Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Kekhawatiran


__ADS_3

Sudah beberapa menit Khaira menunggu, tetapi suaminya belum terlihat untuk menjemputnya. Sudah pasti Khaira begitu cemas karena bagian kemejanya telah basah. Juga Khaira khawatir, jika ada orang yang melihatnya dengan kemeja yang basah di area dada.


Khaira mulai mengambil handphone di saku celananya dan mulai menelpon suaminya, teleponnya berdering, tetapi tidak ada jawabannya. Sementara sumber ASI nya terasa kian sakit.


Memilih duduk dan menunggu, Khaira hanya berharap suaminya akan segera datang menjemputnya. Yang dinantikan pun datang, sebuah mobil berwarna silver telah berhenti di depan Khaira.


"Sudah lama nunggunya Sayang?" sapa Radit begitu turun dari mobil dan menghampiri Khaira.


"Lima belas menitan, Mas ... lama banget sih?" keluhnya sembari bibirnya yang mengerucut kepada suaminya.


"Tadi ada kerjaan dulu Sayang. Aku selesaikan dulu." jawab Radit dengan jujur. Memang ada pekerjaan tambahan di kantor yang harus dia selesaikan terlebih dahulu.


Radit kemudian meminta tas laptop, hand bag, dan juga tas gabagnya. "Sini aku bawain Sayang."


Akan tetapi, Khaira hanya memberikan dua tas saja. "Ini saja Mas... Yang ini biar aku bawa." ucapnya karena tas gabag berisi alat pumping itu, dia kenakan untuk menutupi kemejanya yang basah.


"Kenapa enggak sekalian?" tanya Radit dengan cukup curiga.


"Masuk ke dalam mobil dulu aja Mas...."


Setelahnya mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, barusan Khaira menggeser posisi tas yang sejak tadi digunakan untuk menutupi bagian depannya.


Melihat kemeja istrinya yang basah, sontak Radit merasa khawatir. "Kamu kenapa Sayang, kenapa itu basah semua?" tanyanya panik.


"Penuh banget ini Mas, harus segera dipumping. Kalau enggak di keluarkan aku bisa demam." ucapnya sembari menyandarkan bahunya di kursi tempat duduknya.

__ADS_1


"Ya ampun Sayang ... sorry pasti gara-gara aku jemput kamu telat. Apa kamu enggak pake breastpad Sayang?" tanyanya.


"Aku sudah pake sih Mas, tapi ini udah penuh banget. Agak cepet nyetirnya ya Mas, biar aku bisa pumping dulu di rumah Bunda. Aku mandi di sana sekalian ya Mas..." ucap Khaira sembari memejamkan matanya lantaran sumber ASI nya yang kian terasa sakit dan penuh.


Radit lantas mengambil terlebih dahulu jaketnya yang berada di kursi belakang. Mengenakannya untuk istrinya. "Pakai ini dulu Sayang, biar aman. Kemeja kamu basah banget."


Setelahnya Radit segera mengemudikan mobilnya dengan lebih cepat, berharap istrinya tidak sampai demam. Kurang lebih 20 menit, mereka telah sampai di rumah Bunda Dyah.


"Sore Bunda ... Arsyila nangis enggak Bunda?" tanya Khaira begitu telah masuk ke dalam rumah orang tuanya.


"Enggak ... Arsyila pinter kok. Ya ampun, kemeja kamu kenapa Khai?" tanya Bunda Dyah dengan khawatir.


"ASInya penuh Bunda, sampai kayak gini. Nitip Arsyila lagi, Khaira pumping dulu dan bersih-bersih boleh Bunda?"


Bunda Dyah pun mengangguk. "Iya sana pumping dulu, jangan sampai demam karena mastitis (peradangan pada jaringan ASI)."


Setelah selesai membersihkan diri dan pumping, Khaira turun ke bawah untuk menemui anaknya. Rupanya di bawah Radit tengah bermain bersama Arsyila. Menggendong bayi kecil itu sembari menyanyikan lagu-lagu Lullaby.


Pelan-pelan, Khaira menghampiri suami dan anaknya itu. "Pria kalau ngasuh anak gini makin cakep loh?" selorohnya sembari mencium pipi chubby Arsyila.


Radit pun tertawa. "Bilang aja kalau aku cakep, Sayang...." tawanya sembari masih menggendong Arsyila.


"Enggak, pria yang mau bantuin ngasuh anak itu cakepnya tambah. Sama kayak kamu, Mas ... tambah cakep kalau gendong Arsyila gini." ucapnya sembari mengambil tempat duduk di kursi yang ada di depannya.


Radit pun tersenyum. "Sudah pumpingnya? Masih sakit?" tanyanya dengan wajah nampak panik.

__ADS_1


"Sudah ... sudah lega. Arsyila biar minum ASI dulu, Mas ... kasihan sesiang aku tinggal kerja." ucapnya sembari dua tangannya terulur untuk meminta Arsyila.


Radit pun mengalihkan Arsyila ke dalam rengkuhan tangan Khaira, dan membiarkan putrinya untuk mendapatkan ASI terlebih dahulu.


"Gimana tadi ngajarnya Sayang?" tanyanya sembari mengamati putrinya yang begitu tenang.


"Lancar sih Mas. Cuma aku kepikiran Arsyila. Baru sampai kampus, udah kepikiran Arsyila. Takut dia rewel, soalnya gak pernah ditinggal sebelumnya kan." ceritanya pada suaminya itu.


Radit pun mendengarkan cerita istrinya. "Konsekuensi dari Ibu yang bekerja Sayang ... pasti kangen sama buah hatinya. Gak papa, Arsyila bisa nitip ke rumah Kakek atau Eyangnya. Atau kamu pake jasa babysitter? Gak papa, jadi Arsyila bisa tetap diasuh di rumah aja." usulnya yang menyarankan istrinya untuk menggunakan jasa babysitter.


Khaira pun segera menggelengkan kepalanya. "Gak usah Mas ... aku masih bisa urus Arsyila. Lebih puas ngurus dia sendiri pake tanganku. Mending nitip ke rumah Nenek atau Eyangnya aja seminggu sekali. Lagipula aku anggap mengajar ini sebagai penyaluran hobi aja kok Mas, sama refreshing dari rutinitas. Selebihnya aku lebih suka mengurus rumah, mengurus Arsyila, dan mengurus suami dengan tanganku sendiri." ucapnya dengan mata yang berbinar.


Radit benar-benar bersyukur mendapatkan istri sebaik Khaira. Sebagai wanita modern yang berpendidikan tinggi dan bisa mengajar karir dengan lebih cemerlang, tetapi istrinya tetap menomorsatukan keluarga.


"Kamu seorang Istri yang baik dan Mama yang baik, Sayang ... dalam setiap sujud syukurku kepada Allah, tak henti-hentinya aku bersyukur karena memilikimu. Banyak hal yang bisa kamu kejar di dalam hidup ini dengan pendidikan tinggi yang kamu miliki, tetapi kamu lebih memprioritaskan kami berdua. Terima kasih."


"Mengejar karier bisa nanti lagi kalau Arsyila sudah sekolah, Mas ... sekarang begini aja aku sudah senang. Sudah bersyukur. Termasuk memiliki suami yang selalu mendukungku. Terima kasih banyak juga Mas." ucapnya dengan tulus.


Rupanya obrolan mereka, ada interupsi dari Bunda Dyah. "Ayo kalian makan dulu, nanti kalau pulang ke rumah perut udah kenyang. Sini, Syila ikut Nenek." ucapnya sembari tangannya yang ingin menggendong Arsyila.


"Biar sama Khaira aja, Bun ... nyaris bobok ini anaknya. Khaira terbiasa kok makan sambil gendong Arsyila. Setelah jadi Ibu, Khaira jadi multitasking, Bun." ucapnya sembari tertawa.


Bunda Dyah pun mengangguk setuju. "Bener banget, Khai ... dulu waktu kamu masih bayi, Bunda juga gendong kamu sambil masak, lipatin baju, jemur pakaian. Cuma gendong kamu pakai jarik aja, sambil ngurus rumah. Kamu kayak Bunda banget." Ceritanya sembari mengenang waktu mengasuh Khaira dulu.


"Iya Bunda, asal rumah keurus dan Arsyila kepegang. Lagipula, kalau weekend Mas Radit juga bantuin Khaira banyak." ucap Khaira dengan jujur.

__ADS_1


"Bagus. Berumah tangga itu memang bekerja sama. Itu kuncinya. Dulu pandangan leluhur kita, suami hanya boleh di depan dan wanita yang berada di belakang, mengurus dapur. Akan tetapi, sekarang zaman sudah berubah. Bahu membahu dalam berumah tangga itu lebih baik." ucap Bunda Dyah yang memberi nasihat kepada Radit dan juga Khaira.


__ADS_2