Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Malam Hari di Singapura


__ADS_3

Dengan saling duduk pandangan yang tertuju pada indahnya Singapura di malam hari, Khaira menyandarkan kepalanya ke dada suaminya. Suasana begitu hening, sementara Arsyila kecil telah tertidur di dalam alam mimpi.


"Sayang, kamu siap enggak kalau Arsyila punya adek lagi?" lagi-lagi Radit bertanya kesiapan istrinya untuk kembali hamil dan memberikan adik buat Arsyila.


Khaira nampak menengadahkan wajahnya guna menatap wajah suaminya. "Aku hamilnya mau, tapi melahirkannya yang takut, Mas ... sama dulu pernah keguguran itu sakit banget rasanya." ungkapnya menceritakan pengalaman melahirkan yang memang membuat Khaira ketakutan dan juga beberapa saat yang lalu dirinya sempat keguguran membuat Khaira takut.


Radit mengusap lembut bahu istrinya. "Tenang Sayang ... ada aku yang selalu di samping kamu. Menemani kamu. Aku berharap sih, kita buatin adik buat Arsyila. Satu aja Sayang. Abis itu aku enggak minta lagi." ucap Pria itu dengan wajah sedikit menunduk guna melihat raut wajah istrinya.


Khaira mengangkat wajahnya dan mengurai pelukannya. "Satu lagi aja kan Mas? Ya aku tahu anak itu titipan Tuhan, anugerah dari Tuhan. Akan tetapi, sebagai orang tua tugas kita tidak hanya melahirkannya. Anak juga memiliki hak untuk dibesarkan dengan kasih sayang, mendapatkan pendidikan, rasa aman, dan lain-lain. Kalau tambah satu, aku mau." ucapnya dengan penuh hati-hati dan pertimbangan.


Radit pun tersenyum. "Iya ... satu lagi aja Sayang. Seperti program pemerintah, dua anak cukup. Kita juga dua anak saja sudah cukup. Biar Arsyila punya teman bermain. Biar kompetensi sosialnya juga terasah." ucapnya.


Khaira nampak menganggukkan kepala. "Iya ... aku sebenarnya hamilnya enggak masalah, Mas. Aku malahan suka fase kehamilannya, karena aku sehat. Melahirkannya yang aku takutkan."


Nampak Radit tersenyum dan menggenggam tangan istrinya. "Kalau melahirkan gak harus normal Sayang ... kamu kalau mau Caesar juga gak papa. Dari dulu kan aku bilang, Caesar aja gak papa. Bagiku mau normal atau pun Caesar, kamu tetap Ibu seutuhnya dan sepenuhnya. Normal atau Caesar hanya metode Sayang, tetapi kamu yang mengandungnya selama 9 bulan, memberikan ASI, merawatnya, kamu tetap Mama yang hebat." ucap Radit dengan sungguh-sungguh.


Lagipula memang ada beberapa metode melahirkan. Seorang Ibu tetap ibu yang hebat terlepas dari bagaimana metode persalinan yang diambil.


"Mas Radit pengennya laki-laki atau perempuan?" tanya Khaira dengan menatap wajah suaminya mencoba mencari tahu apa yang diinginkan suaminya itu.


Radit justru tertawa. "Sedikasihnya saja Sayang. Dari dulu aku bilang mau laki-laki atau perempuan sama saja."

__ADS_1


Nampak Khaira tersenyum dan menggenggam tangan suaminya itu. "Terima kasih karena tidak mempermasalahkan perihal gender untuk anak-anak kita. Aku beruntung karena Mas Radit tidak memasakkan harus memiliki anak laki-laki saja misalnya, atau harus perempuan. Terima kasih Mas."


Radit kembali tertawa dan mencubit hidung istrinya. "Sebagai suamimu dan sebagai seorang Papa, bukankah aku ini sudah kooperatif Sayang? Aku tidak memaksakan dan aku juga melibatkanmu dalam mengambil keputusan. Jadi, mau bikin adik buat Arsyila sekarang?" tanyanya sembari satu tangannya yang sudah membelai sisi wajah Khaira. Dengan ibu jarinya yang sudah mengusap bibir ranum milik istrinya.


Khaira tersipu, kemudian dia melirik pada Arsyila yang tidur. "Nanti ganggu Arsyila enggak Mas?" tanyanya lirih.


Radit tersenyum. "Di sofa ini saja bisa Sayang... Mau?"


Khaira hanya geleng-geleng kepala melihat suaminya yang sudah semangat 45. Terkadang tingkah suaminya itu begitu lucu hingga membuat Khaira terkekeh geli. "Kalau urusan gitu aja semangat." ucapnya sembari memukul dada suaminya.


Radit hanya tertawa kemudian dia segera membawa istrinya untuk duduk di atas pangkuannya. Dengan satu tangan yang tengah mencoba merapikan juntaian rambut indah istrinya. Kemudian perlahan, Radit mencium bibir yang selalu menjadi candu baginya. Bibir yang selalu manis seperti cotton candy. Menciumnya, mencecap manisnya, dan membelai indah dengan lidahnya. Menyalurkan semua rasa dan gejolak dalam ciuman yang begitu lembut dan dalam.


Ciuman yang tidak pernah gagal. Ciuman yang justru membawakan gelombang bagi sepasang anak manusia tersebut untuk larut dalam sungai cinta yang memabukkan.


Puas menyusuri lembah nan bukit yang membuatnya seakan tidak pernah puas, pria itu kemudian menghujam begitu dalam. Menyatukan diri mereka mengarungi sungai yang bermuara pada cinta dan kasih sayang keduanya sembari berharap benih-benih yang dia tanam akan bersemai dalam rahim istrinya.


Sebuah hubungan yang bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan hubungan yang sungguh-sungguh mereka harapkan akan membuahkan keturunan yang mereka harapkan berdua.


Keduanya bergerak seirama, berpeluh, dan saling menumpahkan semua rasa yang begitu membuncah di dada. Usai petarungan yang begitu panjang, namun tiada pernah ada kata bosan, Khaira mencerukkan kepalanya di dada suaminya. Menstabilkan kembali napasnya. Wanita itu memejamkan matanya dan membiarkan suaminya menciumi keningnya.


"Tahan dulu Sayang ... jangan bergerak dulu, sapa tahu benih-benih cinta kita berdua sedang berenang-renang di sini. Semoga adik untuk Arsyila sudah on the way." ucapnya sembari mengusap perut istrinya yang masih rata.

__ADS_1


"Hmm, iya Mas ... semoga, gak lama lagi benihnya mulai tumbuh di sini." balasnya dengan masih memejamkan matanya.


"Sering-sering disirami Sayang... Biar cepet tumbuh subur." ucapnya sembari terkekeh geli.


Khaira yang semula memejamkan matanya tiba-tiba mengerjap dan matanya membola seketika. "Mulai deh siraman rohani. Emang kamu gak pernah bosen Mas?" tanya yang dengan memincingkan matanya.


Dengan segera Radit menggelengkan kepalanya. "Mana ada bosan Sayang ... yang ada itu justru aku gak akan nolak. Bersama kamu seperti ini itu mantap jiwa Sayang... Gak ada obatnya." ucapnya sembari tersenyum lebar.


Berbeda dengan Radit, Khaira justru mengerucutkan bibirnya. "Modus...."


"Bukan modus ... tapi bener Sayang. Bersamamu seperti ini itu mantap jiwa. Bukan hanya pengungkapan rasa cintaku kepadamu, tetapi tidak dipungkiri seperti ini menjadi salah satu cara menjaga keharmonisan suami istri." lagi ucap Radit sembari memeluk tubuh polos istrinya.


Khaira sekali lagi memincingkan matanya. "Pinter banget kalau modus. Aku sudah hafal. Sudah mengenalmu luar dalam." ucapnya.


Radit pun terkekeh geli. "Cuma kamu yang hafal aku luar dan dalam. Lagipula enggak ada yang aku tutup-tutupin dari kamu. Cuma kamu dan hanya kamu Sayang. Cuma berdua aja di sofa juga muat dan bisa ya Sayang. Tahu gitu enggak perlu beli tempat tidur ukuran super king size." gumamnya menggoda istrinya.


"Ya, tempat tidur di rumah di ganti aja Mas ... beli yang ukuran single bed kayak punya Arsyila." balasnya sembari memukul lengan suaminya.


Radit pun kembali terkekeh geli. "Nambah satu porsi boleh Sayang?" ucapnya dengan sorot mata yang memandai pada istrinya semata.


"No. Enggak mau, capek mas. Aku besok masih harus bawain seminar lagi. Masih harus jalan-jalan ke Universal Studio sama Arsyila. Besok bakalan capek banget. Jangan ya Mas ... Kecapean aku nantinya." tawarnya kepada sang suami.

__ADS_1


Enggan mendengarkan istrinya, Radit justru nampak bernegosiasi. "Sekali lagi ya ... abis ini aku pijitin deh. Janji...." 😍


__ADS_2