Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
139. Keroyokan!


__ADS_3

"Sepertinya Zona 2 masih aman..." Yuuki menatap layar besar di depannya, "Beberapa Zona terpantau aman."


"Ya, Drone berhasil menemukan murid-murid yang berhasil menghabisi Monster." laki-laki di sebelahnya berkata, "Saya tampilkan disini..."


Ada beberapa nama yang muncul, dan Yuuki menghela napasnya, "Nampaknya Langit masih belum melaporkan..."


"Nama Langit Satria belum ada membunuh Monster, begitu juga dengan beberapa murid, seperti Lee Shin, Rei Artawan, Vina Celia, Senja Irawan, Carl Zenkins, Don Zenkins, dan lainnya." laki-laki itu menambahkan, "Sepertinya, ia tidak bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh kakek Bintang."


Yuuki mengepalkan tangannya dan memukul meja, "Jangan sembarangan kau berbicara!"


Laki-laki itu tersentak, dan ia menunduk, "Baik, maafkan saya..."


Yuuki mengangkat tangannya dan mengelus dagunya, "Apa yang sedang dihadapi oleh Langit?"


"Dimana Langit?" tanya Yuuki, dan laki-laki itu menatap layar komputernya lagi.


"Langit Satria berada di Zona 7, ada beberapa sinyal lainnya, yaitu Rei Artawan, Andhika Hendrawan, Senja Irawan, Vina Celia, Carroline Cage, Don Zenkins, Carl Zenkins, dan Lee Shin."


"Tunjukkan Zona 7!" Yuuki menunjuk layar besar, "Ada sesuatu yang berbahaya sepertinya!"


Laki-laki itu mengangguk dan melakukan apa yang diminta, dan layar kini terfokuskan pada rekaman di Zona 7.


"Serigala itu, kukira kuat, ternyata lemah..." Yuuki hanya menghela napasnya melihat Monster yang dihadapi oleh beberapa orang, "Biarkan mereka mengurusnya..." Setelah itu ia duduk lagi.


***


Aku melompat mundur dan mengatur napasku, semua seranganku tak berarti apa-apa di hadapannya, efek regenerasinya terlalu besar, aku kesulitan membunuhnya, apalagi sambil berusaha melindungi yang lainnya.


Lee Shin sudah bertarung habis-habisan, tapi semua serangannya tak berefek pada serigala itu, padahal tadinya ia sudah menyerang membabi buta.


Kini, napas teman-temanku sudah tidak ada yang teratur lagi, kacau semua, tersisa aku saja yang masih berusaha mempertahankan napasku agar tetap tenang.


"Bagaimana ini, Langit? Serangan kita tak ada yang berefek padanya." Andhika bertanya padaku, "Berbeda dengan serigala yang kita habisi dulu, ini lebih sulit lagi."


Aku setuju, sama-sama serigala tapi kekuatannya berbeda jauh, apalagi serigala di depanku ini adalah seekor General, yang mana menurut ingatan Flame Emperor, pasukan Monster dibagi menjadi beberapa tingkatan.

__ADS_1


Dimulai dari Soldier, Captain, Champion, General, Commander, Lord, paling atas adalah Emperor, yang mana Emperor memiliki kekuasaan mampu mengerahkan semua pasukannya tanpa perlu ijin ke atasannya. Yaaa, karena Emperor tak memiliki atasan sih, jadinya mereka tak perlu minta ijin...


"Kalian, pergi jauh-jauh dari sini, aku kesulitan bertarung jika ada kalian..." aku mengangkat Pedang Naga Iblis ke samping, "Tolong, sebentar saja..."


Rei mungkin mendengarnya, jadi ia maju dan melompat kemudian memukul pipi serigala itu lagi, sambil berseru, "Aku bukan beban! Aku adalah Hunter!"


Setelah itu ia menyalakan pemanas di sarung tangan besinya dan memukul kepala serigala itu dengan ganas, bersamaan dengan itu peluru melesat dan kulihat Vina kembali menembak, dengan dilindungi oleh Senja.


"Kalian maju, aku akan membantu dari belakang!" Seru Vina dan ia mengangkat senapannya lagi, "Cepat!"


Lee Shin mengangguk dan mata tombaknya menyala terang kemudian ia melesat cepat, Andhika ikut berlari.


Saat melihat Andhika yang bertubuh besar, sebenarnya aku teringat akan satu aksi menegangkan yang terjadi di Islandia lima tahun lalu, yang ditunjukkan oleh Hunter rank SS dan Hunter rank S andalan RedWhite.


Paman Frans melompat dengan pijakan punggung Vigo dan menusuk mata Serpent Lord, dan aku ingin mencobanya sekarang.


Aku berlari dengan cepat dan berseru keras, "Andhika, menunduk!"


Andhika yang mendengarnya mungkin tidak paham apa maksudku, tapi dia tetap menurut dan ia membungkuk, dan aku berlari lebih cepat.


"Lemah..."


Setelah itu, entah apa yang terjadi, kami semua, atau lebih tepatnya aku, Rei, Andhika, dan Lee Shin terpental ke belakang.


Saat aku terpental, aku melihat Carl dan Don berlari cepat dan bersamaan, mereka menyerang kaki serigala itu bergantian hingga serigala itu kehilangan keseimbangannya.


Saat serigala itu agak oleng, Vina memasukkan peluru lagi ke senapannya dan menembak dada serigala itu, tapi serigala itu bergerak cepat dan berubah menjadi lebih kecil lalu memukul Vina dan Senja dengan cepat.


Carl dan Don tak mampu mengejar serigala itu, tapi kulihat selanjutnya mereka sudah terpental dan menabrak satu tembok.


Aku berdiri lagi dengan cepat dan berlari lagi, Staminaku masih tersisa banyak dan aku sedikitpun belum ada memakai jurus ataupun skill bawaan, jadi aku bisa bertarung lebih lama lagi.


Tadi kulihat peluru tajam Vina tak mampu menembus dada serigala itu, jadi aku mungkin harus menebasnya lebih kuat lagi.


Sepertinya, ini memang harus kuselesaikan sendirian...

__ADS_1


Aku berhenti berlari dan mengangkat pedangku lagi, "Hei serigala, kemari! Musuhmu adalah aku!"


Serigala itu menoleh setelah ia berhasil melukai Senja, dan ia menggeram, membuatku sedikit gentar melihatnya.


Tak apa, itu hanya gertakan, begitulah yang selalu kupikirkan jika merasa gentar menatap musuh.


Kedua pedangku sudah mencapai batasannya, kulihat asap putih mulai keluar dari bilahnya, dan karena suhu sekitar yang dingin membuat panas senjata api meningkat lebih lama dari suhu normal.


Jadi, sejak tadi aku hanya menyalakan pemanasnya saja! Bilahnya tidak sepanas yang kuinginkan! Aku baru sadar!


[Skill aktif Pedang Api aktif! Batas panas pedangmu meningkat dan kecepatan meningkatkan panas meningkat 5%!]


"Hooh, apa kau sudah selesai bermain-mainnya?" serigala itu berjalan maju, "Atau, kau hanya memberikan waktu bagi teman-temanmu untuk kabur?"


"Tidak, aku hanya menunggu waktunya..." aku mengangkat kedua pedangku dan memasang posisi, "Bersiaplah!"


Setelah itu, aku melesat cepat dan mengangkat kedua pedangku ke samping kanan kepalaku, dan berseru keras, "Menebas Gunung!"


Kedua pedangku terayun dengan cepat dan bersamaan, dan serigala itu berhasil menghindarinya kemudian melancarkan pukulannya.


Aku mengangkat kedua pedangku dan menahannya, kemudian menghempaskannya, melancarkan serangan Counterattack.


Serigala itu terkena serangannya tersendiri dan ia melompat mundur, aku melesat mengikutinya dan menusukkan kedua pedangku ke depan.


Kedua pedangku menembus dada serigala itu dan darah berwarna hitam kembali menetes ke atas salju putih itu, tapi serigala itu tak berhenti bertarung dan ia kini memegang kedua bilah pedangku.


Tapi itu tak bertahan lama, ia melepaskan pegangannya pada bilah pedangku dan melompat mundur.


Aku sekali lagi tak membiarkannya, dan aku menebas lehernya, dan entah kenapa, baru kali ini aku berhasil memenggal kepala serigala itu dengan mudah, padahal tadi Andhika sudah melakukannya dengan Keris Raja Singa, tapi tak berhasil.


[Level up!]


[Level up!]


[Level up!]

__ADS_1


"Itu saja cukup..." ujar Zon, "Selanjutnya adalah membantu temanmu..."


__ADS_2