
Keesokan harinya dengan kembali menaiki Eurostar Train, Radit dan Khaira kembali ke London.
Rasa capek yang mereka alami nyatanya tidak mengalahkan kebahagiaan yang mereka berdua rasakan, hingga rasa capek dan lelah berpindah kota dengan hanya menggunakan kereta api dan menghabiskan banyak waktu untuk berjalan kaki menguar begitu saja dengan kebahagiaan yang membuncah di hati keduanya.
Rute untuk balik ke London lebih lama, membutuhkan waktu hampir 14 jam dengan Eurostar Train untuk sampai ke London. Kereta api cepat akan tentunya akan transit beberapa kali di Frankfurt dan Brussels.
"Perjalanan masih panjang Sayang, istirahat dulu aja. Masih kecapean enggak?" tanya seraya menggenggam tangan Khaira.
"Hem, kalau capek sih pasti, apalagi kamu malahan nambah-nambahin capek kok." sahut Khaira cemberut.
"Capek tapi enak kan Sayang?" godanya sembari mengerlingkan mata.
"Hushh, jangan bahas begituan Mas, ini transportasi umum. Malu." sebuah cubitan dari Khaira pun mendarat di pinggang Radit yang membuat pria itu mengaduh dan meringis.
"Daripada dicubit mending di sun di sini Sayang..." Satu jarinya mendarat di pipinya.
"Ogah ah. Modus terus."
"Godain kamu kayak gini candu deh. Pengen terus godain kamu, lihat ekspresi wajahmu yang cemberut, malu, dan seneng jadi satu itu menyenangkan."
Khaira memincingkan matanya. "Emang kamu bisa lihat ekspresi aku, Mas?"
Radit menganggukkan kepalanya. "Aku selalu mengamati ekspresi wajahmu kok. Bahkan sejak dulu, sejak kita menikah. Dan, sejak dulu banget, sejak kamu masih kecil. Aku diam-diam selalu tahu yang kamu ekspresikan di wajahmu walau pun kamu gak pernah menceritakannya." Radit menjeda sejenak ucapannya. "Tapi, sekarang cobalah lebih terbuka ya. Terutama sama aku, bagi semuanya denganku. Aku mau menjadi orang yang selalu ada dalam keseharianmu."
Mengamati perkataan Radit yang terlihat serius, Khaira menyandarkan kepalanya di lengan Radit. "Iya Mas, aku akan belajar untuk bercerita dan membagi hidupku denganmu. Kamu pun juga Mas, bagi apa pun denganku karena aku akan selalu berusaha memahamimu."
Radit mengusap pelan rambut Khaira, "Iya, aku sudah dan akan selalu membagi hidupku denganmu. Walau pun enggak ada yang menarik di hidupku." jawab Radit.
"Bukankah setiap orang pada umumnya selalu merasa hidup merasa tidak menarik, tetapi bagiku hidupmu selalu menarik Mas, karena kamu suamiku, kamulah pendamping hidupku jadi semua tentangmu selalu menarik buatku." ucap Khaira.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Radit.
Khaira menganggukinya. "Benar. Kalau aku sudah mulai tidak tertarik denganmu mungkin perasaan di hatiku sudah hilang, Mas."
"Ssst. No ya, itu enggak boleh. Jangan membuatku down dan depresi lagi ya. Aku gak akan mau kembali menjalani hari-hariku yang sesak tanpa kamu dulu. Cukup, jangan diteruskan." sahut Radit sembari menggelengkan kepalanya.
"Makanya itu, apa pun itu, sekecil apa pun yang muncul di perasaanmu bagilah denganku ya Maskuw ... Okey?"
"Okey."
***
Jakarta, Indonesia.
Keluarga Wibisono tampak bahagia dengan pesan dan beberapa foto yang dikirimkan Radit melalui aplikasi pesan di handphonenya.
"Puji syukur ya Yah, sekarang anak-anak kita nampak bahagia. Tidak hanya Radit, Khaira juga nampak bahagia wajahnya." ucap Bunda Ranti yang tengah menggeser dan memperbesar foto-foto Radit dan Khaira di layar handphonenya.
"Tetapi yang lebih melegakan bagi Ayah adalah Khaira yang nyatanya memberi kesempatan kedua bagi Radit. Anak itu berhati besar ya Bunda." Imbuh Ayah Wibi menyatakan perasaan leganya.
Bunda Ranti itu mengangguk setuju. "Iya Yah, Bunda juga lega banget. Akhirnya Khaira kembali menerima Radit. Semoga kali ini anak kita tidak kembali berbuat bodoh ya, Yah. Bunda gak bisa membayangkan jika Radit gagal, dan akhirnya benar-benar tidak ada kesempatan lagi."
Ayah menggelengkan kepala, "Semoga Radit serius berubah Bun. Kita sebagai orang tua juga mendoakan semoga pernikahan keduanya usai ini selalu rukun, saling menyayangi, tidak ada badai di rumah tangga mereka. Sukur-sukur, kita juga bisa segera menimang cucu dari Radit dan Khaira."
Bunda Ranti mengangguk setuju, "Iya. Oh, iya Yah ... Anak dari temen Bunda mau ke London, kalau minta tolong Khaira untuk menemaninya mencari apartemen di sana gimana ya?"
"Sapa emangnya Bunda?"
"Anaknya Mira teman SMA Bunda dulu waktu di Jogja, Yah. Si Fani, dia mau kuliah di London. Cuma minta tolong anterin cari apartemen saja sih, gimana menurut Ayah?"
__ADS_1
Ayah nampak menimbang-nimbang, sebenarnya ia tidak ingat bahkan tidak begitu kenal dengan teman istrinya yang bernama Mira itu. Tetapi karena anak temen istrinya itu perempuan, sementara Khaira juga perempuan jadi Ayah pikir tidak masalah jika Khaira membantu Fani.
"Bilang aja Bunda, tapi jangan memaksa. Jarak Manchester ke London kan juga jauh." ucap Ayah Wibi.
"Iya. Besok Fani sampai di London. Bunda akan kirim pesan kepada Khaira dulu."
***
London, Inggris
Perjalanan dengan Eurostar Train selama hampir 14 jam sudah dilalui. Kini Radit dan Khaira telah sampai di kota London, Ibukota Negara Inggris. Lantaran mereka tiba di London sudah tengah malam, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menginap semalam di London sebelum kembali ke Manchester.
"Sayang, ini Bunda kirim pesan. Coba kamu baca dulu." Radit menyerahkan handphonenya kepada Khaira meminta istrinya untuk membaca pesan dari Bunda Ranti.
"Aku disuruh anterin anak temen SMAnya Bunda Ranti untuk mencari apartemen besok Mas. Gimana menurutmu?" Khaira mencoba meminta pertimbangan dari Radit.
"Kalau tidak capek saja Sayang, kita kan abis keliling-keliling juga. Kalau enggak ya dibantuin, begitu dia sudah dapat apartemennya kita balik ke Manchester. Aku sudah kangen sama kamar kita."
"Ruang sepetak aja tapi bikin kangen ya Mas?" tanya Khaira sembari merebahkan badannya di tempat tidur.
"Iya, karena di kamar itu aku bisa masuk keseharianmu. Mengamati kegiatanmu sehari-hari, menemanimu, memorable banget deh kamar apartemen kamu itu. Ya sudah, tidur. Ini sudah tengah malam. Love U Wifey..." ucapnya sembari membawa Khaira dalam pelukannya.
Keesokan harinya, Radit dan Khaira bersiap menemui anak dari teman Bunda Ranti di tempat yang sudah dijanjikan. Kali ini Radit dan Khaira berada di Stasiun Kereta Api King's Cross. Khaira telah mendapat nomor Fani dan di sinilah ia menunggu gadis bernama Fani itu.
"Namanya Fani ya Mas, cantik deh dari fotonya." ucap Khaira sembari mengamati foto gadis bernama Fani itu di handphonenya.
Radit melirik sekilas, "Kamu lebih cantik Sayang."
"Gombal." sahut Khaira.
__ADS_1
"Enggak gombal. Fakta. Kamu gak cuma cantik tetapi hati kamu juga. Serius"
Enggan menanggapi ocehan bernada gombalan dari Radit, Khaira memilih diam sembari menunggu anak dari teman Bunda Ranti itu. Hampir 15 menit menunggu, akhirnya terlihat seorang gadis cantik dengan rambut cokelat mendorong koper dan berjalan ke arah Khaira.