
"Pak Antha masih hidup, dan ia memegang posisi walikota selagi saya pergi."
Wajah si Dito itu berubah dan ia mengerutkan keningnya, "Apa maksudnya? Bukankah dia hanya pensiun, bukan gugur dalam pertarungan?"
"Ah, begitu ya? Maaf, saya lupa..." Paman Lein menggaruk kepalanya dan tertawa kecil.
"Lalu, ada lagi?" tanya Dito, "Apa hanya itu saja yang ingin kau laporkan?"
"Nanti akan saya perjelas lagi tentang kondisi kota 6, selanjutnya ijinkan saya untuk memperkenalkan anak kecil yang berpenampilan seperti kakek Bintang dan dua anak lainnya ini..." paman Lein menyentuh pundakku, "Ayo, perkenalkan dirimu..."
Aku berdeham sedikit dan berkata, "Namaku Langit Satria, usiaku dua belas tahun. Hari ini aku ingin bergabung dengan RedWhite."
"Namaku Rei Artawan, umurku tiga belas tahun, dari kota 6, anaknya Antha Artawan."
"Namaku Andhika Hendrawan, umurku empat belas tahun, dari Denpasar, anaknya Bagus Wijaya."
Aku melihat wajah Dito itu terkejut mendengar nama orang tua Andhika dan Rei, yang bahkan membuatku ikut terkejut mendengarnya.
Bagus Wijaya adalah seorang Hunter rank S sekaligus orang yang memimpin Bali saat ini. Dalam lima tahun terakhir ia banyak sekali mengatasi gate yang bermunculan di Bali dan membuat wajahnya sering muncul di televisi karena diwawancarai oleh wartawan, jadi aku pun tahu Hunter satu itu.
Aku tak mengira kalau Andhika adalah anak dari Bagus Wijaya itu, lebih tepatnya tak mengiranya padahal senjatanya mirip seperti senjata api yang biasa ditunjukkan Bagus Wijaya di televisi.
"Mungkin bentuknya saja yang sama..." ujar Zon, "Yaaa, aku asal menebak, jangan kau anggap serius."
"Ehem, meskipun kalian berdua adalah anak dari Hunter rank S, kalau kalian tak lulus dalam tes masuknya maka kekuatan di belakang kalian tidak bisa membantu kalian bergabung, karena kami hanya menerima kemampuan sendiri, bukan kemampuan di belakang kalian." Dito berkata dengan tegas, "Dan aku ingin mendengar kisah dari Langit Satria..."
Ya, itu aku...
"Ehem, jadi aku adalah cucunya kakek Bintang Langit dan anaknya Joko Taru. Aku mewarisi senjata mereka berdua dan Black Scale Coat milik kakekku." aku mengeluarkan kartu lisensi Hunter milik kakekku dan medali pengenalnya yang berisi tujuh bintang, "Dan beliau menitipkan ini pada pak Frans..."
Dito tak menerimanya, ia mengeluarkan ponselnya dan menekan sesuatu di ponselnya beberapa kali, setelah selesai ia memasukkan ponselnya lagi ke kantongnya kemudian berkata, "Pak Frans akan datang, kalian tunggu sebentar..."
__ADS_1
"Eh? Apakah anda tak bisa mengurusnya?" tanya paman Lein.
"Tidak bisa, jika semuanya menyangkut Hunter rank S dan rank SS, aku tak bisa ikut campur karena wewenangku hanya sampai pada mengurus rank A ke bawah. Urusan rank S dan rank SS, pak Frans yang memiliki urusannya..." Dito berbalik, "Kalian boleh menunggu disini, atau kalian pergi dulu, nanti aku hubungi kalian."
Paman Lein melirik kami dan bertanya, "Jadi, kalian mau apa?"
"Berkeliling!" Rei sudah melompat dan menekan pundakku, "Ayo kita berkeliling tempat ini!"
"Pasti menyenangkan!" Andhika ikut menekan pundakku, "Bagaimana, Langit?"
"Oke..." aku mengangguk, dan paman Lein memasang posisi tegap lagi dan memberi hormatnya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu. Jika pak Frans sudah datang, beritahu kami..." Ujar paman Lein kemudian meraih pundak kami, "Ayo pergi..."
"Tenang saja, akan kuberitahukan." jawab Dito dan mengibaskan tangannya, "Pergi saja..."
***
Ia juga berkata akan menunjukkan wajah dari tiga pendiri RedWhite di museum itu, itulah alasan mengapa tujuan kami selanjutnya adalah museum.
"Jauh juga tempat yang paman maksud..." Andhika mengatur napasnya, "Apa masih jauh?"
"Sedikit lagi..." jawab paman Lein.
Aku menghela napas panjang, aku sudah mendengarnya berkali-kali, dan kami tak kunjung sampai di tempat yang kita tuju.
"Kali ini paman tidak bohong..." paman Lein menunjuk ke depan, "Itu museumnya..."
Aku menyipitkan mataku, aku bisa melihat pintu besar yang tak dijaga satu Hunter pun, dan ada papan kecil di dekatnya, tapi aku tak bisa melihatnya. Pintu itu sendiri ada di sisi kiri koridor yang kami lewati saat ini.
Kami berjalan sedikit lagi dan tak butuh banyak langkah supaya kami sampai, dan setelah sampai paman Lein membuka pintunya. Setelah pintu terbuka lebar, kami masuk dan kami terpana melihat dalamnya.
__ADS_1
Puluhan, tidak, lebih tepatnya lebih dari ratusan foto terpajang di ruangan besar itu. Ada tiga foto paling besar yang ada di dinding paling jauh dari pintu masuk, dan kami mendekatinya.
"Perkenalkan, mereka bertiga adalah tiga Hunter pendiri RedWhite di masa lalu, di tahun 2045 lalu..." ujar paman Lein, "Kalian lihat?"
Aku diam melihatnya, tiga wajah tua penuh wibawa dan pemberani ada di bingkai foto di depan kami, disandingkan dengan wajah pemimpin negara dari yang pertama sampai sekarang, sepertinya...
"Mereka berlisensi Hunter rank S dari organisasi Hunter StarSam karena mereka berlatih di Amerika Serikat, dan mereka pulang ke Indonesia kemudian mendirikan RedWhite. Menurut sejarah senjata api mereka masih disimpan di museum ini..." paman Lein menunjuk ke kiri, "Itu senjata api mereka."
Aku menoleh ke kiri, melihat tiga kotak kaca yang masing-masing di dalamnya ada tiga senjata api, pertama berbentuk pedang, senapan, dan terakhir adalah perisai lebar berbentuk persegi panjang beserta pedang.
Andhika dan Rei sudah berlari mendekati tiga kotak kaca itu dan mengaguminya dari dekat, sementara aku masih berdiri di depan tiga foto itu
"Wajah mereka tetap berwibawa dan pemberani meskipun rambut mereka telah memutih sedikit." ujar paman Lein, "Dan penampilan mereka seketika mengingatkanku pada kakek Bintang."
Ya, aku menyetujuinya karena memang wajah mereka bertiga dan kakekku hampir mirip.
"Oke, sekarang kita berkeliling dulu sebentar di tempat ini, sambil aku menceritakan sedikit tentang mereka yang kuketahui..." ujar paman Lein, "Ikut?"
"Ya."
Aku mengikuti paman Lein, dan kami berdua berkeliling bersama, sambil paman Lein bercerita.
Foto Bintang Langit juga ada disini, bahkan aku tak percaya kalau wajah kakekku ketika muda berbeda jauh dengan wajahnya ketika sudah tua.
Foto ayahku, paman Frans, pak Vigo, paman Antha, Dito, neneknya Senja, ayahnya Andhika, dan masih banyak lagi, terpajang di museum ini.
Entah kenapa, wajah ibuku juga ada disini, membuatku mempertanyakan alasan kenapa ibuku bisa tak berkutik ketika kehancuran Surabaya lima tahun lalu.
Seandainya ayahku masih hidup, aku ingin mendengar kisah tentang ibuku lebih banyak lagi...
Yah, intinya aku menikmati kegiatan berkelilingku di museum ini bersama paman Lein dan dua temanku.
__ADS_1