
Pada malam hari, sesuai dengan permintaan Bumil yang menagih janji dari suaminya untuk mengajaknya jalan-jalan malam di Malioboro sembari nongkrong di Angkringan
Radit pun akhirnya menepati janjinya kepada Khaira dengan catatan istrinya tidak diperbolehkan mengenakan dress, harus memakai celana panjang ala ibu hamil dan mengenakan jaket supaya tidak masuk angin.
Menurut. Khaira telah bersiap menggunakan celana panjang khusus ibu hamil, kaos oblong biasa, dan jaket milik suaminya.
Dengan mobil yang dipinjam milik kerabatnya, Khaira dan Radit menyusuri suasana malam di kota Gudeg itu.
Kini mereka telah tiba di Tugu Jogja, sebuah monumen yang sering juga disebut sebagai Tugu Pal Jogjakarta. Monumen ini menjadi salah satu ikon Kota Jogjakarta, sekaligus memiliki nilai simbolis yang merupakan garis yang bersifat magis yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi.
Dari Tugu ini, kemudian mereka berdua mencari tempat parkir, dan berjalan-jalan malam di Malioboro, pusat belanjaan batik dan oleh-oleh di Jogjakarta. Suasana malam di Malioboro justru terlihat epic. Pedagang yang berjualan di sepanjang jalan trotoar, pembeli yang berjalan silih berganti, bau kain khas batik yang memiliki aroma tersendiri, dan musisi jalanan yang menyanyikan berbagai lagu yang justru membuat Kota itu seakan tidak tertidur di malam hari.
Begitu turun mobil, mereka berdua berjalan di sepanjang trotoar sambil bergandengan tangan. "Suka Sayang?" tanya Radit sembari mengeratkan genggaman tangannya di tangan Khaira.
Khaira tersenyum dan menoleh pada suaminya itu. "Suka banget, Mas..." Khaira menjeda sejenak ucapannya. "Terima kasih udah tepatin janji kamu dulu ke aku. Seneng banget deh rasanya bisa ke Malioboro malam-malam begini." ucapnya dengan menyandarkan kepalanya ke lengan kokoh milik suaminya.
Radit pun sambil berjalan juga mencerukkan dagunya ke puncak kepala istrinya itu. "Aku bahagia bisa tepatin janji aku ke kamu. Sayang, kamu emang enggak capek? Dari Jakarta sampai sekarang kamu belum istirahat. Jalan-jalannya gak usah sampai Monumen Serangan Umum Satu Maret yang berada dekat Titik Nol Kilometer ya. Kalau capek putar balik aja, aku enggak mau kamu kecapean. Ingat ada Baby A di sini." ucap Radit mengkhawatirkan kondisi istrinya dan satu tangannya mengelus perut istrinya itu.
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya Maskuw... Kalau capek aku bakalan bilang kok. Baby A aja malahan seneng banget diajakin jalan-jalan ke Jogjakarta. Kota asal Kakek Wibi ya, Nak...." ucap Khaira sembari mengelus perutnya yang membuncit itu.
Keduanya masih berjalan dengan melihat-lihat berbagai barang yang dijual di sepanjang jalan Malioboro itu ada Batik, Bakpia, Blangkon, Kaos Dagadu, dan berbagai barang lainnya.
__ADS_1
"Kamu mau beli sesuatu Sayang? Beli aja kalau pengen sesuatu. Jangan hanya diam atau nahan-nahan, aku seneng bisa beliin sesuatu buat kamu." ucap Radit yang menawarkan istrinya untuk membeli jika memang ada yang diinginkan.
"Beli kaos Dagadu couple mau Mas? Belum punya kan kita kaos couple." ucapnya sambil mengedipkan matanya.
"Iya boleh, yuk..." Radit mengiyakan, lalu membawa istrinya ke stand Kaos Dagadu yang berada di jalan Malioboro.
Keduanya memilih Kaos Dagadu berwarna hitam dengan cetakan sablon "Goedeg Map." Keduanya lantas tertawa usai membeli kaos couple itu. "Alay enggak sih Mas?" tanya Khaira sembari tertawa pada suaminya.
Radit menggelengkan kepalanya. "Enggak, romantis malahan. Roman-romannya kayak remaja yang baru pacaran pake barang couple ya Sayang." sahutnya sembari turut tertawa.
"Mas, Blangkon (tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa) itu lucu ya. Kalau Baby A cowok, aku beliin. Pasti lucu foto pake Blangkon. Baby A cewek sih." ucapnya sembari menunjuk jejeran Blangkon yang dijual di situ.
"Iya lucu. Apa kamu beliin aku aja? Nanti aku pakai Blangkonnya gimana?" tawar Radit.
Radit tertawa, "Jadi, aku cakep ya Sayang?" tanya sembari mengedipkan matanya.
Khaira pun turut tertawa. "Cakep sih, tapi cakepnya pas sama aku aja."
Begitu gemasnya Radit, rasanya ingin sekali mencubit hidung istrinya itu.
Puas berjalan-jalan di Malioboro, keduanya lantas menuju salah satu Angkringan legendaris yang berada di dekat Stasiun Tugu yaitu Angkringan Lek Man. Salah satu yang membuat Angkringan Lek Man sangat hits di Jogjakarta adalah sajian Kopi Joss yang merupakan menu minuman spesial yang dijajakan di sana. Sumber dari tradisi lisan beberapa masyarakat di Jogjakarta, Lek Man adalah Putra dari Mbah Pairo yang merupakan pedagang Angkringan pertama di Jogja yang berjualan pada tahun 1950an. Karena kelegendarisannya inilah Angkringan Lek Man tak pernah sepi pengunjung. Ditambah letaknya sangat strategis yaitu di dekat Stasiun Tugu membuat banyak pelancong mampir sejenak di Angkringan Legendaris ini.
__ADS_1
Keduanya duduk beralaskan tikar di trotoar, mendengar beberapa pengamen jalanan yang silih berganti. Ditemani nasi Kucing, jahe gepuk, serta berbagai gorengan khas Angkringan seperti Mendoan, Bakwan, Tape Goreng, dan aneka makanan lainnya.
Khaira mengambil dua bungkus nasi kucing. Nasi dengan sedikit ikan bandeng dan sambal itu terasa sangat enak di lidah Khaira. "Kesampean Mas, makan Nasi Kucing di Angkringan. Makasih ya Mas, udah nurutin BM nya aku." ucapnya sembari membuka bungkusan nasi yang kedua.
"BM itu apa Sayang?" tanya Radit.
"Banyak Mau, Mas..." Wanita hamil itu terkekeh geli sembari memukul lengan suaminya.
"Buat kamu dan Baby A, aku enggak masalah. Selama aku bisa aku pasti wujudkan buat kalian berdua." ucap Radit dengan tulus.
Khaira menganggukkan kepalanya, sesekali ia mencuri pandang pada suaminya itu. "Makasih Papa...." ucapnya sembari tersenyum pada suaminya.
Duduk berdua merasakan angin malam Kota Jogjakarta yang terasa sepoi-sepoi, kendaraan yang hilir mudik, serta beberapa Kereta Api yang melewati Stasiun Tugu, dan musisi jalanan yang menghibur dengan suara emas mereka. Radit dan Khaira menikmati malam yang indah di Jogjakarta.
"Besok mau ikut Ayah dan Bunda atau mau jalan sendiri Sayang?" tanya Radit di sela-sela waktu bersantai mereka.
"Mas, ke Candi Prambanan yuk? Dulu waktu kecil kita pernah ke sana kan? Ke sana lagi mau?" tanya Khaira kepada suaminya.
Radit tersenyum memandangi istrinya yang kini asyik menyeruput Jahe Gepuk yang masih panas itu. "Kamu suka banget nostalgia sama aku ya Sayang?"
"Emang gak boleh aku napak tilas kenangan kita berdua waktu kecil?" tanya Khaira.
__ADS_1
"Boleh ... pasti boleh kok. Tapi agak sore aja ya, kita lihat Sunset di sana. Mau kan?"
Langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, aku mau Mas...."