Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Perasaan yang Berbeda


__ADS_3

Sudah seminggu Radit tinggal di Manchester. Sehari-hari ia habiskan hanya berada di apartemen dan menjalani aktivitas sehari-hari bersama Khaira.


Hidup berdua di apartemen studio rupanya tidak membuat Radit kesepian atau pun gabut, pria itu justru banyak bersyukur keputusannya untuk resign dari pekerjaannya nyatanya bisa mendekatkannya dengan Khaira. Walau pun baru tiga hari berjalan, Radit sedikit tahu kebiasaan Khaira mulai dari jam bangun pagi, kebiasaan Khaira di pagi hari yang selalu menyeduh teh tubruk, termasuk Radit melihat bahwa Istrinya itu sangat rajin dan rapi. Setiap sudut apartemen itu selalu bersih, tidak ada sampah menumpuk, handuk selalu dijemur di balkon setiap usai digunakan, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang selama ini tidak Radit ketahui.


Sekali pun sudah tinggal satu atap, keduanya masih tidur terpisah. Khaira tidur di tempat tidurnya, sementara Radit tidur di sofa. Seringkali Radit ingin sekali menyusul Istrinya tidur di tempat tidur, tetapi agaknya Khaira belum memberikan lampu hijau, jadi Radit benar-benar bersabar, sekaligus ia sudah berjanji untuk memberi Khaira waktu, ia mau menunggu Khaira sampai Istrinya itu benar-benar siap menerimanya.


Sore ini di musim dingin yang berkabut. Khaira sedang mengerjakan tugas-tugasnya sebelum liburan musim dingin tiba. Kacamata anti radiasi bertengger di hidungnya, melindungi matanya dari bahaya sinar biru yang dihasilkan oleh laptopnya. Beberapa buku berukuran tebal juga tergeletak di meja. Gadis itu begitu serius mengerjakan tugas-tugasnya.


Ketika Khaira sedang sangat serius, tiba-tiba saja Radit berdiri tepat di belakang kursi duduk Khaira.


"Serius amat sih?" ucapnya sembari melihat hasil kerjaan Khaira di laptop.


"Eh, iya Mas. Tinggal sedikit sih, sudah tersusun tugasnya di otakku tinggal aku ketik aja di laptop. Cuma kan tugasnya harus dengan Bahasa Inggris, jadi itu yang lama. Susunan kalimat dalam Bahasa Inggrisnya harus bener." ucap Khaira sembari jari-jarinya tetap mengetik di layar keyboard.


"Mau Mas bantuin enggak? Aku bantuin ketik bisa." ucap Radit menawarkan bantuan.


Tiba-tiba saja Radit menundukkan sedikit badannya menyamakan posisinya dengan posisi duduk Khaira. Wajahnya berada dekat dengan wajah Khaira, hanya berjarak sekian centimeter saja.


"Kata yang ini salah ketik tuh, Khai ... Ada typo." ucapnya sembari tangannya menunjuk ke layar laptop.


Menyadari posisi wajahnya yang berdekatan dengan Radit, hingga hembusan nafas suaminya itu seolah menyapu sisi wajahnya membuat Khaira seolah membeku. Jantungnya berdetak melebihi ambang batasnya. Denyut nadinya juga berdenyut lebih cepat.


"Ya Tuhan, kenapa sedekat ini sih. Aku deg-degan sumpah. Dideketin suami sendiri, aku sedeg-degan ini." Batinnya dalam hati sembari menghela nafasnya.

__ADS_1


"Dibenerin dulu typo-nya itu, biar dapat nilai bagus tugasnya." lagi Radit bersuara yang membuat Khaira kembali sadar dari lamunannya.


"Eh, iya Mas... Nih sudah aku benerin." balasnya sembari membenarkan hasil tugasnya yang salah ketik.


Radit pun mengubah lagi posisinya dengan wajahnya yang sudah tidak terlalu dekat dengan wajah Khaira. Seketika Khaira merasa lega, jantungnya kembali berdetak normal, denyut nadinya juga kembali normal.


"Mas Radit kalau gabut nonton TV aja atau maen game. Aku masih menyelesaikan ini dulu." ucap Khaira yang sekadar ingin memastikan apakah suaminya sedang gabut saat itu.


"Enggak gabut kok, aku cuma mau lihat aja sebentar kamu ngerjain apa. Jangan mikirin aku, penting fokus sama kuliahnya ya. Aku malahan seneng tahu, Istriku ini pinter dan rajin banget." Radit berkata begitu halus dan tersenyum manis kepada Khaira.


Khaira mengangguk kepalanya, lalu ia menghentikan sejenak jari-jarinya dari atas papan ketik di laptopnya. Khaira mengubah sedikit posisinya dan kini ia sedikit melihat Radit yang masih berdiri di belakang kursi tempat duduknya.


"Pasti gak enak di sini ya Mas. Terbiasa di Jakarta bekerja, bisa kemana-mana. Di sini cuma hidup di ruangan sepetak dan kemana-mana harus jalan kaki atau naik transportasi umum. Pasti capek dan bosen banget ya." ucapnya sembari memperhatikan wajah Radit.


"Jangan gitu. Enak kok di sini, kan ada kamu. Tujuanku ke sini kan buat kamu, jadi jangan bilang seperti itu. Malahan bagus kan, kita berdua bisa saling mengenal biar makin deket juga kan. Saling kenal, saling dekat, akhirnya saling sayang. Ya kan?" ucapnya sembari tersenyum pada Khaira.


"Iya serius. Apa aku berbohong? Aku malahan seneng di sini. Aku jadi nyesel kenapa enggak dari dulu aku bisa sedekat ini sama kamu. Kamu harus pergi sampai luar negeri dulu, lalu aku susulin kamu kesini, dan kita punya waktu berdua 24 jam penuh. Aku seneng banget kok." Radit berbicara bagaimana perasaannya kepada Khaira.


"Yang tahu kita berbohong kan kita sendiri dan Tuhan, Mas. Aku mana tahu isi hatinya Mas." Khaira menjeda sejenak ucapannya. "Mas, tapi kalau bosen, jalan-jalan saja di sekitar sini. Ada area publik juga di deket kampusku. Kalau udah gak bosen tinggal pulang lagi jalan kaki. Jangan hanya nungguin aku ya. Jujur kalau hidup sendiri di tempat sepetak gini aku sudah terbiasa, jadi aku merasa nyaman aja. Tetapi kamu enggak, kalau bosen bilang ya. Jangan mengorbankan perasaanmu sendiri demi aku, karena aku gak mau."


Radit menganggukkan kepalanya, "Iya gampang. Tapi aku senengnya di sini aja sama kamu. Iya-iya, kalau aku merasa bosen aku bakalan ngomong kok sama kamu. Ya udah, diselesaikan dulu tugasnya. Aku mau nonton TV aja deh. Takut malahan gangguin kamu."


Setelah itu Radit meninggalkan Khaira dan ia duduk di sofa melihat-lihat saluran televisi, sementara Khaira kembali fokus dengan tugas-tugasnya.

__ADS_1


***


Hampir satu jam berlalu, Khaira telah menyelesaikan tugasnya. Ia kemudian berdiri meregangkan otot-ototnya yang pegal setelah sekian jam lamanya duduk. Kacamata anti radiasi juga sudah ia lepas.


Hari sudah sore, Khaira berjalan lalu ia berdiri sejenak di balkon kamarnya. Menghirup udara segar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, melakukan peregangan untuk otot lehernya.


Sekian menit Khaira berdiri di tepi balkon, hingga tak menyadari kedatangan Radit yang kini berdiri di belakangnya.


"Baru ngapain? Hmm." suara dari pria itu cukup mengagetkan Khaira.


Niat untuk membalikkan badan, tetapi nyatanya jaraknya dan Radit sangat dekat. Tidak bisa lagi untuk mengikis jarak.


"Eh, ngagetin aja sih Mas. Aku cuma ngadem aja bentar. Hirup udara segar."


"Ini bukan udara segar, yang ada udara dingin." sahut Radit. "Masuk aja yuk." Radit mengajak Khaira untuk masuk karena di luar terasa dingin, sementara Khaira hanya mengenakan kaos oblong pendek yang tentu akan membuatnya kedinginan.


Khaira nampaknya enggan mengikuti ajakan suaminya untuk kembali masuk ke dalam apartemen. "Sebentar Mas, lima menit aja ya. Sama mendinginkan otakku sebentar." Khaira berkilah, ia masih ingin berada di balkon untuk lima menit saja.


"Ya sudah." jawab Radit. Akan tetapi pria itu kini melingkarnya tangannya di pinggang Khaira. Mendekapnya hangat dari belakang. "Tapi biarkan seperti ini lima menit juga ya."


"Eh Mas, ini...." Khaira bersuara tapi mendadak lidahnya kelu, lagi-lagi suaminya mendekatinya sedekat ini.


"Di sini dingin Khaira, nanti kalau kamu justru kena flu gimana. Biar seperti ini lima menit ya." Ucap Pria itu seolah tak ingin dibantah.

__ADS_1


Radit mengeratkan dekapannya. Memeluk tubuh kecil istrinya dari belakang. Melindungi tubuh kecil itu dari terpaan angin musim dingin. Sesekali wajah Radit bergerak menghirup aroma shampoo dari rambut Khaira.


"Mas, jangan modus ya." ucap Khaira ketus.


__ADS_2