
Membiarkan waktu kurang lebih sepuluh menit berlalu, waktu pun sudah beranjak sore.Perlahan Khaira berdiri, dia hendak memanggil Arsyilla dan mengajak putrinya itu untuk pulang ke rumah.
“Syilla Sayang … pulang yuk Sayang. Sudah sore, nanti di lain waktu kalau Papa libur, kita bisa jalan-jalan ke sini lagi.” ucap Khaira dengan mengusap lembut puncak kepala Arsyilla. Gadis kecil yang masih asyik mewarnai itu pun menengadahkan wajahnya juga bisa melihat wajah Mamanya.
Hingga sebuah anggukkan kecil terbit, dan Arsyilla pun hendak berdiri, “ayo Ma … lain kali, ajak Syilla ke Monas lagi ya Ma … Syilla suka ke Monas.” Arsyilla berbicara dengan terlihat begitu bahagia. Melihat Syilla yang bahagia, maka Khaira pun juga merasa bahagia.
“Iya Sayang … nanti kalau Papa libur, kita ajak Papa ke sini lagi ya.” sahut Khaira dengan membantu Arsyilla berdiri. Dia langsung menggenggam tangan putrinya dan berjalan menuju suaminya kini berada.
Akan tetapi, saat Khaira tengah membalikkan badannya dan berjalan dengan menggandeng tangan mungil Arsyilla, Fanny nyatanya justru makin gencar untuk menggoda suaminya. Wanita itu justru duduk kian mendekat dengan suaminya. Sudah pasti, Khaira menatap tajam dengan apa yang akan dilakukan wanita itu.
“Mama, itu siapa yang dekat-dekat Papa, Ma? Tanya Arsyilla sembari menunjuk ke arah Fanny.
Sebenarnya Khaira pun bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Arsyilla, dia takut jikalau mengeluarkan pilihan kata yang kurang tepat. Sebab pilihan kata yang kurang tepat yang diucapkan oleh orang tua bisa direkam anak dengan begitu cepat. Sehingga, Khaira hanya tersenyum menatap Arsyilla dan berkata, “Syilla kangen enggak sama Papa? Sana disamperin Papanya.”
Mengangguk. Arsyilla kemudian berlari dengan membawa hasil gambar yang sudah dia warnai di tangannya dan langsung memeluk Papanya dengan erat, “ayo Pa … kita pulang. Itu Tante dekat-dekat sama Papa, Syilla tidak suka.” ucap Arsyilla dengan tiba-tiba. Tidak ada yang memberitahunya, tetapi Arsyilla pun bisa berkata dengan sangat gamblang jika dia tidak suka dengan Fanny yang dekat-dekat dengan Papanya.
Seorang anak kecil pun yang masih polos bisa melihat perilaku kurang baik yang ditunjukkan Fanny saat itu, hingga Arsyilla kemudian berjalan ke arah Fanny, “Tante, Tante jangan godain Papanya Syilla dong. Papa itu cuma milik Syilla dan Mama.” ucap Arsyilla dengan cukup keras hingga membuat beberapa orang yang ada di area Monas itu sesekali menoleh pada mereka.
Usai Arsyilla berbicara, Khaira pun memegangi kedua bahu Arsyilla dari belakang kemudian dia meminta Arsyilla untuk bersama Papanya terlebih dahulu, “Syilla sama Papa dulu ya, Mama perlu bicara sama Tante ini.”
__ADS_1
Mengikuti instruksi Mamanya, kemudian Arsyilla berjalan dan memeluk Papanya lagi. Sementara Khaira masih berdiri di hadapan Fanny. Khaira menatap Fanny dengan tajam, menghela napasnya sejenak dan kemudian Khaira pun berbicara, “Sorry Fan … sayangnya apa yang kamu lakukan beberapa hari ini tidak akan mempan. Jika kamu wanita baik-baik, tolong jangan menjadi perebut laki orang. Banyak pria single di luar sana. Jaga harkat dan martabatmu sebagai seorang wanita. Kamu wanita, aku juga. Kita sama-sama wanita, dan sampai kapan pun aku akan menjadi perisai bagi suamiku, sama seperti suamiku yang selalu menjadi perisai bagiku. Lebih baik kamu pergi dan jangan coba-coba menampakkan wajahmu dan menggoda Mas Radit lagi.” ucap Khaira dengan sangat serius.
Wanita yang sehari-harinya begitu lembut itu, akhirnya kali ini menunjukkan ketegasannya. Jika tidak ingin suaminya digoda oleh wanita lain, dia akan maju lebih dahulu, ya dia akan menjadi perisai bagi suaminya. Kali ini, dia harus tegas. Tidak peduli, jika saat ini dia berada di tempat umum, tetapi Khaira hanya ingin menegur wanita yang bernama Fanny itu.
Usai mengucapkan perkataannya, Khaira lantas pergi dan berkumpul dengan suami dan anaknya. Khaira berusaha memasang wajah biasa saja di hadapan Arsyilla. Menunjukkan situasi hatinya sekarang ini di hadapan anak kecil sangat tidak pantas, maka dari itu Khaira kembali memasang wajah biasa dan dia tersenyum menatap Arsyilla.Akan tetapi, jalinan hati seorang Mama dan anaknya yang kuat membuat Arsyilla dengan tiba-tiba memeluk Mamanya dan berkata, “Ma …Syilla sayang Mama. I Love U, Ma.”
Layaknya sebuah pengakuan, apa yang Arsyilla ucapkan sekarang ini kepadanya cukup untuk mengguyur hatinya yang saat ini panas. Dalam hatinya, Khaira sungguh bersyukur bahwa Arsyilla ada baginya, Arsyilla benar-benar menjadi penyejuk hatinya. Hal yang sama diucapkan Radit kepada istrinya itu, Papa juga sayang Mama.”
Arsyilla pun menatap Papanya dengan bola matanya yang berbinar itu, “Syilla juga Sayang Papa.” ucapnya yang tidak ingin ketinggalan menunjukkan perasaan sayangnya kepada Papanya.
***
Mengingat apa yang terjadi hari ini memang ada rasa bahagia dan kesal. Wanita yang saat itu tengah hamil pun memilih bersandar di sofa yang berada di dalam kamarnya, sembari sesekali memijit pelipisnya. Khaira mencerna lagi apakah sikapnya yang menegur Fanny secara langsung tadi salah? Akan tetapi, Khaira tidak ada menghiraukan wanita mana pun di luar sana yang berusaha menggoda suaminya. Kali ini, Khaira tidak akan tinggal diam. Dia juga punya andil untuk bersikap tegas bukan?
Hingga tidak lama berselang, suaminya memasuki kamar dengan membawa segelas Susu hamil rasa stroberi kesukaan istrinya itu. Rutinitas yang tidak pernah Radit lewatkan saat istrinya sedang mengandung. Dulu, saat Khaira sedang mengandung Arsyilla, dia juga berusaha tidak pernah absen membuatkan susu kehamilan untuk Khaira, dan sekarang pun sama. Sejak Khaira positif hamil hingga sekarang, Radit selalu membuat susu kehamilan untuk istrinya itu setiap harinya.
“Kenapa kok bengong? Yuk, susunya diminum dulu. Seperti biasa, babynya kan juga butuh nutrisi dan asam folat, biar dia tumbuh sempurna di dalam perut kamu. Mamanya juga sehat selalu.” Radit berbicara sembari menyodorkan segelas susu hangat itu kepada Khaira.
Dengan senang hati, Khaira menerima segelas susu dengan rasa stroberi itu dan meminumnya perlahan. Sekalipun ada rasa kesal di hati, tetapi sikap manis yang ditunjukkan suaminya benar-benar membuat Khaira menghangat rasanya. Wanita itu tersenyum, “makasih Mas … dari hamil Arsyilla sampai sekarang, susu buatan kamu emang paling enak.” ucapnya sembari meminum lagi susu kehamilan yang masih hangat itu.
__ADS_1
Perlahan,Radit mengambil tempat duduk di sisi istrinya, pria itu menaruh satu tangannya guna mengusap puncak kepala istrinya itu, “dihabiskan susunya … biar sehat. Sayang ….” dipanggilnya istrinya itu dengan perlahan.
Merasa dirinya tengah dipanggil, Khaira pun menoleh dan menatap suaminya, “Apa Mas?” jawabnya dengan singkat.
“Aku tahu, pasti tadi waktu di Monas, mood kamu jelek ya. Namun, di satu sisi aku senang, saat kamu berbicara dengan wanita tadi. Ada rasa, istrinya benar-benar menjadi perisai bagiku.” Radit berbicara perlahan dan terus menatap Khaira.
Hening, karena pria itu menjeda sejenak ucapannya, “aku merasa kamu pun berusaha untukku. Dulu, aku hanya diam, seolah tidak bereaksi, tetapi kesakitan sendiri. Aku senang dengan kamu yang lebih bisa mengutarakan isi hati kamu seperti sekarang ini.”
Mendengar ucapan suaminya, Khaira pun mengernyitkan keningnya, “tetapi aku kesel Mas … BeTe sebenarnya, untung kamu enggak nanggapin. Punya suami cakep ada kalanya harus siaga 1 terus ya Mas?”
Radit justru terkekeh geli mendengar ucapan istrinya barusan, “jadi aku cakep ya Sayang? Kenapa selama menjadi suamimu, aku tidak pernah dengar kamu memujiku langsung kalau aku ini cakep.” ucapnya dengan penuh percaya diri.
“Isshhs, pasti langsung seneng kalau dipuji cakep.” ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Radit pun merangkul bahu istrinya itu, membawa kepala istrinya untuk bersandar di dadanya, sembari dia menciumi puncak kepala istrinya. Sama-sama diam dan menikmati rangkulan hangat keduanya. Hingga perlahan Khaira mendongakkan wajahnya guna bisa menatap wajah suaminya, “katanya … semakin lama usia pernikahan, semakin banyak cobaan yang datang. Aku hanya berharap di setiap hari bertambahnya usia pernikahan kita, sebanyak apa pun cobaan yang datang nantinya, kita berdua bisa terus seperti ini. Cinta kita tidak akan goyah, kita bisa mengisi dan menguatkan satu sama lain. I Love U, Mas ….”
Radit pun mengangguk, “benar Sayang … semoga harapan kita terwujud ya. Sama sepertimu, aku juga berharap kita bisa saling menjaga satu sama lain. Aku sangat mencintaimu Sayang. Rasanya aku hampir gila, jika harus terpisah darimu sama seperti cerita masa lalu kita dulu. I Love U Always.” ucap Radit dengan sungguh-sungguh dan dia mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya.
“Dan, jangan pernah bosan sama aku ya Mas?” Pinta Khaira saat itu kepada suaminya, dia mengurai rangkulan tangan suaminya di bahunya dan duduk menghadap suaminya itu, “aku sadar, mungkin aku ini pribadi yang membosankan.Hanya saja, aku minta jangan pernah bosan sama aku.”
__ADS_1
Dengan cepat Radit menggelengkan kepalanya, “tidak … tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah bosan sama kamu. Yang ada justru aku pengennya nempelin kamu terus. Kamu juga ya, jangan bosen sama suamimu ini. Kalau pun kamu bosen, bilang sama aku. Karena aku akan berusaha membuat kamu selalu bahagia hidup bersamaku, bersanding denganku hingga akhir waktu.”