Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Karena Cinta Butuh Bukti


__ADS_3

Jika ada orang yang mengatakan bahwa cinta itu buta, tetapi semua itu tidak berlaku bagi Khaira. Sebab, baginya dia membutuhkan bukti nyata dari sebuah ungkapan cinta. Baginya cinta bukan sekadar di mulut saja. Terlebih dengan pengalaman masa lalu yang penuh dengan derai air mata, tentu saja Khaira seolah memasang benteng pertahan di dalam hatinya sendiri. Sebesar apa pun cintanya untuk sang suami, tetapi dia tak mau harus menerima perlakuan suaminya jika saja berlaku tak setia. Bagi Khaira, komitmen penuh dalam membangun rumah tangga itu bersifat mutlak, dia tidak akan membangun sebuah rumah tangga tanpa komitmen penuh dari pasangan suami dan istri.


Sekalipun dalam hatinya, Khaira sangat tahu bahwa mungkin saja Radit menemui Fanny untuk mengusir wanita itu, tetap saja dia merasa kecewa dengan suaminya. Akan tetapi, sama seperti medan magnet dengan kutub yang berbeda yang saling tarik-menarik, Khaira pun akhirnya luluh juga dengan ucapan suaminya itu.


“Aku pegang omongan kamu ya Mas, sekali lagi aku memergoki kalian, entah itu benar atau salah, aku minta kamu cari pekerjaan yang lain. Sampai Pluto pun enggak masalah.” ucapnya sembari masih mencoba mengurai pelukan dari suaminya itu.


Radit justru tertawa mendengar ucapan istrinya itu, “Yakin? Kamu rela kalau aku terlempar keluar dari luar tata surya ini Sayang? Aku tuh gak bisa Sayang. Kamu pusat hidupku. Sama seperti matahari yang menjadi pusat dari seluruh tata surya, aku pun seperti itu. Kamu sudah seperti matahari bagiku, dan aku akan terus berotasi mengelilingi.” ucapnya sembari terus meyakinkan istrinya yang sedang dalam mode marah itu.


“Gombal. Gak ngaruh.” Khaira masih saja menjawab dengan nada yang jutek.


“Ya sudah … aku enggak gombal kok. Aku akan benar-benar buktikan kalau aku ini enggak gombal. Cintaku ini penuh dengan bukti yang valid.” ucapnya sembari mencuri ciuman di pipi istrinya.


“Isshhs, jangan cium-cium. Nyebelin.” ungkap Khaira lagi.


Setelah itu Khaira benar-benar mengurai belitan tangan suaminya itu dan dia lebih memilih naik ke atas tempat tidurnya. Rasanya empuknya ranjang berukuran super king size itu seolah menyuruhnya untuk segera merebahkan diri dan bergelung di bawah seluruh bermotif floral yang begitu tebal dan halus itu.

__ADS_1


Sementara Radit pun mengekori istrinya itu, pria itu turut berbaring di sisi istrinya. “Kamu mau tidur sekarang Sayang? Baru juga jam delapan malam. Masih banyak loh yang bisa kita lakukan bersama.” ucapnya sembari memeluk istrinya dari belakang.


Tidak ada jawaban, yang ada justru Khaira sudah memejamkan matanya. Bukan karena ingin menghindari suaminya, tetapi dia benar-benar merasa lelah seharian. Ditambah usia kehamilannya yang semakin bertambah, memang membuat wanita itu merasa lebih lelah.


Menunggu, tetapi Khaira tetap tidak membuka matanya. Radit perlahan-lahan mulai bersuara, “Sayang … kamu ingat enggak, dulu awal nikah, kita pernah menginap di rumah Bunda Ranti dan Ayah Wibi. Saat itu aku seneng banget, bisa tidur satu ranjang sama kamu. Mencium wanginya aroma tubuhmu. Bahkan tanpa sadar, tangan kita saling memegang satu sama lain. Kemudian, waktu hubungan kita memburuk, aku menyusulmu hingga ke Manchester, aku masih ingat, pertama kali kita tidur satu ranjang saat musim salju turun di Manchester waktu itu. Aku bukan lagi Radit yang dulu Sayang. Aku sadar kalau kamu adalah tulang rusukku, kamu yang melengkapi aku.” ucapnya sembari menyadarkan kepalanya di head board.


“Semua itu bukti cintaku padamu. Aku tahu, kamu adalah wanita yang sangat realistis, ku harap semua yang sudah kulakukan bisa menjadi bukti nyata bahwa aku benar-benar mencintaimu. Dulu, sekalipun kita tidur satu ranjang, mana pernah aku melewati batasku. Itu kulakukan karena cintaku ini benar-benar menjaga dirimu. Aku tidak pernah memaksamu hanya sekadar memuaskan keinginanku. Seumur hidup, aku akan selalu buktikan kalau Radit ini benar-benar hanya untukmu.” ucapnya sembari menyentuh bahu istrinya.


Diam, bukan berarti tidur. Itu yang Khaira lakukan. Dia bisa mendengar semua ucapan dari suaminya itu. Sontak saja, buliran air mata menetes begitu saja dari sudut matanya. Bukan air mata kesedihan, tetapi air mata bahagia, ya Khaira dapat merasakan bahwa Radit benar-benar mencintainya.


Lalu, pria itu benar-benar merebahkan dirinya dan kali ini dia memilih untuk memunggungi istrinya. Memberi istrinya itu waktu untuk mengelola emosinya, karena emosi pun perlu dikelola dengan tepat dan sehat. Radit hanya percaya, jika istrinya sudah jauh lebih baik maka dia akan sukarela datang kepadanya dan kembali memeluknya.


Beberapa menit berlalu, dan suasana di kamar itu terasa begitu sepi. Tidak ada tubuh dan tangan yang hangat yang selalu memeluknya sepanjang malam hingga pagi menjelang. Ada berbeda malam itu, hingga perlahan Khaira memilih beringsut, dia menggerakkan lehernya sejenak, lalu melihat suaminya yang tidur memunggunginya.


Wanita itu bergumam dalam hati, “Baru beberapa menit berlalu, dan aku sudah kangen sama kamu, Mas. Mana bisa aku marah-marahan sama kamu kayak gini. Aku sebenarnya percaya, kamu tidak akan macam-macam. Aku saja yang terlalu emosi melihat perempuan genit itu.”

__ADS_1


Khaira menghela napasnya sejenak, kemudian dia memilih untuk kembali berbaring, tetapi kali ini dia justru memilih mendekap erat suaminya itu dari belakang. Benar-benar konyol rasanya, dia yang memilih untuk diam, tetapi hanya beberapa menit berselang, dia sendiri yang datang dan memeluk suaminya. Hidungnya bahkan mengendus-endus, menghirupi aroma woody favoritnya yang begitu segar dan menenangkan di badan suaminya itu. Tangannya bergerak melingkari dada hingga perut suaminya.


“Mas, aku kangen.” ucapnya dengan begitu lirih.


Tanpa Khaira sadari, sebenarnya Radit pun belum tidur. Alih-alih bangun, pria itu justru tersenyum saat tangan istrinya telah mendekapnya dari belakang. Benar-benar perilaku yang unik, hanya beberapa menit berlalu, istrinya itu memang tidak bisa memasang mode silent untuk waktu yang lama dan Radit justru menyukainya.


“Aku tahu, Mas … semua yang kamu lakukan itu adalah bukti kalau kamu benar-benar cinta sama aku. Hanya saja sebagai seorang Istri, aku tidak suka saat ada wanita lain yang genit seperti itu kepada suamiku. Aku bela-belain bikin Brownis kesukaanmu dan mengantar Arsyilla untuk ketemu Papanya, tetapi di sana justru ketemu sama wanita itu. Sebel banget.” ucapnya lirih sembari menautkan kepalanya di punggung suaminya itu.


“Aku datang ke kantormu buat memberimu kejutan, justru aku yang dapat kejutan. Aku benar-benar gak suka.” kali ini Khaira berkata dengan jujur. Rasa tidak sukanya, dia ucapkan.


“Aku bukan malaikat, Mas … aku manusia, aku bisa tidak suka dengan sesuatu, dan aku sangat tidak suka jika ada wanita yang ganjen pada suamiku. Jadi, aku mohon ketegasanmu sebagai seorang pria, sebagai seorang suami, dan sebagai seorang Papa. Tutup semua celah, dan jangan pernah bermain api jika kamu tidak ingin terbakar seorang diri.” ucap Khaira kali ini. Usai mengucapkan semua itu, Khaira lantas hendak berbalik untuk arah yang berlawanan, kembali memunggungi suaminya.


Wanita itu hendak menarik tangannya yang masih melingkari dada dan perut suaminya itu, saat Khaira ingin menarik tangannya, rupanya ada tangan Radit yang terlebih dahulu menahan. Ya, pria itu menahan tangan Khaira.


Sebuah tindakan yang membuat Khaira kaget, ternyata memang suaminya belum tidur. Itu berarti Radit mendengarkan semua yang Khaira ucapkan. Namun, kali ini Khaira memilih diam, mencoba menarik tangannya kembali pun rasanya tidak akan berhasil.

__ADS_1


Beberapa menit, Khaira hanya menghela napasnya, hingga sebuah suara sayup-sayup terdengar di telinganya, “Aku juga kangen kamu, Sayang … kangen banget.”


__ADS_2