
Bahagia bisa hadir dari mana saja. Kebahagian menghinggapi hati Khaira, serasa ketika menikmati kuncup bunga yang bermekaran, setiap proses di mana kelopak-kelopak bunga muncul satu per satu membuat hati bahagia tiada terperi.
Begitulah yang dirasakan Khaira saat ini, ia begitu bahagia bisa berkumpul dengan keluarga yang selalu menyayanginya.
"Ayo makan Khai, yang habis sidang pasti laper." suara Bunda Dyah menyadarkan Khaira yang masih menangis.
Radit pun tersenyum, tangannya kembali mengelus lembut puncak kepala Khaira, "Mau makan apa, Mas ambilkan ya?" katanya lembut.
"Eh, gak usah Mas, aku ambil sendiri saja." Khaira segera menyergap tangan Radit yang bersiap mengambilkan makanan untuk Khaira.
"Gak papa, mengambilkan makanan enggak berat kok. Lagian makanannya ada di depan mata juga."
Khaira sedikit menarik tangan Radit, "Mas, biar orang tua kita mengambil makanan dulu. Setelah Ayah dan Bunda mengambil makanan, barulah giliran kita. Mendahulukan orang tua kita terlebih dahulu, Mas."
Radit tersenyum, hatinya lantas menghangat mendengar ucapan Khaira. Kini Radit menyadari bahwa Khaira adalah sosok anak yang berbakti kepada orang tua dan mendahulukan orang tuanya. Kenapa sejak dulu dia tidak melihat segala kepribadian baik yang dimiliki Khaira? Radit terpana dengan ucapan Khaira yang mengingatkan akan baktinya kepada orang tuanya.
Setelah Ayah dan Bundanya telah mengambil makanan, barulah Khaira menggeser posisinya, tangannya dengan cekatan mengambilkan nasi dan lauk untuk Radit.
"Segini cukup Mas? Atau mau tambah lagi?" tangan Khaira sembari menyerahkan piring berisi nasi, lauk, dan sambal itu kepada Radit.
"Sudah, sudah cukup. Makasih ya..." ucap Radit sembari menerima piring itu dari tangan Khaira.
Setelah selesai mengisi piring Radit, barulah Khaira mengambil untuk dirinya sendiri.
Orang tua dan mertuanya tersenyum melihat perilaku Radit dan Khaira. Pasangan muda yang harmonis itulah yang di tangkap oleh kacamata orang tua dan mertuanya.
__ADS_1
"Besan, apa benar kamu mengizinkan Khaira untuk langsung kuliah lagi usai wisuda ini?" tanya Ayah Ammar kepada Ayah Wibi di sela-sela mereka menikmati santap siang.
Ayah Wibi menganggukkan kepalanya, "iya benar, Khaira bisa terbang dulu selagi ia bisa. Kita sebagai orang tua sudah seharusnya mendukung cita-cita anak kita kan."
"Kalau kamu apa benar setuju, Dit?" kini Ayah Wibi bertanya langsung kepada menantunya. "Kemarin Khaira main ke rumah, dia cerita akan sidang skripsi hari ini dan meminta restu Ayah untuk mengambil S2." kembali Ayah menceritakan keinginan Khaira untuk sekolah S2.
"Iya benar Ayah ... Radit akan mendukung Khaira." jawab Radit sungguh-sungguh.
"Kalau Khaira kuliah S2 di luar negeri kamu keberatan enggak?" lagi Ayah Ammar bertanya kepada Radit.
"Tidak apa-apa, Yah. Khaira sebelumnya juga sudah cerita sama Radit, usai sidang ini Khaira juga akan mengambil kursus Bahasa Inggris, Yah." jawab Radit kepada Ayah Mertuanya.
"Ayah hanya ingin memberitahu kalau Long Distance Married itu berat, tidak banyak orang yang bisa bertahan menjalaninya. Ayah sudah bilang kepada Khaira, bahwa setelah menikah doa restu yang utama dan pertama adalah doa restu dari suami. Karena Ayah Ammar sudah memberikan dan mempercayakan anak Ayah kepadamu. Kalau kamu mengizinkan, jadi kalian harus berkomitmen dengan keputusan kalian."
"Iya Yah, Radit akan selalu mendukung Khaira. Nanti sesekali Radit akan mengunjungi Khaira di sana. Jadi, kami tetap bisa bertemu. Sebaliknya kalau Khaira mendapatkan liburan kuliah, Khaira bisa pulang ke Indonesia. Tidak apa-apa, Yah."
"Kamu akan melanjutkan studi di mana Nak?" giliran Ayah Wibi yang bertanya pada Khaira.
"Ke Inggris, Ayah. Maaf Yah, Khaira baru cerita pada Ayah Ammar dan Bunda ... Khaira belum sempat bercerita dengan Ayah Wibi dan Bunda Ranti. Maaf...." Khaira tertunduk di hadapan orang tua dan mertuanya.
Ayah Wibi nampak menganggukkan kepala, "jadi sekolahnya akan seperti apa? Berarti selama masa kuliah akan tinggal di luar negeri ya?"
"Iya Ayah, kurang lebih akan tinggal di luar negeri selama masa pendidikan. Untuk sekolahnya, Khaira akan mencari beasiswa (scholarship) terlebih dahulu, Yah. Sehingga tidak merepotkan dengan biaya kuliah yang besar apalagi di luar negeri."
Lagi-lagi Ayah Wibi nampak mencerna perkataan menantunya itu. "Okay tidak masalah, kalau sudah dapat scholarship berarti tinggal mengeluarkan uang untuk biaya hidup ya?" tanyanya.
__ADS_1
"Hmm, Khaira akan mencari scholarship yang sekaligus memberikan biaya hidup Ayah. Khaira benar-benar tidak ingin merepotkan di sini. Ayah dan Bunda semua sudah merestui Khaira saja, Khaira sudah sangat bersyukur."
Tiba-tiba tangan Radit mengusap lembut punggung tangan Khaira, seolah ia ingin mengatakan pada Khaira bahwa ia akan selalu mendukungnya. Khaira hanya tertegun dengan perlakuan Radit sepanjang hari ini. Tidak biasanya seorang Radit berperilaku sebaik ini apakah karena sedang berada di hadapan orang tua kami berdua? Tidak ada yang tahu motif di balik sikap Radit kepada Khaira.
"Ya udah, asal kalian berdua sudah sepakat, kami orang tua hanya bisa merestui. Baik dan buruknya sebuah pernikahan itu bergantung pada kalian yang menjalaninya berdua. Yang pasti inget dengan komitmen kalian dalam membina rumah tangga. Long distance married itu berat, cobaan juga lebih banyak, sementara kalian hanya bisa membangun kepercayaan dan kesetiaan satu sama lain." Petuah dari Ayah Ammar kembali membuat Radit dan Khaira saling menatap dalam diam.
"Udah, sekarang makan dulu Ayah. Kasihan Khaira belum makan. Pasti laper..." Bunda Dyah mengingatkan untuk kembali makan karena sedari tadi Khaira bahkan belum makan sama sekali.
Sembari bersantap siang, ditemani angin yang semilir, hidangan yang menggugah selera dan kedatangan orang tua membuat hari bahagia ini terasa sangat lengkap untuk Khaira.
Ya, ia begitu bahagia hari ini, akan tetapi terlalu banyak kebanyakan dalam satu hari justru membuat hati Khaira kekhawatiran. Bagaimana masalah baru dan kesedihan yang baru sudah menunggunya di depan sana? Bagaimana jika kebahagiaan ini hanya bertahan sesaat?
Mata Khaira berkaca-kaca, dan ia berdoa jauh di dalam kedalaman hatinya. "Kebahagiaan ini kiranya tidak segera berlalu ya Tuhan."
Usai kejutan makan siang, lantas Ayah Ammar dan Bunda Dyah kembali pulang, begitu juga dengan Ayah Wibi dan Bunda Ranti. Sementara Radit dan Khaira berjalan di belakang.
"Makasih Mas untuk hari ini..." Khaira berjalan sembari mengucapkan terima kasih kepada Radit.
"Iya sama-sama. Mas, minta maaf untuk yang semalam ya. Tiba-tiba ada keperluan mendadak, Mas udah kirim pesan ke kamu tetapi sampai sekarang pesannya masih centang satu coba?" Radit sembari menunjukkan pesan yang ia kirimkan kepada Khaira dan terlihat masih tercentang satu.
"Paket data aku abis, Mas. Mungkin karena itu, pesannya tidak masuk." jawab Khaira.
"Ya udah, Mas ngikut nanti tolong turunin di stasiun KRL terdekat ya, motor Mas ada di stasiun."
"Hemm, iya..."
__ADS_1