
Pertemuan reuni Khaira dan Metta dimanfaatkan untuk mengobrol, berbagi cerita satu sama lain. Layaknya kaum Hawa saat bertemu, waktu seakan tidak cukup untuk berbicara dan bercerita satu sama lain.
Pun demikian dengan Metta dan Khaira, sekian jam berlalu dengan berbagai obrolan yang mereka ceritakan mulai dari masa-masa di kuliah, kehamilan Khaira, hingga curhatan tentang Tama. Keduanya seolah tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.
Akan tetapi, obrolan mereka berhenti saat seorang pria tiba-tiba mendatangi meja Khaira dan Metta.
"Hai, kalian di sini. Boleh gabung enggak?" ucapnya sembari tersenyum kepada Khaira dan Metta.
Keduanya sama-sama membelalak, seakan tak percaya dengan pria yang kini mereka lihat di depan matanya.
"Tama...." ucap Khaira dan Metta bersamaan.
Pria itu tersenyum, lalu mengambil duduk di sebelah Metta. "Gabung yah, gue cuma sendirian. Gak tahunya ada orang yang gue kenal di sini."
Baik Khaira dan Metta sama-sama bingung, pasalnya beberapa saat yang lalu keduanya sempat mengobrolkan Tama, kemudian pria itu sudah ada di hadapan mereka.
"Kalian reunian ya?" tanya Tama kepada mereka berdua.
Metta pun menganggukkan kepalanya. "Iya, janjian sama Khaira karena kami udah lama gak ketemu. Mumpung senggang, jadi ya udah ketemuan lah di sini."
Tama pun mendengarkan perkataan Metta, sudah ia tebak sebelumnya bahwa pasti Khaira dan Metta telah janjian sebelumnya. Bahkan Tama masih mengingat persahabatan antara Khaira dan Metta sejak sama-sama kuliah dulu.
"Lo sendirian, Khai?" tanya Tama dengan arah matanya yang nampak mengamati wajah wanita yang pernah dicintainya, wanita yang tak pernah memberinya kesempatan untuk membalas perasaannya.
Sorot mata itu terlihat masih mengagumi Khaira. Dan kini bisa memandang Khaira dari jarak dekat, membuat jantung pria tampan kembali berdebar. Namun, Tama segera berusaha membuang jauh-jauh perasaan yang membuat jantungnya berdebar. Khaira yang sedang duduk di hadapannya adalah wanita yang sudah bersuami.
"Iya, tadi dari kampus langsung ke sini." jawab Khaira.
"Enggak dianter suami lo? Lo itu udah bersuami, kok sejak dulu sering sendirian sih." ucap Tama dengan berdecak kesal.
__ADS_1
Bukannya ingin menyudutkan suami Khaira, tetapi sejak Khaira mengaku bahwa ia sudah memiliki suami, Tama melihat bahwa Khaira sering kemana-mana sendirian. Tama pun masih mengingat bagaimana Khaira mendatangi acara wisudanya sendirian saat itu.
Metta nampak menyorot tajam pada Khaira, beberapa kali gadis itu seolah memberikan sinyal melalui gerakan matanya kepada Khaira.
Di sisi lain, Khaira tetap tenang. "Karena suami baru kerja Tama ... Dia hanya staf biasa yang gak bisa seenaknya keluar masuk kantor dan ninggalin pekerjaannya begitu saja. Mungkin kalau suami gue adalah CEO kayak di novel-novel romantis yang bisa membatalkan pekerjaan dan meeting sesuka hatinya, pasti dia udah ngelakuin itu." jawab Khaira dengan wajah begitu tenang dan menjawab sesopan mungkin.
Tama nampak berusaha tenang juga mendengar perkataan Khaira. Akan tetapi, dalam ucapannya yang lembut masih tersirat jelas bagaimana Khaira selalu membela suaminya itu.
Hening. Usai itu baik Metta, Khaira, dan juga Tama sama-sama diam. Untuk kembali mencairkan suasana, maka Metta yang berinisiatif untuk membahas obrolan selanjutnya.
"Eh, tapi kalau suami lo CEO, lo mau enggak Khai?" tanya Metta kepada Khaira.
Khaira hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Enggak. Gue gak mau punya suami CEO. Membayangkannya pun enggak. Sudah cukup punya suami yang pekerjaannya biasa aja. Dulu gue pernah bilang ke Mas Radit, apa pun pekerjaannya gak masalah buat gue. Karena buat gue cowok itu akan selalu keren kalau ia bekerja, apa pun pekerjaannya."
Tama pun menggelengkan kepalanya. "Kenapa lo bisa berpikiran seperti itu Khai?" tanyanya.
Metta pun agaknya setuju dengan Khaira. "Iya, gue setuju. Gue juga enggak muluk-muluk perihal kriteria cowok, salah satunya dia bekerja aja sih." ucapan Metta terjeda sejenak, ia ingat bahwa sudah cukup lama mereka mengobrol di coffee shop itu. "Eh, Khai ... Lo pulang jam berapa? Ini sudah sore loh, kalau nanti enggak ada yang jemput gue anterin aja."
Khaira tersenyum. "Aman ... Suami bakalan jemput kok. Dia sudah mau sampai sini malahan. Sekarang dia gak izinin gue kemana-mana sendirian, cuma tadi aja gue yang maksa naik taksi online."
"Iya-iya Bumil. Udah tau deh." sahut Metta.
Tama juga terkejut mendengar Metta yang menyembut Khaira dengan sebutan 'Bumil'. Tama mengerjap seketika, lidahnya seakan kelu tetapi ia berusaha bertanya kepada Khaira. "Bumil? Maksudnya lo hamil Khai?" tanya Tama perlahan, namun tetap tenang.
Menganggukkan kepala, Khaira pun sedikit tersenyum. "Iya, baru isi." jawabnya.
Obrolan mereka bertiga terhenti lantaran Radit yang sudah datang untuk menjemput Khaira. Seperti janjinya, seusai selesai dari kantor ia akan menjemput Khaira. Sehingga pria itu langsung meluncur ke Mall guna menjemput istrinya itu.
"Sudah reuniannya Sayang?" sapa Radit begitu ia datang dan memberikan senyuman manisnya kepada Khaira.
__ADS_1
Khaira pun tersenyum, sementara Metta dan Tama pun menganggukkan kepalanya kepada Radit.
"Maaf ya Kak, Khaira nya dipinjem sebentar buat reunian." ucap Metta basa-basi pada suami sahabatnya itu.
"Iya gak papa...." sahut Radit. Matanya beralih pada istrinya. "Mau balik sekarang atau nanti?" tanyanya.
Khaira pun merasa cukup capek lantaran setengah hari lebih, dirinya duduk sepanjang waktu. Badannya terasa butuh rabahan, terlebih pinggangnya yang terasa pegal. Oleh karena itu, Khaira pun berpamitan kepada Metta dan Tama.
"Guys, gue duluan ya. Udah sore juga. Kapan-kapan kita kumpul lagi ya." ucap Khaira kepada Metta dan Tama.
Metta pun melambaikan tangannya. "Hati-hati ya Bumil Cantik. Dada ponakan Onty, nanti kalau launching kabarin Onty ya...."
Sementara itu Tama hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kepada Radit dan Khaira.
Usai berpamitan, Radit yang membawakan hand bag istrinya, sementara tanpa ragu Khaira langsung mengalungkan tangannya mengapit lengan suaminya itu. Keduanya berjalan sembari melepas tawa.
"Mas, kangen...." ucapnya manja sembari sesekali menaruh kepalanya di lengan suaminya dengan kaki yang masih berjalan menuju parkiran mobil.
"Yang kangen Mamanya atau adeknya?" sahut Radit.
"Adeknya yang kangen...." sahut Khaira.
Radit nampak mengusapkan dagunya ke kepala Khaira. "Mamanya enggak kangen?" Radit menjeda sejenak ucapannya. "Sayang, pria itu tadi kok ada di situ. Bukannya tadi kamu bilang cuma ketemuan sama Metta."
Khaira mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya. "Tama tadi tiba-tiba datang dan gabung sama aku dan Metta, Mas. Aku juga gak tahu kok bisa ketemu dadakan."
Radit nampak mencerna ucapan istrinya, lagipula ia yakin bahwa istrinya tidak akan berbohong padanya. "Ya sudah, gak papa...." sahut Radit.
"Euhm, Mas Radit enggak sedang cemburu kan?" tanya Khaira lirih sembari mencuri pandang kepada suaminya itu.
__ADS_1