Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta

Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta
Seasons 2 - Sabtu Bersama Papa


__ADS_3

Hari ini saat memasuki weekend, Arsyila begitu excited bisa bermain seharian bersama Papanya. Bocah tiga tahun itu tumbuh menjadi putri yang pintar mulai dari Alphabet, Warna, Berbagai Hewan, Tumbuhan, hingga Angka 1 sampai 30 sudah diketahui oleh Arsyila. Lebih mengagumkan di usia 3 tahun, Arsyila sudah bisa membaca buku sendiri.


Kesehariaan Khaira dan Radit yang sering membacakan buku bagi Arsyila membuat dia menjadi peka terhadap kata dan bahasa, hingga suatu hari tiba-tiba dia bisa membaca sebuah buku dongeng sendiri dan itu pun tanpa dieja.


"Mama ... Kapan kita ke toko buku, Ma. Syila mau dibelikan buku dongeng, Ma." Bocah berusia tiga tahun itu merajuk ingin mengajak Mamanya ke toko buku.


Khaira berjongkok dan merapikan poni rambut putrinya itu. "Syila mau ke toko buku? Coba bilang sama Mama dulu, buku apa yang Syila pengen beli?"


Sebagai seorang Mama, Khaira memang tidak langsung memberikan apa yang Arsyila minta. Terkadang dia juga bertanya apa yang diinginkan Arsyila dan memastikan bahwa apa yang diminta oleh Arsyila sesuai dengan keinginannya.


"Syila mau buku dongeng Disney Princess, Ma ... Sama board book Tanah Pertanian ya Ma." ucap Arsyila dengan matanya yang nampak berbinar.


Khaira pun menganggukkan kepalanya. "Nanti kita ke toko bukunya nunggu Papa kalau tidak sibuk ya. Syila bisa kan bersabar?" tanyanya kepada putri kecilnya itu.


Tanpa banyak drama, Arsyila pun menganggukkan kepalanya. "Oke Mama ... Syila mau main sama Papa boleh Ma?" tanyanya sembari melihat Papanya yang sedang berada di meja kerjanya.


"Coba Syila tanya dulu sama Papa ya ... kalau Papa tidak sibuk, Syila boleh main sama Papa." ucapnya memberi pengertian kepada Arsyila.


Tidak menunggu lama, Arsyila datang menemui Papanya yang sedang fokus dengan laptopnya. Biasanya weekend Radit memprioritaskan waktu untuk istri dan anaknya. Akan tetapi, kali ini dirinya benar-benar sibuk sehingga dia terpaksa membawa pekerjaan pulang ke rumah.


"Pa ... Papa apakah sibuk?" tanya Arsyila yang mendatangi Radit yang tengah bekerja.


Merasa dipanggil oleh putri kesayangannya, Radit langsung memangku Arsyila. Sembari mencium pipi anaknya yang chubby itu. "Papa agak sibuk Sayang ... kenapa?" tanyanya.


"Ayo kita bermain, Pa ... temani Syila melihat lagu anak-anak di televisi Pa." ajaknya kepada sang Papa untuk menemaninya melihat saluran YouTube yang terkoneksi dengan televisi pintar mereka dan Arsyila begitu suka menyanyi. Ada satu Chanel lagu anak-anak yang digemari Arsyila.


Radit rasanya tidak tega menolak permintaan anaknya. Dia perlahan menyimpan dokumen yang sudah dia kerjakan satu per satu lalu mematikan laptopnya. "Yuk, kita nonton lagu anak-anak kesukaan Syila ya."


Papa muda itu langsung menggendong Syila dan membawanya ke ruang keluarga untuk menyalakan televisi pintar yang terkoneksi dengan YouTube itu. Perlahan Radit mencari Chanel kesukaan Arsyila. Hingga akhirnya Arsyila melompat kegirangan saat lagu-lagu kesukaannya mulai diputar.

__ADS_1


"Oh happy place... Oh happy place


Let's all make the world a happy place"


Arsyila menyanyikan anak-anak dengan bahasa Inggris itu sembari mengikuti karakter utamanya yang tengah menari.


Lantaran selalu menemani Arsyila menonton saluran menonton video tersebut, Radit dan Khaira pun hingga hafal berbagai lagu yang sudah menjadi playlist bagi Arsyila itu.


Khaira yang melihat Papa dan Anak yang nampak kompak dan bahagia itu turut tersenyum. Hatinya benar-benar menghangat sangat ini. Sementara Khaira berada di dapur, ikut bersenandung menyanyikan lagu anak-anak yang tengah diputar.


Tidak berselang lama, Khaira menyusul suami dan anaknya itu dengan membawa kue Brownis buatannya dan Teh hangat buat suaminya.


"Teh nya Mas ... mumpung masih hangat." ucapnya sembari menyodorkan secangkir teh hangat kepada suaminya.


Syila yang melihat kedatangan Mamanya pun, duduk di samping Mamanya itu. "Mama, kenapa panggil Papa dengan sebutan Mas? Itu adalah Papa, bukan Mas." ucapnya protes, merasa bahwa Mamanya harus memanggil Papanya dengan sebutan Papa.


Khaira pun tersenyum dan mengacak lembut puncak kepala Arsyila. "Mas itu panggilan sayang Mama untuk Papa kamu, Sayang...."


"Okay, Mama akan panggil Papa ya."


Dengan cepat Arsyila pun menganggukkan kepalanya. "Okay Mama...." ucapnya sembari memeluk Mamanya itu.


Sementara Radit hanya tertawa melihat Arsyila yang sudah begitu kritis di usianya yang baru 3 tahun. Arsyila kecil mengingatkan Radit pada Khaira saat kecil dulu. Tawa yang sama, kecantikan yang sama, dan kepintaran yang sama. Radit rasanya kembali bertemu dengan duplikat istrinya.


"Syila, mau kue Brownis? Mama udah bikin Brownis panggang kesukaan Syila." kali ini Khaira menyodorkan sepiring kue Brownis kepada Arsyila.


Dengan tersenyum, Arsyila mengambil Brownis itu. "Satu buat Papa ... satu buat Mama ... dan ... Syila ambil satu." ucapnya sembari mengambilkan satu per satu kue Brownis untuk Papa dan Mamanya.


"Terima kasih Sayang...." ucap Radit dan Khaira bersamaan.

__ADS_1


Ketiganya pun menikmati camilan sore itu bersama Arsyila yang begitu menggemaskan.


"Arsyila mirip banget sama kamu waktu kecil, Sayang...." ucap Radit berbisik lirih di telinga istrinya.


Perlahan Khaira menolehkan wajahnya untuk menatap wajah suaminya itu. "Maksudnya Mas?"


"Dulu kamu seperti Arsyila ... sama-sama cantik, pinter, cerewetnya juga sama." ucapnya dengan mata yang menerawang mengingat kembali memorinya saat bertemu Aira kecilnya dulu.


Khaira pun tersenyum. "Emang Papa masih ingat gimana aku dulu waktu kecil?"


Dengan cepat Radit menganggukkan kepalanya. "Sudah pasti aku ingat, dan akan selalu ingat. Arsyila persis kayak kamu waktu kecil dulu. Aira kecilku dulu seperti Arsyila sekarang ini."


Khaira pun kembali tersenyum dan mengamati Arsyila yang sedang bernyanyi dan lompat-lompat menari itu. "Perasaan aku dulu kalem deh Pa ... Enggak kayak gitu."


Radit justru tertawa. "Enggak Ma ... dulu Mama seperti Arsyila itu. 100% mirip."


Lantas Khaira hanya menggelengkan kepalanya saat suaminya menyebutkan bahwa dia begitu mirip dengan Arsyila. Padahal menurut Khaira sendiri, dirinya adalah sosok yang lebih tenang. Sementara Arsyila termasuk anak yang aktif dan ceria.


"Pa, Arsyila minta ke toko buku itu. Katanya mau membeli buku Disney Princess dan Tanah Pertanian yang board book." ucap Khaira.


Sebagai seorang Mama, memang Khaira seperti penyabung lidah bagi Arsyila kepada Papanya. Seperti saat ini, Khaira mengatakan keinginan Arsyila kepada Papanya.


"Lalu, Mama bilang apa?" tanyanya sembari meneguk teh hangatnya.


"Aku bilang kalau Papa tidak sibuk." ucapnya singkat.


Radit nampak kembali mengamati Arsyila yang sedang asyik menyanyi dan melompat-lompat. "Akhir pekan depan ya Sayang ... kita bawa Arsyila ke toko buku, dibeliin buku yang dia mau itu."


"Iya Pa ... Sudah agak lama juga kita enggak beliin buku buat Arsyila." ucap Khaira.

__ADS_1


"Papa beliin buku buat Arsyila, tapi ada bayarannya ya Ma ... cuma Mama yang bisa bayar ke Papa." ucapnya berbisik lirih di telinga istrinya.


Sedikit menolehkan kepalanya, Khaira lantas mengerucutkan bibirnya. "Pasti ujung-ujungnya modus. Gak usah ah, Papa ... aku ngambek aja deh."


__ADS_2