
Khaira menahan hingga suaminya bercerita kepadanya. Walaupun saat ini dia sudah ingin menanyakan banyak hal, tetapi suaminya agaknya memang enggan bercerita sekarang. Yang bisa Khaira lakukan adalah bersabar. Berharap nanti malam suaminya akan benar-benar bercerita tentang pembicaraannya dengan Tama.
Saat ini yang Khaira lakukan adalah membawa suaminya segera pulang, Arsyila pasti juga membutuhkannya di rumah. Tidak membutuhkan waktu lama, kini Khaira dan Radit telah tiba di rumah.
"Assalamualaikum Bunda...." ucap Khaira begitu telah masuk ke dalam rumah.
Bunda Ranti pun keluar dari dalam rumah. "Sudah pulang? Gimana hasil cek up nya?" tanya Bunda Ranti.
"Baik Bun ... sudah dilepas gips nya. Akan tetapi, berjalannya masih menggunakan kruk. Juga masih beberapa kali cek up dan terapi jalan juga." ucap Radit kepada Bundanya.
"Arsyila mana Bunda?" tanya Khaira kepada Bundanya.
"Arsyila baru tidur di kamarnya." sahut sang Bunda. "Sana bersih-bersih dulu, apalagi kalian abis dari Rumah Sakit. Mandi yang bersih." perintah sang Bunda yang menyuruh anak-anaknya untuk bersih-bersih terlebih dahulu.
Akhirnya, Radit dan Khaira pun bergantian untuk mandi. Setelahnya Khaira langsung turun ke bawah dan menghampiri Bundanya.
"Nanti dijemput Ayah kan Bunda?" tanya Khaira kepada Bundanya itu.
"Iya Khai ... seperti biasa. Kamu enggak pengen pakai ART gitu Khai? Apa tidak capek?" tanya Bunda Ranti sembari menatap wajah menantunya itu.
"Asal Mas Radit dan Arsyila sehat, Khaira enggak capek Bunda." ucap Khaira dengan tulus.
Bunda Ranti kini menggenggam tangan menantunya itu. "Makasih Khai, sudah sabar menghadapi Radit ... Bunda tahu sekarang ini pasti tidak mudah buat kamu, Bunda hanya bisa mendoakan kamu kuat ya...." Pesan sang Bunda kepada Khaira.
__ADS_1
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bunda ... Khaira akan bersabar dan kuat. Terima kasih juga Bunda karena sudah selalu bantuin Khaira, menjagakan Arsyila buat setiap kali Khaira sibuk."
"Sudah tentu Sayang ... Kita keluarga bukan, Bunda juga seneng bisa main sama Arsyila. Dulu waktu Radit kecil, Bunda setiap hari ngasuh dia, sekarang Bunda bisa main sama cucu Bunda." ucapnya sembari mengenang masa kecil Radit dulu.
Usai itu pun Ayah Wibi datang untuk menjemput Bunda Ranti. Khaira pun mengantar kedua mertuanya itu hingga ke depan pintu gerbang. "Makasih ya Ayah sudah bantuin kami." ucap Khaira berterima kasih dengan tulus.
Ayah Wibi pun menepuk pundak Khaira. "Iya ... sehat-sehat ya Khai. Ayah dan Bunda pamit dulu ya." ucap Ayah Wibi.
Selanjutnya Khaira kembali masuk ke kamar. Dia melihat suaminya yang tengah duduk di tempat tidur dan memegang handphonenya. "Baru ngapain Mas?" tanyanya kepada suaminya itu.
"Enggak, lihat-lihat handphone aja kok Sayang. Bunda Ranti sudah pulang ya?" tanyanya.
Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Iya, baru saja dijemput Ayah. Jadi cerita enggak Mas?"
Radit pun menepuk bagian tempat tidur untuk istrinya. "Sini Sayang ... duduk sini dulu."
"Aku marah Mas, dia yang udah mencelakai kamu. Jadi waktu itu aku memang menyuruhnya pergi dan aku gak mau ada urusan lagi dengan dia." ucap Khaira seolah menahan emosinya.
Radit lantas menggenggam tangan istrinya. "Tadi Tama mengakui kesalahannya padaku. Dia meminta maaf." ucap Radit dan dia menoleh melihat wajah istrinya.
"Lalu?" sahut Khaira dengan cepat.
"Aku memaafkannya Sayang." jawab Radit.
__ADS_1
Khaira sempat tertegun dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya. Mengapa suaminya bisa semudah itu memaafkan Tama, padahal Khaira begitu panas hatinya mengingat bagaimana suaminya terkapar saat itu di sisi jalan dengan luka di beberapa bagian wajah dan lengannya. Hingga akhirnya berakhir di Rumah Sakit.
"Mengapa kamu memaafkannya Mas?" tanya Khaira kepada suaminya.
Radit menghela nafasnya sejenak. "Aku sudah menjelaskan semua ke Tama, dan aku juga meminta dia untuk melupakanmu. Miris ya, seorang suami bilang seperti itu kepada cowok lain." ucap Radit dengan tersenyum getir.
Khaira lantas mengamati wajah suaminya. "Maaf Mas...." Khaira justru merasa bersalah dengan suaminya.
Segera Radit menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa Sayang ... kamu tidak bersalah, karena kamu tidak mencoba bermain hati Sayang. Aku cuma menegaskan, tetapi kenapa rasanya ironis ya. Aku suamimu justru meminta pria lain untuk melepaskan dan merelakanmu. Ironis enggak sih Sayang?" tanya kepada Khaira.
"Sebelumnya aku sudah berkali-kali bilang ke dia, Mas ... aku gak suka situasi seperti ini. Di satu sisi aku tahu tidak ada yang salah dengan perasaan kita karena perasaan itu muncul dari hati. Akan tetapi, jika masih menunggu wanita yang sudah bersuami menurutku yang kurang tepat, Mas. Gimana ya aku ngomongnya." ucap Khaira kebingungan lantaran dia terlampau sukar mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
Radit pun mengangguk. "Jatuh cinta itu memang enggak salah Sayang ... Seperti katamu, kalau perasaan itu muncul dari hati. Yang salah ya jika kita menunggu hal yang sudah bukan menjadi milik kita. Aku bisa berkata seperti ini karena aku bukan di posisinya, tapi kalau aku di posisinya dia aku tetap akan melepaskan wanita itu. Karena aku percaya level tertinggi dari mencintai adalah saat kita bahagia melepas orang yang kita cintai tersebut tanpa harus memilikinya, asalkan orang itu bahagia." ucap Radit dengan sungguh-sungguh.
"Cinta tak harus memiliki ya Mas?" sahut Khaira.
Radit pun menganggukkan kepalanya. "Iya Sayang ... Makanya bersyukur jika cinta dan perasaan kita bersambut satu sama lain." ucapnya dengan serius. "Seserius apa sih Tama sama kamu dulu?" tanya Radit dengan tiba-tiba.
"Aku enggak terlalu deket juga sama dia, Mas ... Cuma dulu di kampus itu sering ketemu dan saling nyapa aja. Terus kami ketemu lagi pas kakiku terkilir dulu itu, Bundanya dia seorang fisioterapis. Dia nganter aku pulang abis dari fisioterapi dulu itu. Enggak tau abis itu dia nembak aku, tapi dari awal aku jujur kalau aku sudah punya suami. Ya walaupun saat itu Suamiku tidak menganggapku sebagai Istri." Cerita Khaira sembari mengingat kejadian masa lalu.
Radit nampak menghela nafasnya dengan sepasang matanya yang terus menyorot pada Khaira. "Kenapa dari dulu kamu enggak terbersit untuk menyukai pria lain Sayang? Padahal dulu aku nyebelin banget."
Khaira justru tertawa. "Mungkin aku yang terlalu naif, Mas...."
__ADS_1
Radit pun ikut tertawa mendengar jawaban Khaira. Namun apa yang dikatakan istrinya benar adanya, Khaira memang gadis yang naif saat itu. "Kapan kamu jatuh cinta sama aku, Sayang? Sebelum aku menyusulmu ke Manchester atau setelah kita tinggal bersama di Manchester?" tanyanya.
Khaira justru tertawa karena tidak tahu harus menjawab apa kepada suaminya itu. Alhasil, Khaira memilih tertawa dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.