
Radit membuka mata di pagi hari, merasai hangatnya sinar matahari yang perlahan menyapa, memberi kesan hangat, hingga sedikit menyilaukan matanya yang masih terpejam.
Dengan mata yang masih terpejam, Radit mengerjap, tangannya bergerak mencari keberadaan seseorang yang selalu terbaring di sisinya. Sayangnya, sosok yang ia cari yang terbiasa berbaring di sisinya tidak ada.
Di mana Khaira? Radit akhirnya langsung terduduk, menguap, lalu mengucek kedua matanya. Begitu matanya bisa melihat dengan jelas, ia mendapati sosok yang ia cari tengah berdiri di dapur.
"Sayang...." Panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hmm, di sini!" Sahut Khaira.
Perlahan Radit berdiri, ia merapikan dahulu tempat tidurnya membenarkan posisi bantal, menarik rapi bed covernya, lalu ia mulai berjalan menghampiri Istrinya yang tengah berada di dapur.
Pemandangan Khaira yang tengah berkutat di dapur, wanita itu berdiri di depan kompor, sibuk dengan spatula dan teflon di tangannya. Namun pemandangan itu begitu menyilaukan Radit, membuat rasa kantuknya hilang seketika.
Dengan rambut yang tercepol ke atas hingga memperlihatkan leher jenjangnya, membuat Radit mengerjapkan matanya. "Pemandangan indah di pagi hari," gumamnya dalam hati, lalu ia melempar senyuman kepada Khaira.
Penampilan Khaira khas bangun tidur, benar-benar seadanya, tetapi entah mengapa pemandangan indah di pagi hari ini, merupakan pemandangan indah di setiap pagi bagi Radit.
Begitu langkah kaki Radit mendekat ke dapur, Khaira yang tengah memotong beberapa sayur di telenan, ia melirik sekilas kepada suaminya. "Sebentar ya...." ucapnya dengan tersenyum kepada suaminya.
Tangannya begitu lihai menggunakan pisau, sembari tangan satunya mengendalikan teflon yang berada di atas kompor api. "Duduk dulu aja Mas. Lima menit lagi jadi kok."
Bukan menanggapi atau pun membantu, Radit justru memeluk Khaira dari belakang. Mendekapnya. Membuat Khaira menghela nafas dan membeku seketika. Dengan wajahnya yang bersemu merah, Khaira melirik Radit. "Cuci muka dulu Mas, biar pas waktunya. Pas matang."
Radit masih terdiam, ia justru meletakkan dagunya di bahu Khaira. Matanya mengamati setiap pergerakan tangan Khaira, seolah kedua tangan itu bergerak silih berganti, dari memotong sayuran, menuang olive oil, bahkan mengendalikan teflon di atas kompor api.
__ADS_1
"Hmmm, keliatannya enak. Aromanya harum." sengaja ia berbicara tepat di depan telinga Khaira, yang membuat badannya meremang.
Refleks. Khaira mengedikkan bahunya, memusatkan seluruh perhatiannya dengan menu sarapan yang tengah dibuatnya.
"Jangan macem-macem ya Mas, aku pegang pisau loh ya ini ... Biarkan aku masak dulu ya, biar kita berdua bisa sarapan." ucapnya dengan penuh penekanan dan sedikit menggerakkan pisau di tangannya.
"Sekarang ancaman Istriku tambah serem deh, karena pakai pisau. Jadi takut." Radit terkekeh, lalu mencuri satu ciuman di pipi Istrinya.
Cup.
"Morning Wifey, aku cuci muka dulu."
Meninggalkan Khaira yang masih berkutat di dapur, Radit sedikit berlari ke kamar mandi. Sementara Khaira hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum melihat polah tingkah suaminya itu.
Salad sayuran dengan olive oil, pancake stroberi, dan omelette sudah tersaji sebagai menu sarapan mereka. Tidak lupa dua cangkir cokelat panas dengan asap yang masih mengepul, melengkapi sarapan mereka pagi itu.
"Breakfast time. Waktunya sarapan ... Selamat makan." ucap Khaira ketika melihat senyuman di wajah Radit.
"Makasih Sayang...." Radit menjawab dengan ucapan terima kasih, lalu ia duduk dan menikmati menu sarapan hasil kreasi chef tersayangnya, yaitu Istrinya sendiri.
"Hari ini kuliah jam berapa Sayang? Pulang jam berapa? Mau ke Perpustakaan lagi hari ini?" Radit mencecar Khaira dengan pertanyaan yang hampir sama setiap paginya. Pertanyaan yang nyaris selalu ia tanyakan setiap hari.
Khaira mengangguk. "Iya, aku ke Perpustakaan lagi ya Mas, aku ngerjain Thesis di sana. Kalau ngerjain di rumah yang ada bukan aku ngerjain, malahan aku dikerjain."
Radit tertawa mendengar ucapan Khaira. "Kamu bisa aja sih." Dengan menyuapkan omelette ke dalam mulutnya, Radit kembali mengeluarkan suaranya. "Dikerjakan yang rajin ya, kamu pasti bisa. Aku supporter garis kerasmu loh. FBK." ucapnya sembari mengerlingkan satu matanya.
__ADS_1
"FBK? Maksudnya?" Khaira merasa bingung, ia hanya memincingkan matanya.
"Fans Berat Khaira." ucapnya sembari tertawa, hingga pria itu memegangi perutnya yang terasa sakit lantaran begitu bahagianya menjahili Istrinya.
"Awas ya kamu, Mas." Sambil menodongkan garpu ke arah Suaminya. "... kalau ngomong kok aneh-aneh sih. Masih pagi juga udah aneh-aneh."
Radit masih terbahak dalam tawanya, "Enggak Sayang, Please. Aku enggak aneh-aneh kok. Udah ya, kita lanjutin sarapannya ya ... abis ini aku anterin ke kampus."
Disertai berbagai obrolan dan canda tawa, dua sejoli itu menghabiskan sarapannya hingga tandas. Usai perut kenyang, Khaira pun bersiap berangkat ke kampusnya. Kini Khaira tengah berada di depan meja riasnya, wanita itu hanya mengoleskan make up tipis, dan mengolesi bibirnya dengan lipbalm supaya tidak kering. Sementara Radit hanya duduk di tempat tidur mengamati Istrinya yang tengah bersolek.
"Mau pakai lipbalm Mas? Biar bibir kamu enggak kering." Khaira melihat Radit dari pantulan cermin di depannya dan tangannya mengangkat sebuah lipbalm.
Radit menggelengkan kepalanya. "Masak cowok pakai lipbalm sih? Bukannya itu untuk cewek ya?"
"Cowok boleh juga memakai lipbalm kok Mas. Kayak aktor-aktor Korea itu make lipbalm. Eh, malahan pakai lipstick juga, bedak, alis mata, dan lainnya. Make up bisa selalu on, aku aja sampai kalah." ucap Khaira sembari terkekeh dan menyisir rambutnya.
Radit hanya mengedikkan bahunya, "Ya kan di Korea sana make up itu untuk pria dan wanita. Di Indonesia kalau pria bermake-up malahan enggak wajarkan. Tapi, kamu gitu aja udah cantik kok. Apalagi wajah kamu sehabis bangun tidur, itu paling cantik menurutku."
Radit yang semula duduk, kini perlahan ia berdiri. Dengan sedikit membungkuk, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Khaira, pria itu berkata. "Aku tahu cara lain yang efektif untuk memakai lipbalm."
Dalam seper sekian detik, bibir Radit menempel di bibir Khaira.
Cup.
Usai itu Radit menarik kepalanya, menjauh dari Khaira. "Efektif kan? Cara baru memakai lipbalm nih." Pria itu lalu menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya. "Hmm, lembap juga."
__ADS_1
Khaira memutar bola matanya dengan malas. "Kamu emang modus ya. Suami modus." suaranya terdengar galak. "Udah yuk, berangkat Mas. Takut telat."
Radit dan Khaira keluar dari apartemen, kembali menyusuri jalanan yang hampir ia lewati setiap hari. Pria itu dengan setia mengantar dan menjemput Istrinya kuliah. Bukan dengan mobil atau sepeda motor, tetapi berjalan berdua, bergandengan tangan, sembari bercerita. Kegiatan pagi yang rutinitasnya yang sederhana dan biasanya nyatanya membingkai indah kehidupan rumah tangga Radit dan Khaira.