
Beberapa minggu pun berlalu, Radit masih setia berdiam di kamar dan keluar hanya untuk cek up dan terapi berjalan. Kendati demikian, Radit berusaha memompa semangatnya untuk bisa segera sembuh. Sungguh, dia ingin bisa berjalan dengan sempurna dan keinginan terbesarnya adalah bisa menggendong putri kecil kesayangannya, Arsyila.
Hari yang dinantikan pun tiba, Radit kini sudah bisa berjalan dengan normal. Kakinya benar-benar pulih 100%. Hanya saja Dokter memang mengingatkan supaya tidak menggunakan kaki untuk olahraga berat terlebih dahulu. Membentuk jaringan sendi dibutuhkan waktu yang lama. Sementara olahraga berat dengan menumpu beban di kaki justru membuat jaringan sendi kembali robek.
Radit memenuhi janjinya, dia begitu ingin menggendong Arsyila dan bermain dengan putrinya yang sudah berusia hampir delapan bulan itu. "Arsyila Sayang ... gendong Papa ya ... kangen banget Papa bisa gendong kamu seperti ini. Maafin Papa ya, selama ini Papa gak bisa gendong-gendong kamu. Sekarang Papa udah bisa gendong Syila lagi." ucap pria itu sembari menciumi pipi chubby anaknya.
Khaira yang melihat suaminya terlihat begitu bahagia dengan menggendong Arsyila, hatinya juga turut bahagia. Keinginan suaminya begitu sembuh ingin menggendong Arsyila terwujud sudah. Kini Papa dan anak itu nampak seperti menyalurkan kerinduan satu sama lain.
"Arsyila seneng ya udah bisa digendong Papa? Ketawa-tawa terus ini anak Mama...." ucap Khaira sembari mengusap lembut puncak kepala Arsyila.
"Pasti suka dong Ma ... Arsyila kan juga kangen sama Papa ya Sayang. Akhirnya bisa digendong Papa...." ucap Radit dengan menggendong Arsyila.
Khaira pun tertawa. "Pelan-pelan Mas ... jangan terlalu bersemangat." Khaira mengingatkan kepada suaminya itu untuk tetap pelan-pelan.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya Mama ... Papa pasti pelan-pelan kok. Hati-hati juga. Mama mau juga digendong sama Papa?" godanya kepada sang istri.
Hanya tertawa dan menggelengkan kepala, itulah respons yang diberikan Khaira. "Ingat Papa ... kakinya jangan menumpu beban yang berat dulu. Aku berat loh." ucap Khaira sembari tersenyum.
"Kan sapa tau aja, Mama mau digendong juga, biar kayak Arsyila ya...." ucap Radit kembali lagi menciumi pipi Arsyila.
Sepanjang hari Radit benar-benar menggunakan waktunya untuk bermain bersama Arsyila dari menggendong, bermain boneka, bernyanyi, hingga mengikuti Arsyila merangkak ke sana kemari. Seolah Radit benar-benar menggunakan waktunya untuk bonding dengan Arsyila, menebus kembali waktunya yang sempat hilang karena cidera kaki yang dia alami.
Hingga Arsyila nampak kelelahan karena seharian bermain dengan Papanya. Sehingga baru jam 19.00 malam, bayi kecil itu sudah tertidur pulas.
"Dia kecapean main sama Papanya, jam segini sampai udah bobok Arsyila nya...." ucap Khaira.
__ADS_1
Radit pun tersenyum. "Arsyila seneng banget bisa main sama Papanya. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa main sama Arsyila. Sayang, aku izin keluar bentar ya. Gak lama kok ... tunggu aku ya."
Khaira nampak curiga, mau kemana suaminya malam-malam begini. Biasanya Radit tipe orang yang sudah di dalam rumah enggan keluar, tetapi tumben sekali malam ini dia ingin keluar sebentar.
"Mau kemana Mas?" tanyanya dengan mata yang memindai suaminya.
Radit justru hanya tersenyum. "Gak lama Sayang ... tunggu aku ya. Jangan bobok dulu." ucapnya sembari mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya dan sedikit berlari keluar dari kamar.
Menunggu suaminya yang sedang keluar, Khaira memilih membaca novel digital di aplikasi handphonenya. Mama muda itu tertawa sendiri membaca cerita Raffa dan Clara di novel berjudul "When My Love Bloom" itu. Satu bab dia baca, hingga belasan bab sudah dia baca, tetapi suaminya masih belum kembali.
"Kemana aja sih Mas? Masak aku harus baca seluruh novel ini, mana aku makin ngantuk loh ini." gerutunya sembari berusaha membuka lebar matanya supaya dia tidak mengantuk hingga akhirnya tertidur terlebih dahulu.
Sepuluh menit kemudian, sebuah telepon masuk ke dalam handphonenya. Khaira mengernyitkan keningnya. "Mas Radit? Ngapain telepon aku...."
Dengan segera dia menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
"Arsyila masih bobok Sayang?" tanyanya melalui sambungan teleponnya.
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya masih ... Mas, kapan pulang? Aku udah ngantuk loh ini." ucapnya yang memang mulai mengantuk.
"Kalau Arsyila boboknya pules, kamu bisa keluar sebentar Sayang. Ke taman belakang." Perintahnya.
Khaira nampak menggaruk sedikit kepalanya. "Sekarang?" tanyanya.
Radit pun menjawab. "Iya...."
__ADS_1
Akhirnya Khaira mulai berjalan keluar dari kamarnya, dia mengikuti instruksi yang diberikan oleh suaminya. Dalam hatinya dia menerka-nerka mengapa suaminya memintanya ke taman belakang.
Khaira pun berjalan perlahan, hingga akhirnya dia membuka daun pintu yang menghubungkan dengan taman kecil di belakang rumahnya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat meja terisi dengan makanan dan lima buah lilin yang menyala di atas meja itu. Nampak Radit yang berjalan perlahan menyambutnya.
Mata Khaira pun nampak berkaca-kaca melihat kejutan dari suaminya. Begitu meraih tangan Khaira, Radit segera mendaratkan kecupan di punggung tangan wanitanya itu.
"Kejutan buat Mama Khaira...." ucapnya begitu lembut. Satu tangannya yang tersimpan di belakang punggung perlahan keluar dan menggenggam bunga Mawar Putih.
"Buat kamu Sayang ... bunga Mawar Putih itu simbol cinta yang tulus dan juga cinta sejati. Ini hanya tanda kalau aku benar-benar tulus mencintaimu dan memintamu untuk menemaniku hingga akhir usiaku." ucap Radit sembari menyerahkan bunga itu kepada istrinya.
Air mata Khaira berlinangan begitu saja, kejutan manis yang disediakan suaminya benar-benar membuat pasokan air matanya luruh seketika. Khaira menerima bunga itu dengan tangis terisak.
Radit justru tersenyum dan segera merengkuh istrinya ke dalam pelukannya. "Jangan menangis ... aku cinta banget sama kamu, Sayang." ucap Radit sembari mencium puncak kepala istrinya.
Sementara Khaira hanya menangis dan mencerukkan wajahnya ke dada suaminya. Membiarkan air matanya membasahi dada suaminya. "Kenapa tumben-tumbenan bikin kayak gini sih Mas?"
"Aku cuma mau berterima kasih Sayang ... terima kasih sudah mendampingiku, di saat aku benar-benar terpuruk. Terima kasih sudah mendampingiku, di saat aku sendiri nyaris putus asa dengan kondisi yang aku alami. Terima kasih sudah merawatku hingga aku sekarang bisa berdiri di atas kakiku. Thank you so much My Lovely Wife." ucap Radit dengan tulus.
Radit sedikit mengurai pelukannya, ibu jarinya bergerak menyeka sisa-sisa air mata di wajah istrinya. Setelahnya ibu jari itu bergerak hingga ke ujung dagu Khaira. Radit menundukkan sedikit wajahnya, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya. Memberikan ciuman yang begitu lembut, menyalurkan seluruh cinta yang dia miliki untuk wanita hebat yang mendampinginya bahkan di saat terpuruknya. Pria itu memejamkan mata dan merasai bibir selembut cotton candy dan semanis madu itu dengan indera pengecapnya. Pun demikian dengan Khaira, kedua tangannya mendarat di leher suaminya. Wanita turut memejamkan mata dan larut dalam buaian yang dilakukan oleh suaminya. Kegiatan itu berakhir saat keduanya nampak kehabisan pasokan oksigen untuk mengisi kembali rongga paru-parunya.
"I really love you, Khaira." ucap Radit sembari kembali memeluk istrinya itu.
Happy Reading 💜
__ADS_1
Hari Senin ditunggu Vote nya ya. 🥰