Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Proses Demi Proses


__ADS_3

Dengan berbaring ke arah kiri, Khaira beberapa menahan sakit yang datang saat gelombang cinta dari babynya datang. Rasa perih, hingga seolah rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Jika sebelumnya, dia berharap kali ini bisa lebih kuat karena sudah memiliki pengalaman sebelumnya. Nyatanya kali ini, tetap saja benteng pertahanannya luruh.


Kendati tidak terus-menerus terisak dalam tangisan, tetapi Khaira yang beberapa kali mencengkeram erat tangan suaminya menjadi bukti bahwa saat sakit itu datang, dirinya membutuhkan sosok yang menggenggam tangannya.


"Sakit ya Sayang?" ucap Radit yang satu tangannya berusaha mengusapi punggung istrinya. Berharap usapannya bisa sedikit meredakan rasa sakit yang teramat sangat itu.


Khaira pun mengangguk, jangan ditanya bagaimana wajahnya. Wajah yang memerah, mata yang memerah, dan juga napas yang seolah tidak stabil karena menahan rasa sakit. Berusaha kuat tidak menangis, justru membuat matanya terasa pedas dan memerah.


"Mau minum dulu Sayang?" tanya Radit kepada istrinya.


Perlahan Khaira pun duduk dan menyandarkan punggungnya di brankar yang sudah disetel oleh suaminya dengan sedemikian rupa.


"Aku minum sedikit, Mas …" pintanya kepada suaminya untuk bisa minum. Bagaimana pun tenggorokannya juga terasa begitu kering saat ini.


Dengan cekatan dan telaten, Radit pun mengambilkan botol air mineral yang sudah dibuka sealnya dan juga menaruh sedotan supaya istrinya tidak kesusahan saat meminumnya. Bahkan pria itu juga menyeka sisa-sisa air minum di bibir Khaira.


"Mau nonton apa atau dengerin musik gitu? Buat mengalihkan rasa sakitnya?" tawar Radit kepada istrinya lagi.


Sebab beberapa Obgyn menyarankan bahwa rasa sakit bisa dialihkan dengan melakukan aktivitas tertentu. Jika hanya terfokus rasa sakit itu, maka yang terjadi adalah tubuh akan merespons terhadap rasa sakit itu. Sehingga, kali ini Radit menawarkan alternatif untuk mengalihkan perhatian istrinya.

__ADS_1


Khaira menggeleng, "Enggak … aku bisa menahan kok, tetapi enggak tau kalau nanti." jawabnya kepada suaminya itu.


"Harus ditahan ya Sayang … aku temenin menjalani setiap proses demi prosesnya. Aku tahu bahwa kamu adalah wanita yang kuat." Radit berbicara sembari menggenggam tangan istrinya itu.


"Aku enggak sekuat itu, Mas … ada kalanya aku sangat rapuh. Seperti saat ini, sakit banget rasanya." kali ini Khaira berbicara dengan suaranya yang sudah terdengar bergetar.


Mengikis jaraknya dengan sang istri, satu tangan Radit bergerak untuk menyusuri garis wajah istrinya, kemudian ibu jarinya menyentuh dua kelopak mata di sana dengan begitu lembut.


"Di mataku, kamu adalah wanita yang kuat dan hebat. Sudah separuh jalan, tunggu lima pembukaan lagi dan kita akan menyambut baby boy bersama-sama ya." ucap Radit dengan begitu lembut.


Perlahan kepala Khaira pun bergerak, wanita itu mengangguk, "Makasih Mas buat supportnya. Padahal sejak tadi aku udah pengen nangis, tetapi aku tahan-tahan."


Khaira berkata dengan menitikkan air matanya. Sejak di rumah, dia sebenarnya sudah berusaha menahan ketika rasa sakit itu tiba-tiba datang. Akan tetapi, dengan rasa sakit yang datang dengan interval lebih sering dan juga tubuhnya yang seolah semakin menipis daya ketahanannya, akhirnya Khaira pun berderai air matanya.


“Mas, ini keliatannya air ketubannya sudah pecah, perut aku juga kenceng banget.” keluhnya kali ini.


Radit pun segera memecet tombol yang berada di atas brankar Khaira, berharap perawat akan datang dan juga bisa melakukan pengecekkan lagi.


Hanya sekian menit, seorang perawat datang dan lagi-lagi melakukan cek dalam kepada Khaira. Wanita itu seakan memekik saat dilakukan tes dalam dengan satu tangan yang menggenggam erat tangan suaminya.

__ADS_1


“Sudah pembukaan 8, Bu … kalau sakitnya lebih sering dan perutnya semakin kencang itu artinya sudah dekat waktu bersalin. Sekarang Ibu akan kami pindahkan ke ruang tindakan ya. Nanti ada perawat yang stand by dan Dokter Indri juga sudah bersiap di ruangannya.” penjelasan dari perawat tersebut.


Usai itu, beberapa perawat datang dan menggeledek brankar Khaira menuju ke ruang tindakan persalinan. Di satu sisi, Radit pun terus berjalan dan juga menggenggam erat tangan istrinya itu. Tidak akan dibiarkannya istrinya itu sendirian. Dia akan memenuhi setiap janjinya untuk ada di samping istrinya.


Begitu sudah berada di ruang tindakan, Radit pun beberapa kali bersuara untuk menenangkan istrinya dan masih berusaha mengalihkan rasa sakitnya.


“Jadi, nanti baby boy yang beri nama Mamanya ya. Aku sama sekali belum prepare nama.” ucap pria itu.


Khaira pun mengangguk, “Ii … iya. Aku kasih nama, tetapi kenapa ini semakin sakit ya Mas.” air matanya berlinangan dengan begitu derasnya tak mampu lagi untuk menahan rasa sakit yang semakin menghantam dirinya.


Berusaha melakukan relaksasi, menenangkan diri sendiri, hingga mengatur napas saat rasa sakit itu datang hanya bisa berefek sekian persen saja. Kali ini, Khaira benar-benar terisak. Seolah tak mampu lagi untuk bertahan.


“Mas, kalau aku enggak kuat bagaimana?” akhirnya pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Khaira ketika dirinya benar-benar terombang-ambing dalam rasa sakit yang begitu dahsyatnya.


Saat-saat dramatis seperti ini, Radit pun mengusap kasar wajahnya. Hatinya hancur tiap kali istrinya merasa tidak kuat dan seolah tidak mampu bertahan. Pria itu pun menggelengkan kepalanya, “Jangan begitu Sayang … kamu pasti kuat. Kamu wanita yang hebat. Kamu punya aku dan Arsyilla. Kita berjuang bersama-sama ya.” ucapnya yang menguatkan istrinya itu.


Namun, Khaira justru menangis terisak di sana. Isakannya begitu memilukan dan menyayat hati. Hantaman kontraksi disertai rasa sakit yang benar-benar melilit membuatnya berderai air mata dan mengeluh bahwa dirinya tak mampu lagi bertahan.


“Ini sakit banget Mas … lebih sakit yang sekarang daripada tiga tahun yang lalu.” ucapnya.

__ADS_1


Dengan cepat Radit menggenggam tangan istrinya, pria itu juga berkali-kali melabuhkan ciumannya di kening istrinya. “Aku temenin Sayang … di sini kita cuma berdua. Jadi, kita saling menguatkan ya. Aku menguatkan kamu, dan kamu menguatkan aku. Aku pun selalu berdoa kepada Tuhan semoga dia beri kamu kekuatan untuk berjuang. Sudah, habis ini tidak usah memiliki anak lagi. Sudah cukup memiliki dua anak. Aku gak mau liat kamu kesakitan seperti ini. Seolah aku yang kesakitan dan terasa begitu sesak.” ucapnya dengan wajah yang memerah.


“Sabar ya Sayang … sudah pembukaan 8, sebentar lagi pembukaan 9, dan 10. Yuk, semangat yuk … kamu pasti bisa. Yuk, bisa yuk.” Radit tak segan-segan untuk menyemangati istrinya itu. Berharap setiap ucapan yang dia ucapkan bisa membakar lagi semangat istrinya yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang kesakitannya.


__ADS_2