
Dalam perjalanan pulang, Radit terus kepikiran dengan kondisi istrinya yang mendadak berubah. Khaira yang semula sehat, tiba-tiba mengeluh mual dan wajahnya kini memucat.
"Sabar ya Sayang, bentar lagi nyampe rumah kok." ucap Radit sembari mengelus puncak kepala Khaira yang masih mengeluarkan keringat dingin di sana.
Sementara Khaira hanya duduk dan sesekali memejamkan matanya, menahan pening dan mual yang seolah membuat saluran pencernaannya bergejolak. Tidak sampai sepuluh menit, mobil Radit telah memasuki halaman rumah orang tuanya.
Pria itu begitu gesit memarkirkan mobil, lalu kemudian membukakan pintu untuk Khaira, dan memapah istrinya berjalan memasuki rumah. Radit menawarkan untuk menggendongnya masuk, tetapi Khaira menolaknya. Ia sungkan dengan kedua mertuanya.
Ayah Wibi dan Bunda Ranti yang melihat menantunya datang dengan dipapah Radit dan wajahnya pucat nampak panik. "Khaira kenapa, Dit?" tanya mereka berdua kompak.
Radit menghela nafasnya sejenak. "Tadi Radit ajak mampir beli durian, tiba-tiba ngeluh mual Bun... Keningnya berkeringat dingin, terus wajahnya pucat. Radit langsung bawa Khaira pulang." Wajah Radit pun sama paniknya dengan wajah kedua orang tuanya.
"Bawa ke kamar aja, Dit. Bunda bawakan teh hangat."
Radit akhirnya langsung membopong Khaira naik ke kamar atas, ia tidak membiarkan istrinya itu menaiki anak tangga.
Begitu sampai di dalam kamar, Radit menurunkan Khaira di atas tempat tidur. Akan tetapi, Khaira segera beranjak. Ia berlari menuju kamar mandi, memuntahkan isi perut yang sudah tahan sejak tadi.
Panik, Radit pun turut mengikuti Khaira hingga ke kamar mandi. Memijit tengkuk Khaira, lalu membasuh mulut istrinya dengan air.
Mata Khaira berkaca-kaca setelah berhasil memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan yang terasa asam dan pahit di rongga mulutnya. Radit kembali membopong Khaira ke atas tempat tidur, menaruh beberapa bantal di punggung istrinya sehingga Khaira bisa bersandar dengan leluasa di head board.
Tangannya mengambil selembar tisu lalu menyeka bibir Khaira yang masih basah. Setelahnya ia merapikan rambut Khaira dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Kamu kenapa sih Sayang? Ke Dokter yuk, aku khawatir." ucapnya sembari masih merapikan untaian rambut Khaira.
Khaira memaksakan tersenyum supaya suaminya itu tidak panik. "Kecapean atau mungkin masuk angin, Mas. Akan tetapi enggak tau, tadi cium aroma durian langsung kayak gini aku."
Pembicaraan Radit dan Khaira berhenti saat Bunda Ranti datang dan memberikan secangkir teh panas untuk Khaira. Bunda mengambil tepat duduk di sisi Khaira.
__ADS_1
"Kamu kenapa Sayang? Pagi tadi berangkat ke kampus sehat kok pulangnya jadi kayak gini."
Khaira tersenyum bias. "Khaira mual abis mencium aroma buah durian, Bunda. Eneg banget. Enggak biasanya Khaira seperti ini."
Bunda Ranti menyondorkan secangkir teh yang uapnya masih mengebul itu. "Diminum dulu, pelan-pelan." Bunda Ranti mengamati wajah menantunya yang pucat. "Kamu terakhir haid kapan Khai?"
Pertanyaan dari Bundanya membuat Khaira berpikir, dia bahkan lupa kapan terakhir kali ia haid. Lalu, Khaira melihat kalender pada aplikasi di handphonenya. "Kok lewat tanggalnya ya Bunda." jawabnya kebingungan.
Bundanya mengelus lembut kepala menantunya itu. Tangannya memberikan beberapa test pack dalam berbagai merek. "Besok pagi coba dites dulu Sayang. Bunda curiga saja...." ucapnya sembari berbisik di telinga Khaira.
Radit memincingkan matanya nampak ingin tahu apa yang sedang dibisikkan Bundanya kepada Khaira.
"Ada apa Bun?" tanyanya menyela pembicaraan Bundanya dengan Khaira.
"Enggak ada apa-apa. Ya udah, istirahat ya Sayang. Diminum tehnya." ucap Bunda Ranti kemudian meninggalkan kamar anaknya.
Radit kembali mengambil duduk di sisi Khaira, ia mengambilkan teh lalu kembali meminta Khaira meminumnya. "Diminum lagi Sayang, mumpung masih panas. Gak usah mandi dulu, ganti baju aja. Abis ini istirahat biar sehat. Baru kali ini aku lihat kamu ampe pucet banget kaya gini."
***
Keesokan harinya, Khaira bangun lebih pagi. Lantaran ia merasa tidur terlalu lama semalaman. Sehingga pagi-pagi ia telah bangun, dan dengan hati-hati ia turun dari tempat tidur.
Khaira pun membawa test pack yang semalam diberikan Bunda Ranti. Khaira pun harap-harap cemas menunggu test kehamilan yang ia bawa itu.
Sekian menit terasa begitu lama, hingga dua test pack yang ia bawa, satu menunjukkan dua garis berwarna merah dan satu lagi menunjukkan tanda cinta.
Khaira menangis sembari menutup mulutnya. Ia tak menyangka, bahwa Tuhan akhirnya meridhoi sekaligus mengaruniakan janin tumbuh di dalam rahimnya.
"Terima kasih ya Allah untuk karunia ini. Hamba sudah engkau percaya." gumam Khaira dalam hati sembari menyeka air matanya.
__ADS_1
Ia kemudian membawa alat test pack itu, lalu menaruhnya di dalam kotak hadiah. Kemudian ia menyimpannya di dalam laci di nakasnya. Kemudian ia kembali berbaring mengamati wajah suaminya yang masih tertidur. Alis hitam yang terlihat simetris antara kanan dan kiri, hidung yang mancung, dan bibirnya tercetak sempurna di sana.
Khaira mengalihkan perhatiannya saat Radit mulai mengerjapkan matanya. "Pagi Istriku." sapanya dengan memberi senyuman kepada Khaira.
"Pagi Suamiku." balasnya sembari membalas senyuman suaminya.
"Masih mual? Udah enakan belum?" Radit mengambil posisi duduk, punggung tangannya ia taruh di kening Khaira, mengecek apakah istrinya mungkin saja demam.
Khaira memegang tangan suaminya itu, ia menggelengkan kepalanya. "Aku sudah sehat kok Mas. Tapi kayaknya aku gak bisa cium aroma durian yang menyengat untuk waktu yang lama deh Mas."
Radit mengedip-edipkan matanya, mencoba mencerna makna yang diucapkan Khaira perihal tidak bisa mencium aroma durian untuk waktu yang lama.
Akhirnya Khaira membuka nakas kecil di sebelah tempat tidurnya, ia menyerahkan kotak hadiah berwarna ungu itu kepada Radit.
"Buat kamu, Mas..." ucapnya seraya tersenyum kepada suaminya.
"Tapi aku enggak ulang tahun loh, kok dikasih kado sih?" ucapnya masih bingung.
"Buka aja Mas...." Khaira memerintahkan suaminya itu untuk segera membuka kotak hadiah yang Khaira siapkan dadakan itu.
Radit pun menurut, perlahan ia membuka tutup kotak hadiah itu. Matanya membelalak sempurna saat melihat dua buah test pack di sana.
"Sayang, ini...." jawabnya yang seketika menghambur memeluk Khaira yang duduk sembari senyum-senyum melihat ekspresi suaminya itu.
"Terima kasih Sayang... Akhirnya doa kita berdua diijabah Allah. Alhamdulillah...." ucapnya hingga menitikkan air mata.
Sembari masih memeluk suaminya, Khaira turut larut dalam kebahagiaan. Air matanya luruh seketika menerima karunia yang begitu besar dari Allah.
"Alhamdulillah ya Mas... Akhirnya kita dipercaya oleh Allah."
__ADS_1
Keduanya larut dalam kebahagiaan yang Allah berikan. Penantian mereka untuk memperoleh buah hati, akhirnya Allah ridhoi. Betapa senangnya Radit dan Khaira pagi itu.