
Ramah tamah dan acara berkumpul dengan seluruh keluarga selalu menjadi saat yang membahagiakan bagi Khaira dan Radit. Mereka tidak hanya mengobrol, tetapi juga mengingat kembali kenangan cerita lama. Kebahagiaan juga untuk Arsyila yang begitu bahagia ketika Nenek, Kakek, dan Eyangnya berkumpul semua.
Hari semakin malam, akhirnya Keluarga Wibisono dan Keluarga Ammar pun pamit.
"Kami pulang ya ... Dit, jaga Khaira. Sekarang menjadi dua orang. Khaira dan baby nya. Yang sabar." Pesan dari Ayah Ammar kepada menantunya itu.
Radit pun mengangguk dan menjawab pertanyaan Ayah Ammar dengan penuh kepastian. "Sudah pasti Radit akan menjaga Khaira, Yah ... untuk calon baby dan juga Arsyila. Ayah bisa mempercayai Radit." sahut pria itu dengan penuh kepercayaan diri.
Ayah Ammar pun menepuk pundak menantunya itu. "Ayah titip putri Ayah kepadamu. Buktikan kalau kamu selalu menjadi Suami yang baik untuk Khaira, dan figur Papa yang baik juga untuk Arsyila dan adiknya nanti."
"Baik Ayah ... terima kasih sudah mempercayai Radit." ucapnya sembari menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada Ayah mertua.
Di sisi lain, Bu Ranti memeluk Khaira dengan penuh sayang. "Sekali lagi selamat ya Khai ... sehat-sehat, jangan kecapean dan jangan terlalu banyak pikiran. Jika ada apa-apa segera hubungan Bunda ya, Bunda selalu siap 24 jam buat kalian."
"Terima kasih ya Bunda...." ucapnya berterima kasih dan memeluk Bundanya.
Setelahnya baik orang tua dan mertuanya berpamitan, kedua pasangan muda itu kembali masuk ke dalam rumah. Radit memilih untuk menidurkan Arsyila terlebih dahulu, sementara Khaira menunggu di dalam kamar.
Khaira hanya duduk bersandar dan sesekali mengusapi perutnya yang masih rata. Memang ini adalah kehamilannya yang kedua, tetapi rasanya Khaira begitu bahagia. Mengetahui ada kehidupan yang mulai tumbuh di dalam rahimnya, membuat hati wanita itu begitu hangat rasanya.
Setengah jam berlalu, akhirnya Radit datang ke dalam kamar. Pria itu tersenyum dan mengambil tempat duduk di sisi istrinya.
"Kenapa kamu diam aja? Hmm." tanyanya pada sang istri yang hanya diam dan tangannya mengusap-usap perutnya.
Khaira pun menggelengkan kepalanya. "Euhm, rasanya ajaib aja ada kehidupan baru di sini lagi. Aku pikir waktu keguguran dan kuretase dulu, aku gak akan bisa merasakan ini lagi. Ternyata Allah Maha Baik kembali mempercayakan kepada kita dengan calon baby yang sedang bertumbuh di sini. Ternyata seperti ini rasanya." ceritanya dengan wajah nampak berkaca-kaca.
__ADS_1
Radit pun tertawa dan buru-buru merangkul istrinya itu. Membawa kepala istrinya untuk bersandar sepenuhnya di dadanya. "Benar ... Allah Maha Baik Sayang. Ini juga terasa ajaib buat aku. Sekarang bagaimana perasaan kamu?" pertanyaan dari sang suami yang menanyakan tentang perasaan istrinya yang tengah mengandung lagi.
Air mata Khaira kian menetes dengan deras. Meluapkan perasaan dan kebahagiaannya. "Saat ini aku bahagia, Mas ... sangat bahagia. Ya, walaupun aku tetap takut saat melahirkan nanti, setidaknya aku mau berbahagia dan menikmati masa kehamilanku ini. Lagian ada kamu yang akan selalu mendampingi aku kan Mas?"
Radit menunduk hingga dagunya berada di puncak kepala istrinya itu. Menciumi aroma rambut yang begitu wangi menguar dari kepala istrinya. Satu tangannya juga mengusap lembut lengan istrinya. "Sudah pasti aku akan mendampingi kamu, Sayang. Lega rasanya jika saat ini kamu bahagia. Aku pun juga bahagia. Rasanya baru kemarin hamil Arsyila dan pernah kehilangan, sekarang hamil lagi. Aku seneng banget."
Hening sejenak, Khaira memejamkan matanya bersandar pada dada bidang suaminya itu. "Ini yang terakhir ya Mas ... dua anak saja ya." ucap Khaira perlahan.
"Sapa tau beberapa tahun yang akan datang, kamu mau punya baby lagi aku juga mau kok Sayang. Mau tiga atau berapa pun aku tidak masalah." ucap Radit dengan begitu entengnya.
Hingga tangan Khaira mencubit pinggang suaminya itu yang membuat pria itu tergelak dan mengaduh.
"Aww ... sakit Sayang. Hobi banget cubit-cubit pinggang aku." ucapnya sembari memegangi pinggangnya yang seolah seperti abis digigit semut karena cubitan dari tangan Khaira.
"Ya, kalau aku hamil lagi sih gak apa-apa. Kan selama hamil aku sehat. Akan tetapi, kamu mau terus-menerus morning sickness Mas?" tanya Khaira sembari memincingkan matanya menatap wajah suaminya.
"Obatnya apa Mas?" tanya Khaira yang memang tidak tahu apa dimaksudnya obat yang mujarab oleh suaminya itu.
Pria itu tersenyum dan mengerlingkan matanya. Kedua tangannya terlentang berinisiatif supaya istrinya itu memeluknya. Bak gayung bersambat, tanpa menunggu waktu lama Khaira memeluk tubuh pria itu. Merasakan hangatnya pelukan yang selalu diberikan oleh suaminya itu.
"Mau aku kasih tau obatnya ... obatnya memeluk dan mencium kamu saja aku udah langsung sehat, Sayang." jawabnya sembari tertawa.
"Isshhs ... modus banget sih. Mana ada morning sickness kok obatnya meluk dan mencium istrinya. Ngeles banget." cibirnya kepada sang suami yang memiliki sifat modus tiada henti.
Radit hanya tertawa. Kedua tangannya bergerak untuk menangkup wajah istrinya itu. Pria itu diam tak bergeming dan mengikis jarak keduanya. Perlahan tetapi pasti, bibirnya mendarat seperti di atas dua belah bibir yang ranum milik istrinya. Membiarkan pendaratan itu sekian detik, hingga perlahan pria itu memejamkan matanya dan mulai membuka sedikit bibirnya guna mencium, mengecup, dan memagut dengan begitu lembut bibir istrinya yang begitu terasa manis.
__ADS_1
Bergerak seirama hingga menimbulkan decakan yang membuat tangan Khaira memegang erat pundak suaminya. Bukan sebatas berpegangan, tetapi berharap dia tidak akan kehilangan akal setiap kali suaminya itu menciumnya. Mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya, Khaira pun memejamkan mata. Saat suaminya menciumnya, dia balas menciumnya. Saat suaminya mengecupnya, dia pun balas mengecupnya.
Membiarkan gejolak dalam dadanya untuk bergerak dalam permainan lidah yang membuat keduanya sama-sama limbung. Untuk menyadarkan kembali dirinya, pria itu membuka matanya sesaatnya dan dia menyunggingkan senyuman saat melihat wajah istrinya dengan merona di pipinya dan bibirnya yang sedikit bengkak dan berkilap.
Tak tahan melihat kecantikan istrinya yang begitu indah di wajahnya, pria itu kembali mengikis jarak dan kembali menyapa bibir yang selalu menjadi candunya. Merasai rasa layaknya cotton candy yang lembut dan manis, rasa yang selalu tidak mampu dia tahan dan lupakan. Hangatnya rongga mulutnya yang membuat dia betah berlama-lama di sana. Seolah kehilangan akal, satu tangan pria itu menahan tengkuk istrinya guna memperdalam ciumannya.
Diiringi dengan decakan dan napas yang kian memburu keduanya sama-sama hanyut dalam ciuman yang begitu memabukkan.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar pintu connecting room terbuka.
Sigap. Keduanya sama-sama melepas peperangan bibir mereka berdua.
"Papa ... Mama ... Aku mau bobok sama Papa dan Mama." Arsyila datang dengan mengucek matanya kedua tangan gadis itu memeluk sebuah boneka berkarakter kelinci di depan dadanya.
Dengan segera keduanya saling menatap sementara Radit mengusap kasar wajahnya. Bersikap seolah baik-baik saja, pria itu kemudian berjalan dan menggendong Arsyila ke atas tempat tidurnya.
"Syilla mau bobok sama Papa dan Mama? Tumben?" tanyanya.
"Iya, mau bobok sama Papa, Mama, dan adik bayi." ucap gadis kecil itu sembari mengambil tempat tidur di antara Papa dan Mamanya.
Khaira hanya tersenyum lantas menatap wajah suaminya yang seakan berubah menjadi mendung.
"Jangan langsung bobok ya Sayang ... Nanggung." ucap pria itu berbisik lirih di telinga istrinya.
Khaira justru mengangkat jari telunjuknya ke atas bibirnya. "Sssttss ... tidur Mas... nanti Syila bangun lagi."
__ADS_1
Akhirnya pria itu memilih membelakangi Khaira dan menyelimuti dirinya sendiri.
Sementara Khaira hanya geleng-geleng kepala dengan perilaku suaminya yang lucu. Antara kasihan, tetapi juga lucu di mata Khaira.