Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Kebiasaan Para Suami


__ADS_3

Usai membersihkan diri usai malam panjang keduanya, dan membersihkan kamar tidur dengan baju-baju yang berserakan. Keduanya lantas segera sarapan dan bergegas menjemput Arsyilla di rumah Ayah Ammar dan juga Bunda Dyah.


“Sarapan dulu Sayang … makan yang banyak.” ucap Radit sembari menyuruh istrinya itu untuk makan yang banyak.


“Makanku udah banyak banget selama hamil ini Mas … ini pipiku udah chubby.” balasnya sembari mengembungkan pipinya hingga keliatan chubby.


Sikap yang membuat Radit tertawa gemas, “Biasa kan Sayang, Bumil kan makannya bertambah. Babynya juga membutuhkan nutrisi. Chubby enggak apa-apa kok, penting sehat.”


Khaira pun mengangguk, “Mas, kalau terlalu ndut terus nanti badanku enggak pulih gimana Mas? Kalau aku gendut, kamu masih cinta sama aku?” tanyanya kepada sang suami.


Radit yang tengah menggigit roti bakarnya, tiba-tiba menaruh rotinya di atas piring, dia menggenggam satu tangan Khaira, “cintaku tidak berdasar pada berat badanmu Sayang … cintaku kan bukan cinta yang premature yang mudah goyah karena sesuatu. Udah, penting kamu hamil ini happy dan sehat. Mau gemuk, mau kurus, aku tetep cinta.” jawabnya yang membuat Khaira tersenyum.


“Semoga benaran ya, kalau aku ndut nanti enggak protes. Kalau protes puasa 9 bulan.” ancamnya kepada sang suami.


Ancaman yang membuat Radit membolakan kedua matanya. “Ya ampun Yang … jahat banget sih ancamannya, mana bisa Yang. Nungguin kamu selama masa nifas saja udah di ubun-ubun, apalagi 9 bulan. Jangan kejam-kejam sama suami, Sayang. Tenang aja, aku enggak akan protes kok.”


“Iya sih enggak protes, tapi membatin dalam hati. Kaum pria kan sukanya begitu.” sahut Khaira dengan cepat.


Ucapan realistis seorang istri, terkadang pria memang tidak mengucapkan secara langsung dengan mulutnya, tetapi mereka adalah kaum yang suka membatin sesuatu dalam hati. Hatinya yang berbicara, sekalipun mulutnya tertutup.

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya, Radit sontak tertawa, “Istriku ini ternyata sudah jago juga membaca hati, sampai tahu kalau para pria sering membatin. Ilmu kebatinannya tinggi ya Yang.”


Seakan tidak mau kalah, Khaira pun kembali bersuara, “Lha kan gitu, di hadapan istrinya bilangnya manis-manis. Menerima semua dengan lapang dada, tetapi di belakang membatin sampai tingkat dewa. Kamu juga seperti itu Mas?”


Serasa tertodong, Radit segera menggelengkan kepalanya, “Enggak … enggak sekali maksudnya. Hahahaha.” Pria itu tertawa dan tentu saja membuat Khaira sebel bukan main. Benarkah suaminya juga termasuk golongan pria yang suka membatin.


“Canda Sayang … cuma bercanda.” lagi Radit berbicara dengan menahan tawanya.


Wajah cemberut Khaira sudah tercetak jelas di sana, tangannya hanya bergerak-gerak begitu saja di atas omelette yang dia buat, selera makannya menjadi hilang begitu saja. “Jahat banget sih … aku serius loh tanyanya.”


“Aku serius juga loh jawabnya.” jawab Radit yang wajahnya memerah lantaran terlalu banyak tertawa.


Merasa wajah cemberutnya istrinya masih begitu tampak, Radit kemudian menatap wajah istrinya, “Mulutku dan hatiku ini sama Sayang … juga otakku. Semuanya sinkron. Tidak ada yang berlawanan. Aku selalu jujur kok sama kamu, enggak pernah membatin yang aneh-aneh, apalagi yang jelek-jelek enggak pernah. Yang ada kalau pun aku membatin itu kok ya Allah baik banget sama aku, aku dikasih Istri paket super lengkap, cantik, baik hati, perhatian, lembut, kurang apa lagi coba.”


“Tuh, kalau aku bercanda sebel. Kalau aku jujur, dibilangnya gombal. Para wanita memang begitu. Menghadapi wanita itu seperti menebak hasil perkiraan cuaca, enggak tahu kapan hujan dan kapan terik. Intinya aku enggak gombal.” ucapnya


Apa yang diucapkan Radit benar adanya bukan? Jika berkata jujur, dikiranya menggombal. Kalau berbicara kenyataan justru dikira berbohong? Menghadapi kaum Hawa memang tidak mudah? Kendati demikian rupanya Radit tidak bimbang untuk terus meyakinkan istrinya itu.


“Allah saksiku Sayang … kalau aku bohong kan malaikat yang akan mencatat semuanya.” ucapnya dengan serius.

__ADS_1


“Iya deh … iya …” jawab Khaira dengan cepat.


“Eh Mas, sudah mau memasuki bulan puasa, nanti ajarin Arsyilla puasa enggak?” tawarnya kepada sang suami.


“Boleh … boleh Sayang, tapi siapa yang mau mengajari Arsyilla puasa? Kamu kan sedang hamil, emang Ibu Hamil boleh puasa?” tanyanya kepada Istrinya.


Khaira pun tersenyum, “boleh … Ibu hamil boleh berpuasa kok. Biar lebih aman, nanti aku WA Dokter Indri aja, kan Dokternya juga baik kalau di-WA juga jawab. Biar lebih aman berpuasa nanti. Merasakan bulan Ramadhan berempat dengan si Baby di perutku ya Mas.” ucapnya sembari mengusap perutnya yang mulai menyembul itu.


Radit pun mengangguk, “Bener banget … tapi aku kok khawatir kalau kamu puasa, masih harus mengajar juga di setiap Kamis loh Sayang. Kalau berat, tidak perlu memaksakan diri Sayang … tahun depan kan bisa menjalani ibadah puasa lagi. Dampingi aku aja berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan nanti.”


Sebagai suami memang dia mengkhawatirkan kondisi istrinya, bukannya melarang istrinya untuk berpuasa, tetapi dia ingin istrinya tetap sehat selama masa kehamilannya, terlebih Khaira juga masih menjadi Dosen kendati hanya mengajar satu kali dalam seminggu. Kesehatan istri dan babynya tentu harus menjadi prioritas bagi Radit saat ini.


“Aku menjalani puasa semampuku saja Mas … jika tidak kuat, nanti aku lepasin aja. Setidaknya aku menjalaninya dulu dan mengajari Arsyilla. Bahagia banget ya, hamil kali ini ada di bulan Ramadhan, bisa merayakan hamil di bulan suci.” ucapnya yang merasa bahagia tentunya.


“Sama Sayang … aku juga senang. Ya sudah, dirampungkan yuk sarapannya, aku sudah kangen sama Arsyilla. Biasanya dia yang banyak bicara dan ceriwis di rumah, tiba-tiba rumah jadi sepi. Aku jadi kebayang, besok kalau dia sudah dewasa dan pengen sekolah di luar kota atau luar negeri misalnya, pasti rumah akan sepi, cuma kita berdua yang berada di dalam rumah ini.” ucapnya sembari mengamati sudut rumahnya.


Khaira paham dengan suasana hati suaminya, sebagai istri dia akan menemani dan menguatkan suaminya tentunya, “anak-anak memang seperti itu kan Mas … saat mereka masih bayi, dia berada dalam timangan kita. Saat dia memasuki masa kanak-kanak, dia bereksplorasi dengan banyak hal. Terus saat mereka dewasa, mereka meninggalkan kita entah itu untuk sekolah mau pun bekerja, jadi ya … siklusnya memang seperti itu. Seperti Ayah Ammar dan Bunda Dyah, Ayah Wibi dan Bunda Ranti, dulu waktu kita berdua masih kecil rumah menjadi ramai karena kita. Setelah kita dewasa, menikah dan sekarang hidup mandiri ya mereka hanya berdua di dalam rumah. Walau begitu, kita akan saling mencintai dan mengisi satu sama lain ya Mas …”


Radit pun kemudian menganggukkan kepalanya, “Bener banget Sayang … hari tua kita nanti pasti akan kayak gini. Rumah sepi tanpa anak-anak. Namun, nanti kita cari kesibukan berdua ya Sayang.”

__ADS_1


Khaira pun tertawa, “Semoga Allah berikan kita umur panjang, bisa mendampingi sampai usia tua kita nanti. Hmm, jadi mellow aku karena membahas masa tua.”


“Jangan mellow … ada aku. Kita akan menjalani setiap musim dalam hidup kita bersama-sama. Pokoknya kamu harus menua bersamaku.” ucap pria itu yang menegaskan bahwa dia ingin menua bersama istrinya itu.


__ADS_2