Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
100. Lein Artha


__ADS_3

Lein mengangkat pedangnya sementara aku membungkuk, bersiap untuk serangannya.


Ia menusukkan pedangnya ke arahku, aku langsung menghindarinya kemudian bergerak di dekat tembok lalu berkelit sedikit dan memukul perutnya.


TRANG!


Aku bisa mendengar suara besi bertabrakan, dan itu cukup meyakiniku kalau ia benar-benar pergi bersiap-siap sebelum datang kemari.


"Armor..." aku membungkuk dan bergerak melewati antara kedua kaki Lein kemudian berhenti di belakangnya.


"Kau tidak akan bisa melukaiku dengan pukulan lemah itu..." Lein berbalik dan menatapku dengan senyuman lebar, "Tidak akan bisa kecuali kau memakai senjata lain."


Sarung tangan besi yang kupakai sudah melemah, perlu perbaikan agar aku bisa memakainya dengan serius.


Ya, Cakar Ayam Api sudah tak lagi kupakai bertarung serius, aku takut jika pukulanku yang keras malah akan menghancurkannya.


Lein mengangkat pedangnya dan menusukkannya ke arahku lagi, sementara aku menghindar dan memukul kakinya dengan keras.


Suara besi bertemu kembali terdengar, dan aku tahu kalau seluruh tubuh Lein sudah dilengkapi dengan armor yang disembunyikan dengan jaket serta celana panjangnya.


Meskipun ia memakai pertahanan tempur yang lengkap, tetapi senjatanya tak memungkinkan untuk dipakai dalam koridor ini.


Ia pastinya tak ingin menyulitkan dirinya dengan berbagai serangan yang penuh celah seperti menebas, jadi ia memakai tusukan yang pastinya lebih irit tempat dan jangkauannya jauh terlepas dari pergerakannya yang terhambat.


Aku sih tak perlu khawatir dengan tempat, karena aku masih bisa bergerak cepat dengan kedua tanganku yang memakai Cakar Ayam Api.


"Haruskah aku memakainya?" aku berpikir memakai pemanas di Cakar Ayam Api, tapi aku takut jika pemanasnya bisa merusak permukaannya.


"Jangan ragu untuk memakainya, jika sudah rusak ya sudah, kau harus ingat membawa kedua pedangmu kemanapun kau pergi..." Zon mengingatkan.


Iya sih, ini sebenarnya salahku, jadi aku akan memakai yang ada saja untuk melawan Lein.


Dari yang kuperhatikan, hanya bagian kepala, telapak tangan, dan telapak kaki saja yang tak dilindungi oleh armor, jadi hanya tiga bagian itu saja yang bisa kuserang tanpa pemanas.


Kalau dengan pemanas, aku bisa menyerang segala bagian tubuhnya, jadi aku tak boleh ragu memakainya meskipun resikonya cukup besar.


Aku mengambil jarak dan menekan tombol di kedua punggung tanganku, dimana tombol itu adalah tombol untuk menyalakan pemanas di Cakar Ayam Api.

__ADS_1


"Hooh, memakai pemanasnya, ya? Kalau begitu aku juga..." Lein menyeringai dan bilah pedangnya berubah warna menjadi merah menyala, "Kuladeni..."


Jika ia sudah memakai pemanasnya, maka aku harus memancingnya ke tempat luas untuk memudahkanku melawannya dengan Cakar Ayam Api yang pemanasnya sudah menyala.


Ia mengangkat pedangnya dan menusukkannya lagi ke arahku, dengan begitu aku lebih mudah memancingnya menjauh dari koridor itu.


Aku terus melakukannya, tanpa ia sadari ia telah terpancing trikku.


***


Rencananya, aku membawanya keluar dari markas dan bertarung di jalanan agar aku lebih mudah menghadapinya, tapi sayangnya aku tak kunjung menemukan ujung koridor ini meskipun aku sudah terus berlari.


Sementara Lein, ia hanya terkekeh kecil melihatku berlari seperti tikus dikejar kucing. Sialan...


Di sisi kiriku, ada jendela yang tertutup dan sejak tadi aku memiliki rencana untuk melompat dari jendela dan kalau beruntung, maka aku bisa mencapai jalanan.


Tapi masalahnya poin LUCK milikku berjumlah nol poin, yang artinya dalam pertarungan kali ini aku tidak beruntung samasekali, membuatku ragu untuk menjalankan rencana itu.


"Lompat saja lah!" Aku berhenti dan mendobrak jendela, sementara Lein menusukkan pedangnya dan tak mengenaiku yang sudah melompat terlebih dahulu.


Sebuah keberuntungan, di luar jendela itu ada atap! Aku lebih mudah untuk mendarat karena jauhnya tak terlalu tinggi, sekitar satu sampai satu setengah meter.


"Aman." gumamku dan aku langsung pergi menuju rumah paman Antha, mengambil pedangku dan kembali untuk menghadapi Lein.


***


Paman Antha sudah berdiri di depan pintu sejak lama, dan aku tak bisa berkutik ketika ditanyai darimana olehnya.


"Darimana kau pergi?" tanyanya lagi, membuatku diam mematung.


Harus kujawab sejujurnya? Aku ragu kalau ia tidak akan marah setelah mendengar jawabanku.


"Aku dari markas Hunter." jawabku setelah berpikir lama, "Lein sudah bertindak seenaknya pada penduduk kota di malam hari."


Paman Antha tak menjawab apapun ketika mendengar jawabanku, ia mengambil Pedang Api Hitam dan memberikannya padaku


"Aku sudah muak pada pemimpin sepertinya, kita harus menurunkannya dari jabatannya." ujar paman Antha, membuatku yakin kalau ia sama marahnya sepertiku.

__ADS_1


"Tapi aku hanya menonton, aku tak diijinkan untuk bertarung melawan sesama Hunter, hanya kau yang bisa kupercaya mengalahkan Lein." tambah paman Antha.


"Aku punya cerita, nanti akan kuceritakan setelah pertarungan ini berakhir." tambahnya lagi.


Dengan begitu, aku dan paman Antha bergerak bersamaan kembali menuju markas Hunter dimana Lein mungkin sedang bersiap dengan persiapan yang lebih baik lagi.


Tapi nyatanya, Lein sialan itu sudah mengejarku dan wajahnya terlihat terkejut saat melihat paman Antha sedang bersamaku.


"Antha Arthawan?!" Lein terkejut dan ia langsung menarik pedangnya ketika melihat paman Antha, "Kenapa kau datang lagi?! Apa kau berniat mengambil jabatan ini dariku?!"


"Eh?"


Apakah mungkin ada alasan lain kenapa paman Antha mau membantuku padahal aku belum menjelaskan alasan aku dari markas Hunter lebih jauh lagi? Itu mungkin saja, ada tujuan lain...


"Kau bukanlah pemimpin yang baik, kau itu adalah orang yang otoriter, tak memedulikan orang lain dan hanya memedulikan dirimu sendiri!" Antha berteriak, membuatku sedikit terkejut karena suaranya lebih keras dibanding ketika ia menanyaiku di rumah tadi.


"Orang-orang murni memilihku karena konsep yang kuajukan menarik bagi mereka! Tak lebih!"


"Tapi kenapa kau tak melakukan konsepmu itu?!"


"Dan kenapa kau tak bertarung padahal kau adalah Hunter?!"


Pertanyaan Lein jelas memojokkan paman Antha, dan jelas kini paman Antha marah.


Ia mundur karena tak ingin kehilangan lebih jauh lagi, ditambah ia memiliki keluarga membuatnya tak bisa meninggalkan mereka terus menerus. Ia harus sering berada di rumah.


Semua orang punya alasan untuk maju ataupun mundur, kita tak boleh menghakimi mereka hanya karena satu pandangan kita yang salah tentang mereka.


Paman Antha tersenyum tipis dan berkata, "Tujuanku datang kemari adalah untuk mengambil jabatan itu. Aku akan menuntun kota 6 menuju kejayaannya."


Sudah kuduga! Dan aku menjadi perantaranya karena ia tak boleh melawan sesama Hunter.


"Oke, aku akan maju sebagai perwakilan paman." ujarku dan aku menarik pedangku cepat dan melesat cepat menuju Lein.


Lein terkejut melihat pergerakanku meskipun ia tadi sudah melihatnya, ia masih saja terkejut.


Ia menebaskan pedangnya dan aku menghindar dengan cepat kemudian bergerak ke arahnya sambil menusukkan Pedang Api Hitam ke arah perut Lein, "Menusuk Langit!"

__ADS_1


Nampaknya sekarang Langit lebih banyak ragunya...


__ADS_2