
Keesokan harinya, menjelang siang hari barulah Radit, Khaira, dan Arsyilla berpamitan dengan Bunda Dyah dan Ayah Ammar. Mereka akan kembali ke rumah mereka. Lagipula, hanya dengan menginap satu malam saja rasanya sudah cukup mengobati rasa rindu Khaira dengan orang tua dan juga kamarnya. Bahkan, sepanjang malam banyak juga yang dia obrolkan dengan suaminya tentang masa remajanya dulu, tentang koleksinya di kamar, dan tentang kisah mereka di Manchester.
Bagi Khaira, suaminya itu memang teman mengobrol yang sefrekuensi dengannya, apa pun bisa dia ceritakan kepada suaminya. Pun demikian dengan Radit, dia pun merasa nyaman untuk berbicara apa pun kepada Khaira. Sebab, sebuah hubungan pernikahan dalam membangun rumah tangga bukan sekadar kebutuhan batiniah semata, banyak hal yang bisa dilakukan pasangan suami istri untuk saling mengisi tangki air cinta mereka.
Hubungan suami istri, obrolan, pelukan hangat, senyuman terbaik, bahkan sapaan sayang semuanya itu berpadu untuk menuju keharmonisan sebuah rumah tangga. Semua saling berhubungan satu dengan yang lain, dan membutuhkan proses seumur hidup untuk bisa menjalaninya.
Sementara itu, saat Khaira dan Radit sudah tiba di rumahnya, tiba-tiba Arsyilla bertanya siapa nama untuk adik bayinya yang berjenis kelamin laki-laki nanti. Arsyilla tampak begitu tertarik dan ingin tahu siapa nama adiknya yang sekarang masih berada di dalam perut mamanya itu.
"Mama, nanti adiknya Syilla namanya siapa Ma?" tanyanya dengan begitu penasaran.
Padahal Radit dan Khaira sendiri sama-sama belum menyiapkan nama untuk bayinya nanti. Jikalau dulu, baru beberapa bulan mengandung Arsyilla, Radit sudah menyediakan sebuah nama. Sementara, sekarang justru mereka sama-sama belum menyediakan nama untuk adiknya Arsyilla nanti.
Khaira pun tersenyum, "Menurut kamu, namanya siapa Syilla?" tanya Khaira kepada Arsyilla.
Tentunya jenis pertanyaan itu bersifat stimulasi supaya Arsyilla mampu berpikir dan mengungkapkan pendapatnya.
"Kalau cewek Aurora saja Ma, kan Syilla suka Putri Aurora. Kalau cowok, sapa ya Ma?" jawabnya dengan begitu lucu dan menggemaskan.
Hanya lantaran Arsyilla menyukai karakter Putri Aurora, maka jika adiknya cewek akan dia namai Aurora, seperti karakter princess favoritnya itu. Khaira pun tertawa mendengar jawaban dari Arsyilla.
"Awalannya huruf A saja Ma ... biar sama kayak aku. Arsyilla, nanti adiknya juga diawali huruf A." pinta Arsyilla.
__ADS_1
Mendengar ucapan Arsyilla, Radit dan Khaira pun saling pandang. Haruskah anaknya yang kedua juga memiliki nama dengan berawalan huruf A?
"Nama dengan awalan huruf A untuk cowok yang bagus siapa Sayang?" tanya Khaira kepada putrinya itu.
"Aksara, Ma ... biar kayak Kak Aksara." jawabnya dengan spontanitas.
Memang demikianlah anak kecil, mereka dengan mudahnya menjawab pertanyaan dengan spontans. Radit dan Khaira pun sama-sama tertawa.
"Itu kan nama Kak Aksara, Sayang ... nanti kalau ketuker waktu manggil nama mereka bagaimana?" tanya Radit kepada Arsyilla.
Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, "Tidak Pa ... kan sekarang saja, Kak Aksara di mana Syilla tidak tahu. Kita juga tidak tahu." jawab gadis kecil dengan raut muka yang justru terlihat sendu.
Menyadari perubahan raut wajah Arsyilla, Khaira pun memeluk anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
Khaira menjelaskan dengan lembut dan hati-hati kepada Arsyilla, berharap penjelasannya bisa melembutkan hati anaknya itu. Bersyukurnya, Arsyilla pun mengangguk.
"Iya Ma ... tetapi nanti nama babynya berawalan huruf A ya Ma." pintanya lagi. "Syilla, mau main boneka ya Ma..." lanjutnya dan memilih bermain boneka di ruangan bermainnya.
Setelah Arsyilla menuju ruang bermainnya, Khaira pun mulai berbicara dengan suaminya itu. "Gimana Mas, tuh Arsyilla sudah request supaya adiknya nanti juga memiliki nama berawalan huruf A seperti dirinya." ucap Khaira yang sembari mengelus perutnya yang kian membuncit setiap harinya itu.
Radit tampak mengernyitkan keningnya, berusaha berpikir dan mencari nama berawalan huruf A untuk putra mereka nanti.
__ADS_1
"Harus A ya Sayang?" tanyanya kepada istrinya itu.
Khaira pun mengangguk, "Sebaiknya iya ... karena itu request dari Arsyilla. Padahal juga, Syilla itu namanya Arsyilla, tetapi orang-orang yang dekat dan sayang padanya akan memanggilnya Syilla loh." cerita Khaira sembari menggelengkan kepalanya.
Radit pun tersenyum, "Iya ... orang-orang yang dekat dan sayang padanya akan memanggilnya Syilla ... bukan Arsyilla." sahut Radit.
Kemudian mulainya pria itu bergumam, "Nama A untuk anak cowok. Ariel? Aaron? Andi? Adam? Abram?"
Lantas pria itu diam dan memandang istrinya sekilas. "Ada yang cocok enggak Sayang?" tanyanya.
Namun, Khaira justru menggelengkan kepalanya, "Enggak ... belum ada yang cocok. Jangan terburu-buru Mas, nama kan doa. Masak iya, kasih nama anak dadakan kayak gini. Kali ini aku menolak kalau kamu kasih nama untuk anak kedua kita dadakan dan asal-asalan. Nama anak kita harus mewujudkan harapan dan doa kita untuknya kelak. Jadi, kali ini jangan dadakan." pinta Khaira dengan serius.
Sebab suaminya itu memang terkadang hobi melakukan sesuatu yang dadakan dan spontanitas, dan kali ini menyangkut nama anak kedua mereka, Khaira tidak ingin jika suaminya memberikan nama dadakan. Hanya karena Arsyilla yang meminta supaya adiknya memiliki nama berinisial A, bukan berarti harus memutuskan dalam waktu sesingkat-singkatnya.
"Cari dulu Mas, pelan-pelan ... jangan gegabah. Yang dadakan biar tahu goreng aja dan kamu, tetapi memberi nama anakku jangan dadakan." keluhnya dengan sungguh-sungguh kali ini.
Sontak Radit pun tertawa, "Kamu ini Sayang ... buat nama anak, tidak seperti tahu bulat yang digoreng dadakan Sayang. Lagian anakmu kan juga anakku, ya sudah ... nanti aku belajar dulu, kalau perlu aku bersemedi biar dapat nama yang cocok untuk anak kita nanti." ucapnya sembari terkekeh.
“Ada-ada saja sih kamu, Mas … tetapi, kan aku serius. Jangan memberi nama asal-asalan. Ya hurufnya A depannya enggak apa-apa. Penting itu dipikirkan dulu. Jangan langsung disebutin satu-satu nama yang berawalan huruf A. Masih ada waktu dua bulan kan, nanti kita sama-sama cari. Dulu, Syilla kan semua nama dari Papanya, kali ini aku juga mau titip nama untuk anakku.” ucap Khaira.
Dulu, saat Arsyilla lahir memang nama lengkap Arsyilla sepenuhnya dari Radit, bahkan Khaira tidak memiliki andil di dalamnya. Akan tetapi, kali ini Bumil tersebut justru tampak ingin memberikan nama juga untuk anak keduanya nanti.
__ADS_1
“Iya Sayang … boleh. Kamu boleh kok berikan nama, tetapi cuma satu kata saja. Karena nama belakangnya akan mengikuti namanya, karena aku Papanya.” jawab Radit dengan serius.
“Iya deh Mas … aku juga sudah tahu, nanti pasti nama belakangnya bakalan ngikuti nama kamu. Nanti kalau aku senggang, aku coba cari-cari nama yang bagus untuk my baby boy nanti.” ucapnya yang terlihat begitu senang karena akan turut andil dalam memberikan nama untuk bayinya nanti.