
Menjelang proses persalinan, ada satu kegiatan yang tidak boleh dilupakan oleh para ibu hamil yaitu mempersiapkan tas yang berisi kebutuhan ibu dan bayi saat berada di Rumah Sakit nanti. Sehingga, saat gelombang kontraksi itu datang, para Ibu tinggal mengangkat saja tas yang sudah tersedia. Tidak perlu repot-repot mengisi lagi dengan berbagai peralatan di saat gelombang kontraksi datang.
Khaira pun juga tengah menyiapkan sebuah tas yang akan dia isi dengan berbagai keperluan untuk si baby nanti. Bahkan, wanita hamil sudah membuat cek list apa saja yang harus dia bawa ke Rumah Sakit nanti. Perencanaan yang matang tentu jauh lebih baik, meminimalisir supaya tidak terjadi kesalahan dan barang yang dia butuhkan sudah siap sedia.
Seperti hari ini, ditemani dengan Arsyilla, Khaira mulai memasukkan berbagai peralatan si baby ke dalam sebuah koper. Mulai dari pakaian bayi, handuk, kain bedong, topi untuk bayi, sarang tangan dan sarung kaki, hingga peralatan mandi bayi. Sementara masih ada tas khusus lagi yang berisikan peralatannya mulai dari baju ganti yang berbentuk kemeja sehingga memudahkan untuk menyusui, diapers celana dewasa yang bisa dia kenakan usai melahirkan karena masa nifas pun datang, pumping elektrik, dan juga beberapa pakaian untuk suaminya yang akan menemaninya di Rumah Sakit.
“Mama, kenapa kopernya diisi Ma?” tanya Arsyilla yang tertarik dengan Mamanya yang tengah memasukkan berbagai barang ke dalam koper.
Khaira pun mengangguk, “Iya Sayang … ini nanti Mama bawa ke Rumah Sakit saat melahirkan adik bayi nanti. Saat Mama akan melahirkan nanti, Syilla ikut Nenek dan Eyang dulu ya, nanti kalau adiknya sudah lahir, Syilla bisa ke Rumah Sakit sama Eyang dan Nenek. Oke?” jelas Khaira kepada putrinya itu.
“Kalau Syilla kangen sama Mama gimana?” tanya Arsyilla yang seolah-olah merajuk kepada Mamanya itu.
Khaira pun tak kuasa menahan air matanya, hatinya pun terasa sedih jika harus meninggalkan Arsyilla. Akan tetapi, dia tidak mempunyai pilihan lain. Selain Rumah Sakit memang tidak baik bagi anak-anak, dia pun bisa lebih fokus menghadapi persalinannya. Air matanya pun luruh seketika.
“Mama juga pasti kangen sama Syilla, cuma paling tidak Mama butuh waktu satu hingga dua hari untuk melahirkan adik bayi. Nanti kalau Mama sudah sehat, adik bayinya ini sudah lahir, Kakak Syilla boleh deh mengunjungi Mama ke Rumah Sakit sekaligus jemput Mama. Gimana Sayang?” tanya Khaira yang sembari menyeka air matanya yang sudah luruh membasahi wajahnya.
Mendengar penjelasan dari Mamanya, rupanya Arsyilla juga turut meneteskan air matanya dan berhambur dalam pelukan Mamanya itu. “Iya Ma … nanti Syilla videocall kalau Syilla sudah kangen Mama ya.” jawabnya dengan begitu polosnya.
__ADS_1
“Iya Sayang … nanti Mama juga akan videocall kamu. Makasih Sayang sudah selalu menyayangi Mama.” ucapnya sembari memeluk Arsyilla dan mendaratkan ciumannya di kening Arsyilla.
Arsyilla pun mengangguk dan menyandarkan kepalanya di dada Mamanya itu, “Syilla sayang Mama.”
“Mama juga sayaaannggg Syilla.” balas Khaira.
Usai berpelukan, keduanya lantas mempersiapkan kembali dengan tas dan peralatan yang akan Khaira bawa. Merasa semuanya sudah siap, Khaira kemudian membawa tas dan kopernya itu ke kamarnya. Suatu saat jika tanda-tanda persalinan kian dekat, suaminya tinggal mengangkat dan memasukkan tas-tas itu ke dalam mobilnya.
...🌺🌺🌺...
Sore harinya, Khaira dan Arsyilla menyambut kedatangan suaminya yang baru saja pulang dari kantor. Kedua wanita berbeda usia itu tampak tersenyum lebar sembari membukakan pintu hampir setiap sore untuk Papa Radit.
“Papa, tadi Syilla bantuin Mama mempersiapkan tas dan koper saat melahirkan adik bayi nanti.” cerita Arsyilla secara tiba-tiba kepada Papanya yang baru saja datang.
“Benarkah?” tanya Radit kepada Arsyilla.
Gadis kecil itu pun mengangguk, “Iya Pa … ada dua tas loh. Tas yang berisi semua milik adik bayi. Terus ada satu tas yang berisi perlengkapan Mama dan ada bajunya Papa juga.”
__ADS_1
Rupanya Arsyilla masih begitu excited dan menceritakan kegiatannya di siang hari bersama Mamanya. Bahkan mata bening gadis kecil itu seakan berbinar bisa menceritakan kegiatannya kali ini yang membantu Mamanya packing.
“Kata Mama, persiapannya harus matang, Pa … jangan sampai ada yang ketinggalan karena jarak rumah ke Rumah Sakit jauh. Nanti kalau Syilla kangen Mama, Syilla akan videocall Mama ya, Pa. Telepon ke handphone Mama atau Papa ya ...” cerita Arsyilla lagi yang seolah mengulang kembali memorinya di siang hari tadi bersama Khaira.
Radit pun sedikit berjongkok guna mensejajarnya dirinya dengan Arsyilla, tangan kanannya membelai lembut puncak kepala Arsyilla dengan penuh sayang.
“Terima kasih ya Sayang … kamu sudah membantu Mama untuk menyiapkan semuanya. Iya, tidak lama lagi adik bayinya akan lahir. Syilla senang enggak jadi Kakak? Akan ada anggota baru di rumah ini, dia adalah adik kamu. Senang kan?” tanya Radit dengan begitu lembut.
Arsyilla kemudian mengangguk, “Senang Pa … kan Syilla mau jadi Kakak. Penting di Rumah Sakitnya jangan lama-lama ya Pa. Kata Mama, nanti kalau Mama sudah sehat dan adik bayi sudah lahir, Syilla boleh menjenguk Mama bersama Nenek dan Eyang.”
“Iya Sayang … nanti Papa juga akan menemani Mama saat bersalin nanti ya. Biar Mama semangat karena ada Papa yang selalu menjagai Mama. Adik bayinya juga senang karena begitu dia lahir disambut oleh Mama dan Papanya. Dulu Syilla juga begitu, waktu Syilla lahir, Papa dan Mama yang menyambut Syilla dengan penuh syukur dan bahagia.” Kali ini Radit yang memberikan penjelasan kepada Arsyilla.
Sekaligus dia ingin memberitahukan bahwa dirinya juga harus mendampingi Khaira saat proses melahirkan nanti. Sebab, dia tidak akan membiarkan istrinya berjuang di ranjang kesakitan seorang diri. Dia akan menemani proses demi proses yang harus dijalani istrinya hingga bayi kecil mereka lahir. Itu adalah komitmen Radit kepada dirinya sendiri dan kepada istrinya.
“Iya Pa … penting Papa dan Mama jangan lama-lama ya, kan Syilla kangen sama Papa dan Mama.” ucapnya lagi yang mengatakan rasa kangennya bila harus ditinggal terlalu lama.
Radit pun kemudian mengangguk, “Tidak akan lama Sayang … paling tidak hanya membutuhkan waktu 1 hingga 2 hari saja kok. Kalau Mama sehat, justru besoknya Syilla bisa ke Rumah Sakit sama Nenek dan Eyang buat jenguk Mama dan membawa Mama pulang ke rumah. Okay?”
__ADS_1
“Iya Pa … Mama jangan sakit ya Ma, ada Syilla yang akan menjaga Mama. Syilla sayang Mama. I Love U, Ma …” ucap Arsyilla dengan matanya yang terlihat begitu berbinar.
Khaira pun tersenyum dan mengangguk, “I Love U Too, Syilla Sayangnya Mama.”