
Jika wajah dan mulut bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, tetapi hati manusia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebohongan, sekalipun itu adalah kebohongan kecil. Sama seperti Khaira, di hadapan sahabatnya, ia bisa menunjukkan raut wajah yang seperti biasanya, ia bisa tertawa riang. Namun, siapa yang bisa tahu dengan perasaannya sesungguhnya? Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Jauh dari kata baik malahan, hatinya sedang kesakitan. Dan, rasa sakit itu justru disebabkan oleh suaminya sendiri.
"Ayo ceritain dong Khai, gimana pernikahan kalian. Kan cerita dari pengantin baru itu seru tahu."
"Aissh, apaan sih Metta. Malu tahu didengerin orang lain."
"Nanti abis jam mata kuliah, curhat ya. Asli deh aku kepo nih. Apalagi suamimu cakep loh, Khai. Beruntung banget kamu dijodohin sama cowok cakep."
Khaira membatin hatinya, "Iya sih cakep, tetapi hati dan perilakunya jahat. Bisanya cuma nyakitin. Cowok kayak gitu mah, gak usah dipuji-puji juga kali."
Akhirnya keduanya mengikuti jam mata kuliah selama hampir dua jam dengan baik. Terlebih Khaira, mengikuti kelas adalah waktu yang menyenangkan. Apalagi sekarang ini, perasaannya sedang buruk, mengikuti kuliah bisa sejenak meredakan hati dan pikirannya yang sedang kacau.
Usai jam mata kuliah berakhir, Khaira bersama Metta berniat ke perpustakaan terlebih dahulu. Kali ini giliran Metta yang minta ditemani Khaira. Sebagai sahabat, maka Khaira pun setuju untuk menemani Metta.
Khaira dan Metta berjalan bersama keluar dari ruangan kelas, mereka harus berjalan terlebih dahulu untuk menuju perpustakaan yang letaknya di dekat gedung rektorat. Lantaran banyak pepohonan di sekitaran kampus, membuat hari yang panas terik menjadi rindang, lantaran banyaknya pepohonan di sepanjang kanan dan kiri jalan.
Khaira berjalan sembari menenteng beberapa buku di tangannya, ia menundukkan kepalanya sehingga tidak terlalu mempedulikan apa yang ada di depannya. Sementara, Metta berjalan lebih cepat, mendahului Khaira. Tiba-tiba saja, Khaira yang sedang berjalan menabrak seorang pria.
Bruuuukkkk....
Semua yang dibawa Khaira terjatuh di tanah.
"Eh maaf, sorry..." Ucap pria itu sembari mengambilkan buku-buku Khaira.
"Iya gak papa..." Khaira dalam posisi berjongkok dan mengambil buku-buku nya yang berjatuhan di tanah.
Usai mengambil semua bukunya, Khaira pun berdiri dan pria yang menabraknya juga ikut berdiri.
__ADS_1
"Maaf ya, aku terburu-buru tadi, sampai menabrak kamu deh." ucapnya meminta maaf pada Khaira.
"Maaf juga, aku enggak terlalu memperhatikan apa yang ada di depanku, sampai akhirnya kayak gini." Ucap Khaira sembari membersihkan beberapa sampul bukunya yang terkena debu tanah.
"Kenalin aku Dimas. Aku baru mau mencoba mendaftar untuk sekolah S2 di sini. Nama kamu siapa?" Rupanya pria yang menabrak Khaira itu bernama Dimas, dan ia akan mendaftar program S2 di universitas itu.
"Oh, iya. Namaku Khaira, mahasiswa di sini."
Metta yang berjalan terlebih dahulu itu pun tidak menyadari bahwa Khaira tidak ada di sampingnya. Metta menghentikan langkah kakinya dan ia menoleh ke belakang.
"Khaira kok di sana sih? Sama sapa sih? Keliatannya belum pernah liat cowok itu di fakultas ini deh." Metta pun menunggu Khaira di depan pintu masuk perpustakaan yang keberadaannya tidak terlalu jauh lagi.
Sementara Dimas masih berdiri berhadapan dengan Khaira. Pria yang mengenakan celana bahan berwarna hitam dan kemeja formal kantoran itu pun masih memegang buku Khaira.
"Kalau mau mendaftar program S2 ke gedung mana ya?"
"Oh, begitu ya. Aku mau ambil Pendidikan IT sih. Katanya di fakultas ini."
"Iya, bener. Langsung ke gedung administrasi aja Kak. Itu gedungnya." Khaira menunjuk salah satu gedung yang berada di belakangnya.
Percakapan Dimas dan Khaira rupanya tidak lepas dari sorot mata pria lain yang kini berjalan menuju ke arah Dimas.
"Bro, gimana udah belum? Jam istirahat mau habis nih, kita harus balik ke kantor." ucap teman Dimas, yang tak lain adalah Radit.
Khaira terkejut melihat siapa yang datang di belakang Dimas, ia tak menyangka akan bertemu dengan suaminya di fakultas ini. Sementara Radit pun, juga terkejut. Ia tak menyangka bahwa temannya, Dimas tengah berbicara dengan istrinya sendiri, Khaira.
"Eh, iya Bro. Sorry... Ada insiden kecil tadi, aku enggak sengaja nabrak dia. Efek terlalu buru-buru." sahut Dimas menjawab pertanyaan Radit.
__ADS_1
"Hem, makanya lama. Padahal udah ditungguin."
"Eh, iya Khaira. Kenalin dia temen aku, temen kerja, namanya Radit." Dimas bermaksud mengenalkan Radit kepada Khaira.
Sementara Khaira hanya menatap Radit, kedua bola mata memutar tanda bahwa ia jengah harus bertemu lagi dengan Radit. Faktanya ia memang sudah mengenal pria itu. Sudah kenal dua hari malahan. Dan, kalau bisa memilih, Khaira rasanya tak ingin mengenal pria kejam dan menyebalkan itu.
Di satu sisi, Radit hanya menganggukkan kepalanya dan menatap Khaira dengan sorot matanya yang tajam.
"Ayok, udah belum. Gue tunggu sini aja ya." Ucap Radit sembari menyuruh temannya untuk segera menyelesaikan tujuannya ke universitas tersebut.
"Oke, tunggu dulu ya. Ya udah, aku ke gedung administrasi dulu ya Khaira. Sorry karena tadi enggak sengaja." Dimas pun melanjutkan menuju gedung administrasi yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi.
Radit mendekatkan langkah kakinya pada Khaira.
"Hei cengeng, jadi kamu kuliah di sini ya?" sapanya dengan nada sinis dan ia memanggil istrinya tidak dengan namanya, melainkan dengan sebutan 'cengeng' seperti biasanya.
"Hem." sahut Khaira sekenanya. Di dalam hatinya Khaira juga enggan untuk sekadar berbasa-basi, walau pun itu dengan suaminya sendiri.
"Gak sopan banget sih sama suami sendiri." ucap Radit.
Khaira hanya diam, ia enggan berdebat dengan Radit. Lagipula mana ada suami yang bertindak sesuka hatinya sendiri bahkan melakukan pernikahan siri tanpa persetujuan istrinya. Di rumah aja bisanya menyakiti, di sini mengaku-aku sebagai suami.
"Maaf aku mau lanjut, sudah ditungguin temenku." akhirnya Khaira mengeluarkan suaranya dan pergi berlalu meninggalkan Radit begitu saja.
"Bye Cengeng. Jangan cengeng-cengeng ya." Balas Radit sembari tertawa dengan nada mengejek istrinya sendiri.
Khaira tidak menghiraukan ejekan suaminya. Ia dengan tenang melangkah melewati suaminya. Meninggalkan Radit begitu saja di sana. Walaupun tak dipungkiri hati Khaira rasanya sakit, tetapi ia harus tegar, ia harus kuat. Khaira telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menunjukkan kesedihannya kepada suaminya yang tak berperasaan itu. Berlalu meninggalkan Radit begitu saja dengan satu lagi luka sayatan di hatinya. Khaira menyembunyikan semua lukanya di dalam hatinya. Benar-benar sakit tak berdarah!
__ADS_1