Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Kabar Bahagia dari Metta


__ADS_3

Ulang Tahun Arsyila belum berakhir. Khaira mengobrol dengan Bunda Dyah dan juga Bunda Ranti, sementara Radit tentu mengobrol bersama Ayah Wibi dan Ayah Ammar. Akan tetapi, obrolan mereka terjeda saat terdengar ada ketukan pintu.


Radit dan Khaira pun saling pandang. Menduga siapa yang datang ke rumah mereka. Baru Khaira ingin berdiri, Radit terlebih dahulu mencegahnya. "Biar aku saja Sayang...." ucapnya sembari berdiri dan membukakan pintu.


"Wew, pengantin baru ... mari-mari silakan masuk." Sapa Radit. Tamu yang datang ternyata adalah Dimas dan juga Metta.


"Sayang ... ada pengantin baru nih main ke rumah." ucap Radit agak berteriak yang membuat Khaira menitipkan Arsyila sejenak ke Bundanya dan dia berdiri mendekati pintu rumahnya mempersilakan pengantin baru yang di maksudnya oleh suaminya itu masuk ke dalam rumah.


"Wah ... Pengantin baru. Mari silakan masuk." Ucap Khaira kepada Metta dan juga Dimas.


"Udah lama kali, Khai ... bener kan Kak?" ucap Metta kepada Dimas.


Dimas pun mengangguk. "Iya ... sudah lama. Kalian berdua justru pengantin lama udah ada bocil, tetapi kayak pengantin baru." ucap Dimas sembari menepuk pundak Radit.


Sontak keempatnya pun tertawa bersama. "Bisa-bisa lo ngejekin gue ya." Radit bercanda kepada sahabatnya itu.


"Dit, kok keluarga baru ngumpul. Kami ganggu ya?" Tanya Dimas kepada Radit.


Radit segera menggelengkan kepalanya. "Enggak ... kami cuma abis merayakan ulang tahun Arsyila aja. Ulang tahun pertamanya." ucap Radit yang memberitahukan bahwa dia hanya merayakan ulang tahun Arsyila saja.


Dimas agak mengernyitkan keningnya. "Kalau tahu calon menantu masa depan ulang tahun, pasti kami bawain kado deh."


Metta pun turut menganggukkan kepalanya. "Iya Khai, kalau tahu Arsyila ulang tahun tadi kami bawain kado." ucapnya merasa tidak enak hati.


Khaira pun langsung merangkul sahabatnya itu. "Doa yang tulus dari Aunty dan Om-nya itu sudah jadi doa terbaik." ucap Khaira dengan tulus. "Yuk, duduk dulu. Masak mau berdiri terus sih."


Mereka segera duduk menuju ruang tamu yang sudah didekorasi dengan balon dan pernak-pernik berwarna pink itu. Metta pun nampak tersenyum melihat dekorasi ulang tahun Arsyila yang nampak indah dan lucu itu.


"Dekor sendiri atau pakai jasa dekor, Khai?" tanya Metta sembari mengamati dekorasi yang menurutnya indah dan lucu itu.


Khaira pun tertawa. "Ini aku dan Mas Radit sendiri yang dekor. Semalam sampai hampir jam 12 niupin balon dan susun ini." jawab Khaira sembari menatap wajah suaminya yang duduk di sampingnya itu.

__ADS_1


"Bagus loh ... iya kan Kak, bagus?" tanya Metta kepada Dimas.


Belum juga Dimas menjawab, Khaira rupanya menginterupsi terlebih dahulu. "Jadi sudah nikah, manggilnya masih Kak ya Ta? Enggak berubah panggilannya?" goda Khaira kepada sahabatnya itu.


Metta dan Dimas pun serempak tertawa. "Tetap aja, Khai ... udah terbiasa manggil Kak soalnya."


Khaira pun tersenyum sembari menganggukkan kepala. "Iya, panggilan bisa apa saja, yang penting saling cinta." jawabnya yang sukses membuat Radit melirik istrinya itu.


"Kayak kita berdua ya Sayang ... mau memanggil apapun, yang penting kita saling mencintai. Iya kan Sayang?" goda Radit kepada istrinya yang membuat wajah Khaira merona seketika.


"Jangan gitu Mas ... malu." ucap Khaira dengan lirih. "Sebentar ya, aku buatkan minum dulu. Tunggu ya." Khaira pun berdiri dan berniat ke dapur untuk membuatkan minuman bagi Dimas dan juga Metta.


Sebelum Khaira beranjak pergi, Dimas pun memanggilnya. "Khai, kalau ada Teh tubruk buatanmu ada enggak?" tanyanya.


Khaira mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan Dimas, tetapi Khaira segera menganggukkan kepalanya. "Iya ... ada kok Kak, untung tadi aku nyeduh Teh. Papa mau minum apa Pa? Biar aku buatin." Khaira menawarkan pula kepada suaminya ingin minum apa.


Radit hanya tersenyum. "Kamu sudah tahu minuman kesukaanku, Sayang...."


Khaira pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada suaminya itu. Setelah dia berlalu menuju dapur.


"Nih Kak Dimas, Metta ... diminum Tehnya mumpung masih hangat. Terus ini, buat Papanya Arsyila." ucapnya sembari mengambil secangkir Cokelat hangat untuk suaminya.


"Makasih Khai ...." ucap Dimas dan Metta sama-sama mengucapkan terima kasih.


"Makasih Sayang ...." giliran Radit yang berterima kasih kepada istrinya.


Khaira nampak berpikir dan akhirnya bertanya kepada Dimas. "Eh, tapi kok Kak Dimas tahu kalau aku buat Teh Tubruk darimana?" tanyanya curiga.


Dimas dan Metta pun sama-sama tersenyum. "Dari Metta, Khai ... dia cerita kalau Teh Tubruk buatanmu itu enak. Kami kesini karena mau nyicipin Teh buatan kamu."


Khaira mendengarkan jawaban dari Dimas itu. Akan tetapi, bagi Khaira ada sesuatu yang janggal.

__ADS_1


Kesini karena mau nyicipin Teh buatanku?


"Euhm, apa jangan-jangan kamu sudah isi ya Ta? Ngidam pengen Teh Tubruk buatanku?" tanya Khaira dengan spontan.


Merasa tebakan Khaira benar, Dimas dan Metta pun tertawa. Secara samar, Metta menganggukkan kepalanya. "Bener Khai ... Insyaallah sudah isi. Jalan tiga bulan." Jawab Metta.


"O...." Radit dan Khaira ber-o ria mendengarkan pengakuan dari Metta.


"Lo sukses juga, Bro ... langsung cetak gol." goda Radit kepada Dimas.


Sementara Dimas hanya tertawa-tawa saja tanpa mampu menjawab celotehan sahabatnya itu.


"Ngidam pengen Tehnya Khaira tow...." lagi Radit bicara sambil tertawa.


Dimas pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... ngidamnya Bumil lucu-lucu ya Bro." Dimas pun mengakui bahwa orang hamil ada-ada saja ngidamnya.


"Dulu lo ngidamnya apa Khai, waktu hamil Arsyila?" tanya Metta sembari meminum Teh hangat buatan Khaira itu.


Khaira pun tertawa dan menatap pada suaminya. Sesungguhnya dia malu, jika harus menceritakan betapa dulu dia begitu nempel pada suaminya sewaktu hamil Arsyila.


"Istri gue hamilnya simpel, cuma mau deket-deket gue melulu. Nempel terus. Sepanjang hari, 24 jam nempel terus." Jawab Radit dengan spontan yang membuat Dimas dan Metta membelalakkan matanya.


"Serius Khai?" Metta bertanya untuk memastikan apakah yang disampaikan Radit itu benar.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... bener. Makanya wajahnya Arsyila tuh Papanya banget. Efek hamil nempel melulu. Kalau weekend pas Mas Radit libur, aku seneng banget tuh karena bisa nempel sepanjang hari."


Metta nampak tak percaya dengan pengakuan sahabatnya itu. "Serius kok bisa sih? Morning sickness enggak Khai?" tanya Metta lagi kepada Khaira.


"Enggak ... aku hamil enak banget, enggak mual, enggak muntah, enggak lesu. Pokoknya normal aja." jawab Khaira.


"Enak banget ya. Gue kalau pagi Morning sickness, Khai." ucap Metta yang nampak sedih.

__ADS_1


Melihat sorot mata Metta yang nampak berbeda, Khaira segera membuka suaranya. "Kehamilan satu orang dengan orang yang lain itu beda-beda, Metta. Jangan dijadikan tolok ukur. Kuncinya kita sama-sama menjalani kehamilan dengan penuh syukur, terus berikan afirmasi positif ke babynya, dan bahagia. Itu aja." jawab Khaira menguatkan sahabatnya yang tengah hamil.


"Mama Khaira bijak banget sih, gue harus sering-sering ke sini Parenting Class sama lo, Khai..." ucap Metta dengan serius.


__ADS_2