
Aku menatap bangunan tinggi di hadapanku. Jika aku tidak salah ingat, bangunan ini dulunya adalah markas besar organisasi Hunter terkuat di dunia yang berada di Indonesia, yaitu markas besar organisasi RedWhite.
Itu adalah kantornya, dan beberapa bangunan berukuran sedang di sekitarnya adalah bangunan sampingan, seperti museum, asrama, ruang perbaikan, ataupun ruang latihan.
Yah, aku serasa berdiri seperti diriku dulu saat berhadapan dengan bangunan tua ini, dan aku melompat masuk ke dalamnya, menyusuri setiap sisi koridor yang kini ditempeli beberapa benda, yang aku rasa memiliki nilai historisnya tersendiri...
Ya...
Scope yang pernah dipakai oleh Jessica Celia yang gugur semasa Perang Dunia ketiga di Mata Iblisnya, pistol yang kuberikan pada kak Budi disaat ia menjadi Hunter rank S dan pistolnya ditemukan di dekat tubuhnya yang sudah kaku tak bergerak lagi, lalu ada juga sendok favorit Rei Artawan yang ditemukan di asramanya dulu, dan masih banyak lagi.
Berkat kemampuan Stainless Emperor yang mampu menganalisa segala macam logam termasuk sejarahnya, aku bisa tahu sejarah masing-masing senjata ataupun benda yang tersimpan disini.
Dan langkahku berhenti di sebuah pintu besar, yang mana di dekatnya tersedia papan nama bertuliskan "Museum RedWhite".
Ya, aku tahu kalau tulisan ini tak pernah digeser ataupun diubah sejak dua tahun lalu, setelah RedWhite ditinggalkan para anggotanya termasuk aku, dan aku jadi tahu kalau papan nama ini termasuk salah satu benda yang dijaga ketat oleh militer karena dianggap merupakan salah satu peninggalan dari masa RedWhite berdiri.
Aku membuka pintunya, dan lampu menyala dengan sendirinya. Ini adalah sebuah mekanik yang diusulkan oleh Andhika, dan ia berkata kalau hanya aku seorang yang bisa membukanya sendirian. Jika ada orang selain aku yang ingin membuka pintu itu, memerlukan sekiranya lima puluh orang yang mendorong pintu itu sampai terbuka, dan setelah pintu terbuka maka lampu akan menyala dengan sendirinya.
Foto-foto, senjata, dan beberapa pakaian tersimpan rapi di ruangan ini, ada wajahku juga yang terpampang paling tinggi dan paling besar diantara yang lainnya, dan kalau kukatakan, foto di ruangan ini terlalu banyak untuk dihapal wajah-wajahnya... Hanya saja aku sudah mengetahui hampir semua wajah-wajah itu...
Mereka adalah para Hunter kebanggaan RedWhite dan Indonesia, dan semakin besar fotonya, semakin ia dibanggakan oleh Indonesia.
Fotoku dihitung paling besar, karena mungkin aku dianggap sebagai pahlawan bagi Indonesia dan juga dunia...
Yah, semuanya sudah berubah sejak aku menghilang dari dunia...
"Keluar..."
Beberapa, atau bahkan semua Emperor, keluar dari pedangku dan aura mereka seketika memenuhi ruangan kuno ini, hingga aku bisa mendengar suara jendela yang pecah akibat kuatnya aura yang menekan ruangan ini.
"Aku yakin kalian semua bisa merasakannya..." aku berbalik, kulihat ratusan pasang mata berwarna-warni yang menyala terang di hadapanku, "Hawa perang besar..."
"Bahkan setelah musnahnya Monster di tangan para Hunter, nampaknya kedamaian belum juga terwujud..." raja Hayam Wuruk berkata, "Apakah kedamaian memang sesulit itu untuk diciptakan?"
__ADS_1
"Jika Yang Mulia Wisdom Emperor berkata demikian, mungkin hanya ada satu cara agar kedamaian tercipta..." Ice Emperor menaikkan kacamatanya yang entah sejak kapan ia miliki, "Basmi umat manusia..."
Maksudnya genosida? Ayolah, cara itu terlalu kuno...
Kalau menghabisi seluruh manusia, aku bisa melakukannya hanya dengan dua tanganku saja...
Namun aku sudah berjanji pada diriku untuk menciptakan tempat yang damai bagi semua manusia yang ada, mana mungkin aku membasmi manusia untuk mendapatkan apa yang kuinginkan?
Lagipula, aku adalah Hunter sekaligus orang militer, yang artinya aku berkewajiban melindungi umat manusia dengan seluruh kemampuan yang aku miliki...
"Semua ada caranya, aku rasa Langit punya caranya sendiri." Purgatory Emperor berkata, "Mungkin kau mau membagikannya?"
"Yah, apa yang ada di pikiranku sederhana saja..." aku memejamkan mataku setelah mendengar perkataan Purgatory Emperor, "Mencari maksud dari kedamaian itu sendiri..."
...
...
...
Bukan hanya itu, ribuan tentara bergerak, dengan beberapa pemimpinnya adalah para jenderal berbintang lima, yang aku ketahui jumlahnya sedikit di dunia.
Satu titik yang dituju seluruh pasukan itu adalah...
"Apakah kau sempat menyinggung militer negara lain?" Sword Emperor bertanya, "Kenapa para tentara militer dan kendaraan militer bergerak ke Indonesia?"
"Aku..."
Tindakanku menghancurkan markas angkatan laut Inggris tampaknya sudah membuat Indonesia dalam bahaya...
***
Apa yang dikatakan para Emperor itu benar, ratusan pesawat bergerak ke Indonesia dan juga banyak kendaraan militer yang ikut kemari, menandakan bahwa para jenderal benar-benar menganggapku sebagai ancaman dunia.
__ADS_1
"Kalaupun kau menyinggung mereka, kapan tepatnya?" Andhika menghela napasnya, "Prediksimu tak bisa diterima perwira lain."
"Jadi memang harus dengan pernyataan yang bisa diterima ya..." aku memejamkan mataku.
"Mungkin saat serangan teror ke SMA Harapan? Kau sempat mengatakan sesuatu?" tanya Andhika.
Ruangan terasa dingin seketika saat Andhika mengatakan teror. Aku teringat dengan mantan Hunter rank S yang bergabung dengan ******* di Papua...
"Mungkin itu..." aku membuka mataku, "Atau saat aku tiba di hadapan Yao Junzhi dan mengatakan kalau aku menganggap pernyataan mereka secara serius?"
"Kapan kau ke Inggris?" Andhika menaikkan alisnya, sebelum ia menggeleng cepat, "Yah, kau tak perlu ditanya begitu sih..."
"Yang penting sekarang adalah mengumpulkan-..."
"Biarkan aku yang mengurusnya sendiri." aku menarik pedangku dan meletakkannya di pundak kiri Andhika, "Tugasmu dan TNI hanya satu, evakuasi warga sipil ke bunker yang sudah disediakan. Jangan lupa evakuasi pak presiden dan pastikan beliau aman."
Andhika memasang posisi tegap dan menaikkan tangan kanannya kemudian memberi hormatnya, "Siap laksanakan komandan!"
***
"Aku takkan membiarkan mereka mengobrak-abrik tanah airku ini!"
Aku mengangkat pedangku dan menyalakan pemanasnya, hal yang paling dasar aku ketahui selama menjadi Hunter...
Siapkan senjata sebelum bertempur, agar panasnya merata dan bisa dipakai membelah tubuh Monster.
Kalau dikatakan, mungkin inilah penyebab banyak Hunter yang tidak bisa membunuh Monster meski memakai senjata api tingkat terbaik sekalipun...
Aku bisa mendengar suara deru mesin pesawat, amat ramai, dan aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi kemudian mengalirkan Energi Gaib berjumlah besar ke tanganku.
Tanganku terasa berat, namun aku bisa menahannya dengan mudah, dan aku langsung mengayunkannya seperti melempar suatu benda, kemudian aku melihat beberapa pesawat yang terlempar jauh, menuju lautan dan beberapa jatuh ke laut serta beberapa lagi melayang pergi.
Itu masih belum semuanya, masih banyak kendaraan militer di udara maupun di laut yang belum pergi dan malah mulai mengeluarkan senjatanya masing-masing.
__ADS_1
Oke... Haruskah aku mengeluarkan kemampuan gaibku saat ini juga?