Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Khaira's Room


__ADS_3

Dengan berat hati, Khaira membiarkan Radit mencuci piring-piring kotor. Langkahnya terasa berat untuk menaiki setiap anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Lagi pula, jika berada dekat dengan Radit rasanya Khaira juga masih canggung. Hal ini wajar, sekali pun pernikahan keduanya hampir 4 bulan berjalan, tetapi keduanya jarang berkomunikasi, jarang bertemu, pisah kamar, dan yang lebih ironis sekarang keduanya pisah rumah. Sehingga sangat mengherankan bila keduanya sangat canggung.


Di dalam kamar pun, Khaira mengganti pakaian rumahnya dengan memakai celana panjang dan kemeja bermotif bunga-bunga. Tidak lupa ia memoles wajahnya dengan make up natural dan lipstick berwarna pink di bibirnya. Khaira termasuk gadis yang tidak menghabiskan waktu lama untuk berias. Wajahnya sudah terlihat cantik tanpa sentuhan make up tebal.


Usai puas dengan penampilannya, Khaira turun ke bawah. Tapi keadaan rumah sepi, Radit tidak ada di dapur atau pun di ruang tamu. Oleh karena itu, Khaira menunggu Radit di ruang tamu. Rupanya pria itu baru saja masuk ke kamarnya, ia turun dengan membawa tas kecil yang berisi kemejanya.


"Udah siap?" Tanya Radit begitu ia sudah sampai di ruang tamu.


Khaira hanya menganggukkan kepalanya. "Mas, naik mobilku saja ya? Maaf jangan salah paham, tetapi jarak rumah ini ke rumah Ayah sangat jauh." Khaira berkata pelan-pelan bagaimana pun, ia takut menyinggung Radit.


"Iya, mana kuncinya biar aku yang bawa mobilnya."


Khaira pun memberikan kunci mobilnya kepada Radit. Tanpa menunggu lama, keduanya masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan ke rumah orang tua Khaira.


Sembari mengemudikan stir mobilnya, Radit bertanya kepada Khaira. "Semalam abis nobar (nonton bareng) langsung pulang ya?"


"Hmm, iya. Aku langsung pulang."


"Si Dimas nanyain apa kamu beneran nikah. Dia gak percaya."


"O..." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Khaira.


"Nanti waktu arisan keluarga, kita kerja sama seperti biasanya kan? Menampakkan diri seperti pasangan normal pada umumnya."


"Hmm, iya." Lagi-lagi Khaira hanya bisa menjawab singkat.


Entah mengapa hari ini Khaira merasa bahwa Radit tak menyebalkan seperti sebelumnya. Bahkan beberapa kali, Radit yang mengajaknya bicara lebih dulu.


Sesekali Khaira menoleh kepada Radit yang tengah mengemudikan stir mobil, mata Khaira menangkap sesuatu yang berbeda pada tangan Radit. Ia melihat punggung tangannya berwarna lebih cokelat.


Apa itu karena dia naik motor sehari-hari? Panasnya ibukota membuat punggung tangannya menghitam. Mengapa tidak naik mobil? Padahal dia kan punya mobil. Aneh deh.


Pikiran Khaira justru berputar-putar sembari sesekali melihat tangan Radit. Namun, ia memilih diam. Menyimpan semuanya dalam hatinya.

__ADS_1


Setelah perjalanan hampir satu jam, akhirnya Khaira dan Radit telah sampai di rumah Ayah Ammar dan Bunda Dyah.


"Ayah... Bunda... Khaira datang." Sapa Khaira sembari masuk ke dalam rumahnya yang masih sepi. Sementara Radit mengikuti langkah kaki Khaira yang masuk ke dalam rumah mertuanya itu.


"Eh, anak Bunda sudah datang. Ayo, masuk-masuk..." Bunda Dyah dengan senyuman menyambut kedatangan Khaira dan Radit.


Merasa telah cukup lama tidak mengunjungi orang tuanya, Khaira langsung berhambur ke pelukan Bundanya.


"Bunda, Khaira kangen..." Ucapnya dengan manja.


"Anak Bunda sudah besar. Sudah menjadi istri orang tapi masih aja manja." Bunda Dyah sembari mengelus puncak kepala putrinya itu.


Puas berpelukan, Bunda juga menyambut Radit. Pria itu bersalaman dengan mertuanya.


"Sehat Bunda?" Sapanya sambil mencium punggung tangan mertuanya.


"Sehat. Bunda dan Ayah sehat. Temui Ayahmu tuh di dalam."


Khaira dan Radit pun masuk ke dalam rumah menemui Ayah Ammar.


"Anak Ayah... Sehat Khai?"


Sementara Khaira mengangguk kepala sembari masih memeluk Ayahnya. Setelah memeluk Khaira, Ayah Ammar pun juga memeluk Radit sembari menepuk-nepuk punggung menantunya itu.


Karena arisan keluarga baru dilaksanakan sore nanti, Radit dan Khaira bisa bercengkerama lebih dulu dengan Ayah Ammar dan Bunda Dyah.


"Istirahat di kamar kamu dulu aja, Khai... Masih jam 3 kok arisannya. Ajak suamimu istirahat dulu." Bunda Dyah yang meminta Khaira untuk istirahat dulu.


"Kita enggak masak-masak Bunda? Biar Khaira bantuin? Biasanya kalau arisan keluarga kan kita masak-masak sendiri Bunda."


"Enggak, Bunda sudah pesan katering kok. Nanti jam 2 kateringnya datang. Kamu istirahat aja. Ajak Radit ke kamar kamu."


Akhirnya Khaira dengan terpaksa mengajak Radit masuk ke kamarnya untuk pertama kalinya. Kamar yang sudah ia tempati sejak kecil hingga sebelum menikah. Kamar yang membuatnya nyaman.

__ADS_1


"Ayo Mas..." Ajak Khaira kepada Radit.


"Iya." Balasnya sembari mengikuti langkah kaki Khaira menaiki anak tangga menuju kamarnya di kediaman orang tuanya.


Khaira kembali masuk ke kamarnya setelah hampir 4 bulan lamanya, ia tidak memasuki kamar ini. Walau sudah lama tidak ditempati, kamar ini masih terlihat bersih dan rapi. Benda-benda di kamarnya pun tidak ada yang bergeser, mulai dari sofa, buku-buku, foto kolase, hingga jam dinding Hello Kitty masih tergantung indah di atas meja belajarnya.


Radit mengamati kamar Khaira yang didominasi benda-benda berwarna pink itu, matanya tertuju pada lemari kaca yang semuanya terisi Jersey Manchester United.


"Jadi ini koleksi jersey kamu ya?" Tanya Radit sembari mendekati lemari kaca berukuran sedang itu.


"Iya." Jawab Khaira sambil menganggukkan kepalanya.


"Banyak banget ini." Radit merasa heran dengan puluhan jersey yang tergantung di dalam lemari kaca itu.


"Iya, karena aku beli jersey home, away, hingga jersey keeper-nya." Sahut Khaira yang juga mendekati lemari kaca yang khusus berisi jersey itu.


"Dari semua ini mana yang paling kamu suka?"


"Semua sukalah, kan aku pendukung Manchester United. Tetapi, paling memorable tetap Jersey Threble Winner (istilah saat sebuah tim yang berhasil mendapatkan tiga piala kejuaraan utama pada satu periode, biasanya satu musim pertandingan)."


Puas mengamati puluhan jersey, Radit pun berjalan pelan-pelan mengamati rak buku berukuran besar di sudut kamar Khaira itu. Saat Radit mengamati buku-buku itu, pintu kamar terbuka Bunda Dyah datang membawa minuman untuk Khaira dan Radit.


"Pertama kali masuk kamar Khaira ya Dit? Jangan bingung ya Dit, ini bukan kamar tapi museum." Ucap Bunda Dyah yang membuat Radit tersenyum.


"Tapi ini seru Bunda. Banyak banget bukunya." Ucap Radit terperangah melihat ratusan buku yang berada di rak buku itu.


"Khaira suka baca buku anaknya, Dit. Sejak kecil dia suka baca buku. Iya kan Khai? Setelah menjadi istri kamu sukanya apa Khai?" Tanya Bunda Dyah sembari tertawa melihat wajah Khaira.


"Suka merencanakan masa depan Bunda."


Mendengar jawaban Khaira, Bunda Dyah justru tertawa. Ia tak menyangka anaknya akan menjawab seperti itu.


"Kamu bisa aja Khai... Ya udah istirahat dulu aja, masih jam 11 juga. Santai aja ya Dit, anggap rumah sendiri." Ucap Bunda Dyah sembari meninggalkan kamar Khaira.

__ADS_1


"Iya Bunda. Makasih." Jawab Radit. Namun, pria itu masih terheran melihat banyaknya jumlah buku yang berada di rak buku itu. Dari buku sejarah, pendidikan, hingga ensiklopedia ada.


"Ini rak buku atau toko buku sih, lengkap banget." Gumam Radit dalam hati sembari sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.


__ADS_2