Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Memorable Berdua


__ADS_3

Jika ada satu hari yang terasa sangat mengejutkan bagi Khaira, tentu adalah hari ini. Sabtu ini menjadi hari kejutan bagi Khaira. Dia tidak menyangka, suaminya datang mengunjunginya pagi-pagi dengan membawa Bubur Ayam, lalu keduanya berboncengan mengendarai sepeda motor, dan kini keduanya tengah berjalan-jalan bersama di kawasan Kota Tua, Jakarta.


Kawasan yang sering kali disebut sebagai "Batavia Lama" itu menjadi tempat yang pertama dikunjungi Radit dan Khaira setelah empat bulan lamanya menikah.


Apabila di abad 16 lalu, Kota Tua ini dijuluki sebagai "Permata Asia" oleh Para Pelayar dari Eropa, sekarang tempat ini pun menjadi tempat yang bersejarah pada Radit dan Khaira.


Sepasang suami istri yang nampak seperti orang asing itu kini tengah duduk berdua menikmati segelas teh cincau dingin yang dijual di kawasan Kota Tua.


"Diminum, ini enak kok." Radit membuka pembicaraan, karena melihat Khaira yang masih mengaduk-aduk minumannya.


"Aku belum pernah minum ini sebelumnya." ucapnya jujur. "Tetapi, aku akan coba minum." Khaira meminum teh cincau itu dengan sedotannya.


Karena baru pertama kali mencoba, Khaira pun merasa aneh. Tetapi ia tetap meminumnya lantaran ia menghargai apa yang dibelikan suaminya.


"Kenapa aneh ya?" tanyanya lagi sembari matanya mengamati wajah Khaira.


"Kayak teh rasanya." sahut Khaira.


"Lha kan memang teh, jadi rasanya ya teh bukan kopi." sahut Radit sembari tertawa. "Habisin ya, abis ini kita jalan-jalan sampai ujung sana."


Khaira mengangguk sembari meminum minumannya. Usai minuman keduanya habis, keduanya kembali menyisiri jalanan di area Kota Tua. Berbagai museum berdiri dengan di sisi kanan dan kiri, mulai dari Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Cafe Batavia, hingga salah satu landmark yang terkenal di tempat itu yaitu Museum Fatahillah.


Sembari berjalan, Khaira mengedarkan pandangannya melihat bangunan-bangunan kuno yang terlihat antik sekaligus megah di sepanjang jalan itu. Ia bahkan tidak menyangka, Radit akan membawanya ke tempat bersejarah seperti ini.


Untuk apa Nero mengajakku ke sini coba? Tempat ini memang bersejarah, tetapi hubungan kami sama sekali tak berarti apa pun.


Khaira mendengus cukup sedih menyadari hubungan keduanya yang sudah berjalan empat bulan tetapi seperti jalan di tempat, seolah-olah matahari enggan menyapa kepada keduanya karena terhalang kabut tebal. Khaira yang berjalan agak di belakang, hanya bisa memandang suaminya yang saat ini tengah berjalan di depannya.


"Kenapa jalannya jauh banget di belakang sih? Nanti kalau hilang gimana?" Radit membalikkan badannya saat menyadari bahwa Khaira masih tertinggal cukup jauh di belakangnya.


"Enggak bakalan hilang, aku selalu ngikutin kamu dari belakang kok." ucapnya santai.

__ADS_1


Radit menunggu hingga Khaira sudah lebih dekat kepadanya. "Mau masuk ke Museum atau jalan-jalan aja nih?" tawarnya sembari menepi ke sisi jalan.


"Aku ngikut aja Mas, kemana aja gak masalah kok buatku." Khaira menjawab sembari menoleh berbagai museum yang berada di sekitarnya.


"Gak ikhlas?" sekali lagi Radit bertanya.


"Ikhlas kok. Ayo..." jawab Khaira sembari berjalan mendahului Radit.


"Ke Museum Fatahillah mau?" tanyanya sembari jari telunjuknya mengarah kepada Museum Fatahillah yang berada di seberang mereka.


"Iya, ayo..." Khaira menganggukkan kepalanya dan berjalan mengekori Radit.


Akhirnya keduanya telah memasuki Museum Fatahillah yang sering kali disebut juga dengan nama Museum Sejarah Jakarta. Di masa kolonial Belanda, bangunan ini adalah Balaikota Batavia. Bangunan ini dibangun dengan gaya khas Belanda dan menyerupai Istana Dam, di Amsterdam, Belanda.


Di museum ini, Radit dan Khaira berkeliling melihat-lihat berbagai benda bersejarah peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran, berbagai replika dan keramik, gerabah, dan prasasti.


Khaira akhirnya melihat sisi lain dari suaminya yang ternyata sangat menyukai wisata museum. Dia tidak mengira seorang Radit ternyata begitu menikmati ke museum seperti ini.


"Mas Radit suka ke museum ya?" tanya Khaira sembari terus berjalan di belakang Radit.


"O..." Khaira hanya bisa mengucapkan huruf "o" saja.


"Dulu waktu aku kecil pernah ke museum juga sama anak temennya Ayah. Tapi aku lupa namanya. Dulu kan Ayah sama temennya sama-sama tinggal di Jogja."


"Oh, iya. Berarti kenangan indah dong Mas." sahut Khaira.


Radit nampak mengingat-ingat lagi kenangannya waktu kecil dulu. "Dulu itu ada anak cewek, usianya selisih 4-5 tahun sama aku. Anak temennya Ayah dan Bunda. Pernah kami jalan-jalan bersama sampai ke Museum Kereta Api di Ambarawa. Tapi aku sekarang enggak tahu, anak kecil itu sekarang di mana dan setelah dewasa seperti apa."


"Mungkin anak itu sekarang sudah dewasa, kalau selisih usianya 4-5 tahun, mungkin anak itu sekarang berusia hampir 22 tahun." Khaira menanggapi cerita Radit.


"Iya, sudah 22 tahun berarti. Seusia kamu ya?"

__ADS_1


"Iya..." jawab Khaira.


Radit ingin mengingat kembali gadis kecil yang sering bermain dan berwisata dengannya dulu, namun sekeras apa pun, ia berusaha mengingatnya, tetap saja ia tidak ingat. Bahkan namanya saja sudah hilang dari ingatannya.


"Abis ini mau kemana? Makan mau enggak?" Radit mengajak dan menawarkan Khaira untuk makan.


"Iya, boleh. Sudah jam makan siang juga."


"Keluar sekarang aja ya?"


"Iya..."


Puas berkeliling Museum Fatahillah, Radit dan Khaira pun melanjutkan untuk makan. Apabila tadi saat mereka datang cuaca begitu cerah, tetapi kali ini mendadak mendung.


"Jalannya agak cepet ya, kita beli soto ayam di ujung jalan ini, deket tempat kita parkir tadi. Supaya enggak kehujanan." ucapnya sembari berjalan dan sesekali menoleh ke belakang memastikan Khaira tidak terlalu jauh tertinggal di belakangnya.


Baru setengah jalan mereka lalui, angin pun bertiup lebih kencang, dan hujan mulai turun.


"Aduh. Bagaimana ini malah hujan?" Khaira agak berlari mencari tempat berteduh di sekitarnya.


Tidak disangka Radit melepas jaketnya, lalu menjadikannya sebagai tudung kepalanya. Ia membawa Khaira berjalan ke tepi dan menudungi kepalanya dengan jaketnya.


Khaira terbelalak tak percaya dengan apa yang dilakukan Radit saat ini. Mengapa ia rela melepas jaketnya dan menudungi kepala mereka berdua. Sebelumnya bahkan pria itu begitu tidak menganggap Khaira, tetapi kini lihatlah pria itu telah berubah dan memperhatikan Khaira.


"Nanti kamu bisa pusing bila terkena air hujan." ucapnya sembari lebih mendekat kepada Khaira. "Lari ke situ yuk?"


Khaira merasa baru kali ini ia begitu dekat dengan Radit. Bahkan wajah mereka begitu dekat hanya berjarak beberapa centimeter saja. Khaira tak bisa berkata apa pun, ia hanya mampu berlari mengikuti Radit mencari tempat berteduh.


Hingga keduanya kini berhenti di emperan gedung. Mereka berdiri dengan bahu yang bersandar di tembok.


Khaira mengambil tisu dari dalam tasnya, ia memberikan tisu itu kepada Radit. "Dibersihkan pakai tisu Mas." ucapnya sembari menyodorkan tisu.

__ADS_1


"Makasih." sahut Radit sembari menerima tisu dari Khaira dan mengelap wajahnya yang basah terkena air hujan.


"Memorable banget sih, kita kesini hujan-hujan. Iya enggak?" ucapnya sambil tertawa kepada Khaira.


__ADS_2