Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Pillow Talk


__ADS_3

Malam hari ini, saat Khaira tengah duduk bersandar di tempat tidurnya. Tiba-tiba Radit menempati tempat tidur Khaira dengan posisi tengkurap.


"Baru ngapain? Hmm. Kok keliatannya mandangin handphone terus." tanya Radit sembari kepalanya mencoba melihat apa yang sedang dilakukan istrinya itu dengan handphonenya.


Khaira menggoyangkan tangannya yang sedang memegang handphone, "ini baca berita, katanya malam ini ada hujan salju dengan kelembapan mencapai 4° celcius. Bakalan dingin banget pasti malam ini." ucapnya sembari memberikan handphonenya kepada Radit.


Radit menerima handphone Khaira itu, lalu turut membaca berita cuaca yang diberikan istrinya itu. "Suhu terdingin memangnya berapa di sini?"


"Kurang tahu sih Mas, tapi kalau salju bisa tebel banget. Kata Mark sih di Manchester paling dingin ya antara 2° hingga 4° celcius sih. Kalau aku sendiri kan ini musim dingin pertama buatku."


Radit sembari tengkurap, kini memainkan rambut Khaira yang sebagian berada di tempat tidur karena terkadang gadis itu menyadarkan kepalanya ke tempat tidurnya.


"Ya penting kita berada di dalam sini, room heaternya dinyalain supaya hangat kan di sini."


"Iya." Sahut Khaira cepat.


"Apa kita perlu beli room heater lagi jaga-jaga kalau musim dingin seperti ini? Biar kita hangat, enggan kedinginan." Tawarnya sembari jari-jarinya memilin dan membelai rambut Khaira yang menjuntai indah.

__ADS_1


Khaira nampak menganggukkan kepala. "Boleh, besok kita ke toserba yang kemarin itu ya Mas. Ada room heater elektrik di sana sekalian beli bahan makanan ya Mas. Aku males keluar-keluar kalau musim dingin seperti ini."


"Males keluar kamar malahan bagus dong." Ucapnya sembari tersenyum nakal. Tentu saja maksud Radit bukan tidak keluar kamar secara harfiah. Pria itu pasti menginginkan hal yang lain. Hanya saja ia masih menahannya, ia tidak ingin gagal membuktikan dan memantaskan dirinya. Ia tentu tidak mau gagal hanya karena tidak bisa mengendalikan dirinya. Oleh karena itu, terkurung dalam ruangan yang sama, sesungguhnya membuat Radit menahan diri sebisa dan sekuat mungkin.


Khaira yang sebenarnya mengetahui maksud suaminya hanya berpura-pura diam. Dia memang sudah menerima suaminya, tetapi memang belum bisa memberikan apa yang menjadi hak bagi suaminya itu.


"Pasti mikir yang aneh-aneh deh. Mas... Boleh aku ngomong sesuatu."


Khaira memutar sedikit posisi duduknya, kini ia bisa melihat wajah suaminya itu. Tidak langsung berbicara, ia justru mengambil satu bantal berbentuk persegi lalu mendekapnya. "Kamu ingin memiliki keturunan. Hem, maksudku anak. Pengen segera atau menunda dulu Mas?" tanya dengan wajah gugup.


Radit tersenyum melihat wajah istrinya yang salah tingkah. "Kenapa Sayang? Coba ceritakan dulu sama aku. Mas akan mendengarkan dulu ceritamu. Jangan ragu."


Radit nampak sedikit mengernyitkan keningnya sebagai tanda ia tengah berpikir. Namun, ia tak ingin buru-buru mengungkapkan pandangannya. Ia perlu mendengar pendapat Khaira terlebih dahulu. Radit kini meraih satu tangan Khaira, menggenggamnya erat. "Coba kamu ceritakan dulu, maksud kamu gimana? Setelah itu baru akan ceritakan apa yang ada di kepalaku." pintanya sembari terus menggenggam erat tangan Khaira.


Khaira menghela nafasnya sejenak. "Kalau kita menunda sejenak bagaimana Mas? Lagipula aku di sini untuk kuliah. Scholarship yang aku dapatkan hanya memberiku waktu untuk selesai kuliah ini dalam waktu 24 bulan. Kalau dalam waktu itu, aku tidak lulus maka aku harus membayar sendiri untuk biaya kuliah dan biaya hidup. Misal kita menunda sampai aku lulus bagaimana? Lagipula jika hamil nanti itu pengalaman pertama bagiku, hamil di negeri asing jauh dari keluarga tentu cukup berat Mas. Itu pemikiranku, tetapi jangan jadikan pandanganku ini sebagai keputusanmu. Lebih baik kita mengambil keputusan bersama-sama."


Radit mendengarkan penjelasan Khaira dengan sebaik mungkin. "Aku malahan seneng dengar penjelasanmu. Bagiku kehamilan itu hak perempuan, karena mereka yang akan mengandung, membawa janinnya kemana-mana selama 9 bulan lamanya. Aku pun sebenarnya tidak terburu-buru juga. Yang pasti tentu aku ingin memiliki keturunan darimu. Aku ingin kamu melahirkan anak-anak dari rahimmu dan menjadi Ibu bagi anak-anak kita berdua nanti. Untuk waktunya kapan aku fleksibel kok, lagipula dalam usaha manusia mendapatkan keturunan akan ada campur tangan Tuhan yang membuat sel ****** bisa mencapai sel telur (ovum) hingga kemudian pertemuan keduanya menjadi bakal bayi nantinya."

__ADS_1


Kini Radit menggeser posisi tidurnya di atas tempat tidur, seolah memberi kode kepada Khaira untuk bergabung dengannya di tempat tidur itu. Khaira pun bangkit dari duduknya dan berbaring miring saling berhadapan dengan suaminya itu.


"Aku sebenarnya juga berpikiran sama, lebih baik jika kita memulai serius mendapatkan keturunan setelah kita kembali ke Jakarta. Ada Ayah dan Bunda juga yang akan menolong kita yang masih awam dan belum berpengalaman ini." Sambung Radit sembari memandangi wajah istrinya itu.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Jadi kesepakatan kita?" Ia ingin mendapatkan jawaban yang tepat. Keputusan yang saling dibicarakan dan bukan keputusan sepihak. Bagaimana dalam berumah tangga kata "saling" akan jauh lebih baik. Saling berbicara hingga saling membuat keputusan bersama.


Radit justru merentangkan tangannya, "Sini." ucapnya seraya merengkuh badan Khaira dalam pelukannya. "Kita menundanya dulu gak papa, tetapi setelah kuliah kamu selesai, minimal tinggal nunggu wisuda kita seriusin ya. Aku mau punya anak dari kamu, cuma kamu." ucapnya sembari mendaratkan satu kecupan di kening Khaira.


"Makasih Mas buat pengertiannya. Maafkan aku yang berpikir seperti ini." ucap Khaira.


"Jangan meminta maaf, sudah sewajarnya sepasang suami istri saling membahas hal seperti ini. Malahan bagus jika semua dibicarakan bersama jadi keputusan yang diambil kan keputusan bersama juga." ucapnya yang terdengar bijaksana.


"Sayang, menunda momongan bukan berarti...." Kata-katanya Radit tertahan di udara karena Khaira segera memotong ucapan suaminya itu.


"Sabar Mas, kita mendatangi Obgyn dulu ya Mas. Kita pilih kontrasepsi yang tepat buat kita berdua. Lagipula Mas gak mungkin mau vasektomi kan?" ucap Khaira sembari memincingkan matanya menatap Radit.


"Jangan Sayang. Takut aku. Nanti setelah jaringannya dibuka kalau tetap gak fungsi bagaimana coba? Bahaya kan." jawabnya dengan wajah yang nampak ketakutan.

__ADS_1


Khaira justru terkekeh geli melihat raut muka Radit. "Sabar ya Mas, kita pilih kontrasepsi yang tepat buat kita berdua ya. Biar aman."


"Hmm, iya. Aku sabar kok kalau sama kamu. Penting jangan lama-lama. Musim dinginnya kan cocok Yang." ucapnya sembari menciumi kening Khaira. 🥰


__ADS_2