
Kedatangan Khaira begitu masuk ke dalam rumah, ternyata sudah ditunggu oleh Radit. Ia duduk di ruang tamu, dengan tangannya yang memegang handphone.
"Ehem. Dari mana aja kamu?" Mata penuh kilatan amarah nampak tertuju kepada Khaira.
"Bukan urusan kamu." sahut Khaira singkat.
"Oh, jadi semua tentangmu dan yang terjadi padamu itu bukan urusanku ya?" ucap Radit yang terlihat sangat marah dengan Khaira saat ini dan ia merasa tidak terima karena Khaira yang terlihat sangat acuh padanya.
"Iya, bukan. Bukankah kamu sendiri yang bilang supaya tidak ikut campur urusan satu sama lain. Jadi untuk apa sekarang kamu menanyai urusanku?" sahut Khaira dengan emosi yang juga tengah melingkupi dirinya.
Baru kali ini, Khaira berusaha melawan ucapan Radit. Entah karena kakinya yang sedang sakit, hatinya yang sakit, atau ia sendiri yang tak bisa mengendalikan emosi, malam ini Khaira begitu ingin membalas setiap ucapan suaminya yang seperti pedang yang tajam. Pedang yang menghunus dan melukai hingga sangat dalam. Khaira hanya ingin bersuara saat ini, tanpa ada niat untuk melawan suaminya. Hatinya sungguh capek dengan semua keadaan yang ada.
"Ternyata kamu berani juga ya? Hmm. Lalu, siapa cowok yang nganter kamu barusan?" Radit masih bertanya dengan penuh emosi dalam setiap perkataannya.
"Bukan urusanmu. Urusan aja urusanmu sendiri. Permisi."
"Hei, anak kecil. Jangan pergi dulu. Suami ngomong itu di dengerin bukan ditinggal pergi kamu tahu enggak sih?"
"Apa kamu bilang? Suami?" Khaira nampak tersenyum getir. "Seorang suami tentu gak akan semena-mena dengan istrinya sendiri, seorang suami tentu akan menghormati pernikahannya sekalipun itu adalah pernikahan karena perjodohan. Dan, seorang suami tentu akan memikirkan perasaan istrinya sebelum mengambil tindakan. Jadi suami seperti apa yang kamu maksud?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Khaira yang terasa menusuk hati, justru Radit semakin emosi. Matanya melotot melihat Khaira.
"Jadi kamu semakin berani ya sama aku? Bagaimana pun sikapku, aku tetap suamimu. Dan, seorang istri haruslah tunduk, taat pada suaminya!"
"Iya, benar istri harus tunduk dan taat kepada suaminya, asalkan suaminya yang senantiasa berjalan di jalan Allah, mengasihi istrinya dengan kasih yang tulus, dan tentunya tidak menyakiti hati istrinya."
Puas menyampaikan uneg-unegnya, Khaira bergegas naik ke kamarnya di lantai dua. Sebenarnya ia ragu apakah ia bisa menaiki anak tangga dengan kruk di tangannya. Walaupun enggan, Khaira tetap berusaha menaiki satu per satu anak tangga, sembari menahan kakinya yang terkilir dengan kruk.
Di ruang tamu, Radit sesungguhnya merasa ingin membantu Khaira menaiki anak tangga, tetapi emosinya yang meluap-luap membuat Radit membiarkan Khaira berlalu begitu saja.
Entah apa yang terjadi pada Radit, emosinya begitu menyala-nyala seperti kobaran api. Dan, ini untuk pertama kalinya keduanya terlibat adu mulut.
***
Radit duduk di sofa, di ruang tamu. Ia usai mengantarkan Felly yang katanya pamit untuk bekerja. Nyaris setiap malam Felly tidak ada di rumah, terkadang pun Felly tidak ada waktu sarapan pagi.
Usai mengantarkan Felly, Radit istirahat sejenak di ruang tamu. Ia menyadarkan kepalanya di sofa, sembari jari-jari tangannya memainkan handphone. Saat ia masih berselancar dengan telepon genggamnya, terdengar suara mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya yang tidak terlalu tinggi, jadi apa yang terjadi di luar dapat dilihat dari kaca jendela di ruang tamu.
Kadang kala ingin rasanya Radit pulang ke rumah, mendapat sapa hangat dan perhatian dari Ayah dan Bundanya. Akan tetapi, di rumah ini semuanya terasa sepi.
__ADS_1
(Mungkin hanya Radit yang memiliki dua istri, tetapi masih merasa kesepian 😆)
Radit penasaran siapa yang datang malam-malam seperti ini. Terlebih lagi, sejak ia memasuki rumah, sama sekali tidak terdengar suara manusia, rumahnya begitu sepi. Oleh karena itu, Radit pun berdiri melihat siapa yang datang dari balik kaca jendelanya. Namun, ia nampak kaget karena yang datang Khaira dengan menggunakan alat bantu jalan berupa kruk dan seorang pria tampan mengantarnya malam-malam begini.
Itu Khaira? Siapa cowok yang sudah mengantar Khaira pulang? Mungkinkah Khaira menelpon cowok itu untuk menolongnya. Mengapa keduanya terlihat sangat akrab. Khaira selama ini sangat cuek bahkan ketus denganku. Mengapa dengan cowok itu, Khaira justru nampak tersenyum. Awas saja kau Khaira, kalau berani macam-macam dan bermain api di belakangku. Aku sendiri yang akan memberikan pelajaran padamu.
Radit seperti kehilangan akalnya. Di awal pernikahan ia sudah mengatakan kepada Khaira untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing, tetapi melihat Khaira untuk pertama kalinya diantar seorang pria dengan wajah yang tampan membuat emosinya naik begitu saja.
Sebelumnya Radit mungkin merasa tenang karena Khaira yang memang cuek tak pernah terlihat begitu dekat dengan seorang pria, walaupun ia pernah dua kali bertemu dengan Dimas, temannya bekerja, tapi Radit sama sekali tidak emosi. Tetapi, kali ini saat Khaira diantar seorang pria yang seumuran dengannya dan pria itu memiliki wajah tampan, emosi Radit tiba-tiba meletup-letup seperti air panas yang mendidih.
***
Sementara itu, di dalam kamarnya, Khaira menangis sejadi-jadinya. Perasaan tidak dihargai, tidak dimanusiakan sebagaimana mestinya, membuat gadis itu merasa rapuh.
Bukan hanya kakinya yang terasa sakit, hatinya juga terasa amat sakit. Kamar tidur Khaira layaknya kamar peraduan baginya. Tempat ia mengadu kepada Tuhan tentang ketidakadilan yang ia rasakan, rasa kangennya kepada Bunda Dyah dan Ayah Ammar, dan rasa tersakiti oleh suami dan madunya. Tiada hari tanpa mengadu, malam-malamnya selalu berlinangan air mata.
Sekarang Khaira menangis hingga hatinya terasa sesak, sebab ia menahan tangisnya tanpa bersuara. Menahan semuanya. Seakan-akan semuanya baik-baik saja. Terlebih ia merasa sesak karena rumah suaminya justru seperti lingkaran setan dengan api penderitaan yang tiada pernah berakhir. Hanya ada penderitaan dan ratapan, serta air mata.
Ya Tuhan, ampunilah hamba yang telah berani melawan suami hamba sendiri ya Tuhan...
__ADS_1
Hamba tak akan bergantung kepada suami yang demikian ya Tuhan. Engkaulah tempatku bermunajat. Tuhanlah tempat terbaik untukku bersujud mengadu setiap penderitaan dan harapanku. Ampuni hamba dan suami hamba, sebab di bawah kolong langit ini, hanya Engkau yang Maha pengampun. Tidak mustahil bagi Allah untuk merencanakan sesuatu yang luar biasa, karena semua di bawah kekuasaan Allah.
Lantunan doa-doa yang menyayat hati selalu Khaira panjatkan dalam sembah sujudnya. Kiranya Sang Pencipta akan mendengar bahkan menjawab doanya. Kiranya Tuhan sendiri yang menakar setiap air matanya. Sungguh, Tuhan begitu dekat dengan orang yang patah hati dan remuk jiwanya. Semoga sedikit kebahagiaan akan Allah berikan untuk Khaira. Semoga!