
Dengan berjalan gontai, Khaira memilih memasuki kamarnya. Air matanya masih saja berderai. Memang ucapan Fanny, hanya sekadar ucapan. Akan tetapi, saat mengetahui ada wanita yang terang-terangan ingin menjadi istri kedua suaminya, hati wanita mana yang tak sakit?
Merasa bahwa Khaira dan Radit perlu berbicara dari hati ke hati, maka Bunda Ranti berniat mengajak Arsyilla ke Kebun Raya Bogor. Memberi waktu untuk kedua orang tuanya. Ditambah hormon kehamilan yang bisa sangat mempengaruhi Khaira, jadi Bunda Ranti dan Ayah Wibi membiarkan Khaira dan Radit berdua saja di rumah.
Di dalam kamarnya, Radit masih berusaha menenangkan istrinya yang kali ini kembali memilih mode silent. Pria itu berjongkok di depan istrinya guna bisa menyelesaikan masalah itu sekarang juga, "bicara dong Sayang ... jangan hanya diem. Kalau kamu tidak bicara, mana aku tahu apa yang ada di dalam hati kamu. Kita masing-masing udah saling janji kan buat terbuka satu sama lain," bujuknya dengan menggenggam tangan Khaira.
Sementara Khaira justru hanya menundukkan kepala dan menangis. Seolah enggan untuk berbagi dengan suaminya sekarang ini.
Merasa bahwa istrinya memilih diam, Radit kemudian sedikit berdiri, tanpa aba-aba pria itu membopong Khaira dan membawanya dengan hati-hati ke ranjang.
Sementara Khaira nampak terkejut, dua matanya membola seketika melihat tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh suaminya itu. Namun, wanita itu masih memilih diam.
Begitu telah berada di atas tempat tidur, tanpa banyak bicara Radit seolah mengukung Khaira di bawahnya. Menggunakan kedua sikunya untuk menahan badannya supaya tidak menindih Khaira, khususnya menindih bagian perutnya karena saat ini istrinya itu tengah berbadan dua.
"Kamu mau cerita atau hanya diam?" Tanya Radit dengan posisi yang berada di atas istrinya.
Sementara di bawahnya, Khaira hanya beberapa kali mengedipkan matanya. Bagaimana dia harus bercerita dengan posisi yang seintim ini. Posisi yang benar-benar membuatnya tidak nyaman. Bagaimana mungkin bercerita dengan posisi demikian?
Sekian menit menunggu dan istrinya masih belum bersuara, Radit kemudian mendekatkan wajahnya. Pria begitu cepat justru menyapa bibir milik istrinya itu. Menciumnya perlahan, mencecapnya sedemikian rupa. Hingga perlahan, pria itu menggigit sedikit bagian bibir istrinya guna menerobos masuk untuk memperdalam ciumannya. Seolah waktu menunggu yang tidak terjawab, maka Radit akan membuat istrinya itu mau berbicara dengan caranya.
Pria itu nampak memejamkan matanya dan mulai memperdalam ciumannya. Bahkan, satu tangannya berusaha membelai sisi wajah Khaira yang membuat Khaira justru terjerumus dengan permainan yang dipicu oleh suaminya itu. Bagaimana mungkin, suaminya itu bisa menciumnya begitu dalam saat dirinya tengah dalam mode silent.
__ADS_1
Tidak berhenti berbicara, pria itu justru menjelajahi leher jenjang istrinya dan meninggalkan jejak yang hangat dan basah di sana. Membuat sangat istri hanya bisa memejamkan matanya dan sekali meremas sprei di bawahnya.
Pria itu kemudian menghentikan sejenak kegiatannya guna melihat wajah istrinya yang keliatan sembab usai menangis. Dia merapikan untai rambut istrinya itu, "jangan terlalu berpikiran negatif Sayang ... Karena untuk saat ini sampai selamanya, wanita yang kucintai dan aku mau hanyalah kamu. Tidak ada yang lain. Janji." Pria itu berbicara dengan begitu serius hingga membuat Khaira kembali meneteskan air mata.
"Ssstsss ... jangan menangis lagi. Aku ada di sini buat kamu, Sayang," Setelah kalimat itu meluncur, Radit kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya. Menciumnya, mengecupnya, membelainya, memagutnya dengan begitu lembut. Berharap ciuman yang dia berikan bisa menenangkan istrinya. Semua perasaan cinta, semua perasaannya kepada istrinya yang membuat dia benar-benar dia tidak bisa dia tahan lagi. Pria itu secara perlahan membuka kancing dari piyama yang digunakan oleh istrinya. Perlahan tapi pasti, jari-jarinya membuka empat kancing di piyama itu. Begitu kancing piyama itu terbuka, pria itu lantas menurunkan penjelajahannya merasai halus epidermis kulit milik istrinya. Menyapanya dengan ciumannya, membelai dengan ujung lidahnya, dan juga meraba dengan telapak tangannya.
Hingga isakan tangis yang semula dilakukan Khaira, justru berubah menjadi decakan dan juga desisan yang membuat wanita itu beberapa kali menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah.
Tidak berhenti di sana, pria itu pun lantas membuka pengait dari belakang punggung istrinya yang menyembulkan dua buah persik yang nampak ranum dan menggoda. Menyapa keduanya dan membawanya masuk dalam rongga mulutnya.
Semua hal yang dilakukan pria itu seolah memang membuatnya gila, bahkan kehilangan kesadarannya. Yang ingin dia lakukan adalah terus melanjutkan aktivitasnya hingga sampai menuju puncak asmara.
Seolah tidak lagi tahan, pria itu lantas melepas sendiri pakaiannya dan membiarkan kepolosan mutlak yang akan menemani keduanya untuk beberapa saat ke depan. Pria itu lantas, sedikit membuka kaki wanitanya dengan perlahan. Menyatukan dirinya, bergerak seirama. Beberapa kali pria itu memejamkan matanya dan menggeram. Diiringi gerakan seduktif yang begitu lembut, pria itu lantas kembali menunduk dan kembali menyambar bibir istrinya. Menyapanya sejenaknya, sebelum melepaskannya.
Sementara Khaira membalas merengkuh tubuh hangat yang justru terkesan panas dari suaminya itu dalam dekapannya. Wanita itu bahkan beberapa melenguh dan semakin mengeratkan kakinya guna melingkari pinggang suaminya.
Gerakan seduktif yang perlahan lembut, berubah menjadi lebih dalam dan cepat. Diiringi dengan deru nafas yang semakin pendek rasanya, pria itu akhirnya menjatuhkan dirinya di atas tubuh istrinya. Memejamkan matanya dan menstabilkan deru napasnya.
Ketika merasa dengan lebih baik, pria itu lantas menarik dirinya dan membawa istrinya dalam pelukannya, "masih diem atau cerita?" Tanyanya lagi kepada istrinya.
Belum menjawab, Khaira justru mencerukkan kepalanya ke bagian dada suaminya itu. Wanita masih diam dan seolah enggan menjawab.
__ADS_1
Radit menundukkan pandangannya guna bisa melihat wajah istrinya, sayangnya hanya untaian rambutnya saja yang terlihat, "kita sudah janji kan untuk terbuka satu sama lain. Sekarang cerita, kalau kamu masih diem, aku akan tambah lagi hukuman kamu. Dengan cara ini kamu bisa bercerita kan?" Tanyanya sembari mengecupi puncak kepala istrinya.
"Aku hitung sampai tiga, kalau kamu masih diem terus, aku akan nambah lagi," ancamnya yang tentu saja hanya sebatas menggodai Istrinya.
Ancaman dari suaminya sukses membuat Khaira bergidik ngeri, hingga akhirnya wanita itu sedikit berdehem sebelum memulai bersuara, "tadi aku mendengar Fanny berbicara kepada Bunda, dia ingin menjadi istri kedua kamu. Sebagai wanita, sebagai istri, hati mana yang tak sakit saat mendengar wanita lain berbicara seperti itu?" Pada akhirnya Khaira pun bercerita.
Radit lantas mengeratkan pelukannya. Mendekap erat tubuh polos istrinya itu. Bahkan tangannya beberapa kali mengusap lembut lengan istrinya, "semua itu tidak berdampak apa pun Sayang. Hati, diriku, semuanya hanya milikmu. Tidak ada akan yang lain. Pegang ucapanku ini, lagipula kamu jangan terlalu dipikirkan, karena aku gak akan membiarkan wanita lain mengganggu rumah tangga kita. Yang memegang kendali rumah tangga kita adalah suami dan istri, aku dan kamu. Jadi, mari kita saling mengukuhkan ikatan kita." Pria itu berbicara dengan sungguh-sungguh.
"Apa cintaku selama ini belum cukup bagimu? Apa tubuhku yang selalu bereaksi seperti ini kepadamu juga belum cukup?" Tanyanya dengan lirih.
Khaira lantas mengurai tangan suaminya sejenak, wanita itu mengubah sedikit posisinya guna dia bisa menatap wajah suaminya, "aku yakin denganmu, Mas ... Hanya saja terkadang aku takut dengan godaan dari luar. Aku sangat mencintaimu, Mas ... Cinta banget sama kamu. Sampai kalau bisa, kamu aku museumkan. Hanya aku, Arsyilla, dan keluarga kita aja yang melihatmu. Aku gak suka mendengar saat ada wanita lain berbicara begitu. Itu dorongan alamiah yang muncul dari seorang Istri yang ingin selalu menjadi yang utama dan pertama di dalam hati, pikiran, dan hidup suaminya."
Mendengar pengakuan dan bagaimana sikap Istrinya, tiba-tiba hati Radit menjadi begitu hangat. Sebagai seorang pria, sebagai seorang suami tidak dipungkiri bahwa dia suka dicintai dengan cinta sebesar ini oleh istrinya sendiri. Kemudian, Radit membawa Khaira ke atasnya. Memeluknya sedemikian erat, "aku juga sangat mencintaimu, Sayang ... I Love U So Much." Pengakuan cinta dari pria itu terasa menggetarkan hati Khaira.
Hingga wanita itu meneteskan kembali air matanya dan memeluk erat suaminya saat keduanya masih sepenuhnya polos. "I Love U Too Mas Radit."
Pelukan yang hangat, pelukan yang menjadi bahasa cinta bahwa sepasang kekasih itu saling mencintai satu sama lain. Radit kemudian tersenyum dan mengecupi puncak kepala istrinya, "Sayang ... Kalau cinta banget tambah lagi ya? Satu porsi lagi, mumpung kita di rumah cuma berdua."
Setelah begitu serius, akhirnya mode modus dari pria bernama Radit itu tidak hilang. Memanfaatkan waktu saat keduanya hanya berada di rumah berdua. Khaira mendengkus kesal dan memukul dada suaminya, "isshhss, baru juga selesai 15 menit udah nambah lagi. Kamu enggak capek emangnya Mas?"
Dengan cepat pria itu menggelengkan kepalanya, "enggak ... enggak capek. Boleh yah? Mumpung Syilla jalan-jalan sama Eyangnya. Lagipula, kapan lagi bisa gini-ginian di siang hari kayak hari."
__ADS_1
"Ya ampun Mas ... kamu ini. Anak udah mau 2, masih aja modus." Khaira berbicara sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya yang seakan seperti pejuang kemerdekaan yang selalu memiliki semangat juang 45.