Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Tujuh Hari Telah Berlalu


__ADS_3

Terbiasa beraktivitas dengan begitu aktif sehari-hari di rumah dan sekarang harus benar-benar berbaring di atas tempat tidur menjadikan Khaira layaknya benar-benar menjadi seorang pasien yang berada di atas ranjang kesakitan. Terlebih suaminya yang akan selalu mengawasinya dan memintanya untuk benar-benar berbaring, dan mengurangi pergerakannya.


Jujur saja ada rasa lelah bahkan bosan. Hari berganti, pagi menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam, dan malam pun berjalan hingga pagi pun kembali menyapa. Waktu berlalu, tetapi Khaira justru seakan tak beranjak dari tempat tidurnya.


"Mas, aku bosen. Punggung dan pantat aku capek buat rebahan terus." keluhnya kepada sang suaminya yang masih setia bekerja dengan laptop yang dipangku di pahanya dan duduk dengan manis di sisi istrinya itu.


Perlahan Radit pun kembali menaruh laptopnya, lalu menatap istrinya. "Sabar dulu ya... Kurang 2 hari lagi. 2 hari lagi selesai, kamu udah boleh jalan, tapi harus kontrol kehamilan lagi dulu. Kalau Dokter Indri bilang semuanya udah baik-baik saja ya aku akan izinkan. Kalau enggak ya kamu banyak-banyak rebahan dulu." ucapnya sembari memincingkan matanya. Seolah ingin istrinya itu patuh kepadanya.


"Sudah lima hari, dan aku sudah bosen. Gimana dong?" tanyanya lagi kepada suaminya itu.


"Please, tahan dulu Sayang. Daripada kalau kamu ngeyelan, yang kenapa-napa justru adik bayinya loh. Tahan dulu ya." kali ini Radit berbicara dengan lembut, benar-benar meminta supaya istrinya itu bisa bersabar untuk dua hari lagi.


Tidak dipungkiri Radit pun juga bosan, keseharian benar-benar dihabiskan di dalam kamar hanya untuk menemani istrinya itu. Seakan pria itu ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa istrinya itu patuh dan tidak beraktivitas terlebih dahulu.


"Kan udah enggak flek, Mas... Udah sembuh. Tinggal lebam di paha yang masih biru. Memarnya belum hilang." sahut Khaira lagi.


Radit lantas menggenggam tangan istrinya itu, "Sabar ya Sayang ... Dua hari lagi aja ditahan dulu. Kalau sudah lewat seminggu, nanti aku ajakin kamu jalan-jalan kemana saja deh. Sabar ya ... Kan ya aku pun di dalam kamar terus buat nemenin kamu."


Faktanya memang demikian, Radit dengan sukarela turut mengalihkan semua kegiatannya di kamar untuk menemani istrinya itu supaya tidak kesepian. Dia benar-benar menjadi suami siaga dan siap sedia untuk istrinya.


Hingga akhirnya, Khaira pun mengangguk, "Iya deh Mas... Maaf ya, aku cuma merasa bosen aja sebenarnya. Kalau aku sudah sembuh, jalan-jalan yuk Mas? Mau enggak?" tanyanya lagi kepada suaminya itu.


"Kamu pengen kemana? Ke Monas, Kota Tua, atau kemana? Asalkan kamu sehat, debaynya juga sehat, bakalan aku ajakin ke mana pun." ucap pria itu begitu meyakinkan.

__ADS_1


Khaira lantas tersenyum dan berpikir, kemana dia akan sedikit bersenang-senang setelah seminggu penuh hanya menghabiskan waktunya di atas tempat tidur. Tidak dipungkiri, Khaira merasa begitu bosan. Ingin menikmati udara segar di luar sana.


"Ke pantai, Mas... Mau?" tanyanya kepada suaminya.


Dengan cepat Radit pun menganggukkan kepalanya, "Oke boleh Sayang... tetapi kita periksa dulu ya, kalau semuanya sudah baik dan kamunya sehat, nanti aku ajakin ke pantai. Aku tahu, kamu pasti bosen. Namun, bosen sekarang lebih baik daripada kamu dan baby kita kenapa-napa. Jadi, sabar ya..." ucapnya sembari melabuhkan ciuman di pipi istrinya itu.


🌸🌸🌸


Tujuh Hari pun genap...


Hari ini adalah hari yang ketujuh bagi Khaira menjadi penghuni tempat tidurnya. Tujuh hari yang terasa begitu lama dalam hidup Khaira. Untuk pertama kalinya seumur hidup, dia harus merasakan bedrest, dan menjadi penghuni ranjangnya. Sementara untuk urusan di kamar mandi, suaminya lah yang setia membantunya.


"Mama... Hari ini sudah hari yang ketujuh loh Ma... Kan Syilla juga hitung, Ma." ucap Arsyilla yang turut datang menghampiri Khaira di tempat tidurnya.


Kendati sudah tidak lagi mengalami flek, tetapi dia justru takut untuk bergerak. Jauh lebih baik apabila dia memeriksakan janinnya terlebih dahulu kepada Dokter Indri. Saat semuanya sudah baik, barulah dia akan merasa kembali nyaman untuk beraktivitas.


"Perut Mama masih sakit Ma?" tanya Arsyilla lagi kepada Mamanya.


Khaira menggeleng, dia mengambil beberapa bantal dan menaruhnya di punggungnya. "Sudah enggak Sayang. Doakan Mama dan babynya di sini selalu sehat ya." ucap Khaira sembari memeluk Arsyilla.


Arsyilla pun mengangguk, gadis kecil itu lantas sedikit menunduk dan mencium perut Mamanya yang sudah mulai membuncit itu. "Halo Adik... Ini Kakak Syilla." ucapnya begitu wajah begitu lucu.


Melihat perilaku dan ucapan Arsyilla justru membuat Khaira begitu gemas kepada putrinya itu.

__ADS_1


"Mama juga disayang dong Syilla... Mama kan juga kangen loh sama Kakak Syilla." ucap Khaira yang seolah menirukan perilaku suaminya saat meminta sun sayang, yaitu dengan membawa jari telunjuknya ke pipinya.


Perlahan Arsyilla pun mendekat, kemudian dia mencium kedua pipi Mamanya itu. Ciuman manis di pipi kanan dan pipi kiri Mamanya berlabuh dengan sempurna. "Syilla kangen mau main sama Mama." ucap Syilla pada akhirnya.


Tidak dipungkiri selama seminggu ini memang Khaira tidak bisa menemani Arsyilla bermain. Kalaupun bermain dan membaca buku, itu pun dilakukannya di atas tempat tidur. Perasaannya sebagai seorang Ibu membuatnya merasa bersalah karena tidak bisa menemani Arsyilla bermain.


Sementara Radit yang baru keluar dari kamar mandi pun mendengar sayup-sayup ucapan istri dan anaknya. Pria itu lantas menghampiri Arsyilla, "Kak Syilla mau main sama Papa?" tanyanya kepada Arsyilla.


"Iya, mau Pa..." jawab Arsyilla dengan cepat.


"Yuk, main sama Papa, Sayang... Maaf ya, mainnya sama Papa dulu. Nanti kalau Mama sudah beneran sembuh, Mama pasti nemenin Kak Syilla bermain. Kak Syilla mau main apa sekarang? Yuk, main sama Papa." ucapnya sembari menurunkan Arsyilla turun dari tempat tidurnya.


Sembari menunggu Arsyilla yang sedang mengambil mainannya, Radit pun duduk di tepi ranjangnya dengan satu tangan menggenggam tangan istrinya, "Jangan semua ucapan dimasukkan hati. Aku tahu, kamu pasti sedih gak bisa nemenin Syilla bermain. Akan tetapi, enggak apa-apa. Biar aku yang menemani Syilla main. Nanti kamu kalau sudah sehat, pulih sepenuhnya kan masih punya banyak waktu buat bermain sama Syilla. Jangan sedih ya." ucapnya.


Mungkin memang hubungan perasaan suami istri itu begitu kuat, sehingga tanpa Khaira banyak bicara justru Radit bisa merasakan semua yang dirasakan oleh istrinya itu.


Perlahan Khaira pun mengangguk, "Makasih ya Mas... Kamu ngertiin aku banget. Bahkan hal-hal yang belum aku ucapkan saja, kamu memahaminya. Maaf juga, aku belum bisa nemenin Syilla main." sahut Khaira.


"Enggak apa-apa Sayang... Kamu sehat dulu, kan ada aku. Biar Syilla main sama Papanya. Jangan sedih lagi." sahut Radit dengan mengusap punggung tangan Khaira.


Perlahan Khaira pun tersenyum, "Makasih juga sudah mengurusku dan sabar sama aku selama seminggu ini. Pasti berat banget, tetapi kamunya mau bersabar. Aku cinta kamu, Mas."


Dalam hati Khaira saat ini, hanya bisa mengungkapkan semua rasa dalam hati dengan mengungkapkan bahwa dia mencintai suaminya. Cinta yang tulus dan juga besar tentunya. Tidak ada kata lain yang dia ungkapkan selain rasa cintanya yang tak bertepi untuk suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2