
"Aku kangen banget sama kamu, Khaira...."
Satu kalimat pertama yang terucap begitu Radit akhirnya berhasil memeluk Khaira. Sementara kini giliran Khaira yang membeku dalam posisi yang membuatnya tidak nyaman, ditambah pelukan Radit yang begitu erat.
"Ishh, lepasin Mas. Maen peluk-peluk aja. Lepasin enggak..." Khaira berusaha sekuat tenaga dengan mendorong bahu Radit. Namun apa daya, Radit justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Sebentar aja Khaira... Mas kangen banget sama kamu."
Akhirnya Khaira membiarkan Radit untuk memeluknya terlebih dahulu. Di sela-sela pelukannya, Khaira merasakan bahunya basah. "Apakah Mas Radit menangis? Bajuku terasa basah," gumamnya dalam hati.
"Sudah Mas, sudah cukup." Khaira kembali mendorong bahu Radit, dan akhirnya Radit pun melepaskan pelukannya sembari menyeka air matanya.
"Diminum dulu Mas, keburu dingin." ucapnya sembari mengambil tempat duduk di sisi Radit.
Akhirnya Radit mengambil cangkir berisi teh jahe itu, lalu meminumnya perlahan. "Makasih Khai...," ucapnya perlahan lalu menaruh lagi cangkir itu ke atas meja.
"Khaira, aku kesini karena aku mau minta maaf sama kamu, Khai..." Radit mengubah sedikit posisi duduknya, kini ia menghadap Khaira. "Aku tahu, dosaku banyak sama kamu Khai, tetapi aku sudah tinggalkan semua. Aku juga sudah berpisah dengan Felly. Aku kesini untuk menebus dosaku, Khai. Maafkan aku."
Khaira hanya menunduk dan menghela nafasnya berat. "Semudah itu kau minta maaf Mas, setelah semua yang kau lakukan padaku. Semudah itu kau ucapkan maaf setelah sekian bulan kabar darimu tidak ada." Lantas Khaira meremas tangannya, "Lagipula hubungan kita berdua tidak bisa dikatakan sebagai rumah tangga pada semestinya. Hubungan kita hanya sebatas ada Ijab dan ada Qoubul. Selebihnya kita berdua adalah orang asing dalam hubungan ini."
Kali ini Khaira memberanikan diri untuk mengatakan uneg-unegnya selama ini di dalam hatinya.
"Lebih baik, sekarang kita akhiri saja rumah tangga kita ini, Mas. Bahtera ini tidak akan berlayar mau pun berlabuh, karena kehilangan nahkodanya. Bahtera ini hanya akan terombang-ambing di tengah samudra, dan mungkin bahtera ini akan hancur karena terpaan badai dan gelombang air yang datang. Bukankah sudah lama aku katakan, kamu bisa melepasku Mas ... aku tidak akan keberatan. Kita bisa melanjutkan hidup kita masing-masing tanpa harus saling menyakiti."
__ADS_1
Radit menggeleng kepalanya, "Tidak Khai, sampai kapan pun aku tidak mau melepasmu. Aku tetap suamimu, Khai."
Khaira tersenyum getir ketika Radit menyebut kata suami. "Suami? Bahkan Mas saja tidak melakukan kewajibanmu sebagai seorang suami. Suami yang meminangku tanpa cinta? Suami yang membuatku menderita dengan ucapan dan perilakunya? Suami yang tidak memberiku kabar sekian bulan? Apakah itu mas?"
"Aku memang salah, Khai. Aku memang pria berengsek itu. Tetapi, pria berengsek ini mau datang jauh-jauh hingga kesini untuk meminta maafmu, memperbaiki semuanya," ucap Radit dengan suaranya yang lirih, terdengar banyak penyesalan dalam setiap katanya.
"Aku pun mengakui aku bersalah padamu, Mas. Karena aku bersikap terlalu acuh padamu. Akan tetapi, itu semua karena kamu yang memulai. Kamu yang menolakku setelah kita menikah. Kamu bermesraan dengan wanita lain di depan mataku. Setidaknya aku juga punya hati, tetapi kamu melakukan semuanya seolah tidak memakai hatimu. Pernahkah kau berpikir bahwa semua itu menyakitiku? Diamku dan acuhku adalah caraku bertahan, tetapi saat kau pergi keluar dari rumah itu, untuk siapa lagi aku bertahan di sana?"
"Maafkan aku...." Hanya kata itu yang bisa Radit ucapkan. Ya, selain kata maaf tidak ada yang bisa ia ucapkan. Semua perkataan Khaira adalah fakta, sementara Radit pun tidak bisa membela diri.
"Mengucapkan maaf memang mudah, Mas. Jika aku yang berada di posisimu dan melakukan semua itu apakah kamu akan memaafkanku Mas?" Kini justru mata Khaira berkaca-kaca. Tak pernah terbayangkan ia akan berbicara panjang kali lebar seperti ini dengan suaminya.
"Maaf Khai.... Aku memang bersalah padamu."
"Dalam hukum pernikahan apabila suami dan istri lalai menjalankan tugas dan kewajibannya masing-masing dapat melakukan gugatan ke pengadilan. Jadi..."
"Jangan diteruskan pembicaraanmu, Khai. Aku tahu apa yang akan kau bicarakan tetapi terlebih dahulu, dengarkan aku Khai ... Allah membenci perceraian, Khai. Atas dasar itu, jangan mengakhiri hubungan di antara kita. Aku akan tunjukkan padamu, kalau aku sudah berubah Khai ... Aku datang ke sini dengan perasaanku yang tulus. Dan, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Khaira... Aku tidak akan bisa hidup tanpamu."
Khaira tersenyum getir, "Cinta kau bilang Mas? Cinta tidak akan menyakiti. Cinta tidak akan menggantung seseorang tanpa kabar sekian waktu lamanya. Cinta itu melindungi, Cinta itu pengorbanan. Dan, yang kamu lakukan padaku Cinta yang seperti apa Mas?"
"Awalnya aku memang menyakitimu, Khai. Seiring dengan berjalanan waktu, aku merasakan sebuah perasaan tumbuh di hatiku untukmu. Puncaknya justru saat aku mengetahui kepergianmu, aku terluka, aku sesak rasanya, tapi saat itulah aku menyadari bahwa aku mencintaimu, Khai..."
Khaira tersenyum getir, "Cinta Mas? Bukankah sejak meminangku kau bilang tidak akan pernah mencintaiku, karena sudah ada pemilik hatimu yang lain. Lalu, sekarang kamu datang dan berkata cinta padaku? Hmm. Aneh. Tidak bisa dicerna dengan logikaku, Mas."
__ADS_1
Radit mengusap wajahnya kasar. "Aku sudah sampai pada keputusanku, Khai ... Aku akan tinggal di sini bersamamu, Aku akan buktikan kalau aku sudah berubah, Khai. Aku juga sudah mengakui kesalahanku kepada Ayah dan Bunda kita. Beliau pun memberiku satu kesempatan, Khai. Jadi, bisakah kamu memberiku satu kesempatan juga?"
"Terserah Mas, aku capek. Aku mau tidur. Mas Radit kalau sudah selesai bisa pulang," ucap Khaira seolah mengusir suaminya itu.
"Tidak. Aku akan bermalam di sini. Aku suamimu, Khai. Jangan usir aku, aku juga berhak untuk terus berada di sisimu."
Khaira pun berdiri dari sofa yang berada di depan televisi itu. Ia memilih berlalu ke kamar mandi, mencuci wajah, dan menggosok gigi. Sesudah itu, ia naik ke atas tempat tidurnya dan mematikan lampu. Hanya lampu tidur di sebelah nakas yang menyala.
Sementara Radit masih duduk di sofa. Pria itu hanya bisa menghela nafasnya dengan sorot mata yang tidak lepas untuk mengamati Khaira.
"Sudah tidur, Khai?" tanyanya dari tempat duduknya.
"Apa?" tanya Khaira ketus.
"Gak papa kok. Khai...? Aku tidur di mana?"
Pertanyaan yang membuat Khaira semakin bertambah kesal rasanya.
"Di situ. Jangan macem-macem. Awas!"
Radit bergidik ngeri mendengar ancaman Khaira.
"Khaira...." Kembali Radit memanggil nama istrinya itu, saat Khaira hendak kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
"Apa lagi sih. Nyebelin banget."
"I Love U, Khaira..."