
Melihat berbagai gejala di badan Arsyilla, mulai dari badannya yang demam, terdapat ruam di sekitaran mulut, tangan, dan kakinya, juga adanya bercak-bercak putih di rongga mulutnya, tanpa menunggu waktu lama Khaira segera membawa Arsyilla ke Dokter Spesialis Anak/
“Pa, nanti kami ditinggal aja Pa … pulangnya bisa naik taksi online,” ucap Khaira yang saat itu meminta kepada suaminya untuk mengantarkan mereka saja.
Sebab Khaira tahu, terkadang untuk pemeriksaan anak di Rumah Sakit harus mengantri untuk waktu yang cukup lama. Sementara sekarang adalah hari kerja, sehingga suaminya pun harus bekerja. Kendati bekerja di perusahaan Ayahnya sendiri, sebagai staf biasa Khaira tetap meminta suaminya itu untuk bekerja layaknya staf biasa dan harus profesional.
Radit sebenarnya ingin menemani Khaira dan juga Arsyilla, membiarkan dua wanita kesayangannya itu berada di Rumah Sakit untuk periksa rasanya dia merasa tidak tega. Akan tetapi, karena hari bekerja, jadi Radit mengikuti saran dari istrinya itu.
“Ini Papa drop sampai Rumah Sakit, nanti waktu mau pulang telepon aja Ma … Papa jemput lagi. Sekalian izin sama Ayah Wibi karena Arsyilla sedang sakit.” ucap pria itu yang rupanya tidak tega membiarkan istri dan anaknya pulang sendirian.
Khaira pun mengangguk, “Okay Pa … makasih ya sudah mau direpotkan.”
“Tidak merepotkan Sayang … kamu dan Arsyilla kan orang-orang yang paling berharga buat Papa. Jangan lupa ya kabari hasil pemeriksaan Arsyilla, kabarin juga udah mau pulang. Hati-hati ya Mama dan Syilla …” ucap pria itu begitu telah tiba di Rumah Sakit.
Ada rasa tidak tenang sebenarnya, tetapi mau tidak mau dia harus bekerja. Maka dari itu, Radit pun dengan berat hati membiarkan istri dan anaknya melakukan pemeriksaan dulu ke Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit tersebut.
Begitu telah tiba di Rumah Sakit, Khaira langsung melakukan pendaftaran dan mendaftarkan Arsyilla sebagai pasien. Setelahnya dia turut bergabung dengan para pasien yang lainnya yang menunggu di ruang tunggu. Sebagaimana di Rumah Sakit, di sana banyak anak-anak yang sakit dengan berbagai keluhan, tidak jarang banyak suara tangisan bayi. Sementara Khaira hanya duduk sembari menggenggam tangan Arsyilla.
“Tunggu sebentar ya Syilla, kita periksanya satu-satu jadi harus antri.” ucap Khaira perlahan kepada Arsyilla. Memberitahukan bahwa pemeriksaan itu dilakukan satu per satu, karena itulah mereka harus mengantri di ruang tunggu.
“Kapan Syilla diperiksanya Ma?” tanya Arsyilla kepada Mamanya.
“Nanti Sayang … kalau nama kamu dipanggil, nanti kita masuk ke ruangan itu ya.” Khaira berbicara sembari menunjuk sebuah pintu putih yang di luarnya tergantung nama seorang Dokter Spesialis Anak di sana.
Arsyilla pun mengangguk, “Iya Ma … Dokter Bisma Adi , S.Pa itu ya Ma?” tanyanya kepada Mamanya, karena Arsyilla sudah bisa membaca bahkan lancar membaca maka dengan mudah dia bisa membaca nama Dokter Spesialis Anak di sana.
Khaira pun menganggukkan kepalanya, “Iya … benar itu Sayang. Nanti diperiksanya Dokternya ya. Paman Dokter.” sahut Khaira sembari merapikan poni rambut di kening Arsyilla.
Kurang lebih mereka menunggu nyaris setengah jam, barulah nama Arsyilla dipanggil oleh salah satu perawat.
“Arsyilla Kirana …” perawat memanggil nama Arsyilla. Maka dengan cepat Arsyilla pun bangkit berdiri, dia menggenggam tangan Mamanya untuk memasuki ruangan Paman Dokter itu.
__ADS_1
“Siang Dokter …” sapa Khaira begitu mereka memasuki ruangan tersebut.
Dokter itu pun tersenyum dan menyapa mereka berdua, “Halo … selamat siang. Siapa nih yang sedang sakit?” tanya Dokter itu dengan ramah.
“Anak ini yang sedang sakit Dok …” jawab Khaira.
Dokter itu lantas melihat kartu pemeriksaan Arsyilla, lalu menyebut namanya di sana, “Arsyilla Kirana ya?”
Dengan cepat Arsyilla pun mengangguk, “Iya … Paman Dokter.” jawab bocah kecil dengan begitu polosnya.
“Kita timbang berat badannya dulu ya Arsyilla, setelah itu Paman Dokter periksa suhu badannya.” instruksi selanjutnya dari Dokter yang bernama Bisma itu.
Mengikuti apa yang diinstruksi, Arsyilla pun melepaskan sandal dengan gambar Princess Aurora yang saat itu dia kenakan kemudian menaiki timbangan tersebut. Setelahnya perawat mencatat berat badan Arsyilla, kemudian Dokter mengecek tekanan suhu Arsyilla dengan menggunakan termometer gun.
“Arsyilla demam ya? Ini suhunya sampai 37 derajat celcius.” ucap Dokter itu.
Sekarang Arsyilla, naik ke sini ya. “Paman Dokter akan cek badan kamu ya Sayang.”
“Ya oke … sudah ya. Sekarang Arsyilla bisa duduk sama Bundanya ya.”
Arsyilla pun mengangguk dan kemudian duduk di samping Mamanya.
“Jadi begini Bu, rupanya ada bercak-bercak putih di rongga mulut Arsyilla ya. Ada bercak seperti ruam dan luka lepuh di bibir, tangan, dan kakinya. Jadi Arsyilla ini terkena Flu Singapura, Bu.” penjelasan Dokter Bisma itu kepada Khaira.
Mendengar kata Singapura, rupanya Arsyilla justru teringat pada dua hal, ingat Arsyilla justru yang membuka suaranya, “Ke Singapura ketemu Uncle Adam dan Kak Aksara ya Ma? Syilla mau ke sana.” ucap Arsyilla dengan matanya yang tampak berkaca-kaca.
Khaira hanya tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Arsyilla, “Syilla sembuh dulu ya …”
Mendengar celotehan Arsyilla, Dokter Bisma pun tertawa, “Arsyilla pernah ke Singapura ya? Nama Kakaknya bagus ya, sama seperti nama anaknya Paman Dokter.” jawab Dokter itu dengan spontan.
Melanjutkan pembicaraan sebelumnya, Dokter Bisma lantas mulai menjelaskan beberapa hal kepada Khaira, “Flu Singapura biasanya disebut hand, foot, and mouth disease (HFMD). Jenis penyakit ini mudah menular ya Bu dan biasanya yang sering terkena anak-anak. Gejalanya anak-anak akan demam, muncul ruam dan luka lepuh di area Hand, Foot, dan Mouth, sariawan di rongga mulut, anak menjadi tidak napsu makan, sakit tenggorokkan dan batuk. Nanti saya akan resepkan obatnya untuk Arsyilla ya. Ada obat demam dan juga antibiotik sebagai oral suspensi. Jika dalam tiga hari, Arsyillanya masih belum sembuh, napsu makan semakin berkurang, lemas, Ibu harus waspada karena bisa terjadi dehidrasi, dan Arsyilla harus rawat inap di Rumah Sakit.”
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus saya lakukan Dok?" Tanya Khaira kepada Dokter Bisma tersebut.
"Jenis Flu Singapura ini justru orang yang terkena harus mandi dengan bersih Bu. Nanti ruamnya bisa hilang sendiri. Sementara waktu, peralatan makannya di sendirikan dulu ya. Kebersihan makan dan air juga perlu diperhatikan. Tanpa salep atau apa pun nanti semua ruam di tangan dan kakinya sembuh sendiri jadi memang harus menjaga kebersihan. Perhatian juga keaktifan anak, jika anak mulai lemas dan napsu makan berkurang maka harus cepat-cepat dibawa ke Rumah Sakit." Penjelasan dari Dokter Bisma itu begitu lengkap kepada Khaira.
Sekuat-kuatnya seorang ibu jika mendengar tentang rawat inap di Rumah Sakit, semua akan merasa panik. Hal yang sama pun dirasakan Khaira saat ini. Wanita itu mengangguk, tetapi dia mengucapkan berbagai doa dalam hatinya semoga Arsyilla bisa segera sembuh.
Mendengar penuturan sang Dokter, Arsyilla pun mulai menangis, “Syilla takut disuntik Ma … Syilla mau pulang sama Mama dan Papa, tidak mau bobok di Rumah Sakit seperti Mama dulu.” ucap Arsyilla yang teringat bahwa Mamanya pernah dirawat di Rumah Sakit saat Khaira keguguran dulu.
“Tenang Sayang … Nanti Paman Dokter akan berikan obat kepada Syilla, diminum obatnya semoga cepat sembuh ya.” ucap Khaira menenangkan Arsyilla.
Rupanya Arsyilla justru menggelengkan kepalanya, “Obatnya pahit … Syilla tidak suka.” rengeknya lagi kepada Mamanya.
Tiba-tiba Khaira teringat dengan sosok Aksara yang dulu pernah menenangkan Arsyilla saat menangis, “Inget enggak dulu Kak Aksara bilang apa? Kalau menangis dan tidak suka obat yang pahit, sehabis minum obat Mama belikan permen karamel ya buat Syilla. Kak Aksara dulu pernah memberikan karamel kan buat Syilla? Katanya kalau makan permen karamel, Syilla akan merasa bahagia. Iya kan?”
Rupanya ucapan Khaira itu sukses membuat Arsyilla berhenti merengek. Bahkan Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Permen karamel seperti yang dikasih Kak Aksara ya Ma …”
Ternyata Dokter Bisma pun mendengarkan pasiennya itu, dan tiba-tiba Dokter Bisma menarik laci dari nakasnya memberikan beberapa permen dengan rasa karamel itu kepada Arsyilla, “Ini … Paman Dokter punya karamel buat Arsyilla ya. Anaknya Dokter juga suka banget karamel, katanya permen ini bisa membawa kebahagiaan dan mengingatkannya akan gadis kecil yang dia sayang. Jangan menangis lagi ya. Boleh dimakan karamelnya, usai minum obat nanti ya.”
“Makasih Paman Dokter … sampaikan sayang dari Syilla buat anaknya Paman Dokter ya.” ucap Arsyilla yang menyampaikan salam sayangnya untuk anak dari Dokter Bisma tersebut.
Khaira pun mengangguk, “Baik Dok … terima kasih banyak. Ayo Syilla, ucapkan terima kasih juga kepada Paman Dokternya yuk.”
Dengan cepat Arsyilla melihat Paman Dokter itu dan berkata, “Terima kasih Paman Dokter Bisma …”
“Kok tahu kalau Paman Dokter namanya Bisma?” tanya Dokter itu kenapa Arsyilla.
Khaira pun tersenyum, “Syilla sudah bisa membaca Dok … jadi bisa membaca papan nama Dokter yang ada di pintu luar. Baik, kami pamit ya Dok … terima kasih.”
“Ya ya ya … cepat sembuh ya Arsyilla, nanti Paman Dokter salamkan kepada anaknya Paman di rumah.”
Sementara itu, begitu keluar dari ruangan Dokter Bisma, Arsyilla pun tersenyum dengan menggenggam beberapa karamel di tangannya, “Ma … Mama, Paman Dokternya baik. Kalau Syilla sakit, periksanya ke Paman Dokter Bisma lagi ya Ma.” ucapnya dengan begitu polosnya.
__ADS_1