
Kini Radit dan Khaira tengah berada di kursi kayu kecil yang ditaruh di samping rumah. Di sana Khaira menanam beberapa bunga seperti Bunga Cantik Manis, Bunga Tapak Dara, dan berbagai Aglonema yang membuat samping rumahnya terasa asli.
Hamil tidak membatasi Khaira untuk bergerak dan beraktivitas.
"Kamu jangan capek-capek Sayang, kehamilan kamu bertambah usia. Kamu masih ngajar, ngurus rumah, dan tanaman ini juga. Kamu gak pengen pakai ART buat bantu-bantu kamu?" tanya Radit sembari melihat istrinya yang kini tengah hamil 5 bulan itu.
Khaira menggelengkan kepalanya. "Aku masih bisa handle sendiri kok Mas, lagian ngajar juga seminggu sekali. Selebihnya waktuku banyak. Ibu Hamil itu kalau tetap bergerak, beraktivitas malahan sehat, Mas. Adeknya juga ikut sehat." jawab Khaira.
"Ya tapi jangan kecapean. Lagipula pake ART yang datang harian untuk bersih-bersih rumah kan gak papa. Jadi kamu bisa fokus sama kehamilan kamu, terus Dosen kalau melahirkan dapat cuti enggak?" tanya Radit kepada istrinya.
"Biasanya dapat 3 bulan sih Mas, tetapi kalau bisa mengajukan aku mau ngajar dari rumah aja. School From Home gitu, lagian sekarang teknologi sudah maju. Kalau boleh, aku ngajar aja dari rumah." ucapnya dengan penuh semangat.
Radit menggenggam tangan istrinya. "Kamu terlalu bersemangat, justru buat aku kadang khawatir. Kamu hamil ini masyaallah banget. Enggak mual, muntah, sehat, masih bisa beraktivitas seperti biasa."
Khaira tersenyum kepada suaminya. "Kata Bunda Dyah, aku jenis hamil kebo, Mas."
Radit mengernyitkan keningnya, "Hamil kebo? Apaan tuh Sayang?"
"Itu sebutan lumrah buat para ibu hamil yang tidak merasakan berbagai gejala kehamilan seperti mual, muntah, tidak merasakan nyeri, sakit kepala, makan tidak pilih-pilih, dan pastinya masih aktif bergerak. Aku banget kan Mas?" ucap Khaira sambil terkekeh geli.
Radit menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan istrinya. "O... Jadi itu hanya sebutan saja kan ya? Aku kira apa. Tapi bener banget, kamu cuma mual pas awal ketahuan hamil itu aja, selebihnya biasa aja. Cuma satu yang berubah, Yang...."
Khaira menoleh mendengar ucapan suaminya. "Apanya yang berubah Mas?"
"Kamu jadi lebih manja dan nempelan melulu." ucapan seraya mencubit hidung istrinya hingga merah.
__ADS_1
Khaira cemberut dan mengusap-usap hidungnya. "Sakit loh Mas ini ... suka banget sih menganiaya."
Bukan merasa bersalah Radit justru tertawa melihat wajah istrinya yang cemberut dengan hidungnya yang memerah. Ditambah pipi istrinya yang semakin chubby, justru membuat pria itu semakin gemas rasanya.
"Godain kamu itu candu Sayang ... pengennya lagi dan lagi." ucapnya seolah tanpa berdosa sama sekali.
Khaira kini satu tangannya mengelus perutnya. "Adek ... ini Papa kamu menganiaya Mama melulu." keluhnya kepada sang buah hati yang masih berada di dalam perutnya.
Tawa Radit pun hilang seketika, saat Khaira mengadu kepada baby nya yang masih berada di dalam rahimnya.
Meninggalkan suaminya, Khaira memilih kembali ke kamar. Pergerakan Khaira diamati Radit, dan ia pun turut mengikuti kemana Khaira pergi.
Begitu sampai di dalam kamar, Khaira lantas duduk bersandar di head board. Tangannya mengelus-elus perutnya. Pemandangan yang indah bagi Radit, tanpa basa-basi ia pun turut duduk dan mengelus lembut perut istrinya itu.
Sapaan yang untuk pertama kalinya menghasilkan tendangan dari bayi yang masih di dalam rahim Khaira itu.
"Ya ampun, dia nendang Sayang..." ucap Radit dengan berkaca-kaca. "Hai anak Papa, kamu dengar suara Papa ya?"
Khaira pun turut meneteskan air mata. "Iya, si Baby nendang Mas."
Tendangan bayi yang pertama kali dirasakan Khaira begitu membuatnya terharu hingga meneteskan air mata.
Radit sontak mendongakkan kepalanya. "Kenapa kamu justru menangis?" tanya dengan wajah cemas melihat air mata berlinang begitu saja di sudut mata Khaira.
Khaira pun segera menyeka air matanya, "Karena tendangan bayi itu sangat berarti, Mas. Anak kita tumbuh di dalam sini, otaknya berkembang, dia juga refleks dengan lingkungannya. Semoga Adek sehat, lengkap, dan sempurna ya Mas..." ucapnya sambil tersenyum. "Euhm, maaf kalau aku cengeng, karena ini semua ajaib banget buatku. Aku begitu kagum dengan setiap tahapan tumbuh kembang prenatal (sebelum kelahiran - saat bayi masih berada di dalam kandungan), saking kagumnya aku sampai menangis." lanjutnya kini dengan tersenyum.
__ADS_1
Khaira kembali memandang wajah Radit. "Euhm, akan tetapi jangan panggil aku cengeng ya, Mas. Panggilanmu dulu berbekas banget di sini." ucapnya sembari menepuk dadanya.
Radit tak bisa berkata apa-apa, ia hanya mampu merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya. "Maafkan aku ya Sayang, aku gak akan melakukannya lagi. Tetapi sekarang mungkin efek kehamilan yang bikin kamu banyak nangis. Padahal aku ingin membuatmu bahagia, tetapi lima bulan belakangan kamu justru banyak nangisnya."
Khaira mencerukkan kepalanya di dada suaminya. "Nangis bahagia, Mas. Memang ada kok Ibu Hamil yang jadi lebih cengeng, mungkin aku salah satunya. Hmm, tetapi ke depan aku berusaha supaya tidak mudah menangis."
"Iya, bahagialah. Kamu punya aku, punya baby kita juga. Sayang, karena anak kita ini cewek boleh enggak aku yang nanti memberi nama buat anak ini?" tanya Radit sembari menundukkan wajahnya mengamati perut istrinya yang bulat dan mengelusnya dengan lembut.
"Boleh. Mau kamu kasih nama apa emangnya Mas? Kamu sudah kepikiran mau kasih nama apa buat anak kita?" tanya Khaira kepada suaminya itu.
Radit tersenyum sembari menganggukkan kepala. "Sudah. Bagaimana kalau kita beri nama ...." ucapnya berbisik lirih di telinga istrinya.
"Baby A..." ucapnya penuh kebahagiaan.
Khaira nampak menimbang-nimbang. "Emang arti nama itu apa Mas? Jangan asal memberi nama anak ya. Soalnya dalam sebuah nama itu terselip doa-doa kita." ucap Khaira dengan sorot mata yang menatap suaminya.
Sambil mengelus lembut perut istrinya. "Artinya jalan penghidupan yang tentram, merdeka, bahagia dan sempurna. Aku berharap anakku menjadi pribadi yang demikian. Itu doaku untuk baby kita. Bagaimana menurutmu?"
Mendengarkan penjelasan suaminya, akhirnya Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Okay, aku setuju. Hai Baby A... Wah, kamu baru lima bulan sudah dapat nama dari Papa ya. Tumbuh dalam jalan penghidupan yang tentram, merdeka, bahagia dan sempurna ya Sayang." ucap Khaira begitu lembut.
Radit pun tak mau ketinggalan untuk menyapa buah hatinya. "Hai Baby A, sekarang Adek dipanggil Baby A dulu yah... Nanti kalau Adek sudah lahiran, sudah launching, kita kasih tahu ke semuanya nama lengkapnya kamu yahh... Jadi wanita yang cantik, pinter, dan baik hati seperti Mama Khaira ya Sayang."
Khaira lantas tertawa sembari mencubit pinggang suaminya itu. "Ambil yang baik-baik aja dari Papa dan Mama ya Baby A ... tinggalkan semua keburukannya, ambil kebaikannya. Amin...."
"Amin...." Radit turut mengaminkan ucapan istrinya itu.
__ADS_1