
Setelah larut dalam euforia Derby Manchester yang panas, membuat Khaira dan Radit sama-sama larut dalam atmosfer panas yang tersaji di Stadion Old Trafford.
Diiringi nyanyian dukung yang begitu lantang dari para supporter yang mengisi Stretford End (Tribun barat di Stadion Old Trafford yang selalu diisi oleh pendukung fanatik Manchester United) yang selalu bernyanyi sepanjang 90 menit pertandingan. Semua penonton larut dalam pertandingan dan suasana panas di Old Trafford.
Sayangnya pertandingan dengan determinasi tinggi itu harus berakhir imbang. Alhasil taruhan keduanya pun tidak ada yang menang karena hasil seri.
"Yah, hasilnya ternyata seri nih Sayang. Gimana dong?" Ucap Pria itu dengan raut wajah yang sedikit kecewa, pasalnya ia sudah merencanakan sesuatu di otaknya andainya ia menang taruhan. Ya, walau pun hanya sekadar untuk seru-seruan saja.
"Kalau aku imbang gak papa sih, karena Manchester United setidaknya enggak kalah. Kan mending imbang masih dapat poin satu deh," ucapnya sembari terkekeh geli.
"Kamunya yang gak papa. Aku nya yang kenapa-napa," jawab Radit dengan menekuk wajahnya.
Khaira terkekeh geli, "Kamu pasti modus ya Mas. Ngrencanain yang enggak-enggak pasti? Udah keliatan banget dari ekspresi mukanya. Untung deh hasilnya imbang, jadi enggak ada yang ngrencanain aneh-aneh deh."
Radit hanya mengangkat satu alisnya. "Enggak dong. Aku kan enggak modus. Ya udah pulang mampir makan atau mau jalan-jalan, atau mau ke Toserba atau ke mana? Yuk, Mas anterin."
Khaira menoleh melihat wajah Radit, senyumnya pun tersungging dari sudut bibirnya. "Keseharian kita juga cuma gitu aja ya Mas. Kalau enggak di apartemen, ya sebatas keluarga makan, ke toserba, gitu-gitu aja. Aku sih termasuk jenis orang yang suka rutinitas, jadi enggak bosen. Tetapi kamu kan enggak kayak aku, jadi mungkin saja bisa bosen banget ngelakuin hal yang sama setiap harinya."
Radit menggelengkan kepalanya. "Enggak. Enggak bosen kok. Lagipula kita dulu menikah juga karena perjodohan, dadakan juga, ya aku menganggap ini proses pacaran kita secara halal. Sayang, misalkan dulu aku enggak nyusulin kamu ke sini, kalau liburan sebulan kayak gini kamu mau pulang ke Jakarta enggak?"
Khaira sedikit memandang Radit, "Mau jawaban yang jujur atau enggak?"
"Harus jujur. Gak papa. Aku dengerin kok," jawabnya dengan wajah penuh keseriusan.
__ADS_1
"Hmm, kalau mau jujur. Liburan pun aku gak akan pulang ke Jakarta. Aku lebih baik di sini. Terus aku mau mengakhiri hubungan kita ini." ucapan Khaira pada kalimat terakhir langsung membuat mata Radit membelalak.
Khaira menghela nafasnya. "Karena banyak syarat dalam hidup rumah tangga kita yang masuk dalam mengajukan gugatan perceraian. Mulai dari salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya Dan antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Ya walau pun kamu tidak meninggalkanku selama 2 tahun, tetapi rasanya rumah tangga kita dahulu gak ada harapan. Jadi gak usah dilanjutkan karena menyakiti banyak pihak, tidak hanya aku dan kamu, tetapi keluarga kita juga."
Radit memandang Khaira. "Aku bakalan hancur banget kalau rumah tangga kita berakhir. Aku bakalan gak bisa Sayang." Hening sejenak. "Untung semua sudah berlalu ya, salah satu yang membuat aku bahagia adalah bisa seperti ini sama kamu."
Dengan tersenyum, Khaira menggenggam tangan Radit. "Itu semua masa lalu, bagian dari cobaan yang Allah berikan pada hamba-Nya. Di masa kini dan masa yang akan datang kita kan sudah saling berjanji untuk saling mengisi satu sama lain. Iya kan?"
"Iya. Makasih ya Honey buat semuanya. Ya udah, mau kemana nih?" Lagi Radit menawari Khaira ingin kemana setelah menonton Derby Manchester.
"Pulang aja Mas, capek aku," ucapnya sembari bergelayut manja di lengan suaminya.
Radit justru senang karena Khaira tidak malu-malu, bisa mengekspresikan perasaannya, dan tentunya membuat pria itu semakin mencintai Istrinya berkali-kali lipat.
Khaira sedikit mengerecutkan bibirnya. "Berdiri aja masih ketutupan sama penonton yang lain Mas, apalagi kalau aku duduk. Yang ada aku cuma liatin punggung orang deh."
Radit terkekeh geli, benar juga apa yang diucapkan Khaira. Apabila ia memilih duduk di tribun, yang akan ia lihat hanyalah punggung-punggung orang. "Bener juga sih Yang, kalau kamu duduk cuma bisa liatin punggung orang. Dan, aku gak terima karena punggung-punggung di depan kamu itu milik cowok semua."
"Ya ampun apa hubungannya punggung sama cowok? Gak ngaruh banget loh Mas."
"Aku maunya kamu cuma liatin aku aja Sayang. Egois ya aku?" Tanyanya sembari terus menggenggam tangan Khaira.
"Gak jelas banget deh. Kamu itu jadi orang yang paling sering aku liat, Mas. 24 jam loh mata ini liat kamu terus. Kurang apa coba?" Khaira sedikit kesal dengan suaminya yang terkadang memang sering membuatnya ngambek.
__ADS_1
"Ya maaf Sayang. Itu karena aku sudah gila. Gila karena kamu. Jadi ya aku jadi seperti ini deh." ucapnya sembari memincingkan matanya.
Khaira menghela nafasnya. "Ihh, cakep-cakep kok gila sih. Untung cakep, kalau enggak ... Gak jadi ding. Sorry-sorry." Khaira tertawa terbahak-bahak membayangkan pria setampan Radit jika benar-benar gila.
"Tuh bahagia kan malahan. Tertawa kayak gini bisa menghasilkan hormon dopamine dalam tubuh yang bisa membuatmu bahagia kok Sayang. Tambah bahagia kalau nanti sudah ada Radit dan Khaira junior. Wah, gak kebayang gimana tambah bahagianya kita ntar."
Khaira mengangguk setuju. "Nanti aku selesai kuliah ini langsung program hamil ya Mas. Tambah lucu dan seru kali ya kalau udah ada baby. Tapi sayangnya aku sama sekali gak pengalaman memegang dan mengasuh baby, karena aku anak tunggal di rumah. Apa aku bisa ya Mas? Kadang aku takut juga karena tidak berpengalaman."
Ragu itulah yang dirasakan Khaira. Merasa tidak punya pengalaman memegang atau mengasuh baby, ada rasa tidak percaya pada dirinya sendiri.
Radit menatap wajah Khaira. "Bisa Sayang, kamu hebat kok. Semua Ibu baru kan begitu, gak punya pengalaman. Tetapi dengan belajar dan terbiasa akhirnya bisa. Bisa! Bisa! Aku yakin kamu akan menjadi Ibu yang hebat untuk anak-anak kita nanti. Iya, nanti kalau udah mau selesai kuliahnya, lepas alat kontrasepsi dulu ya, abis itu kamu cek pemeriksanaan hormon dan skrining torch (adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi adanya Toksoplasmosis, infeksi lain/Other infection, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes simplex virus (disingkat TORCH), pada ibu hamil atau yang berencana hamil, untuk mencegah komplikasi pada janin) ya Sayang disiapin programnya dari awal."
"Iya ... Aku mau ikutin itu Mas."
***
Dear All,
Mau tanya dong, kalian suka enggak dengan cerita ini?
Maunya cerita ini panjang atau enggak?
Silakan kasih saran dan ide di komentar ya....
__ADS_1
Like, komentar, & vote ditunggu😉🥰