Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
23. Kereta lapis baja III


__ADS_3

Frans melipat tangannya, "Jadi, bisa kalian berdua jelaskan padaku apa yang terjadi di kota ini?"


Setidaknya, aku sudah memberitahunya sebelumnya di perjalanan kalau aku dan Senja adalah dua orang yang selamat dari peristiwa itu. Aku yakin dia pasti penasaran.


Sebagai anak kecil yang baik hati dan senang menolong sesama, Senja pun menceritakan semuanya yang ia lihat.


Aku tak ada bercerita apapun karena aku kan tertimpa ranting pohon, mana tahu aku situasi di luar, hehehe...


Frans mengangguk-angguk saat mendengarkan cerita Senja, hingga akhirnya ia menyimpulkan sesuatu.


"Jadi, di Surabaya terdengar suara keras dan tak lama setelah itu, gerombolan Monster datang menyerbu, begitu?" Frans menyimpulkan. Senja mengangguk.


"Sebagai tambahan, ayahku sempat mencoba untuk membantu, tetapi nasibnya tak kuketahui..." Aku menambahkan. Aku yakin kalau maksud ayahku pergi keluar bukan hanya untuk melihat situasi, tetapi berniat mengambil senjatanya yang tersimpan di markas SuraBaya.


Aku mengambil kesimpulan begitu setelah membaca artikel tentang ayahku yang adalah Hunter rank S yang dijuluki Si Cakar Merah.


"Oke, sejauh ini aku paham kemana saja kisah kalian bergerak, yang sekarang aku pertanyakan adalah, apa yang dilakukan Christo setelah menyerahkan ponselnya pada kalian?" Tanya Frans dan aku yang mendengarnya menepuk dahiku.


Aku yakin kalau Senja tadi sudah menceritakan semuanya dengan jelas, sampai bagian kami bertemu kakekku, tetapi ia masih menangkap cerita sampai kami menginap di rumah yang tak kami ketahui siapa yang memilikinya? Aku ragu dia ini adalah ketua organisasi Hunter RedWhite...


"Paman Christo mengorbankan dirinya agar kami bisa kabur ke SuraBaya sementara ia melawan Monster yang memiliki wajah seperti manusia..." Aku sedikit bergetar saat mengatakannya. Masih terbayang jelas wajah Monster itu yang terlihat tersenyum di pikiranku.


"Baiklah, kau tak usah melanjutkannya, aku sudah bisa menebaknya..." Frans melipat tangannya, "Aku sudah memerintahkan Hunter lainnya untuk mencari Christo..."


"Dan, kalian melihat pertarungan kakek Bintang di usianya yang sudah senja? Kalian benar-benar beruntung..." Frans menggelengkan kepalanya, "Asal kalian tahu saja, kekuatan kakek Bintang itu benar-benar besar, meski tubuhnya telah menua sekalipun..."


Ya, aku bisa merasakan kalau kakekku tak bisa disebut kakek tua biasa saja, melainkan seorang kakek yang telah melalui banyak sekali latihan dan pertarungan keras yang membuatnya memiliki kekuatan yang amat hebat.


Setelah kami bercerita dengan Frans, aku menyerahkan ponsel yang ditinggalkan Christo pada Frans dan ia hanya menghela napasnya.

__ADS_1


Aku tahu kalau Frans mungkin sedikit terpukul karena kehilangan satu Hunter rank S yang dimiliki Indonesia, tetapi kurasa kehilangan seperti ini lumayan sering di masa lalu ataupun masa kini.


"Oh ya, kalian tadi mengatakan bahwa salah satu dari kalian memakai senjata api, kan? Bagaimana rasanya?" Tanya Frans tiba-tiba, mengganti topik pembicaraan.


"Aku yang memakainya..." Senja mengangkat tangannya dan ia melanjutkan, "Rasanya seperti mengangkat sesuatu yang berat saat api di tongkatnya diaktifkan, tetapi saat dimatikan, rasanya ringan-ringan saja..."


"Itu wajar saja bagi orang-orang yang baru pertama kali memegang senjata api. Yah, kalian harus tahu bahwa di dalam senjata api, terdapat beberapa bagian rumit, yang tidak akan bisa kalian pahami di usia saat ini..." Frans menunjuk tombaknya, "Seperti milikku, ada beberapa bagian rumit yang bahkan Hunter rank S sepertiku pun tak bisa memahaminya..."


Itu kan karena kau bodoh, dasar, sesuatu dalam diriku mengatakan itu dan aku tak paham alasannya kenapa.


"Tapi yah, ada beberapa senjata api yang amat-amat ringan tetapi amat kuat juga, bahkan saat kekuatannya diaktifkan sekalipun..." Frans memasang wajah serius, "Dan salah satunya adalah Pedang Api Hitam, senjata api milik Bintang Satria."


Yah, aku harus akui bahwa kakekku ini benar-benar aneh, memiliki senjata yang tidak biasanya dimiliki Hunter negara ini.


"Kau juga dikatakan kakek Bintang akan menjadi penerusnya sekaligus Ruler, kan?" Frans tersenyum lebar, "Pastinya kau memiliki sesuatu dalam dirimu, yang membuatmu tak menolak kata-kata kakekmu, kan?"


Kepalamu tidak menolah kata-kata kakekku, yang ada aku menolaknya habis-habisan, tetapi sayangnya kakekku lebih hebat dalam berdebat, jadi aku pun kalah terus darinya.


"Y-Yah, paman bisa katakan begitu..." aku menggaruk kepalaku.


Frans mengacak-acak rambutku, "Kau ini, masih kecil mirip sekali dengan ayahmu saat dia sudah dewasa..."


"Paman tahu ayahku?" Aku menatap Frans, "Bagaimana ayahku saat masih menjadi Hunter?"


"Kau bisa katakan kalau ayahmu adalah orang yang hebat, dia disebutkan bisa mengimbangi lima Monster rank S sekaligus, tetapi tak bisa mengalahkan ayahnya..." Frans memasang wajah lebih serius lagi, "Ngomong-ngomong, Bintang Satria disebutkan adalah Hunter yang seharusnya dipanggil Ruler, loh..."


Sudahlah, aku semakin tidak paham dengan kakekku. Kenapa dia terus disebut amat kuat oleh orang-orang yang amat kuat?!


Pintu tiba-tiba diketuk dan seorang pria masuk dengan wajah kelelahan.

__ADS_1


"Frans, pasukan yang dipimpin oleh Adi berhasil mencapai markas SuraBaya serta menemukan beberapa catatan Joko Taru. Serta, pasukan yang dipimpin Zie berhasil menemukan satu tubuh Monster besar yang mirip dengan Monster besar yang dibunuh oleh kakek Bintang di pulau Hawaii!"


Mataku melebar, secepat itukah pasukan RedWhite berkeliling kota Surabaya? Apakah ini adalah kekuatan organisasi Hunter terbesar di Indonesia? Tak bisa kubayangkan, pasukannya saja sudah seperti ini, bagaimana dengan petingginya? Apalagi orang bertubuh besar di hadapannya saat ini?


"Entahlah, tetapi aku merasa kekuatan orang ini tak lebih dari Canren di Serikat Pendekar..."


Sekali lagi, sebuah suara terdengar di telingaku dan tak sedikitpun aku tahu darimana asalnya. Dan ia mengatakan Canren? Siapa pula orang itu?


Frans berdiri dan berkata, "Sepertinya pembicaraan kita berhenti sampai sini saja, anak muda..."


Ia mengacak-acak rambutku lagi dan berkata, "Aku pergi dulu..." Frans berjalan meninggalkanku dan Senja di ruangan itu.


"Paman! Aku meletakkan ponselnya Christo di atas meja, ya?!" Aku berteriak dan aku yakin kalau ia tidak mendengarnya.


Tak lama setelah Frans berjalan keluar, kakek tak terdugaku datang dengan sarung tangan besi ayahku lalu berkata, "Ayo, anak muda, kita pulang..."


Aku dan Senja berdiri dan mengikuti kakekku yang berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan ruangan yang nantinya akan kutempati, bukan sebagai Hunter biasa, tetapi sebagai Hunter rank SSS dan Hunter terkuat nantinya.


***


Kakekku dan aku berjalan menyusuri kereta itu dengan kecepatan yang tidak seimbang.


Kenapa aku mengatakan tidak seimbang? Kakekku berjalan jauh di depanku dengan santai sementara aku dan Senja berjalan dengan napas terengah-engah, jauh di belakangnya!


"Kakek... Tunggu... Kami..." Aku berusaha meraih kakekku yang ada jauh di depan.


"Kalau kalian ingin membalas dendam pada Monster, cobalah untuk berjalan lebih cepat!" Kakekku berbalik dan tiba-tiba saja, dia sudah ada di depanku, "Sini, kalian berdua kugendong saja..."


Digendong oleh Frans mungkin aku terima, karena ia terlihat masih muda, tetapi aku takut jika punggung kakekku patah karena menggendongku dan Senja.

__ADS_1


"Akan kulihat kekuatanku saat usiaku sudah senja ini..." Kakekku memasang posisinya dan berlari maju, dengan kecepatan yang lebih tinggi dari Frans.


"AAAHHHHH!!! KAKEK!!! PELAN-PELAN!!!"


__ADS_2