
"Dengan wewenangmu sebagai wakil ketua RedWhite, kau bisa berkeliling Asia tenggara tanpa ada masalah sedikitpun..." ujar ayahku tanpa memalingkan wajahnya dari layar ponselnya, "Wey, kau sudah terpojokkan jangan asal maju!"
Aku melirik ibuku yang duduk sambil menatap layar ponselnya, wajahnya tak kalah seriusnya dengan ayahku. Kedua tangannya terlihat gemetaran.
"Aku tidak akan mundur! Aku adalah ksatria dari keluarga Esquede! Ksatria sejati tidak akan kabur dari pertarungan!" ibuku berteriak dan tak lama, teriakannya makin keras, "Aakkhh!"
Ayahku menurunkan ponselnya dan menatapku, "Kau sudah dewasa, sudah menjadi wakil ketua RedWhite lagi, masa pergi keluar Jakarta saja minta diantar?"
...
...
...
Dewasa jidatmu! Aku masih berumur tiga belas tahun! Aku belum dewasa! Aku masih remaja, hoi ayah sialan!
"Atau kau bisa minta motor saja pada Frans, kau sudah bisa mengendarai motor, kan?" tanya ayahku lagi.
Aku mengangguk, semua terjadi di India, dimana saat itu aku bertemu dengan seorang Hunter rank SS tipe Assassin dan dianggap paling terbaik di seluruh dunia yang bernama Alex Curran.
Alex menyuruhku belajar mengendarai motor, dan berkat pelatihan singkat selama beberapa hari, aku bisa melakukannya dengan mudah dan Alex mengatakan kalau aku akan memerlukan pengetahuan tentang mengendarai motor saat aku sudah dewasa nantinya.
"Tapi aku kan masih di bawah umur, mana mungkin aku naik motor..." aku memanyunkan bibirku, itu benar! Mana mungkin bocah berumur tiga belas tahun mengendarai motor tanpa SIM! Aku bisa ditilang polisi!
"Oh iya, ayah hampir lupa..." ayahku mengambil ponselnya lagi, "Si Lein katanya mau pulang ke kota 6, mungkin kau bisa ikut dia saja..."
Ah iya, kota 6, disana ada Rei dan paman Antha. Mungkin aku bisa singgah disana sebentar.
"Jadi sebaiknya kau pergi bersama Lein saja..." ujar ayahku dan ia menatap layar ponselnya dengan serius lagi.
Aku menaikkan bahuku dan pergi meninggalkan ayah dan ibuku yang sudah asyik dengan permainan mereka.
***
__ADS_1
Kota 6...
Aku menarik napas panjang, meski baru beberapa bulan sejak aku pergi dari kota 6, kota yang dulunya berantakan dan kacau kini berubah drastis, menjadi kota yang lebih baik dari sebelumnya.
Aku bisa melihat para Hunter yang berkeliling atau mungkin berpatroli, dan para penduduknya yang berinteraksi dengan para Hunter dengan santai seolah masalah para Hunter yang menyalahgunakan kekuasaan tak pernah terjadi sebelumnya.
"Berkat kembalinya pak Antha ke RedWhite cabang kota 6, markas serta penghuninya mulai diubah menjadi seperti sekarang ini..." ujar paman Lein, "Yah, intinya aku sudah tidak seperti sebelumnya."
Omong-omong, paman Lein bukan lagi Hunter rank A, tapi sekarang ia adalah Hunter rank S, berkat prestasinya memajukan kota 6 bersama paman Antha.
Paman Lein sebenarnya ingin ikut dalam Raid Kanada, tapi sayangnya paman Frans tidak mengijinkannya karena Indonesia perlu penjaga, sebab itulah paman Lein diperintahkan berjaga di markas bersama beberapa Hunter rank S lainnya.
Aku dan paman Lein berjalan menuju markas, dan di sepanjang perjalanan aku banyak sekali menerima sapaan ramah dari penduduk.
Kami juga melewati rumah paman Antha, dan terlihat kalau bibi Ayu masih pada rutinitasnya, yaitu berjualan di warungnya.
Aku mendekati warung bibi Ayu, dan menyapanya, "Halo bi, bagaimana kabar bibi sekarang?"
...
...
...
Eh?
"Sudah lama aku ingin bertemu denganmu, akhirnya aku bisa bertemu dengan Hunter paling berbakat di dunia!" bibi Ayu mengeluarkan ponselnya dan ia berkata sambil mengangkat ponselnya, "Selfie dulu..." Aku tersenyum tipis, dan kami pun berfoto bersama.
Bibi Ayu melakukan selfie denganku sebanyak tiga kali, sebelum ia memasukkan ponselnya dan wajahnya terlihat bahagia sekali, "Jadi, ada apa dengan Tuan Langit datang kemari?"
"Emm, aku hanya ingin bertemu dengan Rei." jawabku, dan bibi Ayu menepuk tangannya.
"Ah, Rei? Baru saja dia pulang setelah berkelahi melawan satu Hunter penjaga." jawabnya dan aku hanya bisa menghela napasnya.
__ADS_1
Rei tidak main-main dengan omongannya sebelum liburan, ia akan berkelahi di kota 6 sebelum kembali ke akademi, yah aku tidak menduga kalau dia serius dengan kata-kata bernada bercandanya itu.
"Rei bilang dia berteman dengan Langit Satria, jadi aku ingin bertemu denganmu!" bibi Ayu berteriak lagi, dan tak lama warung pun ramai.
***
"Aku lupa bilang..." aku menggaruk kepalaku, sementara Rei hanya menghela napasnya.
"Entah kenapa, aku mungkin terlihat seperti mengasihanimu, tapi rasanya, aku ingin tertawa terbahak-bahak karena mendengarmu berteriak minta tolong." Rei menutup mulutnya, terlihat menahan tawanya.
Oke, satu hal memalukan yang kurasakan selama menjadi manusia adalah... Berteriak minta tolong karena aku dikeroyok ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak yang ingin selfie kek, minta tanda tangan kek, bahkan ada ibu-ibu yang menyuruhku untuk pacaran dengan anaknya!
Hei! Saya masih berumur tiga belas tahun, belum seharusnya mengetahui hal itu! Bahkan aku saja tidak tahu pacaran itu apa!
Harga diriku sedikit turun tadi siang, ketika Hunter rank SS termuda yang pernah menyelesaikan satu Gate berwarna hitam sendirian tak berdaya dikeroyok oleh ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak, aku malu sekali.
"Tapi yah, orang-orang di kota ini amat senang saat mendengar kabar kau berkunjung kemari, dan ibuku lebih senang lagi saat tahu aku berteman denganmu." Rei menyandarkan punggungnya ke tembok kamar mandi, "Pokoknya, kau itu menjadi idola banyak orang."
Aku menunduk, menjadi idola banyak orang? Ah, apakah rasanya mengerikan seperti tadi?
"Oh ya, apa kau mau melawanku lagi?" Rei mengangkat pukulannya dan mengarahkannya kepadaku, "Sudah tiga bulan aku tidak menghajar Hunter..."
"Tapi ibumu berkata kalau tadi siang saat aku sampai, kau baru saja kembali setelah berkelahi melawan seorang Hunter." aku menaikkan alisku.
"Hunter sesungguhnya adalah yang mampu bertahan dari rentetan pukulanku, Hunter itu bukan Hunter sesungguhnya karena dia langsung menyerah setelah aku memukulinya selama sepuluh menit." jawabnya sambil menaikkan bahunya.
Aku tersenyum tipis, Rei memang senang berkelahi, bahkan saat sedang belajar di kamar asrama saja, ia bisa berkelahi dengan Andhika dan Lee Shin hanya karena jawabannya yang salah dan tidak terima diberitahu jawaban yang benar oleh Lee Shin.
"Jadi, berapa total kau sudah memukul Hunter?" tanyaku, dan Rei menyeringai lebar.
"Tak pernah kuhitung! Memukul manusia adalah satu hal paling menyenangkan di dunia!" seru Rei sambil berdiri, sebelum pintu kamar mandi ditendang oleh seseorang dan paman Antha muncul dengan memegang kedua pinggangnya.
"Apa yang kalian lakukan di kamar mandi?!"
__ADS_1