Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Happy 17 Weeks


__ADS_3

Menjalani kehamilan dengan penuh syukur dan juga penuh support dari sang suami adalah anugerah tersendiri bagi Khaira. Seolah hari-hari kehamilannya begitu berwarna. Ada suaminya yang siaga dan selalu mensupport, juga Arsyilla yang semakin siap menjadi seorang kakak. Rasa-rasanya, di kehamilan kali ini, Khaira merasakan begitu penuh syukur.


Sore ini, sebagaimana salah satu jadwal rutin selama masa kehamilan, adalah mengecek kandungan tentunya dengan Dokter Indri. Dari penghitungan Khaira sendiri, usia kehamilannya sendiri sudah memasuki masa 17 minggu. Perutnya yang semula rata, kini nampak sedikit menyembul ke permukaan. Selain itu, di kehamilan kali ini Khaira juga merasa lebih banyak makan, pipinya menjadi semakin chubby. Dia sendiri menaksir bahwa berat badannya naik banyak. Jika kehamilan Arsyilla dulu, pola makannya masih terkontrol, sekarang dia lebih banyak makan.


Kendati demikian, suaminya sama sekali tidak melarang Khaira dan tidak mempermasalahkan istrinya yang sekarang semakin banyak porsi makannya. Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, kali ini Khaira hanya berdua dengan Radit. Arsyilla memilih tinggal di rumah neneknya, di rumah Ayah Ammar dan Bunda Dyah. Maka dari itu, keduanya hanya berdua saja menuju Rumah Sakit.


Setelah melakukan pendaftaran, keduanya menunggu sejenak, hingga namanya dipanggil. Di dalam ruang tunggu, ada beberapa pula para pasangan yang tengah melakukan kontrol kehamilan rutin. Salah satu dari mereka pun, saling menyapa satu sama lain.


“Kehamilannya sudah berapa minggu Kak? Anak pertama ya?” Tanya salah satu ibu muda yang duduk tidak jauh dari Khaira.


“Ini kalau tidak salah 16 - 17 minggu sih Kak, kalau Kakak berapa minggu? Hmm, ini anak kedua saya.” Jawab Khaira sembari tersenyum.


Ibu muda yang saat itu datang dengan suaminya pun tampak tidak percaya, “serius Kak, itu anak kedua? Kakaknya keliatan masih muda banget soalnya.” sahut ibu muda tersebut.


Khaira pun tertawa, “Iya, karena dulu aku nikah muda, Kak … jadi masih muda, anaknya sudah dua.”


Rasanya memang aneh mungkin, Khaira menikah di usia 22 tahun, masih sangat muda. Belum ada kepala tiga, wanita itu sudah hamil anak yang kedua. Sementara Radit diam-diam tertawa dalam hati. Memang benar, istrinya itu masih keliatan muda, sekalipun anaknya sudah mau dua. Akan tetapi, Khaira justru terlihat masih muda. Sehingga beberapa orang akan mengira bahwa mereka berdua adalah pengantin baru yang baru dianugerahi anak pertama.


Tampak wanita yang tadi bertanya pun mengangguk, seolah tidak percaya, “Emang nikahnya umur berapa Kak?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Umur 22 tahun sudah nikah Kak, sekitaran 25 tahun sudah punya anak pertama.” Jawab Khaira sembari tertawa.


Sejujurnya saja dia agak malu, wanita modern yang tinggal di Ibukota, tetapi menikah muda. Namun, melihat dirinya yang masih muda, Arsyilla yang tumbuh dengan baik, dan juga kariernya yang masih berjalan, Khaira justru merasa penuh syukur. Kehidupan rumah tangga dan karier yang bisa berjalan berdampingan, sekalipun dirinya memang tidak ambisius untuk mengejar kariernya.


“Ya ampun masih muda banget sudah menikah ya Kak … maaf ya, aku kira hamil anak pertama.” ucap wanita itu dengan merasa tidak enak.


Sementara Khaira justru tampak biasa-biasa saja, “tidak apa-apa Kak.” sahutnya dengan santai.


Obrolan mereka berhenti, saat nama Khaira dipanggil untuk melakukan kontrol rutin kehamilan. Pasangan muda itu kemudian memasuki ruangan pemeriksanaan bersama-sama.


“Selamat sore Ibu Khaira dan Bapak …,” seperti biasa Dokter Indri selalu menyapa dengan hangat para pasien yang ditanganinya. Keramahan dari Dokter tersebut, membuat banyak pasien yang merasa cocok dan menjadi pasiennya setiap kali memasuki masa kehamilan.


“Apakah ada keluhan Bu?” tanya Dokter Indri kepada Khaira.


Dengan cepat Khaira pun menggelengkan kepalanya, “tidak Dok. Alhamdulillah, saya sehat-sehat saja. Justru kadang malahan merasa enggak hamil, karena enggak merasakan gejala kehamilan seperti mual, muntah, lesu, dan sebagainya.” jawabnya sembari tertawa.


Sama halnya dengan Dokter Indri yang tertawa mendengar ucapan Khaira, “Hamilnya berarti enak ya Bu … Debaynya baik, bikin Mamanya sehat-sehat. Baik, sekarang kita lakukan pemeriksaan dengan USG ya Bu.”


Dengan perlahan, Khaira menaiki sebuah brankar, sebuah perawat menolong untuk mengangkat kemeja yang dikenakan Khaira hingga menampakkan perutnya, kemudian USG Gell diberikan di atas perutnya. Setelah itu, Dokter Indri bersiap dengan USG di tangannya.

__ADS_1


“Selamat datang di kehamilan 17 minggu ya … sebagai penggambar, tinggi janin sekitar 12 centimeter dengan ukuran sebesar lobak ya Bu. Sekarang mari kita ukur lingkar kepalanya dan bagian tubuh lainnya.” Kemudian Dokter Indri mulai mengukur lingkar kepala, lingkar perut, menunjukkan bagian tangan dan kaki.


“Pertumbuhan debaynya baik ya Bu. Air ketubannya juga bagus, tidak keruh seperti yang terlihat di dalam layar. Mau sekalian melihat jenis kelaminnya tidak Bu?” Dokter Indri menawarkan kepada Radit dan Khaira untuk melihat jenis kelamin baby kedua mereka.


Keduanya pun lantas mengangguk, “iya … boleh Dok.”


Kembali Dokter Indri menggerakkan USG di perut Khaira, memutarnya perlahan, sedikit menekan, dan mencari bagian yang bisa terlihat untuk memastikan jenis kelamin si baby. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Dokter Indri tersenyum dan membuka suaranya, “wah selamat ya Bapak dan Ibu, sudah lengkap. Si Baby ini insyaallah cowok, ini monasnya terlihat Bu …” ucap Dokter Indri sembari mengarahkan alat USG ke bagian jenis kelamin baby dan juga menunjukkan dalam layar monitor.


Keduanya sama-sama tertawa, tentunya tawa bahagia karena Tuhan begitu baik kepada mereka berdua. Saat mereka sama sekali tidak pernah meminta lebih, tetapi Tuhan yang melebihkan. Seperti saat ini, keduanya begitu bahagia saat mengetahui bahwa bayi yang dikandung Khaira berjenis kelamin laki-laki.


“Alhamdulillah …,” ucap Khaira dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


Sama halnya dengan Radit yang bersyukur karena keluarganya lengkap dengan memiliki Arsyilla dan adiknya nanti yang berjenis kelamin laki-laki. Papa muda itu merasa begitu bahagia.


“Untuk pola makan tetap harus dijaga ya Bu … jangan terlalu kecapean dan stress, karena sudah memasuki usia 17 minggu biasanya bagian payudara akan semakin berat dan membesar, juga kenaikan berat badan di bulan-bulan selanjutnya. Sekarang saja sejak terakhir kontrol, sudah naik 3 kilogram ya Bu.” lagi ucap Dokter Indri memberitahu perihal kenaikan berat badan yang akan dialami Ibu hamil di bulan-bulan yang akan datang.


Khaira pun mengangguk, “Benar Dok … rasanya sekarang saya jadi lebih banyak makan. Padahal dulu waktu hamil si kakak, sampai bulan ke sembilan itu, porsi makan masih normal. Akhir-akhir ini justru sering kelaparan,” akunya dengan sang Dokter.


“Tidak apa-apa Bu, asalkan pola makannya dijaga, supaya tidak terlalu gemuk hingga membengkak saat usia kehamilan semakin bertambah. Buah, sayuran, biji-bijian bisa dikonsumsi, susu kehamilan juga diminum, selanjutnya saya akan resepkan vitamin yang berupa Omega 3 buat Debaynya dan kalsium untuk Ibunya. Ingat pesan saya dulu ya Bu, makan lebih sering dalam porsi kecil itu masalah, dan makanan tidak harus karbohidrat. Jadi Ibu hamil bisa tetap mendapatkan asupan nutrisi yang lengkap dan seimbang, karena nutrisi itulah yang terpenting buat janin,” ucap Dokter Indri.

__ADS_1


Mengakhir sessi pemeriksaan kehamilan, Radit dan Khaira berjalan bersama menuju apotek guna mengambil obat yang diberikan dan sekaligus membayar tagihan. Keduanya selalu merasa bahagia setiap kali bisa melihat tumbuh kembang bayi mereka usai pemeriksaan. Sebab, dengan pemeriksaan rutinlah mereka bisa melihat tumbuh kembang babynya yang masih berada di dalam perut Khaira.


__ADS_2