
Sejak Miko terang-terangan mengakui bahwa dia dulu menaksir Khaira saat kuliah, Radit uring-uringan dalam hati. Ya, walau pun Khaira tidak menanggapi sama sekali, tetapi rasanya saat ini Radit seperti sedang berhadapan dengan rivalnya.
Walau pun hatinya berkecamuk, Radit mencoba professional untuk fokus mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya. Sembari mengerjakan, ia melirik handphonenya yang menyala di atas meja kerjanya.
Sebuah pesan masuk dari Khaira.
[From: Wifey]
[Semangat kerjanya ya Maskuw. Kerja yang bener.]
[Hati-hati di sana. Jaga diri, jaga hati baik-baik.]
[Sampai ketemu sore nanti di Pondok Mertua Indah.😍]
Radit tersenyum membaca pesan dari Khaira, sudah lama ia tidak bekerja dan full-time dua puluh empat jam hanya menemani Khaira. Kini suasana dan akan menjadi rutinitas baru baginya untuk bekerja delapan jam sehari.
"Aku udah kangen, Khai. Lebih enak dua puluh empat jam bersamamu. Tetapi, kamu mau aku jadi pria keren yang bekerja. Jadi aku akan melakukan itu, aku bekerja untuk kamu dan anak-anak kita nanti," gumamnya dalam hati.
Radit begitu fokus mengerjakan rekapitulasi data keuangan bulanan, berbagai tabel terbuka di komputer kerjanya. Rasanya pria itu kembali mengingat masa-masa ia bekerja sebagai Auditor dahulu, dan tentu ia mengingat Dimas, sahabatnya yang selalu baik dengannya.
Jikalau dulu Radit berjibaku dengan dokumen, data, dan tabel hingga membuatnya tepar lantaran bekerja hingga dini hari. Kini Radit seolah mengulang semua situasi itu, tentunya Radit tidak akan bekerja hingga dini hari, karena ada istrinya yang selalu menunggu kedatangannya di rumah.
Saking semangatnya bekerja, ternyata hari telah berganti menjadi sore hari. Tepat jam empat sore, Radit keluar dari kantor untuk kembali pulang ke rumah. Bersama dengan Ayahnya, ia kembali pulang ke rumah.
Dalam benaknya ia sudah membayangkan senyuman manis Khaira yang akan menyambutnya sepulang kerja. Benar ucapan Khaira dulu, hati terasa senang karena ada seseorang yang menunggu kedatangannya setiap pulang kerja.
Perjalanan kurang lebih dua puluh menit, Radit dan Ayah Wibi telah sampai di rumah.
__ADS_1
Begitu mendengar pintu gerbang terbuka dan mobil Ayah mertuanya memasuki garasi mobil. Khaira yang semula duduk-duduk santai di depan televisi bersama Bunda Ranti, langsung berdiri dan membuka pintu. Ia berdiri di depan pintu rumah, menyambut kedatangan suaminya.
"Ayah pulang ... Radit pulang ...." Sapa ayah Wibi dan Radit bersamaan.
Tentu saja Bunda Ranti langsung menghampiri suaminya, sementara Radit yang berjalan agak di belakang ayahnya menatap Khaira dengan wajah yang susah didefinisikan. Namun Khaira tetap tersenyum menyambut kedatangan suaminya. "Sudah pulang Mas ...." sapanya, lalu masuk mengekori Radit menuju kamarnya di lantai dua.
Begitu sampai di dalam kamar, Radit menaruh tas ranselnya dan melepas kaos kakinya. Pria itu masih memasang mode silent kepada istrinya.
"Mandi dulu ya Mas, mau aku bikinkan teh hangat atau cokelat hangat?" tawarnya kepada suaminya.
"Iya, aku mandi dulu. Terserah aja, teh atau cokelat enggak masalah. Kalau kopi enggak boleh ya? Aku pengen minum kopi." ucapnya dengan menunjukkan ekspresi datar.
"No. Gak boleh kopi, nanti asam lambung naik Mas." ucap Khaira tegas, setelah itu ia menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Lalu Khaira keluar dari kamarnya, turun ke bawah menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat bagi Radit.
Setelah itu, Khaira kembali masuk ke dalam kamar dengan nampan kecil di tangannya yang berisi dua gelas cokelat. Sementara itu di dalam kamar, Radit juga telah selesai mandi. Rambut pria itu masih basah hanya dirapikan begitu saja dengan tangannya, wajahnya juga nampak lebih segar.
Radit masih mode silent, tetapi pria itu memeluk istrinya dari belakang. Merasa pelukan yang seolah membelitnya, Khaira berusaha mengurai tangan Radit itu. "Engap Mas," ucapnya. Hening sejenak. "Kenapa sih sejak datang diem aja. Bad mood? Ada masalah di kantor? Cerita dong, kalau kamu diem aja ya aku enggak bakalan tahu."
Kini Khaira memutar badannya, menjadi menghadap Radit. Keduanya saling berhadap-hadapan. Mata Khaira menelisik wajah dan sorot mata suaminya. "Kenapa, hmm?"
Radit akhirnya memilih duduk di sofa, Khaira pun mengikuti. Lalu, pria itu menghela nafasnya seolah terasa berat, beberapa detik kemudian ia mengeluarkan suaranya. "Ada yang nitip salam buat kamu," ucapnya ketus.
"Siapa?" Khaira bertanya dan ia pun heran dengan ucapan Radit barusan.
"Miko."
Khaira mengerutkan keningnya, mengingat-ingat siapa Miko. Perasaan ia tak pernah memiliki teman bernama Miko.
__ADS_1
"Siapa? Aku gak punya temen dengan nama itu."
"Yakin?" tanya Radit yang menatap tajam istrinya.
Khaira menganggukkan kepalanya. "Iya...."
"Kalau mantan gebetan?" lagi Radit memancing dengan memberikan pertanyaan.
"Enggak ada." sahutnya singkat. "Ceritain dong, aku enggak tahu siapa itu Miko. Jangan kayak gini, kalau sebel atau ada perasaan apa pun kan kita udah janji bakalan langsung cerita. Kalau gak mau cerita aku turun aja deh ke bawah."
Akhirnya Radit memulai ceritanya. "Aku sekantor sama Miko, dia katanya kakak tingkatmu dulu di kampus. Dia nitip salam buat kamu, katanya dia naksir kamu saat di kampus dulu. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu. Kamu tahu enggak gimana perasaanku, ada cowok lain yang nitip salam buat istriku sendiri. Sebel deh. Untung aku nahan, kalau enggak udah aku geprek." ucapnya nampak dengan emosi meluap-luap.
Khaira hanya terkekeh geli menatap air muka Radit, sembari tangannya mengusap lembut lengan suaminya itu. "Kak Miko ya? Anak Manajemen Bisnis?"
Radit memelototkan matanya, "Jadi kenal ya?"
Khaira menganggukkan kepala, "Iya kenal. Masalahnya kan dia yang suka aku, tetapi aku nya kan enggak." jawabnya dengan menyandarkan badannya ke sofa.
"Aku cemburu Sayang ... Kenapa sih di hari pertamaku kerja justru ketemu sama orang yang dulu naksir kamu. Seruangan lagi." Radit benar-benar mendidih rupanya, hingga pria itu ngedumel.
Khaira akhirnya berdiri, meraih secangkir cokelat yang masih lalu menyerahkannya kepada suaminya. "Diminum dulu Mas, mumpung masih hangat. Cemburu boleh, asal jangan berlebihan. Kan aku enggak nanggepin juga. Sejak dulu aku enggak nanggepin Kak Miko kok."
Sedikit luluh, Radit meminum cokelat hangat itu. "Tapi aku beneran cemburu saat dia bilang kamu cinta pertamanya di depanku loh, kan aku ini suamimu. Tentu saja aku cemburu. Dongkol."
Khaira justru tertawa geli melihat Radit. "Kamu kalau jealous lucu, Mas. Baru kali ini aku lihat kamu cemburu. Jadi gemas deh."
Radit menaruh cangkirnya, "kalau gemas sun dulu dong." ucapnya sembari jari telunjuknya memegang bibirnya. "Sun di sini."
__ADS_1
"Issh, apaan sih Mas. Itu mah namanya modus. Dasar suami modus."