanyanya di sela-sela kegiatan panas saat hujan itu. Pertanyaan itu pun mendapat respons berupa anggukan dari Khaira.


Bangkit, Radit lantas melepaskan pakaian yang tersisa dari keduanya sehingga membuat keduanya sama-sama polos tanpa ada sehelai benang pun yang menempel. Dengan pelan-pelan, pria itu menghampiri istrinya dan merebahkan tubuhnya di atas tubuh ramping milik istrinya.


Tanpa menunggu waktu lama, Radit perlahan melesakkan kejantanannya pada inti tubuh istrinya itu, dan mendorongnya pelan. Kembali pria itu mencium bibir Khaira yang sudah mulai bengkak bagian bawahnya, kemudian ia mulai menghentakkan pinggulnya memperdalam penyatuan mereka. Bergerak penuh irama, Radit merengkuh tubuh istrinya, tidak membiarkan secercah celah tercipta di antara mereka.


"Sayang..." dipanggilnya istrinya itu di sela-sela deru nafasnya yang memburu. Pria itu menggeram sembari menyerukkan kepalanya ke leher istrinya. Pergerakannya semakin cepat disertai dengan pelepasannya ke dalam rahim istrinya.


Radit berharap bahwa benih itu akan bersemai dalam rahim Khaira. Berharap bayi yang lucu dan menggemas segera mendiami rahim istri yang begitu ia cintai itu.


"Terima kasih Sayang... Aku mencintaimu." ucapnya sembari mengecupi kening Khaira.


"Aku juga mencintaimu, Mas Raditku Sayang...." balas Khaira yang sukses membuat wajah suaminya nampak begitu malu.

__ADS_1


"Akhirnya kamu memanggilku Sayang juga setelah sekian lama pernikahan kita. Kalau cuma berdua, boleh loh kamu panggil aku 'Sayang' aja gak usah pakai 'Mas'..." Pria itu mengambil tisu lalu membersihkan keringat di kening istrinya.


Tangannya terulur membelai perut istrinya yang masih rata itu. "Semoga dedek bayi segera ada di sini ya Sayang. Ada Radit atau Khaira junior di dalam sini." ucapnya tulus dan penuh keseriusan.


Setelah Radit berbaring di sisi Khaira, membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, tubuh mungil istrinya yang sedang lemas tak berdaya itu. "Aku cinta banget sama kamu, Khaira... Istriku. Semoga Tuhan dengar impian kita untuk segera mendapatkan buah hati ya. Aku udah pengen menjadi Ayah." ucapnya sembari masih mengecupi puncak kepala istrinya itu dengan perasaan bahagia.


"Iya Mas, semoga Tuhan dengar dan menjawab permohonan hambanya ya." jawab Khaira sembari mendongakkan wajahnya menatap wajah suaminya.


"Jadi yang lebih enak dari mie rebus saat hujan maksudnya ini Mas?" tanya Khaira lagi kepada suaminya.


"Hmm, iya. Ini lebih enak, lebih mantap, lebih puas." ucapnya sembari terkekeh geli.


Khaira mencerukkan kepalanya di dada bidang milik suaminya itu. "Kamu memang ada-ada aja. Kalau disuruh modus pinter banget sih."


"Modusnya cuma sama kamu aja, Sayang..." jawab Radit. "Tidur dulu Sayang, istirahat sebentar nanti kalau udah bangun terus mandi. Hari ini sampai besok kita cuma berdua aja Sayang. Ayah dan Bunda ke Bogor mengunjungi saudara sampai besok. Jadi kamu tenang aja. Kita mau di dalam kamar terus sampai besok juga gak masalah."


Khaira memincingkan bola matanya. "Itu mah mau kamu aja, Mas. Aku ogah."


"Kan ikhtiar buat segera dapat momongan Sayang. Kamu inget kan pesan Dokter dulu itu, mendapatkan buah hati itu ada usaha manusia dan ridho dari Tuhan. Gimana Tuhan mau memberi ridho, jika kita tidak berusaha, berikhtiar. Jadi kan sering-sering aja ikhtiarnya Sayang." penjelasannya dengan wajah serius.


"Kalau ngasih siraman rohani pinter banget sih Mas...." sahut Khaira sembari mencubit pinggang suaminya itu.

__ADS_1


Radit mengaduh kesakitan lantaran cubitan istrinya itu. "Jangan cubit-cubit, nanti kalau yang di bawah sana bangun lagi enggak boleh protes loh ya. Harus tanggung jawab."


Khaira menggelengkan kepalanya. "Gak mau. Aku mau tidur, Mas. Capek banget aku udah lemes."


__ADS_2