
Selang beberapa hari, orang tua Radit dan orang tua Khaira datang bersama-sama mengunjungi kediaman Radit dan Khaira. Mereka datang bukan tanpa maksud, tetapi Khaira yang mengundang orang tua dan mertuanya untuk berkumpul bersama.
Undangan makan malam yang semua menunya sudah dimasak sendiri oleh Khaira. Gurame fillet asam manis, kangkung blacan, sup ayam, dan beberapa menu lainnya sudah tersaji di meja makan.
Di meja makan itu, tiga keluarga berkumpul dan menikmati masakan hasil olahan Khaira yang rasanya enak.
"Semuanya masak sendiri Khai?" tanya Bunda Dyah kepada Khaira.
Dengan tersenyum lebar, Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bunda ... T
tadi Khaira masak sendiri. Mumpung ada waktu dan Arsyila tidur siang lumayan lama tadi." ucapnya.
"Masakan kamu selalu enak, Khai...." Kali ini Ayah Wibi yang memuji masakan menantunya yang selalu enak dan pas di lidahnya itu.
Satu tangan Khaira terulur dan mendekatkan aneka lauk ke hadapan Ayah Wibi. "Nambah lagi Ayah ... kalau enak dihabiskan." ucapnya sembari terkekeh geli.
Sementara suaminya sibuk menyantap masakan dan sesekali menyuapi Arsyila juga. Bagi Radit dan Khaira, tidak ada salah satu orang harus mengurus Arsyila. Keduanya sama-sama bahu-membahu mengasuh Arsyila mulai dari menyuapi makan, menemani bermain dan bermain, hanya ada satu kegiatan yang wajib dipegang Khaira yaitu saat memandikan Arsyila dan berkaitan dengan hal ke kamar mandi. Tujuannya Khaira memang melindungi anaknya, alangkah lebih baik jika anak perempuan berkaitan dengan mandi dan lainnya dipegang langsung oleh Mamanya.
Khaira tersenyum melihat suaminya yang telaten menyuapi Arsyila. Hatinya benar-benar menghangat saat ini melihat suami dan anaknya terlihat saling menyayangi.
Usai makan malam usai, ketiga keluarga itu berkumpul bersama di ruang keluarga. Di hadapan mereka telah tersaji Teh hangat dan berbagai camilan.
__ADS_1
Sebenarnya tidak ada yang curiga dengan kebahagiaan malam itu, karena keluarga Wibisono dan keluarga Ammar juga sering kali menghabiskan waktu di rumah anak-anak mereka sembari bermain dengan Arsyila.
Saat semuanya telah berkumpul, Radit kemudian bersiap membuka suaranya dan memberitahukan kabar bahagia darinya kepada keluarga besarnya.
"Ayah dan Bunda semua, sebenarnya malam ini ada yang ingin Radit sampaikan kepada Ayah dan Bunda. Begini...."
Pria itu menghela napasnya sesaat kemudian memandang wajah istrinya, saat istrinya sedikit menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum pria itu pun turut tersenyum.
"Begini ... tidak lama lagi keluarga kita akan bertambah anggota baru. Khaira tengah hamil lagi saat ini." ucap Radit dengan mata yang begitu berbinar dan wajahnya begitu bahagia.
Sedikit tercengang, kemudian mereka semua memandang Khaira dengan bahagia.
Bagi Bunda Ranti, Khaira sudah seperti anak perempuannya sendiri. Anak yang dia kasihi sepenuh hati. Maka dari itu, mendengar kabar bahagia ini, Bunda Ranti pun terharu.
"Alhamdulillah ... selamat Sayang ... dijaga baik-baik ya kali ini. Jangan sampai kebanyakan pikiran dan kecapean. Akhirnya Arsyila memiliki adek juga. Bunda doakan kamu sehat, Radit juga sehat dan sabar untuk menghadapi istrinya yang tengah hamil." ucap Bunda Dyah yang turut berbahagia dan mendoakan kebaikan bagi Khaira dan Radit.
Khaira pun justru menangis mendengar ucapan dan doa-doa yang tulus dari kedua Bundanya itu. "Amin ... terima kasih Bundaku semua. Khaira sih sehat, tetapi kasihan Mas Radit yang setiap pagi justru morning sickness." cerita Khaira kepada Bundanya bahwa suaminya justru mengalami morning sickness.
Ayah Wibi justru terkekeh. "Tidak apa-apa Khai ... Radit biar turut merasakan sedikit penderitaanmu. Namun kalau dipikir-pikir, Radit seperti Ayah dulu. Waktu Bundamu hamil Radit, Ayahlah yang mual dan muntah setiap pagi. Lumayan juga mengalami morning sickness selama tiga bulan." kenang Ayah Wibi yang rupanya dahulu juga mengalami Couvade Syndrom saat Bunda Ranti tengah mengandung Radit.
Seakan tak percaya, Radit pun bertanya kepada Bundanya. "Apa memang benar Bunda? Dulu Ayah yang mengalami kehamilan simpatik?"
__ADS_1
Bunda Ranti pun mengangguk. "Iya ... dulu waktu Bunda hamil kamu, Ayah yang muntah dan mual di pagi hari. Dulu kan kami masih di Jogjakarta, sampai Ayah sering main ke rumah mertua kamu untuk meminta mangga muda dan belimbing, karena ada pohon mangga dan belimbing di halaman mertua kamu. Untuk meredakan mual katanya." kenang Bunda Ranti saat mengandung Radit dan bagaimana suaminya dulu sering meminta mangga muda dan belimbing dari besannya.
Rupanya memang kehamilan kedua ini agaknya Radit yang harus bersabar dengan Couvade Syndrom yang dia alami. Momen kehamilan Bunda Ranti pun terulang, dan kini juga merasakan mual dan muntah di pagi hari.
"Tidak apa-apa, dijalani saja. Dulu juga Ayah menjalaninya, gak berselang lama juga sudah enggak morning sickness. Hanya mual dan muntah di pagi hari itu tidak menutupi kebahagiaan yang kami rasakan saat akan menjadi orang tua baru." ucap Ayah Wibi yang turut bercerita bahwa pengalamannya menjadi orang tua baru jauh lebih berharga.
Seolah setuju, Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya Ayah ... selalu Radit berbicara kepada Khaira kalau Radit rela menjalani semuanya. Yang penting Khaira sehat dan baby nya juga tumbuh sehat." ucap Radit.
Membahas tentang baby rupanya Arsyila kecil pun juga tertarik. "Baby siapa Papa?" tanya dengan wajah sangat antusias.
"Katanya Arsyila mau punya adik bayi. Tuhan sudah menjawab doanya Arsyila, di perut Mama sekarang sedang tumbuh baby. Nanti semakin lama perutnya Mama akan semakin membuncit tanda kalau adik bayinya bertumbuh." penjelasan Radit kepada Arsyila.
"Hore ... Syila mau punya adik bayi ya Pa ... ada teman bermain di rumah." Rupanya Arsyila pun bahagia mendengar kabar bahwa Mamanya tengah hamil.
Dengan mata bulatnya yang bening, gadis kecil itu pun bertanya lagi kepada Papanya. "Kapan adiknya lahir dan ada di rumah Pa? Besok ya?" Pertanyaan yang lucu, sehingga semua anggota keluarga tertawa mendengar pertanyaan Arsyila.
Radit mengacak gemas puncak kepala putrinya itu. "Adik baby di perut Mama selama 9 bulan, Syila ... Setelah lahir baru deh adik baby nya bisa dilihat Arsyila. Adiknya nanti setiap hari bertumbuh dari baby pelan-pelan tumbuh besar. Syila senang enggak akan menjadi Kakak?"
"Senang Pa ... hore Syila punya adik, punya teman bermain. Syila mau jadi kakak." Teriakan bahagia dari Arsyila mengundang gelak tawa dari seluruh keluarganya.
Sementara Khaira pun juga turut tertawa mendengar pertanyaan dari Arsyila. Mama muda itu berpikir untuk mempersiapkan Arsyila sejak kecil untuk menjadi seorang kakak. Tugasnya tentu bertambah, tetapi Khaira bahagia dalam menyambut calon baby dan mempersiapkan Arsyila menjadi seorang kakak yang baik bagi adiknya nanti.
__ADS_1