Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Insecure-nya Bumil


__ADS_3

Minggu-minggu terakhir menjelang persalinan sudah pasti membuat Khaira berisi dibandingkan biasanya. Akan tetapi, kenaikan berat badannya masih dalam batas normal yaitu 12 kilogram.


Khaira juga sudah mengambil cuti mengajar dan ia mendapatkan cuti selama tiga bulan. Sehingga sepanjang hari, Khaira habiskan untuk di rumah terkadang ia menata ulang perlengkapan bayi di kamar Baby A, membaca buku, memasak, atau sekadar rebahan.


Sementara Radit mulai merasa tidak tenang bekerja, handphone tidak pernah di mode silent, selalu berdering. Rasanya ia takut jika sewaktu-waktu istrinya mengalami kontraksi dan ia sedang tidak berada di rumah. Akan tetapi, Khaira selalu menguatkan suaminya bahwa ia akan baik-baik saja. Bekerja pun Radit mulai tidak tenang lantaran kepikiran dengan istrinya yang hamil besar di rumah.


Sore ini usai suaminya pulang kerja, entah cemas karena hari perkiraan lahir yang kian mendekat, atau secara mental Khaira sedang cemas, Bumil satu ini nampak gelisah dan rasanya ingin menangis.


Radit yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri istrinya. "Kenapa Sayang? Kok keliatan cemas gitu. Ada apa sini ngobrol sama aku. Apa perutnya udah kerasa kencang? Apa pinggang kamu sakit? Sini, cerita dulu sama aku." tanya Radit yang langsung memeluk hangat tubuh istrinya itu.


Radit pun membuktikan diri bahwa ia menjadi suami yang siaga, kasih sayangnya untuk sang istri bertambah berkali-kali lipat.


"Aku enggak tahu, Mas. Seolah aku cemas, khawatir, enggak percaya diri. Kayak insecure gitu. Aku terkadang takut juga. Rasanya semua rasa itu campur menjadi satu." ucapnya sembari tangannya memeluk erat pinggang suaminya.


Radit pun mengusap perlahan puncak kepala istrinya. "Kenapa bisa insecure? Apa kamu kepikiran sesuatu? Jangan pikiran yang berat-berat Sayang, jangan stress. Inget kata Dokter kemarin, Bumil gak boleh stress ya nanti malahan tekanan darah menjadi tinggi. Kalau ada apa-apa cerita sama aku."


Segera Khaira menganggukkan kepalanya. "Aku kepikiran sakit bersalin katanya sakit banget, apa aku kuat, Mas? Gimana jika aku...."


Belum sampai Khaira melanjutkan ucapannya, Radit sudah menutup mulut istrinya itu dengan tangannya.


"Ssstttss ... Jangan bicara begitu Sayang. Aku yakin kamu bisa. Kamu kuat. Ada aku yang akan selalu mendukungmu. Atau kamu mau Caesar aja, supaya tidak terlalu sakit nanti minta diresepkan obat pereda nyeri juga biar cepet sembuhnya. Aku tidak memaksamu melahirkan normal, mau normal atau Caesar kamu tetap Ibu seutuhnya dan sepenuhnya. Kamu tetap seorang Ibu yang hebat." Ucapnya dengan tulus.


Khaira pun menangis di dalam pelukan suaminya. "Maaf kalau aku berpikiran yang tidak-tidak ya Mas. Jujur aku takut. Akan tetapi, karena Baby A posisinya sudah benar dan memenuhi kriteria persalinan normal jadi aku mau mencobanya Mas. Yang penting kamu selalu temenin aku ya Mas?"

__ADS_1


"Gak papa Sayang, ini normal kok. Ingat aku kalau kamu merasa takut. Aku pastikan kalau aku akan selalu menemani kamu, kita berdua akan menyambut Baby A bersama-sama. Beri afirmasi positif ke diri kita sendiri bahwa kita bisa. Ganti perasaan sedih dengan perasaan bahagia karena sebentar lagi kita akan bertemu Baby A yah...." ucapnya yang tengah menguatkan istrinya yang terkadang memang merasa insecure.


"Terima kasih banyak ya Mas, selalu memotivasiku dan menguatkanku. Bersyukur banget aku punya kamu." ucap Khaira dengan tulus.


Radit mencium puncak kepala istrinya itu dengan sayang. "Jangan bersedih lagi ya. Kan aku pernah bilang, alih-alih bersedih, aku justru suka membuatmu bahagia. Kamu pengen apa? Aku akan berikan, asalkan jangan sedih lagi. Bumilku Cantik harus bahagia ya, kan tidak lama lagi akan ketemu sama Baby A. Dibikin happy ya...."


Khaira menggelengkan kepalanya. "Aku enggak pengen apa-apa Mas. Mau dipeluk sepanjang malam aja sama Papa. Pelukan darimu aja udah cukup Mas, udah bikin aku seneng." ucapnya.


Radit justru terasa gemas dengan istrinya yang sering kali manja selama hamil. "Tanpa kamu minta pun, aku akan selalu memelukmu sepanjang malam Sayang."


"Euhm, makasih ya Mas..." ucap Khaira sembari mendongakkan kepalanya guna melihat wajah suaminya.


"Mas, kalau abis melahirkan aku masih ndut dan berat badanku enggak kembali normal bagaimana Mas?" tanya Khaira yang kini duduk bersandar di headboard tempat tidurnya.


Khaira menatap lekat-lekat wajah suaminya itu. "Serius? Aku naik 12 kilogram loh ini Mas."


Radit menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Kamu selalu cantik Sayang. Bukan hanya wajahmu yang cantik, tetapi hatimu juga baik dan kepribadiannya juga cantik. Makanya aku berharap Baby A akan cantik seperti Mamanya. Cantik wajahnya, cantik hatinya, pinter."


Khaira mengerucutkan bibirnya. "Gombal."


Radit terkekeh. "Serius. Aku enggak gombal. Kamu beneran cantik, hati kamu baik, kepribadianmu juga baik, dan tahu enggak Sayang apa yang membuat kecantikanmu berlipat-lipat?" tanya sembari menatap wajah istrinya.


"Apa?" tanya Khaira.

__ADS_1


"Karena kamu adalah milikku, jadi di mataku kecantikanmu berlipat-lipat rasanya. Tau enggak Sayang, aura keibuan kamu udah terpancar banget. Bumilku cantik...." ucapnya gemas.


Khaira terkekeh geli, beberapa menit yang lalu saat ia merasa cemas dan insecure kini ia bisa tertawa lagi. Berada di dekat suaminya benar-benar mendapat hormon dopamine yang membuatnya bahagia.


"Kalau nanti aku mengalami postpartum (masa nifas) selama 40 hari bahkan bisa lebih, kamu bisa sabar dan menahannya kan Mas? Aku gak boleh dipegang loh?" tanya Khaira sambil mengedip-edipkan matanya.


Radit pun tersenyum. "Kalau mau sun dan peluk apa enggak boleh?" tanyanya.


"Boleh." Jawab Khaira.


Radit memijit pelipisnya. "Selama itu ya Sayang? Kenapa lama banget ya."


Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya. Bahkan ada yang lebih dari 40 hari. Gimana Mas?"


"Kalau aku pusing gimana Sayang?" tanyanya dengan wajah memelas.


"Aku sediain stok obat sakit kepala ya..." ucapnya sambil mengusap wajah suaminya yang nampak memelas.


"Yah, harus banget ya Sayang. Hmm, tetapi enggak papa. Aku puasa dulu, nanti kalau udah boleh buka puasa dikasih yang enak-enak ya?"


Khaira mencubit hidung suaminya. "Kamu emang paling bisa ya Mas... Kalau disuruh gitu paling pinter." ucapnya gemas.


"Kamu kok cubit-cubit hidung sih Sayang. Sakit tau." ucapnya sambil mengusap hidungnya yang memerah.

__ADS_1


Khaira justru tertawa bahagia. "Rasain, itu rasanya kalau kamu cubitin hidung aku. Sakit kan." Bahkan kini ia tertawa terbahak-bahak begitu bahagianya menjahili suaminya.


__ADS_2