Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Masakan Kamu Enak


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu. Setelah semalam, Khaira menonton pertandingan speak bola. Gadis itu merasa lebih baik secara fisik dan mental. Kekosongan yang ia rasakan selama sepekan belakangan sudah tidak terlalu mengganggunya.


Khaira menyambut Minggu pagi ini dengan senyum sapa mentari yang masuk melalui jendela kamarnya. Gadis itu berdiri di balkon kamarnya, menghirup udara pagi yang masih segar sebanyak-banyaknya, dan sesekali merenggangkan badannya. Pagi yang damai dan sepi.


Puas menyambut pagi, Khaira kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil handphone yang berada di atas nakasnya. Ternyata ada sebuah pesan dari Bundanya. Dengan segera, Khaira menelpon Bunda Dyah.


[Selamat pagi Bunda.]


[Halo, apa kabar nih anak-anak Bunda?]


[Kami baik Bunda...]


[Khai, siang ini datang ke rumah Bunda ya. Jangan lupa ajak Nak Radit. Nanti sore ada arisan keluarga di rumah. Biar keluarga juga kenal sama Menantu Bunda satu-satunya.]


[Iya Bunda. Nanti kami ke sana.]


[Oke Khai... Ditunggu Bunda dan Ayah ya.]


Ketika sambungan telepon berakhir, Khaira pun mulai menghubungi Radit. Dan, ini menjadi pertama kalinya ia menghubungi suaminya sendiri setelah hampir 4 bulan menikah.


Sebenarnya Khaira ragu untuk menghubungi Radit, tetapi Khaira juga tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya sendirian. Sebab, akan menimbulkan kecurigaan untuk Ayah Ammar dan Bunda Dyah. Akhirnya, Khaira mencari nomor telepon Radit di kontaknya. Khaira ingat bahwa ia menamai nomor telepon Radit dengan nama "Nero" segeralah Khaira menelponnya.


Sambungan telepon Khaira berdering, tapi masih belum diangkat. Khaira harap-harap cemas menunggu Radit menerima teleponnya. Selang sekian detik, akhirnya telepon itu diterima.


[Ya halo...] Terdengar suara serak Radit di seberang sana.


[Halo. Aku mau minta tolong, Mas. Bisa?]


[Hmm, apa?]


[Barusan Bunda Dyah telepon di rumah ada acara keluarga. Kita diminta ke sana.]


[Ya, abis ini aku ke situ. Tunggu aku.]

__ADS_1


[Iya, makasih...]


Mengingat Radit akan datang ke rumah terlebih dulu, Khaira pun segera memasak untuk Radit. Kemungkinan saja pria itu datang dengan perut kosong. Apalagi ini masih pagi. Dengan cekatan, Khaira melihat bahan yang ada di dalam kulkas, namun hanya ada ayam dan sedikit sayuran. Mengingat masih pagi, Khaira akhirnya membuat Soto Ayam saja. Cukup simple dan tidak repot memasaknya.


Acara masak memasak Khaira telah selesai, sementara Radit masih belum datang. Karena itu Khaira memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, ia akan mandi terlebih dulu. Sehingga usai makan, tinggal berangkat ke rumah orang tuanya.


Tidak butuh waktu lama, dalam 10 menit Khaira sudah mandi dan lebih segar. Namun sampai ia selesai mandi pun, Radit masih belum datang. Khaira sedikit cemas, pasalnya sudah hampir 1 jam, tetapi Radit masih belum datang. Khaira hanya takut jika suaminya itu tidak datang, itu berarti ia harus datang ke rumah orang tuanya sendiri. Gadis itu berdiri di depan jendela kamarnya yang menghadap ke jalan, berharap melihat mobil Radit segera tiba.


Detik berganti detik berlalu, menit pun berganti menit. Tetapi yang dinantikan masih belum datang. Namun, sorot matanya perlahan melihat sebuah sepeda motor matic besar berwarna hitam berhenti di depan gerbang rumahnya. Dan benar saja, pengendara sepeda motor itu masuk ke dalam gerbang. Tidak lama terdengar ketukan pintu.


Khaira pun segera turun dari kamarnya dan membukakan pintu bagi siapa yang datang.


Saat pintu dibuka, Khaira tak menyangka kalau yang datang adalah Radit, suaminya.


"Masuk Mas..." Khaira membukakan pintu sembari mempersilakan Radit untuk masuk.


"Iya..." Sahutnya singkat, dan ia segera masuk ke rumah.


Radit datang ke rumah itu benar-benar seperti seorang tamu, padahal dialah pemilik rumah itu. Radit langsung mengambil duduk di ruang tamu.


"Diminum dulu..." Ucapnya sembari menyajikan secangkir teh hangat di meja yang berada di depan Radit.


"Makasih..." Ucapnya sambil meminum tehnya yang masih hangat.


Khaira ingin menawari Radit sarapan, tetapi ia masih ragu. Mulutnya ingin mengeluarkan suara, tetapi hatinya ragu-ragu. Tetapi melihat wajah Radit, entah mengapa kalau Khaira merasa pria itu sama sekali belum sarapan.


"Ayo sarapan dulu Mas..." Ucapnya sembari berjalan menuju dapur.


Melihat Khaira yang menawarkan sarapan, Radit pun mengikuti Khaira dan ia langsung duduk di meja makan.


Khaira menyiapkan semangkok Soto Ayam, sepiring nasi, di meja telah tersaji tempe goreng dan sambal.


"Silakan Mas..." Khaira mempersilakan Radit untuk sarapan. Walau pun hubungan keduanya memang tidak baik, tetapi Khaira berusaha memperlakukan suaminya dengan baik.

__ADS_1


Radit menatap kenapa hanya ada seporsi makanan untuknya, apa Khaira tidak makan?


"Hei, kamu tidak makan?" Radit bertanya karena Khaira masih berdiri di depan kompor api dua tungkunya.


"Aku makan juga kok, ini baru mau ambil kuahnya juga."


Radit pun menunggu sampai Khaira sudah duduk dan bersiap makan. Setelah Khaira duduk, barulah Radit memulai menyantap makanannya.


Keduanya makan dengan diam, tidak ada obrolan. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu. Tetapi terlihat jelas bagaimana Radit begitu menikmati semangkok Soto Ayam itu.


"Kamu yang masak sendiri ya?" Tanya Radit di sela-sela ia mengunyah makanannya.


"Iya..."


"Masakan kamu enak." Baru kali ini Radit memuji masakan Khaira. Sebelumnya waktu Khaira memasak Timlo Solo di rumah Bunda Ranti, pria itu hanya meminta nambah tapi sama sekali tidak mengakui kelezatan masakan Khaira.


"Makasih." Sahut sembari matanya melirik sekilas pada Radit yang begitu lahap menikmati Sotonya.


Entah perasaan apa, mendengar untuk pertama kali suaminya mengatakan bahwa masakannya enak membuat hati Khaira merasa bahagia. Pria yang sering kali mengejeknya dan melukai dengan perkataannya, kini bisa memuji masakannya. Namun, Khaira berusaha memasang wajah setenang mungkin, dia berusaha bersikap biasa saja di depan Radit.


Hingga akhirnya acara sarapan pun usai, dan Khaira dengan cekatan membersihkan meja makan dan menaruh peralatan kotor ke tempat pencucian piring. Ia akan segera membersihkannya segera sebelum berangkat ke rumah orang tuanya.


Radit yang masih duduk di meja makan, memperhatikan punggung Khaira.


"Gadis itu cekatan sekali, semua pekerjaan rumah bisa ia lakukan sendiri." Gumamnya dalam hati.


"Biar aku yang mencuci piringnya." Radit berjalan mendekati Khaira yang berada di wastafel pencucian piring.


"Eh, jangan. Biar aku saja." Khaira menolak, baginya tidak sopan membiarkan suaminya mencuci piring.


"Sudah, aku saja." Radit segera meraih spons pencuci piring dan mencucinya satu per satu.


Khaira begitu tidak percaya melihat Radit yang sedang mencuci piring di depannya.

__ADS_1


"Kamu siap-siap saja. Habis ini kita berangkat."


"Ya, Makasih." Khaira pun dengan berat hati membiarkan Radit untuk mencuci piring kotor dan ia naik ke kamar untuk mengganti pakaiannya dan bersiap-siap berangkat ke rumah orang tuanya.


__ADS_2