
Sepulang dari Panti Asuhan. Radit, Khaira, bersama Arsyila kembali pulang ke rumah. Walaupun mereka pulang dengan luka di lutut Arsyila, tetapi dia tetap merasa bahagia karena bisa bertemu dengan Aksara walaupun hanya sejenak.
Begitu telah sampai di rumah, Khaira segera memandikan Arsyila, menyuapinya untuk makan malam, lalu menidurkannya. Setelah Arsyila tertidur, Khaira kembali ke kamarnya dan duduk bersandar bersama suaminya.
"Sayang ... tadi Adam menelpon kamu, tapi karena handphone kamu mode silent, jadi aku enggak angkat." ucap Radit sembari menyerahkan handphonenya kepada Khaira.
Khaira nampak mengernyitkan keningnya. "Adam?" tanyanya kepada suaminya.
Dengan cepat Radit pun menganggukkan kepala. "Iya ... Adam. Temen kamu waktu kuliah di Manchester dulu, lagian dia tinggal di Singapura kan? Mungkin saja dia sedang di Jakarta. Coba telepon balik aja Sayang."
Mendengar saran dari suaminya, Khaira berinisiatif untuk menelpon Adam.
Adam
Calling
"Halo Adam ... tumben kamu menelponku ada apa?" tanya Khaira sembari tertawa, sebenarnya dia tidak menyangka akan kembali berbicara dengan Adam. Pasalnya sejak keduanya sama-sama lulus dari University of Manchester, hanya beberapa kali mereka saling bertukar kabar.
Dari seberang sana, Adam pun juga tertawa. "Hai Khai... Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, Dam ... kenapa? Tumben sekali." ucapnya sembari duduk di samping suaminya.
"Begini Khai, kamu bisa membawakan seminar seputar Teknologi Pendidikan di Singapura?" tanyanya kepada Khaira.
Enggan menjawab, Khaira justru ingin bertanya terlebih dahulu kepada suaminya. Bagaimanapun saran dan pertimbangan dari sang suami adalah yang terpenting bagi Khaira.
"Aku tanya Mas Radit dulu ya, Dam... Nanti kalau oke, aku kabarin." jawab Khaira.
"Iya... Untuk akomodasi dan transportasi aman Khai. Sudah include nanti." ucap Adam yang menjelaskan supaya Khaira tidak memikirkan masalah akomodasi dan juga transportasi.
__ADS_1
Khaira lantas tertawa. "Iya... Aku tanya Mas Radit dulu ya, kalau Suami Oke, nanti pasti aku ambil." ucapnya sembari menutup panggilan teleponnya.
Selesai melakukan panggilan telepon, Khaira lantas ingin menyampaikan tawaran Adam tersebut kepada suaminya. "Mas, ada tawaran dari Adam... Aku diminta jadi pengisi seminar tentang Teknologi Pendidikan di Singapura. Boleh enggak?" tanya Khaira kepada suaminya tersebut.
Sedikit banyak sebenarnya Radit sudah tahu dengan telepon dari Adam, tetapi Radit sangat menghargai dengan keputusan Khaira yang selalu melibatkannya untuk mengambil keputusan.
"Berapa lama di sana?" tanya Radit sembari menatap wajah istrinya itu.
"Adam bilang tadi sih cuma dua hari sih. Bagaimana menurut Mas Radit?" tanya Khaira sembari menatap wajah suaminya itu.
"Boleh sih... Gak papa cuma dua hari aja kan. Lalu, Arsyila gimana?" kali ini yang Radit pikirkan adalah Arsyila.
Khaira nampak berpikir sejenak. Dia memang seorang Mama dan ada Arsyila juga. Sehingga apa saja yang Khaira lakukan tentu harus mengingat Arsyila.
"Menurut kamu bagaimana Mas?" lagi Khaira terlebih dahulu meminta pendapat dari suaminya tersebut.
Radit pun tertawa dan justru mengacak puncak kepala Khaira. "Kamu ini ditanyain kok malahan tanya balik sama aku sih Sayang. Gak papa kalau kamu mengutarakan pendapatmu terlebih dahulu. Tidak harus pendapat dariku yang terlebih dulu."
"Kalau Arsyila kamu ajak ke Singapura terus aku gimana?" kali ini justru Radit terlihat merajuk kepada istrinya tersebut.
Melihat kelakuan suaminya justru Khaira hanya tertawa dan memukul lengan suaminya itu. "Mas mau ikutan juga? Kalau mau ya ikut aja. Aku malahan seneng. Pas aku ngisi seminar, ada yang jagain Arsyila." ucap Khaira yang berpikir jika suaminya juga ikut, dia tidak kerepotan.
"Jadi aku jadi babysitternya Syila nih?" tanyanya.
Khaira seketika menganggukkan kepalanya. "Yup ... Benar sekali. Gimana Papa mau enggak ikutan kami ke Singapura?" bujuknya kepada suaminya tersebut.
Radit nampak membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada, pria itu nampak berpikir. Sementara Khaira menunggu suaminya itu mulai mengeluarkan suara.
"Mas ... gimana?" tanyanya lagi kepada suaminya.
__ADS_1
"Boleh sih kalau aku ikut... Tapi ada bayarannya loh Sayang." ucapnya sembari menaikkan alis matanya.
"Apa Mas?" lagi tanya Khaira.
Enggan menjawab, Radit justru mengerlingkan matanya kepada Khaira. Sontak saja Khaira mencubit pinggang suaminya itu. "Jangan kayak gitu deh matanya, genit... Kalau cewek lain yang lihat gimana coba?"
Sementara Radit mengaduh sembari memegangi pinggangnya. "Aku kayak gini cuma sama kamu aja Sayang. Gak bakalan aku ngerlingin mata sama orang lain."
Khaira lantas memasang wajah cemberut. "Kalau sampai genit-genit ke cewek lain awas aja." ancamnya kepada sang suami.
Radit pun seketika merengkuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Sembari dia menciumi puncak kepala istrinya. "Enggak Sayang... Mana ada aku genit-genit ke cewek lain. Aku cuma seperti ini sama kamu aja, kan aku juga cuma bercanda Sayang. Udah dong, gitu aja ngambek. Sini, aku peluk...." ucapnya sembari mengeratkan pelukannya.
Sementara Khaira masih saja cemberut. Enggan menanggapi pembicaraan suaminya.
"Masih ngambek? Masih marah? Jangan marah-marah, nanti cantiknya hilang loh...." ucapnya dengan masih memeluk istrinya.
"Pokoknya aku gak mau kalau kamu genit-genit." ucapnya kemudian sembari kedua tangannya melingkari pinggang suaminya.
"Iya... Lagipula aku enggak genit kok. Cuma sama kamu aja." balasnya meyakinkan istrinya. "Jadi gimana ke Singapura nya? Jadi ke sana enggak?" tanyanya sembari mengalihkan pembicaraan kepada istrinya yang baru ngambek itu.
Khaira pun menganggukkan kepala. "Jadi dong... Gimana mau ikut enggak Mas? Atau aku berdua aja sama Arsyila?"
Radit pun mengurai pelukannya dan menatap wajah istrinya. "Sudah tentu aku ikut Sayang... Mana mungkin aku membiarkan Istriku dan Anakku pergi sendirian sampai Singapura." ucapnya dengan serius.
"Sayang, pastikan dulu ke Adam ... Acaranya tanggal berapa? Kalau weekend lebih enak, jadi aku enggak perlu cuti. Jalan-jalan kita ke Singapura. Kamu pengen apa di sana Sayang?" tanyanya lagi kepada Khaira.
"Iya ... Aku tanya lagi ke Adam hari dan tanggal acaranya. Aku juga harus siapkan slide presentasinya dulu. Jalan-jalan ke Universal Studio, main-main sama Arsyila seru kali ya Mas...." ucapnya yang membayangkan bisa bermain dan menaiki wahana di Universal Studio bersama Arsyila akan sangat menyenangkan.
Radit pun menganggukkan kepala. "Iya seru ... sekalian aja di sela-sela waktu, kita jalan-jalan ke Universal Studio. Liburan sama Arsyila, sapa tahu dari Singapura kamu mau bikinin adek buat Syila. Kasihan dia maen sendiri. Sudah pantas kalau Syila punya adek loh Sayang."
__ADS_1
Khaira menatap wajah suaminya. "Kamu juga mau punya baby lagi Mas?"
"Iya ... mau Sayang. Namun sesiapnya kamu aja. Kasihan Arsyila butuh teman juga."