Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Perhatiannya Papa Radit


__ADS_3

Usai Khaira dan Baby Arsyila dipastikan untuk pulang, Radit bahagia membawa istri dan putri kecilnya untuk ke rumah mereka. Rumah yang menjadi lingkungan tumbuh kembang bagi Arsyila, mengisi tangki air cinta miliknya dengan kasih sayang dan semua kebaikan.


"Welcome Home My Queen & Princess...." ucap Radit sembari membukakan pintu rumahnya bagi Khaira beserta Arsyila.


"Makasih Mas...." sahut Khaira sembari tersenyum kepada suaminya itu.


Radit pun merangkul bahu istrinya dan menuntunnya masih ke rumah. "Naik ke lantai dua bisa enggak Sayang? Aku masih khawatir sama luka jahitan kamu." ucapnya ketika mereka telah berada di depan anak tangga untuk menuju ke kamar mereka.


Khaira pun sebenarnya juga belum yakin bisa menaiki anak tangga. Akan tetapi, mau tidak mau dia harus melewati anak tangga ini untuk bisa sampai ke atas.


"Euhm, dicoba pelan-pelan aja Mas. Semoga bisa." ucapnya yang mulai melangkahkan satu kakinya ke anak tangga yang pertama.


"Apa perlu aku gendong Sayang?" tawarnya yang begitu khawatir dengan luka jahitan pasca bersalin yang dialami istrinya pasti sakit bukan main.


Khaira justru tersenyum. "Aku aja gendong Arsyila, masak terus kamu mau gendong aku sih Mas? Kita gendong-gendongan gitu?" tanyanya sembari tertawa.


Berbeda dengan Khaira, raut wajah Radit justru nampak panik. "Aku khawatir Sayang ... aku juga takut sama luka jahitan kamu."


Khaira pun menatap wajah suaminya. "Aku akan naik pelan-pelan kok Mas ... yuk, bantu aku, Mas. Kalau kamu yang bantuin pasti aku bakalan aman."


Dengan hati-hati, Radit pun merangkul bahu Khaira, setiap langkah yang diambil Khaira seolah Radit kesakitan hingga menahan nafasnya. Setelah keduanya telah sampai di depan pintu mereka, barulah Radit bisa bernafas lega.


"Aku tidak apa-apa kok Mas ... jangan khawatir ya, luka jahitan ini memang sakit. Akan tetapi, melihat Arsyila semua sakit itu hilang. Juga ada kamu yang selalu siaga menolongku, rasanya aku mendapat kekuatan untuk tetap sehat dan tidak merasa kesakitan." Ucap Khaira sembari menatap wajah suaminya.


"Baiklah Sayang ... aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu." Ucapnya sembari mengelus lembut puncak kepala Khaira. "Yuk, masuk Sayang ... kamu juga harus istirahat, mumpung Arsyila tidur."


Mereka bertiga segera masuk ke dalam kamar, lalu Khaira menidurkan putri kecilnya di dalam Box bayi yang berwarna pink itu.

__ADS_1


Belum beranjak dari kamar Arsyila, Khaira justru mengamati wajah cantik bayi kecilnya yang merupakan replika dari Papanya. Radit yang melihat istrinya masih terpaku di sana, mulai menepuk punggungnya. "Keliatannya Mama gak rela ya, Princess Arsyila bobok di sini sendirian?" tanyanya sembari tersenyum kepada Khaira.


"Euhm, bukan sih. Aku melihat wajah Arsyila, kenapa dia bisa banget seperti kamu sih Mas?" ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.


Radit justru terkekeh geli. "Ada kamu juga di wajahnya Arsyila kok Sayang ... bulu matanya lentik, bibirnya kecil dan tipis, cantiknya juga seperti kamu." ucap Radit sembari mengacak gemas rambut istrinya.


Khaira pun ikut tertawa. "Mas, kalau box bayinya di pindah di dekat tempat tidur kita gimana? Aku kok kasihan Arsyila bobok sendirian di sini. Aku takutnya kalau dia bangun atau nangis aku enggak dengar."


Ucapan Khaira sangat masuk akal, karena itu Radit menyetujui apa yang diinginkan Khaira. "Baiklah aku akan pindah box bayi ini Sayang ... aman, Ada aku. Ya sudah, kamu bawa Arsyila tidur di tempat tidur kita dulu saja. Kamu istirahat dulu Sayang. Kamu pasti masih sakit dan capek. Aku akan pindahkan box bayi ini dulu."


Akhirnya Khaira kembali menggendong Arsyila dan membawanya ke tempat tidurnya. Benar yang diucapkan suaminya, dirinya pun masih merasa kelelahan. Oleh karena itu, Khaira pun ikut terlelap di sisi Arsyila.


Sementara itu, Radit mulai merakit kembali box bayi dan menaruhnya di sisi tempat tidur Khaira. Seperti permintaan sang istri. Saat melangkah ke kamarnya, Radit terharu melihat istrinya yang masih nampak kelelahan dan tengah tidur di sisi Arsyila. Radit menghampiri sejenak istrinya, lalu mendaratkan kecupan sayang di keningnya.


Cup.


Beberapa saat Khaira tertidur, dia bangun saat mendengar tangisan Arsyila. Perlahan dia segera bangun dan melihat pada putrinya yang tengah menangis.


"Kamu bangun Arsyila Sayang...." Ucapnya sembari mengangkat Arsyila dan menggendongnya untuk memberi bayi mungil itu ASI.


Mendapatkan sumber makanan utama, Arsyila lantas diam. Khaira tersenyum melihat bayinya yang kembali tenang. Lantas, dia mengedarkan pandangannya dan melihat box bayi yang sudah tersusun rapi di sisi tempat tidurnya. Dalam hatinya dia bersyukur, suaminya benar-benar bisa diandalkan. Akan tetapi, di mana sekarang Mas Radit? Kenapa kamar ini terasa sepi?


Baru Khaira ingin mengambil handphone yang berada di atas nakas, rupanya Radit telah datang dan membawa makanan dalam nampan.


"Sudah bangun Sayang?" tanyanya sembari berjalan ke sisi tempat tidur Khaira.


"Aku cariin loh Mas ... kok tiba-tiba sepi kamarnya." ucap Khaira sembari menatap wajah suaminya itu.

__ADS_1


"Aku ke bawah sebentar, siapin makan buat kamu. Jadi kamu gak perlu naik turun tangga. Tadi Bunda kirimin makanan lewat ojek online. Katanya selama kamu recovery pasca bersalin, Bunda yang akan kirimin kita makanan. Kamu fokus aja buat recovery dan ke Baby Arsyila." ucapnya sembari mengambil duduk di depan istrinya yang sedang meng-ASI-hi sang bayi.


"Sambil makan ya, aku suapin ... biar ASInya juga sehat. Arsyila juga sehat karena Mamanya mengonsumsi makanan sehat." Ucapnya lagi sembari bersiap menyuapi istrinya dengan nasi, sayuran, dan lauk pauk.


Mata Khaira berkaca-kaca dirawat dan diperhatikan suaminya sedemikian rupa. "Kamu baik banget sih Mas ... makasih ya Mas sudah merawatku dan memperhatikanku sampai kayak gini. Padahal aku masih bisa Mas...."


Satu tangan Radit terulur menyentuh wajah istrinya. "Sebagai suamimu biarkan aku merawatmu. Di rumah ini kamu hanya punya aku kan? Jadi biarkan aku merawatmu ya...." ucapnya dengan tulus.


Khaira menganggukkan kepalanya. "Makasih banyak banget ya Mas ... aku justru gak enak sama kamu."


"Jangan merasa tidak enak, kita jalani semua berdua. Yuk, sambil makan ya ... ini sumber nutrisinya My Princess, jadi makan yang sehat, yang banyak. Jangan mikirin berat badan, aku terima kamu apa adanya." ucapnya sembari menyuapi istrinya dengan begitu telaten.


Berbagai makanan yang dibawa Radit pun sudah dihabiskan Khaira tanpa perlawanan. Obat dan vitaminnya juga sudah diminum.


"Mas, nitip Arsyila dulu ya ... aku mau ke toilet." Ucap Khaira yang kembali menaruh Arsyila ke box bayi dan dia menuju toilet.


Sekian menit berada di toilet, rupanya Arsyila kembali bangun dan menangis. Dengan buru-buru Khaira segera bergegas keluar dari toilet.


"Anak Mama nangis ya...." ucapnya sembari menghampiri bayinya yang menangis.


"Mau aku gendong, tapi aku takut Sayang ... gimana caranya?" tanya Radit yang hanya menggenggam tangan mungil putrinya.


Khaira pun tersenyum. "Yuk, aku ajarin Mas. .. jangan takut, kamu kan Papanya Arsyila. Penting kepalanya Arsyila di tahan Mas. Satu tangan menyangga kepala, satu tangan menyangga badannya."


Dia lantas menaruh Arsyila ke dalam gendongan suaminya. "Nih ... mudah bukan? Arsyila ikut Papa ya...." Ucapnya sembari terkekeh.


Sementara Radit justru masih terlihat kaku. Dia masih bisa belum rileks menggendong buah hatinya. Namun pria itu nampak berkaca-kaca. "Hai Arsyila Sayang ... Princessnya Papa."

__ADS_1


__ADS_2